Suasana

Suasana sunyi akan keheningan menyelimuti  rumah Kikan menunggu Tante Lilis sadarkan diri. Tante Lilis masih terbaring tak sadarkan diri. dan di kelilingi oleh Kikan, Ibu dan Reyhans di sampingnya. Namun, kedua mata wanita itu tiba - tiba mengerjap dan terbuka perlahan, kedua mata itu masih  menyesuaikan cahaya yang ada di sekitar ruangan itu.

Lilis beranjak duduk dengan mata  yang masih melihat dengan  buram dan samar - samar.

"Syukurlah, jika Mama sudah sadar." Rey mencoba membantu Mamanya tersebut untuk menepatkan posisi duduknya, Kikan menyodorkan gelas kaca yang berisikan air putih kepada Tante Lilis, dan ia membantu untuk meminumkannya. kemudian ia meletakan kembali gelas tersebut di atas meja yang letaknya ada di samping tempat tidur.

"Nyonya Lilis, lebih baik kita batalkan saja ya perjodohan anak - anak kita," tutur Ibu, hingga perkataan itu menyentak telinga Tante Lilis.

"Tidak, Nyonya Merry. saya ingin sekali segera menikahkan salah satu anak saya," ucap Tante Lilis. ia terlihat meremas kedua tangannya yang berkeringat.

"Nyonya, kita tidak bisa memaksakan kehendak anak - anak kita," tutur Ibu.

“Tapi semalam Alka sudah berjanji mau-- "

"Mama cukup! batalkan ini semua ... Alka bukan anak kecil lagi, Ma. kenapa Mama selalu memaksakan keinginan Mama. apalagi hingga menjodohkan dirinya seperti ini," seru Reyhans.

"Rey, selama ini hanya Alka yang menuruti keinginan Mama! Mama sudah memberitahukan rencana pernikahan ini ke semua kerabat dan juga keluarga besar Papa kamu! apa kata mereka kalau Mama tiba - tiba membatalkan ini semua? terlebih lagi, Mama dari dulu di pandang sebelah mata oleh keluarga besar Papa kamu," seru Lilis dengan penuh penekanan. bahkan hingga air mata yang sempat ia tahan kini tertumpahkan di wajahnya itu.

"Tante, sudah, lebih baik Tante istirahat dulu, ya. kita bahas nanti saja," tutur Kikan seraya mengusap usap bahu Tante Lilis. berharap Tante Lilis bisa sedikit menenangkan dirinya.

"Nak, maafkan Alka," ucap Lilis lirih. rasanya ia benar - benar merasa tidak enak akan kejadian yang semestinya  tidak terjadi hari ini .

"Tidak apa – apa, Tante." Kikan membalasanya dengan senyumannya. ia membuat dirinya sebisa mungkin agar  terlihat tampak baik - baik saja di depan Ibu dan juga Tante Lilis. padahal hati Kikan saat itu begitu terluka akan penolakan Alka secara langsung. Lalu, Kikan dan Ibunya berpamitan keluar meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Lilis beristirahat dengan di temani oleh Anak sulungnya.

Kedua mata Lilis mengarah ke sembarang arah dengan tatapan yang begitu kosong. rasanya ia bingung memikirkan kejadian hari ini. Reyhans yang dari tadi duduk di tepi tempat tidur itu, tak henti memperhatikan raut wajah Mamanya.

"Mama istirahatlah dulu," perintah Reyhans. Lilis hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.  Kemudian suara dering ponsel milik Lilis berbunyi begitu nyaring di telinganya. kala itu, ponsel tersebut berada di dalam tas jinjingnya yang berada di atas meja. Lilis pun menyuruh anak sulungnya untuk mengambilkan ponsel tersebut.

