Bukankah ini hari minggu? wajar saja jika Kikan masih nyaman dan terlelap akan tidurnya. suara dering yang tercipta dari ponsel milik Kikan begitu bising di telinganya. hingga membuat wanita itu mengerjapkan kedua mata nya dengan guratan wajah yang sedikit kesal.
Kikan menguap dan tanpa memindah posisinya, ia meraih ponsel yang saat itu berjarak 30 cm di sampingnya. ia melihat di layar ponsel tersebut ada 3 panggilan yang tak terjawab dari nomer yang tak ia kenal. dan pemilik nomer tersebut meninggalkan sebuah pesan singkat kepada Kikan.
Kikan, ini aku, Alka. aku sempat mencoba menghubungimu tadi. Tetapi, tidak ada jawaban. Jadi, aku terpaksa
mengirimkan pesan singkat ini.
"Alka? mungkin Tante Lilis yang memberikan nomerku kepadanya." Kikan bergumam.
dan jari - jari tangannya mulai menekan tombol yang sudah tertera huruf di ponsel tersebut.
Oh Iya, Alka. maaf aku tidak tau jika kau menelponku. aku tadi sedang tidur, apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?
Kikan menghela napas dan hendak meletakan ponselnya kembali ke tempat semula. karna ia mengira Alka akan lama membalas pesan singkat yang baru saja ia kirimkan.
Namun, saat ia hendak meletakan ponsel miliknya. tiba - tiba ponsel tersebut berdering kembali.
Mama semalam sudah memberitau bahwa Mama ingin menjodohkanku denganmu, dan aku hanya ingin memberimu kabar kalau nanti siang, aku dan Mama akan ke rumahmu untuk membahas masalah pertunangan
sekaligus pernikahan.
Mulut Kikan menganga dan matanya membulat lebar saat membaca pesan singkat yang baru saja
ia terima. apa ini mimpi? rasanya begitu konyol. Kikan seakan tak percaya. Jiwa Kikan, seakan memberontak.
Kenapa begitu mendadak? ini sungguh terlalu cepat!
Entahlah, aku juga tidak tau dengan keputusan Mama, lebih baik kita bahas nanti. bye.
Tanpa membalas pesan singkat dari Alka. Kikan melempar
ponselnya ke tempat semula. ia beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan
kakinya dengan cepat keluar dari kamar untuk mencari Ibunya.
Ia berteriak memanggil - manggil nama Ibunya. dengan kedua mata yang memperhatikan ke setiap
ruangan. hingga langkah kaki Kikan terhenti di depan pintu dapur saat melihat
Ibunya tengah sibuk memasak di sana.
"Ada apa, Nak. memanggil - manggil Ibu?" tanya Ibu.
"Bu, Alka baru saja mengirim pesan singkat. katanya dia dan juga Tante Lilis akan kemari untuk membahas masalah pernikahan, kenapa begitu cepat sekali?" tanya Kikan dengan begitu paniknya.
namun Ibu hanya tersenyum kecil kepadanya.
"Lebih cepat lebih baik kan, Nak," tutur Ibu. tangan lembutnya menyentuh dagu runcing Kikan.
"Apa nya yang baik, Bu. setidaknya beri Kikan waktu. Kikan masih belum siap.dan lagipula, Kikan tidak kenal betul dengan Alka," bantah Kikan seraya mengernyitkan dahinya. moodnya pagi itu serasa
begitu kacau.
"Kikan, Alka kan dulu teman kecil kamu, Nak. dia laki - laki baik," tutur ibu kembali. seakan kata - kata yang keluar dari mulut Ibu begitu menghipnotis telinga Kikan.
"Tapi, Bu. situasinya sekarang berbeda! Kami sudah bukan anak kecil lagi bahkan kita belum pernah bertemu lagi setelah 15 tahun. dan Kikan juga tidak kenal betul dengan Alka," seru Kikan.
"Nak, nanti kalian bisa mengenal satu sama lain setelah menikah," ujar Ibu sambil menyelipkan rambut anak
perempuannya itu di belakang telinga.
"Alka dan keluarganya adalah orang baik, jadi Ibu akan tenang menitipkanmu kepada keluarga mereka jika sewaktu - waktu Ibu—"
"Cukup, Bu." suara Kikan menukas begitu saja. ia tidak ingin ibunya melanjutkan perkataan itu, Kikan tak segan memeluk tubuh Ibunya dengan erat.
"Kenapa Ibu selalu berbicara seperti itu?
Kikan sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain, Ibu. Kikan sangat
menyayangi Ibu, jadi, Kikan akan melakukan apapun keinginan Ibu," ucap
Kikan. ia memejamkan matanya hingga terlihat buliran cairan bening itu keluar
dari pelupuk matanya dan membasahi bahu Ibunya.
