Keesokan paginya, kedua pengantin baru itu masih terlihat terlelap akan tidurnya. mungkin karna mereka benar benar lelah akan acara kemarin.
Saat di rasa sebagian sinar matahari membias jendela kamar itu. kedua mata Kikan seketika langsung mengerjap dan menutupi matanya akan silaunya sinar matahari tersebut.
ia melirik sejenak ke arah suaminya yang masih tidur dan menghadap persis di sampingnya. Kikan sontak beranjak bangun dari tempat tidur dan keluar dari sana untuk menuju ke dapur. dan di dapur juga terlihat tidak ada siapapun. kemungkinan, Ibu dan juga Mama Lilis masih tidur. Seperti biasa, Kikan memasak dan menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, kini anggota keluarganya bertambah jadi Kikan menambah porsi masakannya lebih banyak dari biasanya.
"Kikan, kamu sudah bangun sayang." Kikan di kagetkan oleh suara Ibu dan Mama Lilis yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"Selamat pagi Mama, Ibu," ucap Kikan. Mama Lilis dan Ibu Merry menyapa kembali dengan hangat ucapan Kikan.
"Rajin sekali menantu Mama ini sudah bangun," tutur Lilis. seraya merangkul bahu Kikan. Kikan hanya membalasnya dengan senyuman.
"Suamimu mana, Nak?" tanya Ibu.
"Masih tidur, Bu," kata Kikan sambil menata makanan yang baru saja matang ke dalam piring.
"Cepat bangunkan suamimu, biar Ibu yang melanjutkan ini semua," perintah Ibu Merry mengambil alih wadah yang berisi makanan dari tangan anaknya iu. hingga membuat mulut Kikan sedikit menganga karna kebingungan.
"Tapi, Bu-- "
"Nak ... " ucap Ibu, kedua matanya melihat begitu dalam kedua mat, Kikan. berharap anaknya segera melaksanakan perintahnya.
"Baiklah, Bu." Kikan melepas Apron miliknya yang masih melekat di tubuhnya saat itu. kemudian ia keluar dari sana.
Kikan berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. dan saat asuk ke dalam kamar. ia masih melihat suaminya itu masih terlelap akan tidurnya. Kikan meremas kedua tangannya dengan perasaan yang begitu bingung, entah apa yang harus ia lakukan saat itu. ia sejenak menelan salivanya dan melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah tempat tidur, tepatnya di samping, Rey.
"Tuan Rey ... bangunlah, ini sudah siang," kata Kikan dengan suaranya yang terdengar pelan.
"Kenapa dia tidak bangun? " Kikan bergumam kesal.
"Tuan Rey ... Tuan, ayo bangunlah, Mamamu sudah menunggumu di bawah." Kikan setengah berteriak. Kikan berdecak kesal, ia menggaruk - garuk kepalanya dengan begitu frustasi.
"Tuan Reyhans ... tolong bangunlah, ini sudah siang ... " teriak Kikan seraya menyentuh bahu Rey.
"Berisik! tanpa perlu kau bangunkan, aku bisa bangun sendiri," suara Rey yang menggelegar mengagetkan Kikan.
"Bisa bangun sendiri, tetapi dari tadi tidak bangun - bangun. sungguh menyebalkan," bibir tipis itu menggerutu kembali.
Kikan mendekati lemari dan membuka lemari itu, disana sudah tertata rapi baju milik Rey yang sempat di tata oleh Mama Lilis sebelum acara pernikahan mereka. Kikan mengambil baju berwarna biru tua yang terlipat rapi disana. dan ia juga mengambilkan celana panjang milik suaminya, tak terlupa juga sebuah handuk yang saat ini sudah ia pegang di tangan kirinya.
Rey terlihat beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati Kikan, kemudian tangannya dengan cepat menyaut handuk yang Kikan pegang dengan begitu kasar. Kikan hanya bisa melihat suaminya dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia meletakan baju dan celana yang sempat ia ambil di atas tempat tidur. dan kikan hendak keluar dari kamar untuk turun kembali ke dapur.
"Tunggu .... " suara Rey menghentikan langkah kaki Kikan saat ini.
