Seperti biasa, Kikan dan Ibunya menikmati makan malam
berdua di meja makan yang letaknya ada di belakang berdekatan dengan dapur.
Seusai itu,
Kikan berpamitan kepada Ibunya untuk kembali ke dalam kamar. ia merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur, tempat paling nyaman bagi Kikan untuk melamunkan
segala sesuatu halnya disana. Namun, tiba - tiba pikirannya terlintas akan
sosok teman masa kecilnya yang ia rasa begitu baik di antara teman -
teman lainnya. teman masa kecil Kikan yang tak lain ialah
Alka anak bungsu Tante Lilis.
"Bahkan sudah 15 tahun, sejak hari itu aku tidak bertemu dengan Alka. bagaimana kabar dia? apa dia sudah memiliki seorang kekasih? apa dia masih ingat denganku?" gumam Kikan. rasanya
pertanyaan - pertanyaan kecil itu begitu memenuhi pikirannya saat ini.
"Astaga, kenapa aku jadi memikirkandia? Ah sudahlah, lebih baik aku tidur. besok aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor," gumam nya kembali.
Kikan mematikan lampu kamar dan ia menarik selimut berwarna coklat untuk menyelimuti sekujur tubuhnya. ia mulai mencoba memejamkan matanya. dan tak butuh waktu lama kikan pun tertidur dengan di temani dinginnya malam.
Dan keesokan paginya, Kikan terlihat keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang terlihat begitu rapi. Blazzer berwarna dark grey yang membaluti tubuh lencirnya itu semakin menambah keanggunan dan kedewasaan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
"Selamat pagi, Ibu." Kikan menyapa Ibu seraya memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya tersebut dari belakang.
"Pagi juga, sayang." Ibu membalas pelukan Kikan dan mengecup lembut kening anaknya itu.
Memang benar kata pepatah lama,
tidak ada yang lebih menghangatkan selain pelukan hangat dari seorang Ibu
Kikan masih menikmati pelukan hangat itu,
pelukan yang selalu membuat dirinya bersemangat untuk memulai dan melakukan setiap aktivitas
apapun itu. Ibu juga tak henti - hentinya menepiskan senyuman termanis untuk
anak semata wayangnya tersebut.
"Kikan rasa, hari ini Ibu terlihat sangat bahagia sekali, ada apa memangnya, Bu?" tanya Kikan mencoba menggoda Ibunya. dan seketika itu juga ia melepaskan pelukannya.
"Tidak ada apa – apa, Nak. memangnya salah kalau Ibu bahagia?" tanya Ibu, kedua tangannya yang mulai rentan itu mencubit lembut pipi Kikan. Kikan mengangkat wajah Ibunya dan memperhatikan wajah wanita itu dengan begitu seksama.
"Tidak ada yang salah, justru Kikan senang melihat Ibu bahagia seperti ini, bahkan Kikan selalu berdoa, agar Tuhan
mengambil kesedihan dan penderitaan yang Ibu rasakan selama ini, dan menggantinya dengan sebuah kebahagiaan," tutur Kikan. kedua matanya terlihat berkaca – kaca, ia dengan keras menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan Ibunya.
"Anakku, seberapa berat kesedihan maupun penderitaan yang di berikan oleh Tuhan. Ibu akan tetap bahagia jika melihatmu bahagia. bagi seorang Ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain melihat anaknya hidup bahagia," tutur Ibu, ia mencoba mendekap kembali tubuh Kikan dan memejamkan matanya dengan begitu terluka. rasanya Ibu Merry belum pernah bisa memberikan kebahagiaan yang layak untuk anak semata
wayangnya itu.
"Kikan selalu bahagia. Ibu adalah kebahagiaan Kikan bahkan melebihi apapun. Kikan beruntung karna telah di lahirkan dari rahim Ibu," ucap Kikan lirih. lagi - lagi Kikan harus menahan kesedihannya.
"Anakku, sayang." Ibu lebih mengeratkan kembali pelukannya .
"Sudah, Nak. cepatlah berangkat bekerja, nanti kamu akan terlambat," tutur Ibu. dan seketika Ibu dan anak itu sama - sama melepaskan pelukannya.
"Baiklah, Kikan berangkat kerja dulu ya, Bu. Bye Ibu ...." pamit Kikan seraya mencium pipi Ibunya. ia pun berlalu dan melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan rumah.
"Hati - hati ya, Nak, jangan melewatkan makan siangmu," teriak ibu, Kikan pun mengiyakannya dari kejauhan.
Kikan melangkahkan kakinya berjalan menuju kantor, perjalanan Kikan menuju ke kantor tidaklah begitu jauh hanya memakan waktu sekitar 25 menit.
dan setibanya di depan kantor, entah apa yang mengganggu pikiran Kikan waktu itu hingga dirinya tidak fokus dan tanpa sengaja ia menabrak seorang laki - laki yang baru saja turun dari mobil, hingga membuat berkas yang kikan bawa, semua terjatuh berserakan di tanah .
