Dibawah senja

Seusai pulang dari kantor, Kikan berjalan kembali menuju ke  arah rumah. ia menyusuri jalan dengan pandangan yang begitu kosong, buliran keringat dan peluh terlihat membasahi dahinya, ia menelan salivanya akan tenggorokannya yang ia rasa begitu kering.  entah apa yang membuat pikiran Kikan begitu terganggu sore itu.

Kikan di kejutkan oleh suara seorang perempuan yang tiba - tiba sudah berdiri di hadapannya saat ini. perempuan itu tak lain ialah Cathrine. sahabat Kikan sejak SMA bahkan Kuliah.

"Astaga, Cathrine. kau mengagetkanku saja," celetuk Kikan, tangan kanannya sontak memegangi dadanya akibat terkejut.

“Maaf, Kikan. aku tadi tidak sengaja melihatmu berjalan sambil melamun makanya aku mengagetkanmu," tutur Cathrine.

"Apa kau sedang ada masalah? aku lihat sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu? " tanya Cathrine penasaran.

"Tidak memikirkan apa – apa, Cath. kenapa kau tiba - tiba ada di sini? " tanya Kikan.

"Aku mau ke rumahmu untuk mengembalikan buku yang waktu itu sempat ku pinjam, dan kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. ini bukunya, terimakasih banyak," ucap Cathrine. ia menyodorkan buku yang ia pegang kepada Kikan.

"Terimakasih kembali. kamu hanya mengembalikan buku ini saja, kan." Kikan bertanya dengan memandang curiga akan szhabatnya yang masih tak bergemming dari hadapannya itu.

"Ehm, ada sesuatu lagi," ucap Cathrine dengan tersenyum pelik.

"Pasti kau mau curhat lagi iya, kan." Kikan sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh sahabatnya tersebut.

"Nah, itu kau tau hehe,  kau memang sahabat terbaikku," tutur Cathrine dengan menyenggolkan bahunya ke bahu Kikan. Kikan menghela napasnya dan menaikan kedua alisnya.

"Baiklah ayo, kita ke rumah," ajak Kikan, Cathrine pun dengan bersemangat mengiyakannya. Kikan tak segan berjalan dengan menggandeng tangan sahabatnya tersebut.

Selama berjalan kaki menuju ke rumahnya, Kikan dan Cathrine tak henti - hentinya mengobrol dan bercanda. ini ialah hal yang biasa yang di lakukan oleh mereka jika mereka berdua bertemu. Karna, Kikan tidak memiliki teman lain lagi selain Cathrine, Cathrine sudah layaknya sahabat sekaligus saudara bagi Kikan. Jadi, tak heran jika mereka begitu akrab.

Setibanya di rumah, Kikan memutar gagang pintu  rumahnya tersebut. ia membuka pintu itu dan mengajak Sahabatnya untuk masuk ke dalam.

"Ibu aku pulang .... " Kikan dengan penuh semangat berteriak namun tidak ada sautan seperti biasa dari Ibunya.

Telinga Kikan menangkap suara seorang wanita yang sedang terbatuk. seketika itu,  Ia langsung menghampiri asal suara tersebut, seraya berteriak - teriak memanggil  nama Ibunya.

semakin lama suara itu semakin terdengar kencang di alat pendengaran Kikan. Cathrine tak kalah mengikuti langkah kaki sahabatnya tersebut dari belakang.

dan kini, langkah kaki Kikan dan Cathrine terhenti tepat di depan kamar tengah

Kedua mata Kikan begitu terkesiap, saat ia mendapati Ibunya sedang duduk di bawah lantai dengan di kelilingi begitu banyak tissue yang terdapat banyak bercak darah berserakan di lantai sekitar sana.

"Ibu," Kikan memanggil nama Ibunya dengan bibir sedikit gemetar.

"Ibu kenapa? " tanya Kikan. Buliran air mata menumpah ruah dari pelupuk matanya.

"Ibu tidak apa – apa, Nak."

"Tidak apa - apa bagaimana? sakit ibu semakin parah. Ayo, Kikan akan membawa Ibu ke rumah sakit," ajak Kikan mencoba membantu Ibunya berdiri dari bawah lantai.

