Malam yang sunyi

Rumah baru yang ditempati oleh Kikan dan juga Rey  ialah kawasan perumahan yang baru saja dipadati oleh penduduk, jadi tak heran jika suasana di lingkungan sana sangat-lah sunyi. hanya terdengar suara desiran angin yang menggoyang - goyangkan lebatnya pepohonan, dan suara mesin kendaraan yang terdengar bising dari kejauhan.

Malam itu, Kikan terlihat berdiri di dekat jendela kamar dengan kedua mata yang memandangi rembulan dan bintang yang sedang memberikan cahaya di atas sana, pandangan mata itu tiba - tiba terlihat kosong, dan pikirannya kembali di kacaukan dengan pernikahannya saat  ini.

"Ya Tuhan, kenapa hidupku harus serumit ini? sebuah hubungan akan  ikatan yang dari dulu aku anggap penting dalam kehidupan, kini hanya menjadi sandiwara belaka. apa salahku? apa seburuk itu-kah aku?" Kikan bergumam dalam hati. suara ketukan pintu yang terdengar dari luar kamarnya, membuyarkan lamunan Kikan. Kikan segera membuka pintu kamar yang sempat ia tutup tadi, dan di depan sana terlihat Rey sedang berdiri dengan membawa sebuah teh yang belum di seduh.

"Kak Rey, ada apa?" tanya Kikan.

"Tolong buatkan aku teh, tanpa gula," perintah Rey dengan menyodorkan teh tersebut kepada Kikan. Kikan pun mengambil teh itu dari tangan suaminya.

"Besok aku akan memanggilkan asisten rumah tangga, untuk membantumu," kata Rey hendak berlalu dari sana.

"Tidak perlu, aku bisa mengurus rumah ini sendiri ... "

Rey hanya melirikkan dengan sinis kedua matanya kepada Kikan dan berlalu meninggakan wanita itu  tanpa berkata.

Kikan menuju ke dapur, ia mengambil sebuah teko dan di-isinya teko tersebut dengan air yang baru saja ia tekan dari wadah dispenser, ia meletakan teko itu di atas kompor dan memutar knop kompor hingga berbunyi dan mengeluarkan api.

saat air yang ada di dalam teko itu sudah mendidih, Kikan sesegera mungkin mematikan kompornya.  kemudian menuangkan air panas itu ke dalam cangkir yang sudah berisi teh hijau, hingga kucuran air panas yang keluar dari lubang teko itu, kini berubah warna menjadi hijau saat tertuang  di dalam cangkir tersebut.

Kikan sejenak menengok ke dalam lemari es untuk mencari snack, bermaksud menyuguhkan snack tersebut kepada suaminya. namun dirinya tak mendapati apapun di dalam lemari es itu, hanya beberapa botol minuman dingin saja yang terlihat disana, Kikan menutup kembali pintu lemari es itu. tiba - tiba suara bunyi perutnya terdengar begitu jelas, sontak Kikan memegangi perutnya yang rata dengan mengerucutkan bibirnya.

"Aku sangat lapar, bahkan tidak ada satupun makanan yang bisa untuk di makan, dia juga tadi pasti belum makan," gumam Kikan lirih. ia meletakan teh yang sudah ia seduh tadi diatas nampan kecil, kemudian Kikan mengantarkan teh tersebut kepada suaminya yang kini terlihat duduk dengan memangku sebuah laptop di ruangan depan.

Kikan meletakan teh itu di atas meja tepat di di depan suaminya yang sedang bekerja.

"Kamu belum makan?" tanya Kikan, namun Rey hanya diam saja.

"Aku ingin memasak sesuatu. tapi, di lemari es tidak ada satupun bahan makanan yang bisa untuk di masak," imbuh Kikan, tetap saja mulut Rey tak bergeming dan kedua matanya tak lepas dari komputernya itu. dan Kikan sudah tau, pasti suaminya itu tidak menghiraukan pertanyaanya. Kikan hanya bisa menghela nafas dan beranjak pergi dari sana.

"Aku sudah memesan makanan." Suara Rey menyentak di telinga Kikan hingga membuat wanita itu sejenak menghentikan langkah kakinya. Kikan pun mengiyakan dan kembali melanjutkan niat awalnya untuk kembali ke dalam kamar.

