Kicau burung bersautan mengiringi pagi yang cerah kala itu. Tak terasa 2 bulan pernikahan Rey dan Kikan pun berlalu. Namun, tetap saja tidak ada perubahan di antara hubungan mereka, sekalipun berkunjung di rumah Ibu maupun Mama Lilis, mereka tetap bersandiwara seolah hubungan diantara mereka baik - baik saja.
Kikan melakukan hal yang sama setiap harinya, meskipun pernikahan ini tak diinginkan oleh-nya. namun, bagaimana pun, Rey tetaplah suaminya. Jadi mau tidak mau, Kikan tetap harus melayani semua kebutuhannya. Namun, tidak dengan kebutuhan biologisnya. sikap dan sifat Rey pun masih tetap sama, ia selalu bersikap dingin terhadap Kikan.
Pagi itu, ketika Kikan hendak pergi ke kantor
dilihat-nya Rey masih tertidur pulas. dan Kikan bermaksud ingin membangunkannya, namun, berulang kali ia bangunkan suaminya tersebut, namun tetap saja tidak bangun.
"Kak Rey, ayo bangunlah, Kak. ini sudah siang," panggil Kikan pelan sambil memegang bahu Rey dan menggoyang - goyangkannya.
"Mulutku hampir berbusa membangunkannya, biarkan saja, mungkin, dia hari ini tidak pergi ke kantor. percuma juga kalau aku membangunkannya. yang ada aku terkena marah , lebih baik aku tinggal pergi ke kantor dulu." Kikan bergumam dalam hati. Ia berlalu pergi meninggalkan Rey yang masih tertidur pulas.
Kikan berjalan ke jalan raya, langkah kakinya terhenti saat ia menemukan sebuah taxi. Kikan menaiki taxi tersebut untuk menuju ke kantor,
taxi yang ditumpangi Kikan kini melaju dengan cepat. dan setibanya di kantor, ia langsung masuk ke dalam ruangan yang biasa untuk dirinya bekerja, dan ia melakukan rutinitas pekerjaan seperti biasanya.
****
Dan di rumah, kedua mata Rey terlihat mengerjap. Ia membuka kedua matanya dengan sempurna dan menguap. Kemudian laki - laki itu beranjak duduk dan kedua matanya begitu terkesiap saat melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan waktu pukul 07.30 AM .
"Sialan, dia sengaja tidak membangunkanku," umpat Rey dengan kesal. ia beranjak dari tempat tidurnya dan ketika hendak melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, tiba - tiba suara dering ponsel miliknya berbunyi dengan begitu nyaring, hingga membuat Rey mengurungkan langkah kakinya. Rey meraih ponsel yang kala itu tergeletak di meja samping tempat tidur yang ada di dalam kamarnya tersebut. terlihat di layar ponsel itu, ada satu panggilan masuk dari nomer yang tidak ia kenal, Rey sempat ragu - ragu untuk mengangkatnya. Namun, rasa penasaran bersemayam di dalam pikirannya, jadi, Rey pun mulai menekan tombol hijau yang ada di ponsel tersebut dan meletakan ponsel itu lebih dekat dengan daun telinganya.
"Hallo siapa ini?" tanya Rey.
"Kak, ini aku." Terdengar suara seorang laki - laki dari balik ponsel yang saat ini Rey genggam.
"Aku, siapa?" tanya Rey dengan mengernyit kebingungan.
"Siapa lagi kalau bukan adikmu," tuturnya
"**** ... kemana saja kau selama ini?" tanya Rey dengan geram. ia sedikit menaikan suaranya dari balik ponsel itu.
"Kak, apa nanti malam kakak bisa menemuiku di cafe grand night? aku ingin menjelaskan semuanya," kata Alka.
"Aku harap kakak tidak memberi tau siapapun, terutama Mama. kalau kita akan bertemu " imbuh Alka.
"Baiklah, nanti malam Kakak akan kesana," jawab Rey sambari mengakhiri panggilan itu.
