Kikan terlihat berdiri di samping jendela kamarnya. embun pagi terlihat menyelimuti luar kaca jendela tersebut. hari ini telah di putuskan. esok, Kikan akan menikah dengan Reyhans. kakak kandung dari, Alka. orang yang tak pernah Kikan bayangkan sebelumnya.
terdengar konyol, memang. tapi mau bagaimana lagi? sebenarnya hati Kikan juga tersiksa akan ini semua. Namun, sekali lagi, dirinya menikah hanya ingin membuat Ibunya bahagia. karna hanya ini lah yang sejak dari dulu di inginkan oleh Ibunya.
bagaimana hari setelah dirinya menikah? pertanyaan - pertanyaan kecil itu kembali memenuhi isi kepala Kikan hingga membuat wanita itu tak fokus melakukan aktivitasnya.
"Arghh," Kikan mendesah frustasi karna memikirkan semua ini. seketika itu ia langsung keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ke kamar Ibunya untuk berpamitan pergi ke kantor. karna hari ini Kikan ingin meminta cuti kerja kepada atasannya selama satu minggu ke depan. ia beralasan untuk pulang ke kampung halamannya. Kikan tak mengatakan alasan yang sebenarnya. Bahwa, dirinya akan menikah. Karna, ia tidak ingin pernikahannya di publikasikan.
Seusai pulang dari kantor. Rumah Kikan di padati dengan beberapa orang yang sedang sibuk mendekorasi halaman rumahnya untuk pernikahannya besok, iya benar, pernikahan itu akan di laksanakan di rumah Kikan. melihat pemandangan itu rasanya semakin membuat Kikan tidak bersemangat. bahkan, malam harinya ia begitu susah untuk memejamkan matanya. Namun, Kikan tetap memaksakan untuk mengistirahatkan tubuhnya tersebut.
Hingga tak terasa, pagi pun sudah menjelang. semua orang yang telah di perintahkan oleh Tante Lilis di sibukan untuk mempersiapkan acara pernikahan ini.
Tidakkah kalian lihat setiap orang tua akan melepaskan anak perempuannya ketika kelak sudah dewasa? karna tugas orang tua membesarkan dan menjaga anaknya sudah hampir selesai. Namun, tugas hidup sang anak baru saja dimulai.
Begitu pula dengan kehidupan Kikan, hari ini ialah hari dimana kehidupan Kikan yang sesungguhnya akan dimulai. kerumunan orang terlihat sudah memadati rumah Kikan, pernikahan ini hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan keluarga besar dari Reyhans saja. tidak ada saudara dan kerabat dari keluarga Kikan yang hadir, karna memang yang Kikan tau, Ibunya sudah tidak memiliki saudara lagi kecuali keluarga dari Ayahnya. Tapi, lupakanlah saja. sekarang hanya Cathrine lah sahabat sekaligus saudara baginya. Lagi pula, ini memanglah kemauan Kikan dan juga Reyhans. yang tidak ingin pernikahannya di publikasikan.
Di hari yang membahagiakan itu semua orang terlihat begitu bahagia tak terkecuali Tante Lilis dan juga Ibu Merry. mereka satu - satunya orang yang paling bahagia di pernikahan itu. namun itu tidak berlaku kepada Kikan. terlihat jelas guratan raut di wajah wanita yang sudah di rias cantik oleh polesan make up itu begitu tak senang dengan pernikahan ini, begitu juga dengan Rey. rasanya ini seperti mimpi buruk baginya.
Seorang laki - laki memakai jas abu - abu yang tengah berdiri di sudut ruangan sana sedang memperhatikan Kikan dari kejauhan, laki - laki tersebut tak lain ialah Reyhans, ia terlihat sedang meneguk minuman dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana panjang miliknya. kini, Rey berjalan menghampiri Kikan dengan menggenggam gelas minumannya tersebut. Kikan memperhatikan laki - laki yang berjalan ke arahnya itu dengan perasaan yang was - was. Reyhans menorehkan senyuman sinisnya kepada Kikan. dan kini dirinya terlihat berdiri sejajar dengan calon istrinya itu.
"Nona kikan, perlu kau ketahui, saya menyetujuhi pernikahan ini semata - mata hanya karna Mama saya. jadi jangan harap kau bisa semudah itu masuk ke dalam keluarga kami, karna satu tahun yang akan datang saya akan secepatnya mengakhiri sandiwara bodoh ini ... " Reyhans berbisik lirih di samping Kikan. ia meneguk kembali sedikit minuman yang ada di dalam gelas yang saat ini ia pegang. Namun, tak membuat Kikan bergeming akan hal itu.
"Oh, Tunggu ... satu tahun itu bukankah waktu yang terlalu lama? bagaimana kalau 6 bulan? atau satu bulan yang akan datang," imbuh Rey. senyuman sinis itu kembali ia lingkarkan kepada Kikan. hingga membuat wanita yang saat ini berdiri tepat di sampingnya merasa geram dan mengepalkan tangannya seketika.
"Tuan Rey, yang terhormat! dengar perkataan saya baik - baik. kalau tidak karna Ibu saya atau karna Tante Lilis yang memaksa saya menikah. saya juga tidak bersudi hati untuk menikah dengan anda!" suara Kikan terdengar begitu kesal karna menahan rasa geramnya. kata - kata itu justru membuat Rey tertawa konyol.