"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Kikan tanpa bergeming akan posisinya.
"Aku sungguh tidak suka panggilan itu, umurmu lebih mudah dariku, jadi panggil aku, Kak Rey," pinta Rey. tanpa mengiyakan. Kikan berlalu meninggalkan suaminya begitu saja, hingga membuat guratan kesal di wajah laki - laki itu.
Seusai mandi, Rey mengenakan baju yang sudah di siapkan oleh, Kikan. untuknya. kemudian kedua kakinya mengajak nya berjalan menuruni anak tangga untuk pergi ke meja makan. di meja makan sudah terlihat beberapa orang yang sedang menunggu nya disana. Rey menyapa Mama Lilis dan Ibu Merry dengan begitu sopan.
Kemudian, ia mendudukan tubuhnya di samping Kikan dan tepat berhadapan dengan Mamanya. karna memang, meja makan yang tersedia di rumah Kikan hanya muat di pakai untuk 4 orang saja. Lalu, Kikan menuangkan susu coklat hangat ke dalam gelas milik suaminya, kemudian ia juga meraih centong hendak mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
"Tidak usah, aku bisa mengambilnya sendiri!" seru Rey seraya membuang wajahnya ke samping. hingga membuat Kikan meletakan kembali centong yang sempat ia pegang.
"Rey ... apa kamu bisa berbicara yang sopan kepada istrimu? " suara Lilis menyambar begitu saja.
"Memangnya, Rey, tidak sopan di mananya, Ma."
"Biarkan Istrimu yang mengambilkan makanan untukmu!" seru Lilis. Namun, Rey hanya diam saja. Lilis menyuruh Kikan untuk mengambilkan makanan untuk suaminya kembali. dengan berat hati, wanita yang sudah sah menjadi istri Rey itu mengiyakannya.
"Tante Merry, Mama ... Rey, mau berbicara sesuatu," kata Rey dengan mengunyah makanan yang terlihat masih penuh di dalam mulutnya.
"Tante Merry ini sudah menjadi Ibu kamu, Nak. jadi kamu harus memanggilnya Ibu," tutur Lilis.
"Kau mau bicara apa, Nak?" tanya Ibu Merry yang saat ini menghentikan aktivitas makannya, karna rasa penasaran akan sesuatu yang akan di bicarakan oleh menantunya itu.
Rey sejenak meneguk susu coklat hangat yang ada di gelas yang saat ini ia pegang, kemudian ia meletakan kembali gelas susu itu ke tempatnya semula.
"Begini, Bu. Semalam, Rey dan juga Kikan berbicara panjang lebar. dan kami sudah memutuskan. bahwa Rey akan mengajak Kikan untuk pindah ke rumah Rey, rumah yang pernah Rey beli dulu, Bu. ya, hitung - hitung agar kami bisa belajar lebih mandiri lagi dan bisa beradaptasi satu sama lain," kata Rey. Kedua mata kikan membulat dengan sempurna seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut suaminya
"Iya kan, sayang?" tanya Rey, seolah menatap hangat kedua mata Kikan. Ibu Merry dan Mama Lilis begitu senang saat Rey memanggil Kikan dengan begitu mesranya.
"Bicara omong kosong apa dia? kapan memangnya aku berbicara panjang lebar dengannya? bagaimana bisa dia memutuskan sesuatu secara sepihak seperti ini, tanpa membicarakannya denganku terlebih dulu." Kikan bergumam dalam hati.
"Ibu tidak keberatan, Nak. justru Ibu malah senang, agar kalian berdua bisa beradaptasi, mengenal lebih dekat lagi," tutur Ibu dengan menyunggingkan senyum bahagianya.
"Iya, Nak. Mama, juga setuju dengan rencana kalian," kata Lilis dengan memandang wajah anak dan menantunya secara bergantian.
"Maaf, tapi, Kikan kurang setuju rencana ini. Karna, Kikan tidak bisa meninggalkan Ibu sendirian di rumah," saut Kikan. kedua matanya memandang Ibunya dengan begitu sendu.
"Istriku sayang, kita kan sudah membicarakan ini semua semalam, iya, kan." Rey melototkan kedua matanya agar Kikan mau mengiyakannya.