"Lain kali kalau berjalan hati – hati ..." kata laki - laki itu seraya berlalu meninggalkan Kikan.
"Iya Tuan, maafkan saya," ujar Kikan.
"Astaga , aku memikirkan apa, sih. tadi? Kenapa hari ini sial sekali. padahal ada presentasi di kantor dan semua berkas yang sudah tersusun rapi jadi berantakan seperti ini," gumam Kikan dengan bibir yang menggerutu kesal. ia mencoba memunguti dan menyusun kembali berkas tersebut. kemudian ia masuk kedalam kantor. namun, sebelum itu, Kikan terlebih dulu absen. Kemudian, ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke ruang meeting yang letaknya ada di lantai atas kantor tersebut.
Kikan terkejut bukan main, rasanya ia terlambat menghadiri meeting tersebut. karna terlihat di dalam ruangan itu sudah ada manager-nya dan beberapa orang penting di sana. Kikan menarik nafas dalam - dalam agar dirinya terlihat tidak panik.
"Selamat pagi, mohon maaf saya sedikit terlambat."
Kikan menyapa dengan menundukan kepalanya .
"Ini sudah siang bukan pagi! apa kamu tidak bisa
melihat jam?" tiba - tiba suara seorang laki - laki yang duduk tepat di
depan Kikan menyaut begitu saja.
"Ya Tuhan, ini kan orang yang aku tabrak di bawah
tadi? kenapa orang ini bisa ada di sini?" Kikan bergumam dalam hati.
"Astaga, atau jangan - jangan Tuan ini adalah
client yang mau bekerja sama dengan perusahaan ini? Ah, sial. aku harus
bagaimana?" raut wajah Kikan terlihat sedikit takut hingga ia menggigit
bibir bawahnya.
"Kikan, kenapa masih berdiri disitu? cepat
duduklah! meeting akan segera dimulai,
dan persiapkan segera presentasi design kamu, ini Tuan Reyhans, client kita.
beliau yang mempercayakan design untuk cover produk barunya kepada perusahaan
kita," tutur Tuan Ang. seorang pimpinan sekaligus atasan Kikan
dimana tempat dirinya saat ini bekerja.
"Ba-baik, Tuan Ang," saut Kikan dengan wajah yang canggung, ia hampir saja mendaratkan tubuhnya untuk duduk di kursi. Namun,
suara Reyhans yang begitu menggelegar mengurungkan niatnya.
"Tunggu, saya sudah tidak tertarik bekerja sama
dengan perusahaan kalian! sama sekali tidak profesional! saya disini menunggu
karyawan anda 10 menit. Seharusnya, kalian sudah persiapkan diri 30 menit
sebelum client kalian datang," seru Reyhans, ia beranjak berdiri dari
tempat duduknya bahkan terlihat jelas kedua alis laki - laki itu menyatu begitu
tajam.
"Tuan Reyhans, tunggu dulu, saya mohon! ini kami sudah membuatkan perusahaan Tuan design cover terbaik. kami minta maaf sekali, atas keterlambatan karyawan kami. tolong lihat presentasi kami terlebih
dahulu. Lalu, Tuan boleh memutuskan," pinta Tuan Ang.
"Iya, Tuan. saya mohon! saya minta maaf sekali
karna saya terlambat. Karna, rumah saya dari kantor cukup jauh dan tadi dibawah
juga ada sedikit kecelakaan kecil," ucap Kikan ia pun mengatupkan kedua
tangannya berharap laki - laki itu mau berbelas kasian terhadapanya untuk
melanjutkan kerja samanya.
"Kamu berjalan berapa menit dari rumah ke kantor?"
tanya reyhans dengan mengernyitkan dahinya, seolah hendak menerkam Kikan hidup
- hidup .
"Se-sekitar 25 menit Tuan," jawab Kikan. ia
begitu gugup dan takut.
"25 menit? Lalu, berangkat jam berapa dari rumah?" tanya Reyhans kembali.
"Jam 7.20 Tuan," saut Kikan lirih. ia masih menundukan pandangannya ke bawah. Karna, ia merasa bersalah. entahlah, Kikan saat ini benar - benar takut jika laki – laki itu membatalkan kerja sama hanya karna kesalahan
yang tak sengaja ia lakukan. bisa - bisa dirinya di keluarkan dari perusahaan ini.
"Jadi, kamu hanya menyisihkan waktu 10 menit
untuk tiba dikantor? seharusnya kamu berangkat jam 7.00 dari rumah, coba kamu
jadi karyawan saya, sudah saya pecat kamu!" seru Reyhans. ia membuang
wajahnya ke sembarang arah dengan begitu kesal.
"Iya Tuan, saya minta maaf karna sebelum ke kantor
saya harus membantu Ibu saya terlebih dahulu," ucap Kikan
semakin menundukan pandangannya.
