Rey terlihat mondar – mandir . berulang kali ia melihat ke arah jam dinding yang terpampang besar di dalam rumahnya, dan kala itu waktu sudah menunjukan pukul 19.00Pm, namun, Kikan belum juga kembali. Ia mencoba mengubungi Kikan, tetapi, ponsel Kikan terlihat tertinggal di dalam kamar, persisnya diatas tempat tidurnya.
"Ah sialan, dia tidak membawa ponselnya, aku harus mencarinya kemana? bahkan selarut ini dia belum juga pulang, apa mungkin dia kerumah Ibu," gumam Rey. Rey mencoba menekan tombol ponselnya untuk menghubungi Mamanya. hingga terdengar nada telpon mulai menyambungkan.
"Hallo." Lilis menyapa dari balik ponsel itu.
"Hallo, Mama."
"Iya, Nak. ada apa? tumben sekali menelepon Mama di jam segini?" tanya Mama Lilis.
"Sepertinya Kikan tidak ada di rumah Ibu."gumam Rey dalam hati.
"Tidak ada apa - apa, Ma. hanya mau memastikan saja kabar Mama dan juga Ibu Merry, apa baik - baik saja, Ma?" tanya Rey.
"Mama sama mertua kamu baik baik saja kok, nak. kamu dan Kikan di sana bagaimana? Baik juga, kan?" tanya Mama Lilis.
"Baik juga kok, Ma." Rey berucap dengan nada lirih.
"Syukur-lah, lalu, dimana istrimu, Rey?" tanya Mama Lilis.
"Ehm, i-itu, Ma. Kikan masih ke kamar mandi. Yasudah ya, Ma. Rey akan menghubungi Mama lagi besok. Bye Mama."Rey sesegera mungkin mengakhiri panggilan itu.
Rey nengambil kunci mobil bergegas keluar rumah untuk mencari Kikan, ia menyusuri sepanjang jalan. ia begitu khawatir jika Kikan kenapa - kenapa, bisa - bisa ia di salahkan akan ini semua.
"Aku harus mencari wanita itu kemana lagi? aku juga jarang sekali melihat-nya bertemu dengan temannya kecuali Nona Cathrine." Rey bergumam dengan kedua matanya tak henti mengawasi sekitar jalanan.
"Apa mungkin, dia pergi ke rumah Cathrine? lebih baik aku melihatnya di sana," gumamnya kembali.
Ketika hendak menuju ke rumah Cathrine, Rey tiba - tiba menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah Ibu Merry dan juga Catherine. ia turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket tersebut untuk membeli minum, karna malam itu tenggorokan Rey terasa sangat kering hingga membuat dirinya dehidrasi. Namun, saat Rey hendak masuk ke dalam. tiba – tiba, dirinya terkejut saat bertabrakan dengan seorang wanita yang tak lain ialah Ibu Merry.
"Rey, kamu sedang apa di sini?" tanya Ibu Merry.
"Ibu Merry."
"Ehm... Rey sedang membeli minum, Bu." Rey terlihat gugup.
"Kikan dmana?" tanya Ibu, kedua mata itu memperhatikan sekitar, namun dirinya tak mendapati anaknya disana.
"Ehm i-itu apa ... Kikan tidak ikut, Bu. dia di rumah" jawab Rey, demi apapun, Rey benar - benar bingung untuk menjawab pertanyaan mertuanya tersebut.
"Apa benar Kikan di rumah, Nak."
"I-iya kok, Bu." Rey gugup lagi, hingga terlihat dahinya mengucur keringat disana.
"Tidak ada yang kamu sembunyikan dari Ibu kan, nak?" tanya Ibu curiga.
"Tidak ada kok, bu."
"Jujur sama Ibu, Nak. Kikan dimana?" tanya Ibu, wanita itu berharap jika menantunya berbicara dengan jujur.
Memang tidak bisa di pungkiri, ikatan batin seorang Ibu memang sangat-lah kuat, sekalipun masalah kecil yang sedang di hadapi anaknya, namun ia bisa ikut merasakannya.
"Bu, maafkan, Rey. sebenarnya Kikan pergi dari rumah, dan Rey sekarang sedang mencari-nya," jawab Rey dengan memelas.
"Astaga, kenapa Kikan bisa pergi dari rumah, Nak." Ibu Kikan, benar – benar terkejut saat mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh menantunya.
"Maaf, Bu. Ini salah Rey. tapi Rey tidak bermaksud membuat kikan pergi dari rumah, Rey hanya bertanya kepada Kikan kenapa dirinya dikeluarkan dari sekolah sewaktu SMA. Rey hanya ingin tau kebenaran-nya saja, Bu." ujarnya.
Ibu Merry mengajak menantunya itu untuk duduk dibangku kosong yang ada di depan mini market tersebut. Kini, Ibu Merry dan juga Rey duduk saling berhadap - hadapan. Ibu menghela nafas dan mulai mencoba menceritakan semuanya.
"Kikan pasti sekarang sedang berada di rumah Cathrine, Nak." Ibu Merry berucap lirih. Kedua mata-nya menatap ke sembarang arah seakan menyiratkan kesedihan di sana.
"Benarkah, bu?" Tanya Rey
"Iya, Nak. Setelah ayahnya meninggal, Kikan hanya dekat dengan Ibu dan Cathrine saja, Nak. Kikan sangat tertutup! setiap kali ada masalah dia tidak pernah mau menceritakan kepada siapapun termasuk Ibu maupun Cathrine, kecuali benar - benar memaksanya. dia selalu memilih diam menyimpan masalahnya sendiri, Dan Mengenai masalah Kikan yang membuatnya terpaksa dikeluarkan dari sekolah itu memang benar karna sebuah kesalah pahaman," kata ibu kikan sambil menahan air matanya.
"Kenapa semuanya bisa salah paham, Bu. bisakah Ibu menceritakan semuanya kepada Rey?" tanya Rey penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Mimilngemil
Sudah mulai ada titik terang kisah masa lalu Kikan dari cerita Bu Merry, semoga kebenaran terungkap
2023-11-02
0
Zainab Ddi
cerita kan Bu kasian kikan JD korban disini difitnah sana reins
2022-05-18
0
Ida Lailamajenun
klu dh ktmu ibu Kikan baru tau kebenarannya
2021-12-05
0