"Kikan, Ibu baik - baik saja, Nak. Ibu hanya batuk biasa dan kurang minum air putih saja," ucap Ibu. napasnya terdengar begitu berat. Ibu mencoba berdiri dengan bantuan tangan Kikan dan juga Cathrine. Kikan membantu Ibunya duduk di atas tepi tempat tidur.

"Tante Merry, Tante sakit apa? ini bukan batuk biasa, Tante. lebih baik Tante pergi periksa ke rumah sakit. biar Cathrine dan Kikan yang mengantar, Tante." Cathrine ikut bertutur.

"Tidak apa - apa, Nak.  Tante hanya kurang enak badan saja," ucap Ibu.

"Bu, Lebih baik kita pergi ke rumah sakit ya, Bu.  Kikan takut jika sakit Ibu parah. Kikan tidak mau Ibu kenapa – kenapa,“ tutur Kikan sembari mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

"Kikan, Ibu baik - baik saja, Nak. besok saja kita pergi ke rumah sakit. Ibu ingin beristirahat." seketika itu  Ibu membaringkan tubuhnya dan merubah posisi tidurnya dengan membelakangi Kikan dan juga Cathrine.

Padahal, Ibu Merry merasakan sesak seakan dadanya sedang menumpu sebuah beban, hingga napas yang ia buang terasa begitu berat. Namun, seorang Ibu mana yang tidak terpaksa berbohong hanya agar anaknya tidak khawatir? Bahkan, seorang Ibu rela kelaparan demi melihat anaknya kenyang.

"Ibu, Ibu janji, kan. besok mau pergi periksa ke dokter? " tanya Kikan. lagi - lagi tangannya menepis air matanya yang masih mengalir deras di sana.

"Iya, Nak. Ibu janji," saut Ibu yang masih tidur dengan posisi miring nya tanpa melihat ke arah Kikan.

"Istirahatlah, Bu," Kikan berucap lirih seraya mencium kening Ibunya.  Kikan hendak beranjak dari duduknya dan mengajak Cathrine ke dalam kamarnya.

" Kikan," tiba - tiba suara Ibu mengurungkan niat Kikan.

"Iya, Bu ? " saut Kikan. ia kembali duduk di posisinya semula.

"Ibu sangat berharap, kamu bisa segera menikah. karna ibu takut jika sewaktu - waktu ibu pergi-- " ucap Ibu Merry.

"Cukup, Bu. Ibu kenapa selalu berbicara seperti itu." Kikan seketika langsung memotong perkataan Ibunya. Ibu Merry mengusap air matanya yang sempat terjatuh. Ia beranjak duduk dan membelai wajah anak semata wayangnya tersebut.

"Nak. umur manusia tidak ada yang tau, Ibu takut jika Ibu sudah  meninggal dan kamu belum menikah, tidak ada yang menjaga dan melindungimu, Nak," tutur Ibu dengan mata yang terlihat memerah dan berkaca kaca.

Ya Tuhan, rasanya begitu menyakitkan ketika Kikan mendengar kata - kata itu. Kikan seketika mendekap erat tubuh Ibunya dan menumpah ruahkan air matanya di pelukan ibunya tersebut.

"Tante, jangan berbicara seperti itu," tutur Cathrine. ia bisa merasakan ke-khawatiran yang di rasakan Ibu dari sahabatnya tersebut. Iya benar, kekhawatiran seorang Ibu akan anaknya.

Suara dering ponsel tiba - tiba memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut. Kikan melepaskan pelukannya dan meraih ponsel milik Ibunya yang kala itu tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Kikan melihat di layar ponsel tersebut ada satu panggilan masuk dari Lilis.

"Ibu, Tante Lilis menelpon," ucap Kikan memberitaukan kepada ibunya.

"Angkatlah saja, Nak," perintah Ibu. Kikan mengiyakan dan seketika itu ia menekan tombol hijau yang tertera di ponsel itu dan meletakan ponsel tersebut tepat di telinganya.

"Hallo Tante Lilis," sapa Kikan. ia berucap Lirih dan mengusap sisa - sisa air mata yang masih melekat di wajahnya.

"Nak, di mana Ibumu? " tanya Tante Lilis. Suaranya terdengar sangat jelas dari balik ponsel yang saat ini Kikan genggam.

"Ini, Ibu sedang berada di samping Kikan. Ibu sedang tidak enak badan, Tante. apa Tante ingin berbicara kepada Ibu? " tanya Kikan.