"Bicara omong kosong! dasar brengsek." Kikan mengumpat dalam hati. rasanya ia ingin sekali memaki - maki suaminya, karna, telah membuat keputusan yang ia rasa se'enaknya saja. Namun, apa daya, Kikan tidak bisa bertindak seperti itu di depan Ibu dan juga mertuanya.
"Tidak apa - apa, Nak. Ibu bisa melakukan segala sesuatunya sendirian di rumah," tutur Ibu.
"Iya, sayang. kamu tidak perlu khawatir. nanti Mama akan memanggilkan seorang perawat dan pembantu agar menemani Ibumu di rumah, ya,Nak." Lilis juga ikut menimpalinya.
"Tapi Ma- " perkataan Kikan terputus saat ia tau, Rey menginjak kakinya. Rey bermaksud agar Istrinya tersebut tak mengutarakan kembali pendapatnya. Kikan hanya bisa menghela nafas dengan pasrah.
"Baiklah, terserah kalian saja," kata Kikan. suaranya terdengar begitu memalas.
"Ah sudahlah, biarkan saja mau berdebat juga percuma. yang ada malah akan semakin membuat Ibu bersedih, aku menikah dengan laki - laki ini hanya karna ingin melihat Ibu bahagia, jadi seharusnya aku harus tetap bersikap ramah dan terlihat bahagia didepan Ibu dan Mama Lilis meskipun dengan hati terpaksa." Kikan bergumam dalam hati.
"Siang ini, Rey dan juga Kikan, akan membereskan pakaian dan barang - barang kami. kami sudah memutuskan untuk pindah ke rumah baru kami sesegera mungkin, Bu." Perkataan Rey baru saja membuat telinga Kikan semakin memanas mendengarnya.
"Kenapa terburu - buru, Nak. kalian bisa tinggal disini beberapa hari lagi, kan." Ibu berkata seraya meletakkan gelas yang berisi air putih yang baru saja di teguknya.
"Iya, Rey. kenapa terburu - buru?" tanya Lilis.
"Rey hanya ingin lebih cepat beradaptasi saja dengan Kikan, Bu. Ma. biar sikap Kikan tidak dingin kepada Rey, kan Ibu, dan Mama tau, Rey sama sekali tidak pernah mengenal Kikan, begitu juga dengan Kikan," tutur Rey.
"Iya Kan, sayang?" tanya Rey dengan menyunggingkan senyumnya kepada Kikan. Kikan hanya melototkan kedua matanya kepada suaminya itu.
"Sialan, siapa yang bersikap dingin? jelas - jelas dia." Kikan menggerutu dalam hati. kedua matanya masih melotot kepada laki - laki yang ada di sampingnya saat ini, rasanya ia ingin sekali menerkam suaminya hidup - hidup.
"Iya kan sayang ... " tanya Rey kembali. Ia menginjak kaki Kikan, berharap wanita itu mengiyakannya.
"I-iya, kak Rey," saut Kikan dengan begitu terpaksa ia mengiyakannya.
"Senyumlah." bisik Rey. Kikan terpaksa tersenyum pelik di depan Ibu dan juga mertuanya itu.
"Baiklah kalau begitu, terserah kalian saja, apa yang menurut kalian baik, Ibu akan mendukungnya," tutur Ibu.
"Wah, Mama senang kalau melihat kalian sudah akrab seperti ini," kata Lilis dengan menyatukan kedua tangannya di atas meja. ia benar - benar bahagia sekali pagi itu.
Mereka mengakhiri sarapan pagi itu, dan Rey berpamitan kepada Ibu Merry dan juga Mama Lilis untuk mengajak Kikan kembali ke dalam kamar untuk membereskan pakaian dan juga barang - barang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
lastri tri
beli buku novel ya d mna kk
2024-08-15
0
lastri tri
kk beli buku novel nya d mna , tolong balas kk,karna ini yg sekian klu ya baca gak pernah bosan,malah nagihh
2024-08-15
1
Mimilngemil
😂😅😆😃
Cubit aja Kan, ngomong enteng bener 😅
2023-11-02
1