Seusai melangsungkan acara pernikahan. Kikan pergi ke kamar mandi yang letaknya ada di dapur, untuk membersihkan tubuhnya dari sisa - sisa make up dan keringat yang seharian menempel di sana. Kikan tidak mandi di dalam kamarnya, karna, kebetulan Rey sedang memakai kamar mandi itu.
setelah itu, Kikan memakai baju piyama miliknya ia mengambil handuk berwarna putih dan di balutkan handuk itu di kepalanya yang masih basah.
bukan hal yang lazim memang, mandi dan berkeramas di tengah malam seperti ini. Namun, apa daya. Kikan merasa risih jika tubuhnya terasa lengket semua.
Kikan berjalan ke arah kamarnya dan ia memutar gagang pintu kamar yang terlihat tertutup itu. dan saat Kikan masuk ke dalam kamarnya, kedua matanya terkesiap saat melihat Rey keluar dari dalam kamar mandi dengan telanjang dada. hingga terlihat jelas di kedua mata Kikan. otot - otot yang melapisi tubuh kekar suaminya itu. hingga membuat Kikan seketika membalikan badannya agar tidak melihat pemandangan itu semua.
Rey mengernyitkan dahinya saat melihat seseorang masuk tanpa mengetuk pintu kamar itu.
"Lain kali, sebelum masuk ketuk pintunya terlebih dahulu," tegur Rey. “Sungguh tidak punya sopan santun," mulut Rey tak henti - hentinya menggerutu kesal sambil mengenakan baju yang baru saja ia ambil dari dalam lemari. Namun, Kikan tak menghiraukan celotehan Suaminya itu.
saat di rasa, Rey sudah membaluti tubuhnya dengan seutas kain miliknya. Kikan berbalik badan dan kembali menuju ke meja rias yang terletak di sudut kamarnya itu.
Kikan mendudukan tubuhnya di atas bangku kecil yang ada di depan kaca rias, ia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk yang sempat ia lilitkan di kepalanya. dan kemudian ia menyisir rambut panjang miliknya itu. sesekali kedua mata Kikan melihat pantulan suaminya dari balik cermin yang terlihat baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kikan masih tak bergemming akan posisinya. sekalipun rambutnya sudah kering, ia sama sekali tak beranjak dari meja rias itu hingga ia menguap dan matanya terlihat ber-air.
"Ya Tuhan, aku sungguh lelah, dan rasanya mengantuk sekali, tapi-- " Kikan bergumam, lagi - lagi kedua mata Kikan melirik ke arah cermin yang terlihat akan pantulan suaminya yang sudah tertidur dengan begitu pulasnya.
"Bagaimana aku bisa satu tempat tidur dengannya. atau-- " Kikan seketika langsung beranjak dari duduknya, ia menggantungkan handuk miliknya yang basah dengan mengunakan hanger. kemudian ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. namun, saat Kikan membuka pintu kamarnya, tiba - tiba sudah terlihat Lilis berdiri di depan pintu kamar itu.
"Tante," Kikan memanggil nama itu.
"Mama ... bukan Tante! kan Kikan sekarang sudah menjadi menantu Mama," tutur Lilis seraya menyentuh lembut dagu runcing menantunya itu.
"Ehm i-iya, Mama." Kikan memanggil sebutan itu dengan canggung, rasanya ia benar - benar tak biasa memanggil nama Lilis dengan sebutan itu.
"Rey dimana sayang? dan kamu ... kamu mau kemana, Nak. " Lilis bertanya dengan menyipitkan kedua matanya.
"Dia sudah tidur, Ma. dan Kikan mau pergi ke kamar ba-- "
"Kamu mau pergi ke kamar siapa? Jangan bilang kamu tidak mau tidur satu kamar dengan Rey," tukas Lilis.
"E-ehm ti-tidak kok Tante, Eh ... maksud Kikan, tidak kok, Ma. Kikan hanya mau pergi ke kamar Ibu untuk memastikan apa Ibu sudah meminum obat atau belum," kata Kikan, ia sengaja terpaksa berbohong.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan Ibumu, Ibumu sudah tidur dan Tante sudah membantu meminumkan obatnya. sekarang ayo kamu cepat tidur," perintah Lilis dengan mendorong pelan tubuh Kikan menuju ke tempat tidur. Lilis membantu menantunya itu untuk merebahkan tubuhnay dan menarikan selimut hingga ke atas dada Kikan. hingga membuat Kikan tak bisa membantah akan perinta mertuanya itu.
"Sekarang kamu tidur, ya. suamimu saja sudah tidur. Mama tinggal dulu ya, Nak," pamit Lilis, sebelum itu. Lilis terlebih dulu mencium kening Kikan. dan sesegera mungkin berlalu meninggalkan kamar itu.
Kikan menghela napas dan melirik takut ke arah suaminya yang terlihat sudah tertidur, Kikan benar - benar canggung akan situasi yang saat ini ia rasakan, benar saja, Kikan harus berbagi tempat tidur dengan laki - laki sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
tubuh Kikan merasa lelah, ia begitu tak leluasa menempati tempat tidur itu hingga Kikan berulang kali berguling kesana kemari untuk menentukan posisi yang nyaman untuk dirinya tidur. hingga membuat gelombang dan gerakan pada tempat tidur itu di rasakan oleh Rey.
"Apa kamu bisa diam? kenapa dari tadi bergerak? Sungguh mengganggu," suara Rey benar - benar membuat jantung Kikan hendak terlepas dari tempatnya. Kikan menggigit bibir bawahnya dn melihat ke arah suaminya yang sedang melototkan kedua matanya itu.
"Ma-maaf, aku tidak terbiasa berbagi tempat tidur sebelumnya," kata Kikan.
"Itu urusanmu bukan urusanku! cepat tidur! kalau kau masih terlalu banyak bergerak, lebih baik tidurlah di lantai. jangan mengganggu kenyamanan tidurku." Rey setengah berteriak, ia membelakangi Kikan dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Dia berbicara seperti itu seolah - olah kamar ini adalah miliknya, padahal ini kan kamarku. "Bibir itu tak henti menggerutu akan kekesalan yang tengah di rasakan Kikan terhadap ucapan Rey.
"Kau bicara apa baru saja," teriakan Rey terdengar kembali di telinga Kikan.
"Ti-tidak," saut Kikan.
"Kau bicara lagi akan ku pastikan kau tidur di bawah lantai," kata Rey dengan posisi semulanya. Kikan tak bisa berkata, ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan mencoba memejamkan matanya. bahkan ia sesekali ia rela menahan nafasnya agar tidak di engar dengan laki - laki yang ada di sampingnya itu. sungguh konyol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
⋆.˚mytha🦋
hmmmm... awas lunye bucin rey
2025-02-25
0
Mimilngemil
Benci dan cinta itu tipis.... setipis tisu 😉
2023-11-02
0
Mimilngemil
aku nangis digituin 😭
2023-11-02
0