"Terimakasih, Nak," saut Ibu.
beliau semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi wajah anaknya
tersebut. Ibu dan anak itu masih terhanyut akan kesedihannya. mereka berdua
saling melepaskan pelukan dan melanjutkan aktivitasnya kembali.
Ibu menyuruh Kikan memasak untuk menjamu keluarga
Tante Lilis.
bukan suatu hal yang mengherankan, Kikan telah di didik oleh ibunya menjadi perempuan yang
mandiri. Bahkan, dirinya sangat pandai sekali memasak. Jadi, tak heran jika Ibu
nya selalu menyuruh Kikan untuk memasak jika ada acara tertentu.
Kikan terlihat berdiri di dekat penggorengan dengan
tangan kanan memegang spatula, sesekali ia membolak - balikan sesuatu yang
sedang ada di dalam kwali panas tersebut.
ia terlihat begitu tak fokus bahkan kedua mata Kikan menatap ke sembarang arah dengan
tatapan yang begitu kosong. nampaknya ia memang sedang memikirkan tentang
perjodohannya dengan Alka.
"Ya Tuhan, demi bisa melihat Ibu bahagia. aku
rela di jodohkan. meskipun sebenarnya aku masih belum siap untuk menikah,"
Kikan bergumam pelan. bibirnya sedikit melengkung ke atas menandakan dirinya
sedang tersenyum getir.
"Tapi aku sungguh bingung, apa Alka masih baik
seperti dulu? dan apa Alka benar - benar bisa menerimaku? Sementara, yang aku
tau, dia seorang pengusaha. dan aku? aku hanya seorang pegawai biasa," imbuhnya.
Kikan membuang napasnya dengan begitu berat.
Lagi - lagi
ia disibukan akan lamunannya. indera penciumannya mengendus aroma bau
gosong hingga membuat telinga perempuan itu tersentak saat mendengar
suara Ibunya berteriak memanggilnya.
"Astaga Kikan," teriak Ibu yang terlihat
berjalan menghampiri Kikan.
"Iya Bu ada apa?" tanya Kikan. rasanya ia
belum sadar bahwa ikan yang saat ini ia masak gosong.
"Nak, ikannya gosong," seru Ibu dengan
mengambil alih posisi Kikan dan memutar knop off yang terdapat di kompor
tersebut hingga api yang menyala di kompor itu memadam dengan sendirinya.
"Astaga," Kikan berteriak kecil. ia sungguh
tak menyadari bahwa ikan yang sedang ia masak sudah berubah warna menjadi
coklat ke hitam - hitaman di dalam kwali.
"Kamu melamun apa sih, Nak. lebih baik kamu beristirahat saja dulu. Lagi pula
Tante Lilis kemari 2 jam lagi," perintah Ibu.
"Tapi Bu-- "
"Nak, sudahlah biar ibu saja yang melanjutkan memasaknya.
istirahatlah saja," tutur Ibu. Kikan menurunkan bahunya dan mengiyakan perintah
Ibunya tersebut. Ia melepas Apron yang melekat di tubuhnya dan memberikan Apron
tersebut kepada Ibu. seketika itu Kikan berlalu keluar dari dapur
tersebut. Ibu hanya menggeleng – gelengkan kepalanya memperhatikan anak
semata wayangnya dari belakang.
Kikan masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya
yang begitu lelah di atas kasur empuk itu. Pikiran nya kembali terganggu dengan
pertanyaan - pertanyaan kecil yang belum ia temukan jawabannya. dirinya sungguh
bingung dengan perasaan yang begitu berkecamuk di dalam hatinya. sudah sekian
lama, dan setelah 15 tahun dirinya akan bertemu kembali dengan sahabat
masa kecilnya. laki - laki yang akan di nikahkan dengannya.
Dan hingga
tak terasa 2 jam berlalu. Namun, Kikan masih di sibukan dengan lamunannya.
lamunannya memecah saat suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.
"Kikan ... cepat bersiap - siap, Nak. Tante Lilis
sudah dalam perjalanan kemari," teriakan suara Ibu dari balik pintu
tersebut begitu menggugah Kikan.
"Iya, Bu." Kikan menyaut dengan sedikit
mengeraskan suaranya.
"Astaga, cepat sekali," gumam Kikan. ia pun
sesegera mungkin mempersiapkan dirinya tak butuh waktu lama Kikan keluar dari
kamar dan menghampiri Ibunya yang sedang duduk menantikan Tante Lilis di ruang
tengah. Kikan hendak mendudukan tubuhnya di samping Ibunya. Namun, suara
ketukan pintu dari luar pintu rumah mengurungkan niatnya.