"Paman Joe," Reyhans berucap lirih saat melihat satu panggilan masuk yang tertera di layar ponsel itu. ia menyodorkan ponsel tersebut kepada Mamanya. Joe ialah adik dari suami Lilis, yang tak lain Paman dari Reyhans dan juga Alka. Lilis sudah bisa menerka - nerka kenapa adik iparnya tersebut menelpon dirinya. Lilis menarik nafas dan mencoba sedikit menenangkan pikirannya. ia meletakan ponsel yang ia genggam lebih mendekat ke arah telinganya.

Iya Hallo," sapa Lilis.

"Hallo kakak ipar ... bagaimana?  apa sudah di tetapkan tanggal pernikahannya? kalau bisa usahakan bulan ini ya, kak. lebih cepat lebih baik, semua keluarga sangat senang dengan berita pernikahan ini terutama Mami, ini akan menjadi pernikahan pertama cucunya," suara Joe yang terdengar begitu semangat dari balik ponsel itu membuat Lilis membungkam seolah ada yang tercekat di tenggorokannya, hingga, dirinya bersusah payah menelan salivanya.

"Kakak ipar? apa kakak mendengar suaraku?" suara Joe memastikan kembali.

"Ehm, I-iya kakak mendengarnya, ini acaranya masih berlangsung dan kakak masih sibuk. nanti kakak akan mengabarimu kembali ya adik ipar, bye," pamit Lilis. tanpa menunggu sautan dari adik iparnya tersebut. Lilis tak segan langsung mengakhiri panggilannya dan meletakan ponsel itu dengan keras di sampingnya.

Lilis kembali menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosongnya. kepanikan dan kebingungan semakin tersirat jelas di kedua manik matanya.

"Mama ... Mama kenapa? " tanya Reyhans sambil menyentuh bahu Mamanya hingga membuat tubuh Lilis sedikit tersentak.

"Pamanmu menanyakan pernikahan ini, Nenekmu sudah berharap banyak. tapi Alka?  Mama harus bagaimana Rey ... " Lilis setengah berteriak. cairan bening itu kembali meleleh membasahi wajah ayunya.

"Mama berterus terang saja jika pernikahan ini dibatalkan. selesai, kan."

"Tidak! apa kata keluarga besar Papamu? Nenekmu dari dulu sangat tidak menyukai Mama. Mama tidak mungkin, Nak. membatalkan rencana pernikahan ini begitu saja," bantah Lilis.

"Lalu, bagaimana lagi, Ma. Alka melarikan diri, dia tidak mau di nikahkan dengan anaknya Tante Merry," seru Rey.

"Kalau begitu, kamu saja yang menikah dengan Kikan," ucap Lilis.

"Tidak! apa Mama bercanda menyuruhku menikah dengan dia? ini sungguh konyol," teriak Rey dengan begitu kesalnya.

"Rey, Mama mohon, Nak." Lilis memelas. bahkan hingga membuat dirinya mengatupkan kedua tangan di depan anak sulungnya tersebut.

"Rey, bilang tidak tetap tidak! Umur dia terpaut 5 tahun dengan, Rey. dia terlalu muda, dan Rey tidak menyukai wanita yang kekanak- kanakan!" Seru Rey dengan penuh penekanan.

“Tapi Kikan—”

“Mama, Rey. tidak mau! ” tukas Rey.

"Ya Tuhan, Nak. lalu Mama harus bagaimana? kalau kamu juga tidak mau menikah dengan Kikan. lebih baik Mama mati saja! Mama sudah lelah daridulu selalu menjadi bahan hina'an keluarga besar Papa kamu," ancam Lilis.

Rey begitu tersentak. ada ketakutan tersendiri di dalam dirinya. Namun, dirinya tau yang saat ini Mamanya katakan hanyalah sebuah ancaman belaka agar dirinya mau mengiyakan permintaan Mamanya.

"Rey, kamu benar - benar tidak mau menikah dengan Kikan?" tanya Lilis sekali lagi.