"Oh, jadi, kamu mencoba mencari alasan? itu bukan
alasan! entah apapun itu alasannya, kamu harus bekerja secara profesional.
Karna, kamu kerja di gaji!" ketus Reyhans .
"Ah sialan, kenapa aku jadi bilang seperti
itu? jadi panjang kan urusannya," gumam Kikan dalam hati. ia semakin
menggigit bibir bawahnya hingga terlihat membekas merah di sana.
"I-iya Tuan, saya minta maaf, saya akan
perbaiki lagi kesalahan saya, agar tidak terlambat lagi," ucap Kikan.
peluh terlihat mengucur melapisi dahinya,
"Kenapa kamu minta maaf kepada saya?
seharusnya kamu minta maaf kepada atasanmu," tegur Reyhans kembali.
rasanya Kikan benar - benar serba salah waktu itu.
"Tuan Ang, saya minta maaf. saya tidak akan
mengulangi kesalahan fatal ini lagi," ujar Kikan kepada Tuan Ang.
"Iya, Kikan. saya harap, kau tidak mengulanginya
kembali," tutur Tuan Ang, Kikan pun
mengiyakannya.
"Tuan reyhans, mohon maaf sekali, apa Tuan masih
berkenan untuk melanjutkan presentasi kami?" tanya Tuan Ang dengan begitu
penuh harap seraya menaikan kacamatanya yang sempat menurun tersebut.
"Silahkan, karna, saya masih menghormati anda. Jadi, saya beri kesempatan presentasi hanya
20 menit," ujar Reyhans, ia pun duduk
kembali ke kursinya semula.
"Ba-baik, Tuan Reyhans. terimakasih banyak. akan
kami pergunakan waktunya sebaik mungkin," ujar Tuan Ang, ia pun menyuruh Kikan
agar segera mempersiapkan presentasi
designnya.
"Astaga,
disiplin waktu sekali orang ini. coba saja kalau bukan client penting sudah aku
maki - maki habis tadi, sialan." Kikan mengumpat dalam hati, ia benar -
benar merasa kesal akan sikap Reyhans. namun, setidaknya Kikan merasa sedikit
lega. ia menghela napas dan mengelap keringat yang sempat mengucur di dahinya.
dirinya bergerak cepat untuk mempersiapkan presentasinya
Kikan pun mempresentasikan 7 design miliknya di
hadapan semua orang yang ada di ruangan itu, ia menyelesaikan presentasi tepat
20 menit sesuai dengan permintaan Reyhans. hingga membuat semua orang yang ada
di ruangan itu begitu terkagum - kagum dengan apa yang telah disampaikan
oleh Kikan .
"Ternyata, memuaskan juga hasil presentasi design
perempuan ini. sangat cerdas, tapi, tetap saja kurang disiplin waktu dan aku
sangat tidak menyukainya," gumam Reyhans dalam hati.
"Tuan Reyhans, sekali lagi saya mohon maaf atas
kejadian yang kurang berkenan hari ini. tetapi setidaknya karyawan kami sudah
berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. jadi saya akan sangat
menghormati apapun keputusan Tuan," tutur Tuan Ang.
"Deal ... besok akan saya suruh sekertaris saya
mengirimkan kontrak kerja samanya," saut Reyhans. ia beranjak berdiri dari
duduknya seraya merapikan jas yang sama sekali tidak berantakan itu .
"Baik, Tuan Reyhans. terimakasih - terimakasih
banyak," tutur Tuan Ang. dengan senang hati ia menyodorkan tangan
dan menjabat tangan Reyhans. Reyans berpamitan dan dengan cepat laki - laki itu
melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Hah, dasar sombong sekali! kenapa ada orang
semacam dia bisa hidup," gumam Kikan dalam hati rasanya mood paginya
begitu kacau karna laki - laki yang ia anggap begitu menyebalkan itu.
Kikan berjalan menghampiri Tuan Ang yang sedang
berdiri di depan pintu, rasanya ia tidak enak hati karna sudah menciptakan
kekacauan di pagi hari.
"Tuan Ang, saya minta maaf atas kejadian hari ini,"
kata Kikan dengan menundukan kepalanya, ia benar - benar merasa bersalah dan
tidak enak kepada atasannya tersebut.
"Sudahlah, Kikan. tidak usah dibahas. saya sangat
mengerti kondisi kamu! dan selama ini kami selalu puas dengan kinerja kamu,
jadi pertahankan," ujar Tuan Ang sembari menepuk bahu Kikan. Tuan Ang
menyuruh Kikan kembali bekerja dan Kikan dengan senang hati mengiyakan perintah
atasannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Neneng Kurniatul Ainy
semangat rhoor
2024-03-20
0
IK
izin baca yaa thor
2023-01-06
0
HARTIN MARLIN
apakah berjodoh tu
2022-12-07
0