"Sayang, sepertinya itu Tante Lilis sudah
datang," ujar Ibu.
"Iya, Bu. biar Kikan membukakan pintunya."
Kikan berlalu meninggalkan ibunya dan melangkahkan kakinya menuju ke depan. ia
memutar gagang pintu tersebut hingga pintu terbuka. seperti dugaan Ibu. yang
datang saat itu memanglah Tante Lilis. Kikan menyapa wanita yang kala ini
berdiri di hadapannya dan mereka berdua sejenak memeluk satu sama lain.
namun kedua mata Kikan melihat ke arah sekitar namun dirinya hanya melihat
Tante Lilis saja.
"Di mana Alka? " Kikan menanyakan laki -
laki itu didalam hatinya.
"Nyonya Lilis," terdengar suara Ibu yang saat
ini sudah berdiri persis di belakang tubuh Kikan.
"Nyonya Merry," sapa Tante Lilis. kini kedua
wanita itu juga memeluk satu sama lain.
"Di mana Alka, Nyonya? " tanya Ibu. kedua
mata ibu sama seperti Kikan yang memperhatikan ke arah luar rumah. Namun, yang
di lihatnya hanya Lilis seorang.
"Alka masih di kantor Nyonya, dia sedikit
terlambat. mungkin 10 menit lagi akan menyusul kemari bersama kakaknya,"
ujar Lilis. Ibu dan juga Kikan mengiyakannya. kini mereka mengajak Lilis untuk
masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan Tante Lilis untuk duduk. Kikan
menyuguhkan minuman dan juga makanan ringan kepada Tante Lilis.
mereka
bertiga berbincang - bincang hingga waktu tak terasa sudah terlewat 30 menit.
Kikan yang dari tadi memperhatikan jam yang kala itu melekat di dinding.
ia mencoba menanyakan keberadaan Alka.
"Tante, ini sudah setengah jam. kenapa Alka belum
datang juga?" tanya Kikan.
"Astaga, Tante lupa. sebentar ya, Nak." Lilis
merogoh ponsel yang kala itu berada di dalam tas jinjing miliknya dan saat Lilis
hendak mencoba menghubungi Alka. tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar
pintu rumah.
"Mungkin itu Alka, Tante. lebih baik Kikan membukakan
pintu terlebih dulu," pamit Kikan. Tante Lilis dan juga Ibu mengiyakannya.
Kikan berjalan mendekati pintu dan membuka pintu
tersebut. kedua mata Kikan begitu terkesiap saat mendapati seorang laki - laki
berada di depan sana. laki - laki yang tak asing di kedua matanya.
“Tuan Reyhans ... " Kikan begitu terkejut
saat melihat laki - laki itu ialah Reyhans. seorang Client di mana tempat
dirinya bekerja.
"Kau sedang apa di sini?" pertanyaan konyol
itu keluar dari mulut Reyhans.
"Saya? saya yang membukakan pintu ini, jadi, saya
di sini karna memang ini rumah saya," balas Kikan seraya melipatkan kedua
tangan di atas perutnya.
"Oh, sepertinya saya salah alamat, permisi,"
pamit Reyhans. namun, saat dirinya berbalik badan dan hendak meninggalkan rumah
itu. tiba - tiba suara Tante Lilis memanggilnya.
"Rey," Reyhans pun membalikan badannya
kembali saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Mama," Reyhans berucap dan melangkahkan
kakinya mendekati Mamanya tersebut.
Kedua mata Kikan begitu terkesiap saat mengetahui
bahwa laki - laki yang tak asing baginya ialah anak dari Tante Lilis.
situasi yang saat ini ia lihat memang membenarkannya.
"Rey? astaga, ini sungguh konyol. Jadi, Tuan
Reyhans ini adalah Kak Rey. kakaknya Alka? Hmm pantas saja, sikapnya tidak
jauh beda saat waktu kecil," Kikan bergumam dalam hati. ia mengingat -
ingat dengan begitu jelas masa kecilnya, dimana saat dirinya mencari Alka
untuk mengajaknya bermain. Rey selalu saja membisu jika sedang di tanya kikan.
sungguh sombong sekali.
"Kenapa sendirian, Nak. dimana adikmu?" tanya
Lilis kepada Reyhans. kedua matanya menyapu ke seluruh arah yang ada di
sekitarnya. namun, kedua mata Lilis sama sekali tak mendapati wajah
anak bungsunya.
"Bukannya, Alka kemari terlebih dulu, Ma?" tanya
Rey. dahinya mengernyit dengan kebingungan.