"Tidak!" jawaban yang sama keluar dari mulut Rey. dan tanpa berkata  Rey beranjak berdiri dan hendak meninggalkan Mamanya di kamar tersebut.

Dan saat Rey hendak membuka gagang pintu kamar itu. Tiba - tiba, terdengar suara pecahan kaca yang begitu nyaring di telinganya.

Rey sontak menoleh. dan kedua matanya begitu terkesiap saat Mamanya memegang serpihan gelas kaca yang tajam dan hendak menancapkan serpihan gelas tersebut ke pergelangan tangannya.

"Mama .... " teriak Rey dengan sangat kencang. ia berjalan cepat mendekati Mamanya dan menyingkirkan jauh - jauh serpihan kaca itu.

"Lepaskan Mama .... " teriak Lilis dengan menangis dan meronta - ronta.  Kikan dan Ibu Merry yang mendengar akan keributan yang berasal dari dalam kamar tempat Tante Lilis beristirahat. seketika itu pula mereka menghampirinya.

"Nak Rey, Nyonya, ada apa?" tanya Ibu Merry. Namun, ia tak mendapat jawaban akan pertanyaannya tersebut.

"Apa Mama sudah gila melakukan hal bodoh seperti ini? di luar sana masih banyak orang yang ingin hidup. Tapi, Mama malah ingin mengakhiri hidup Mama dengan tindakan bodoh ini," seru Rey dengan berteriak. Kikan dan Ibu Merry begitu terkesiap saat mendengarnya. Lilis hanya membungkam dan menangis. membuat hati Rey tak tega dan mendekap tubuh mamanya di pelukannya, kini pikiran Rey sudah membulatkan sebuah keputusan.

"Baiklah, jika Mama ingin Rey menikah. Rey akan menggantikan Alka untuk menikah," ucap Rey sembari kedua matanya menatap tajam ke arah Kikan. Rey terpaksa melakukan ini semua hanya karna tidak ingin melihat Mamanya bersedih bahkan sampai hendak melukai diriniya sendiri. sungguh tidak bisa Rey bayangkan.

Lilis menaikan wajahnya,"Benarkah yang baru saja kamu katakan, Nak?" tanya Lilis seakan tak percaya. dengan terpaksa Rey hanya menganggukan kepala tanpa bersuara.

"Terimakasih banyak, Nak." Lilis memeluk erat tubuh anaknya tersebut.

Saat di rasa Mamanya sudah cukup tenang, Rey berpamitan pulang dan menitipkan Mamanya kepada Ibu Merry. karna dirinya masih memiliki pekerjaan yang sempat ia tunda di kantornya. dengan senang hati, Ibu Merry mengiyakannya. 

Rey melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. kedua manik matanya menatap Kikan dengan begitu sinis seakan ada rasa yang tidak di sukai Rey terhadap perempuan itu. bahkan dengan sengaja Rey menyenggol bahu Kikan hingga membuat Kikan hendak terjatuh. rasanya mulut Kikan ingin sekali memaki laki - laki itu. Namun, dirinya enggan karna suasana panas di rumah nya baru saja mereda. Kikan hanya mengepalkan tangan akan menahan rasa geramnya tersebut.

Terpopuler

Comments

Sintia Dewi

Sintia Dewi

rey natap kikan seolah2 yg pngen bgt buat dijodohin kikan pdhal mah kikan jg ogah kalik. mamanya rey bakalan buat hidup seorang anak menderita dgn tetap memaksakan perjodohan kikan dgn rey..kasin bgt sih km kikan

2024-08-28

0

Sunarsih Bagus Inara

Sunarsih Bagus Inara

bener songong banget tu si rey,thor buat dia bucin habis kebkikan dan buat si alka menyesal karena sudah menyia-nyiakan dan menghina kikan😈😈😈😈

2024-01-14

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Sombong amat Rey, menghina kikan bahasanya itu loh ngk pantes🙈🙈🙈

2023-07-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!