“Oh tidak usah, Nak. Tante hanya mau memberi tau. kalau Tante sedang dalam perjalanan menuju ke rumah mu, karna semalam Tante sudah membuat janji dengan Ibumu," ujar Tante Lilis

"Baiklah, Tante. Tante hati - hati di jalan ya," tutur Kikan. Lilis mengiyakannya.

Mereka berdua sama - sama mengakhiri panggilan telepon yang masih berlangsung tersebut. Kikan meletakan Ponsel milik Ibunya ke tempat semula. Kikan dan Cathrine menemani Ibu Merry yang sedang beristirahat di dalam  kamar. kedua mata Kikan yang begitu sendu  tak henti memandangi wajah Ibunya yang sudah mulai menua. kulitnya wajah wanita yang saat ini di belai lembut oleh Kikan  terlihat mengeriput ,

Ada hal - hal yang sangat tidak di sukai oleh dirinya. di mana ketika usianya bertambah, maka, semakin bertamah pula usia Ibunya. tanpa disadari, waktu begitu cepat mengikis manusia dalam kerentanan.

10 Menit kemudian, Suara ketukan pintu dari luar rumah terdengar begitu jelas di telinga Kikan, bahkan seseorang di luar sana mengetuk pintu itu berkali - kali. Kikan yang semula duduk di atas tempat tidur.  kini, beranjak dan melangkahkan kakinya menuju ke depan, bermaksud membukakan pintu tersebut.

Kikan memutar gagang pintu yang melekat di pintu tersebut. Dan saat pintu terbuka, seorang wanita dengan senyum menyeringai wajahnya terlihat berdiri di depan pintu itu. wanita itu tak lain ialah Lilis. Lilis menyapa dan sejenak memeluk tubuh Kikan.

Kikan mempersilahkan tamunya tersebut untuk masuk. Lalu, ia  menutup kembali pintunya, dan mengajak Tante Lilis untuk pergi ke kamar tengah menghampiri Ibunya.

 

"Nyonya Merry ... " suara Lilis menyentak telinga Ibu Merry. hingga membuat wanita yang tengah berbaring itu beranjak duduk.

"Nyonya Lilis, maaf saya tidak tau kalau Nyonya sudah datang." bibir pucat Ibu Merry berucap lirih.

"Tidak apa – apa, Nyonya. wajah Nyonya terlihat sedang tidak baik. apa tidak sebaiknya pergi ke dokter biar saya antarkan?"  tanya Lilis. ia mendudukan tubuhnya di samping Ibu Merry dan menyentuh bahu wanita itu.

"Tidak, Nyonya. saya baik - baik saja. besok saya akan pergi ke dokter bersama Kikan," tutur Ibu.

"Baiklah, Nyonya. sepertinya, untuk pembicaraan kita semalam. kita tunda dulu saja ya, Nyonya. Karna, saya rasa waktunya kurang tepat," ujar Lilis.

"Tidak apa – apa, Nyonya.  lebih baik di bicarakan sekarang saja, kebetulan ada Kikan juga," ucap Ibu.

Kedua mata Kikan bergantian memperhatikan wajah kedua wanita yang saat ini berada di hadapannya dengan begitu bingung. Pembicaraan apa yang terjadi semalam di antara Tante Lilis dan Ibunya? hingga rasanya  benar - benar membuat Kikan  penasaran.

Cathrine yang merasa jika ada sesuatu pembahasan penting di antara Kikan dan Ibunya. Ia seketika itu langsung berpamitan pulang kepada Kikan dan juga Ibunya.

Kikan  mencoba melarang Cathrine untuk pulang terlebih dahulu, namun, Cathrine memaksa karna takut mengganggu mereka. Kikan pun terpaksa mengiyakannya dan mengantarkan sahabatnya tersebut sampai halaman rumah. setelah Cathrine tak terlihat dari pandangan mata Kikan. Kikan pun masuk kembali kedalam rumah dan ia kembali menemui Ibu dan juga Tante Lilis yang sedang menunggunya di dalam Kamar.

"Tante mau membahas apa? " tanya Kikan, ia mendudukan tubuhnya tepat di samping Tante Lilis. namun, Lilis hanya diam saja, kedua matanya sejenak beradu pandang dengan Ibu Merry seolah hendak  menyusun kata - kata  untuk menyampaikan sesuatu kepada Kikan.