"Haha, bukankah kau menyetujuhi pernikahan ini agar bisa terlihat sepadan dengan keluarga kami? buktinya meskipun saya yang menggantikan posisi alka kau tetap tidak keberatan untuk menolaknya, benar, kan. Nona Kikan?" tanya Rey.
"Cukup, Tuan Reyhans. saya tidak ingin dan tidak mau menjelaskan perkataan yang sudah saya jelaskan sebelumnya. dan perlu anda camkan satu hal lagi, saya tidak serendah seperti apa yang anda bicarakan baru saja," Kikan menyangkal akan apa yang di tuduhkan Rey kepadanya. rasanya ia sudah tidak bisa menahan emosinya, hingga tangan kananya terlihat memerah akibat ia remas.
"Benarkah? Tetapi, nyatanya semua wanita sama saja! dirinya rela terlihat rendah demi mendapatkan mangsanya," Reyhans tersenyum sinis.
Suara pecahan yang begitu nyaring terdengar dari gelas yang baru saja di jatuhkan dengan sengaja oleh Reyhans. hingga membuat semua mata yang ada di sana tertuju ke arah mereka berdua.
"Dalam hidup hanya ada dua pilihan, Nona. di hancurkan atau menghancurkan," bisik Reyhans. dan ia berlalu meninggalkan Kikan dengan posisi yang masih mematung disana.
Kikan begitu geram mendengar semua perkataan yang Rey lontarkan kepadanya. namun, apa daya. Kikan harus menahan emosi demi menghormati Ibu dan Tante Lilis.
hingga pernikahan di antara mereka berdua pun di mulai. tak terbesit sedikit pun pikiran Kikan dan Rey akan adanya hari ini. bagaimana mereka bisa menjalani pernikahan tanpa sebuah cinta? tanpa sebuah hubungan baik diantara mereka? lagi - lagi jiwa Kikan memberontak akan hal itu.
Janji kedua mempelai diucapkan hingga pernikahan mereka sudah dinyatakan sah dan resmi menjadi pasangan suami istri tepuk tangan dan sorak bersautan dari para tamu undangan. semua orang tertawa bahagia, hingga membuat jiwa Kikan tersiksa melihat ini semua. bahkan wajah wanita itu terlihat begitu datar tanpa senyuman yang menghiasinya.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa aku hidup satu atap dengan laki - laki yang sama sekali tidak aku cintai? " gumam Kikan dalam hati. ia memejamkan matanya dengan sedih. Namun, tiba - tiba suara Ibu Merry mengejutkan dirinya.
"Kikan," panggil Ibu. Kikan seketika langsung membuka matanya.
"Iya, Bu," saut Kikan. ia mencoba tersenyum di hadapan ibunya tersebut.
“Kikan, anakku sayang. kamu sekarang sudah menjadi istri Rey. pesan Ibu, apapun keaadan suami kamu, kamu harus selalu bersamanya. dan apapun perlakuan suami kamu, kamu harus tetap berbakti kepadanya. jadilah istri yang baik. Ibu selalu mengajarkan hal yang baik terhadapmu jadi terapkan semua kebaikan kepada siapapun itu termasuk kepada suami kamu," pinta Ibu sembari menahan air matanya. hati Kikan begitu sesak mendengarkan perkataan yang baru Ibunya ucapkan ia sebisa mungkin menahan agar tidak menjatuhkan air matanya. Kikan mengangguk - anggukan kepalanya dan menelan salivanya yang ia rasa begitu getir.
"Baik, Bu. Ibu ... Kikan sangat sayang sekali dengan Ibu, maafkan Kikan yang selama ini belum bisa membahagiakan, Ibu. Kikan akan menerapkan semua yang Ibu ajarkan kepada Kikan selama ini," ujar Kikan. ia memeluk tubuh wanita paru bayah yang tengah di hadapan nya saat ini, perasaan Kikan menciut hingga ia tak bisa lagi menahan air matanya yang semula ia bendung. Ibu dan anak itu menangis satu sama lain dalam dekapan yang begitu menghangatkan tanpa mempedulikan sekitar.
Kikan melepaskan pelukan dengan Ibunya dan kini bergantian memohon doa restu kepada wanita yang sudah menjadi Ibu mertuanya. Lilis memeluk Kikan dengan begitu erat, seolah Ibu dari suaminya itu berharap lebih kepada Kikan.
tak tertinggal juga sahabat Kikan yang tak lain ialah Cathrine. ia juga turut ikut serta hadir dalam perayaan pernikahan sahabatnya tersebut bersama kekasihnya .
ia memberi ucapan selamat serta doa kepada kepada sahabat dan juga laki - laki yang sudah menjadi suami dari sahabatnya itu.
semua para tamu undangan yang hanya terdiri dari kerabat dekat dan keluarga besar sangat terhibur dan menikmati pesta perayaan pernikahan dan jamuan yang sudah di hidangkan.
hingga perayaan itu berakhir dengan lancar, dan rumah Kikan kembali hening seperti biasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sintia Dewi
ortunya pg egosi bgt sih mksa buat jodoh2in tp gk mikir anaknya bakalan bhagia atau menderita. gw ksian sm kikan rey lu jngan nyiksa2 ya abis nikah. kikan loh anak yg baik kasian dia dipkasa mandiri krna gk ada ayahnya
2024-08-28
0
Zieya🖤
apa termasuk jika suami menyakiti dari segi fizik dan mental, istri harus bersikan baik pada suami bu? dangkal kali pikiran....
2024-05-01
0
richelle
kikan pasti tersiksa bgt
2024-04-21
0