Mata hati

Keesokan paginya, Rey terbangun dan melihat tangan Kikan menyentuh lengannya, kala itu Kikan nampak masih tertidur pulas. Rey mencoba memindahkan tangan istrinya perlahan - lahan bermaksud agar tidak membangunkannya. namun tiba - tiba kedua mata mata itu mengerjap dan terbuka begitu lebar. Kikan pun terkejut saat melihat  Rey menyentuh tangannya.

"Mau apa kamu? kau pasti mau macam - macam, iya , kan." Kikan menyeru, ia beranjak duduk dan melototkan kedua matanya kepada Rey. Rey hanya terdiam dan mengernyitkan dahi akan suasan pagi yang membuatnya hilan selera.

"Siapa yang mau macam - macam dengan wanita sepertimu? aku hanya mau memindahkan tangannmu yang menyentuhku," balas Rey dengan kesal seraya beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.

"Benarkah aku menyentuhnya?" gumam Kikan dengan menyentuh pergelangan tangannya tersebut.

Kikan masih duduk di posisinya dengan raut wajah yang malas untuk beranjak dari tempat tidur itu, ia sejenak merebahkan kembali tubuhnya dan tak lama kemudian, ia beranjak dari tempat tidur. ia menguncir rambutnya dengan berjalan ke sembarang arah tubuhnya tidak sengaja menghantam tubuh Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi.

untuk kedua kalinya, Kikan melihat laki - laki itu telanjang dada, seketika itu raut wajah Kikan berubah menjadi semu merah dan segera membalikan tubuhnya dari hadapan Rey, agar tak melihatnya.

"Cepat pakai bajumu, kebiasaan." Kikan memerintah. Rey hanya terdiam dan melangkahkan kakinya menuju ke lemari untuk mengambil salah satu baju miliknya dan mengenakannya.

"Apa kau sudah memakai baju?" tanya Kikan.

"Sudah," jawab Rey. Kikan membalikan badannya namun suara ketukan terdengar dari luar pintu kamarnya. Kikan pun bertanya - tanya, siapa yang ada di rumah ini selain dirinya dan juga suaminya? Entahlah.

"Masuk," suara Rey memerintahkan orang itu untuk masuk, pintu kamar itu seketika terbuka dan terlihat seorang wanita paru baya berumur sekitar 47 tahun tengah berdiri disana dengan senyuman yang menyeringai wajahnya.

"Selamat pagi Nona, selamat pagi Tuan muda." Wanita itu memberikan salam sembari sedikit menundukan kepalanya.

"Saya sudah membelanjakan kebutuhan dan bahan - bahan makanan sesuai seperti yang Tuan muda perintahkan semalam," imbuhnya. Rey mengiyakannya.

"Nona Kikan, ini namanya Bibi Ani, Bi ani yang akan membantumu mengurus pekerjaan rumah, tetapi hanya separuh waktu dan Bi Ani ini  sudah mengabdi selama 25tahun kepada  keluargaku, jadi kau juga harus bersikap sopan kepadanya," tutur Rey memberitahu kikan. Kikan hanya mengangguk – anggukan kepalanya layaknya patung kucing manekineko.

"Dan Bi Ani,  ini Kikan istri saya," imbuhnya

"Hallo, Bi Ani. saya Kikan," sambut Kikan, Ia berjalan  menghampiri Bi Ani.

" Iya Nona Kikan, saya sudah mendengar banyak cerita tentang Nona dari Nyonya besar," kata Bi Ani sambil tersenyum, yang di maksud Nyonya besar oleh Bi Ani ialah Lilis.

"Bi Ani untuk masak biar saya saja ya, Bi. Bi Ani boleh tunggu dapur saja," perintah Kikan.

"Baik Nona, permisi." Bi ani tersenyum dan bergegas meninggalkan kamar Kikan dan juga Rey.

"Kak Rey, kan aku udah bilang semalam, aku bisa mengurus pekerjaan rumah sendiri. kamu pikir aku tidak bisa apa mengurus pekerjaan rumah?" celetuk kikan

"Banyak bicara! terserah apa yang aku mau ..." ucap Rey memalingkan wajahnya.

"Tapi,  Kak Rey. Bi Ani itu kasian kalau mengerjakan pekerjaan rumah sebesar ini." tutur Kikan.

"Itu urusanmu ... atur sendiri dengan Bi Ani," balas Rey.

"Baiklah " ucap Kikan dan menghela nafas panjang.

"Kak Rey tidak pergi bekerja? " tanya Kikan.

"Tidak," jawab Rey singkat, ia mengambil Laptop miliknya dan duduk di atas kursi yang ada di dalam kamarnya tersebut.

"Kak Rey mau makan apa? biar aku memasakannya," tanya Kikan lagi. namun Rey hanya diam saja dan ia terlihat sedang membuka komputer lipat yang saat ini ia pangku.

"Aku sedang bertanya ..."

"Banyak tanya, masak sesuai yang kamu bisa, asal jangan masak udang atau makanan pedas," tutur Rey.

"Dan jangan banyak bertanya lagi, mengganggu saja," imbuhnya.

"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi," saut Kikan seraya pergi meninggalkan kamarnya. Kikan berjalan menuju ke dapur untuk memasak lalu Bi Ani datang menghampiri-nya.

"Nona Kikan apa ada pekerjaan? boleh bibi bantu," tanya Bi Ani.

"Oh, tidak usah, Bi. saya bisa sendiri, Bibi duduk dan istirahat saja, ya." Kikan berucap sambil tersenyum. Kikan tidak terbiasa menyuruh orang lain untuk bekerja, karna dari dulu hingga sekarang, keluarganya tidak pernah mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. semuanya di kerjakan sendiri oleh Kikan dan juga Ibunya, jadi wajar saja jika Kikan sudah mandiri sedari kecil.

"Jangan Nona, saya disini kan bekerja. saya tidak enak sama Tuan muda," kata Bi Ani.

"Oh iya-ya,  ah ini saja, Bibi  duduk dan membersihkan tangkai cabai dan membersihkan sayuran  kemudian dimasukan ke dalam  lemari es. jadi lebih memudahkan untuk memasak," ujar Kikan dengan menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman.

"Baiklah, Nona cantik." Bi Ani membalas senyuman itu.

"Bi Ani, maaf ya Kikan, jadi  merepotkan hehe " kata Kikan dengn tidak enak hati.

"Memang seharusnya nona, kan. ini  memang pekerjaan saya," jawab Bi Ani dengan nada lembut, Kikan pun mengiyakannya.

Terpopuler

Comments

Trisna

Trisna

Rey kamu kenapa?
apakah ada trauma masal lalu dengan perempuan

2024-04-15

0

Mimilngemil

Mimilngemil

Syukurlah Bi Ani juga baik, tinggal Rey aja Kayaknya yang belum luluh 😅

2023-11-02

0

Mimilngemil

Mimilngemil

😂

2023-11-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!