"Tidak, Nak. tadi Alka bilang masih ada sedikit
pekerjaan. dan bilang akan datang kemari bersamamu," tutur Lilis.
"Mana mungkin, Ma. setengah jam yang lalu kata
Alka, dia sudah di sini bersama
Mama," ujar Rey.
"Sudah Nyonya, Nak Rey, lebih baik kita masuk ke
dalam rumah terlebih dulu. kita bicarakan saja di dalam," ajak Ibu. Lilis
dan Rey pun mengiyakan ajakan Ibu Merry dan mereka langsung kembali masuk ke
dalam rumah tak terkecuali Kikan. Ibu Merry dan juga Kikan mempersilahkan Rey
dan Tante Lilis untuk duduk. Namun, mereka menolaknya. karna Rey ingin
menghubungi Alka dan ingin menanyakan keberadaanya sekarang. Tapi, rasanya sia –
sia, Rey mencoba menghubungi adiknya berkali – kali, Namun, tetap saja tidak di
angkat hingga membuat dirinya begiu frustasi.
"Bagaimana, Rey." Lilis sedikit khawatir.
"Tetap saja tidak di angkat, Ma."
"Kemana adikmu itu, Mama takut jika hal buruk
terjadi deng-- "
"Pesan dari Alka," tukas Rey. ia dengan
cepat menekan tombol open untuk membuka pesan singkat tersebut.
Kakak, tolong sampaikan maaf kepada Mama. Alka tidak
bisa melanjutkan perjodohan dengan Kikan. Alka tidak menyukainya, Alka belum
siap untuk menikah. dan Alka sudah memiliki wanita pilihan Alka sendiri yang
jauh lebih baik dan cantik daripada Kikan, maaf.
"****." Rey mengumpat dengan begitu
kesal. seketika ia langsung menelpon nomer ponsel adiknya tersebut. namun lagi
- lagi kata umpatan itu keluar dengan begitu kasar dari mulut Rey saat nomer
Alka yang hendak ia hubungi sudah terblokir.
"Rey, ada apa, Nak?" tanya Lilis. Kedua mata
Rey melirik ke arah Kikan kemudian berganti ke arah Mamanya.
"Rey sudah bilang. Alka tidak akan mau di
jodohkan dengan Kikan," tutur Rey.
Hati Kikan seolah hancur saat mendengar perkataan itu.
sungguh menyakitkan. setidak pantaskah dirinya? atau seburuk itu kah dia?
pertanyaan - pertanyaan itu kembali muncul di dalam pikirannya. dan seketika
itu pula Kikan sudah menemukan jawabannya.
"Tidak mungkin, Kamu pasti bercanda kan, Rey?"
tanya Lilis. Teriakannya begitu memecah seisi rumah Kikan.
Tanpa berkata, Rey memperlihatkan isi pesan yang baru
saja di kirim oleh adiknya kepada Mamanya tersebut. Sontak, Lilis yang membaca text singkat itu langsung menutup mulutnya
yang menganga seketika. Tiba – tiba, kepala Lilis begitu berat seakan menumpu
beban di atasnya. napasnya terdengar berat karna rasa sesak yang ia
rasakan.
"Mama ... Mama kenapa?" tanya Rey dengan
Khawatir, ia memegangi kedua Bahu
Mamanya tersebut.
"Alka, Al-- " Tubuh Lilis ambruk seketika.
ia langsung tak sadarkan diri, untung saja tangan Rey dengan sigap menangkap
tubuh Mamanya tersebut.
"Mama," teriak Rey dengan begitu panik saat
melihat Mamanya tidak sadarkan diri.
begitu juga
dengan Kikan dan Ibu Merry, mereka menghampiri Tante Lilis dan memanggil -
manggil namanya. Namun, percuma, Lilis tak sadarkan diri juga.
seketika itu,
Rey mengangkat tubuh Mamanya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang baru saja
di tunjukan oleh Ibu Merry. Rey langsung membaringkan tubuh Mamanya yang tengah
tak sadarkan diri itu di atas tempat tidur dan mencoba memijat ibu jari kaki
Mamanya, berharap agar Mamanya lekas sadar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Katherina Ajawaila
pasti Rey yg gantiin Alka y thour
2023-07-04
1
Finka Andrianti
pasti alka nyesel nanti nya
2023-06-27
0
ireneeee_
Kesal juga aku mengapa anak perempuan di didik menjadi lemah dan ga bisa mandiri. Mengapa perlu ada kebergantungan kepada orang lain? Didik saja anak perempuan kayak anak laki2 yang bisa mandiri.
2022-02-17
0