"Ehm begini, Nak. Tante dan Juga Ibu kamu berniat ingin menjodohkan kamu dengan anak bungsu Tante, Alka," ucap Lilis. rasanya ia masih tak yakin dengan apa yang baru saja ia sampaikan kepada Kikan.

Telinga Kikan begitu tersentak saat mendengar kata di jodohkan. kedua matanya melebar dengan sangat sempurna. ia menelan salivanya dengan keras seolah apa yang baru saja ia dengar dari mulut Tante Lilis hanyalah sebuah bualan belaka.

"Di jodohkan?" bibir Kikan berucap dengan begitu berat. Ibu dan juga Tante Lilis hanya mengangguk, kedua mata Kikan bergantian memandangi wajah wanita yang saat ini duduk persis dihadapannya. rasanya ia begitu tak percaya dengan semua omong kosong ini. Kikan masih membungkam dan tak bisa berkata seakan ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya.

 

"Bagaimana, Nak?" tanya Tante Lilis. Kikan  memperhatikan sosok wajah dari kedua seorang Ibu itu dengan tatapan yang penuh harap. berharap dirinya untuk mengiyakannya.

"Tapi, Tante. Alka kan pasti sudah mempunyai pilihan calon istri sendiri," kata Kikan mencoba memastikan.

"Belum ada, Nak. Alka dan juga anak sulung Tante sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, sampai - sampai mereka lupa untuk mencari pendamping hidup. Tante sangat ingin sekali melihat salah satu anak Tante menikah, Tante ingin menjodohkan kamu dengan Alka karna dulu kalian adalah teman dekat. jadi tidak sulit untuk kalian berdua beradaptasi," tutur Lilis. Lagi - lagi hati Kikan seakan memberontak. Dulu (15 tahun yang lalu) yang benar saja? .

"Tapi Tante-- "

"Kikan," suara Ibu memotong perkataan Kikan. ia sudah tau apa yang di maksud dengan Ibunya. Kikan hanya bisa membuang napasnya dengan percuma.

"Apa kamu tidak kasihan dengan Ibumu, Nak?" tanya Tante Lilis. Kedua mata Kikan seketika itu memandang wajah Ibunya yang sudah menua. hati Kikan begitu teriris saat melihat wajah itu.

"Ibumu ingin sekali melihatmu menikah," imbuh Lilis. Kikan memejamkan matanya dan menelan salivanya kembali. Kini, Kikan sudah membulatkan keputusannya.

"Apa Tante sudah membicarakan ini semua dengan Alka? " tanya Kikan. kedua matanya beralih menatap Tante Lilis.

"Kamu tidak perlu khawatir masalah Alka, Alka akan menuruti semua perkataan Tante, Nak. dia sangat berbeda sekali dengan kakaknya," tutur Lilis seraya menyentuh lembut dagu Kikan.

"Baiklah, Tante. sebaiknya Tante bicarakan terlebih dulu dengan Alka. Karna, sekarang situasinya berbeda. apalagi Alka sudah menjadi pengusaha yang sukses. Kikan percaya. apapun yang dilakukan Ibu adalah yang terbaik untuk Kikan. Jadi Kikan akan menurutinya," tutur Kikan dengan menatap wajah Ibunya kembali. kini ia tak mempedulikan kebahagiaan atau keinginannya, yang ia pedulikan hanya bagaimana cara  membuat Ibunya agar bahagia.

Ibu Merry terlihat tersenyum senang saat mendengar keputusan Kikan. begitu juga dengan Tante Lilis. Setelah pembicaraan di antara mereka bertiga  sudah dirasa cukup. Lilis pun berpamitan pulang. Kikan mengantarkan wanita paru baya itu sampai di halaman rumahnya. dan saat mobil yang di tumpangi Tante Lilis sudah tak di jangkau oleh kedua mata Kikan, Kikan pun kembali lagi masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumah tersebut dengan begitu erat.

 

 

Terpopuler

Comments

Bunda Dhea

Bunda Dhea

miss you thor

2023-10-19

0

Finka Andrianti

Finka Andrianti

cerita nya mangkin seru

2023-06-27

0

Hiedhay

Hiedhay

novel nya dl deh krn blm up up yg d mangatoon ny

2023-03-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!