"Entahlah, aku sungguh tidak tau dengan pikiran laki - laki itu, menjawab pertanyaan orang apa susahnya? sungguh menyebalkan." Kikan menggerutu kesal.

Namun tiba - tiba langkah kaki Kikan terhenti, saat dirinya mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah. ia terpaksa memutar posisinya dan berjalan cepat untuk membukakan pintu rumah itu. seorang kurir berdiri di depan pintu dengan membawa kantung plastik yang berisi makanan di dalamnya, Kikan menerima makanan tersebut. ia menutup kembali pintunya lalu menuju ke dapur untuk memindahan makanan itu ke dalam beberapa wadah, Kikan kembali pergi ke ruangan depan untuk memanggil suaminya yang terlihat masih bekerja.

"Sudah aku siapkan, cepat makanlah," kata Kikan, Rey mengalihkan posisi laptopnya di atas meja dan berjalan mengikuti langkah kaki istrinya untuk menuju ke dapur.

Rey  mendudukan tubuhnya di meja makan sembari menunggu istrinya yang saat ini sedang sibuk  mengambilkan makanan di atas piring dan menuang air ke dalam gelas kosong yang ada di depannya.

Kikan menyodorkan piring yang berisi makanan itu kepada Rey dan hendak berlalu meninggalkan dapur, namun lagi - lagi suara Rey menghentikan langkah kakinya.

"Mau kemana?" tanya Rey.

"Ke kamar," balas Kikan.

"Makanlah ... " perintah Rey.

"Aku tidak lapar!" kata Kikan.

"Duduk, dan cepat makanlah!" seru Rey sambil  mengernyitkan dahinya.

"Tidak makan sekali, tidak akan mati, kok." celetuk Kikan. ia hendak melangkahkan kakinya namun Rey menarik tangannya.

"Pilih duduk dan makan, atau tidur di luar rumah!" Rey mengancam. Kikan terpaksa mengurungkan niatnya dan mengiyakan perintah suaminya itu.

"Lepaskan, bisanya memaksa." Kikan menepis tangan Rey dan ia menggerutu kesal seraya mendudukan tubuhnya berhadapan dengan suaminya tersebut. dan akhirnya mereka berdua makan di atas satu meja makan yang sama.

Seusai makan malam, Rey terlebih dulu meninggalkan meja makan dan Kikan masih membereskan meja makan itu , setelah itu, ia pergi kembali ke kamarnya. namun, ketika Kikan masuk ke dalam kamar, Kikan melihat Rey sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ada di dalam kamar itu.

"Kamu kenapa tidur disini?" tanya Kikan.

"Pertanyaanmu sungguh konyol! ini kamar yang biasa aku tempati untuk tidur, memangnya aku mau tidur dimana lagi, hanya kamar ini yang bisa di pakai, yang lainnya masih belum di renovasi," ketus Rey, ia mencoba mencari posisi tidur yang nyaman.

"Lalu, aku tidur dimana?" tanya Kikan.

"Mana ku tau, itu urusanmu bukan urusanku!" celetuk Rey seraya memejamkan matanya.

Kikan menghela nafas, ia meraih bantal dan juga selimut yang ada di samping suaminya, kemudian keluar dari kamar itu bermaksud untuk tidur di sofa yang letaknya ada di ruang depan sana. namun ketika hendak memejamkan mata, hatinya tiba - tiba menjadi was - was dan pikiran-nya berhalusinasi tak karuan. Kikan merasa takut dan cepat - cepat  berlalu beranjak dari sofa itu dan kembali ke dalam kamar. ia dengan terpaksa tidur di atas satu ranjang dengan suaminya tersebut.

"Kenapa kembali, takut?" ledek Rey dengan posisi yang saat ini membelakanginya.

"Berisik ..." celetuk Kikan, ia menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya dan tak lama kemudian terlelap akan tidurnya, begitu juga dengan Rey.

Terpopuler

Comments

Mimilngemil

Mimilngemil

malu-malu tapi mau 😂😅😆😃
egonya turunin dikit lah Rey....

2023-11-02

1

Mimilngemil

Mimilngemil

Bilang aja mau tidur bareng 😂😅

2023-11-02

0

Man Cian

Man Cian

😅😅😅kyaknya ada lucunya juga nih

2022-10-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!