****
Sore harinya. Kikan terlihat keluar dari kantor tempat di mana dirinya bekerja, karna sore itu sudah batas melewati jam pulang kerja. kikan berjalan menyusuri jalan raya untuk mencegat taxi, karna, jarak dari kantor ke rumahnya sangatlah jauh di banding dengan jarak rumah ibunya. jadi, sangat tidak mungkin jika dirinya harus berjalan kaki untuk bisa sampai ke rumah yang saat ini di tempatinya bersama Rey.
Kikan berjalan selangkah demi selangkah sembari menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada taxi yang lewat di sekitar sana. namun, sudah hampir 25 menit Kikan berjalan, tapi, ia belum juga mendapatkan taxi. dan ketika Kikan hendak menyabrang jalan. Tiba - tiba terlihat pengendara motor dari arah samping melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.
Kikan yang melihat pengendara itu sontak menghindar, hingga dirinya terjatuh bahkan membuat kakinya terkilir.
"Aww." Kikan memekik kesakitan seraya memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit. Ia mencoba bangun dan beranjak nerdiri namun Kikan benar - benar kesulitan.
Hingga terlihat sebuah mobil mewah berhenti secara tiba - tiba di depannya.
seseorang turun dari mobil tersebut, seorang laki laki tampan dengan kacamata hitam yang melekat di kedua matanya.
"Nona, apa kamu tidak apa - apa? mari, saya bantu." Laki - laki itu mengulurkan tangannya kepada Kikan.
"Saya baik - baik saja. terimakasih, saya bisa bangun sendiri," jawab Kikan menolak bantuan laki laki tersebut. Kikan mencoba berdiri dan membersihkan sebagian bajunya yang kotor karna terbalut debu.
Laki - laki yang saat ini di hadapan Kikan, tak lain ialah, Alka. teman masa kecil Kikan sekaligus adik iparnya. namun keduanya nampak tidak menyadari satu sama lain. mungkin, karna sudah 15 tahun tidak bertemu.
"Kenapa kamu bisa terjatuh," tanya Alka
"Saya sedang menyabrang dan menghindari pengendara motor," jawab Kikan sambil menundukan pandangannya.
"Saya permisi dulu," pamit Kikan, ia berjalan memincangkan satu kakinya, akibat terkilir.
"Tunggu Nona, rumahmu di mana? biar ku antarkan kamu pulang. kakimu sepertinya terkilir," kata Alka dengan sedikit memaksa.
"Tidak, saya tidak apa apa ... saya bisa pulang sendiri. terimakasih atas tawarannya," jawab Kikan, ia menolak tawaran Alka dengan mengatupkan kedua tanganya.
"Kamu terlihat kesakitan. aku akan mengantarkanmu pulang, Nona. aku sama sekali tidak berniat jahat terhadapmu," tutur Alka, namun paksaan Alka, tetap saja tidak membuat Kikan berubah pikiran untuk menerima tawarannya. kemudian Kikan melihat sebuah taxi yang melintasi jalan yang saat ini ia tapaki, Kikan melambaikan tangan dan membuat laju taxi itu terhenti tepat di depannya.
"Sekali lagi terimakasih atas tawaran anda. saya bisa pulang sendiri," ucap Kikan sambil tersenyum kecil dan masuk kedalam taxi yang baru saja ia cegat.
"Nona, tunggu ... namamu siapa?" teriak Alka. namun taxi yang ditumpangi kikan sudah melaju terlebih dahulu, hingga kikan tak mendengarkan teriakan laki - laki asing itu.
"Sial, siapa nama Nona itu? apa mungkin dia bekerja di sekitar sini? besok aku akan melewati jalan ini lagi, barangkali dia melintasi jalan ini lagi," gumam Alka lirih, ia kembali menaiki mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Setibanya di rumah, Kikan membuka pintu. kakinya masih terasa sakit akibat terjatuh tadi, Rey yang kebetulan baru saja keluar dari kamar, saat melihat Kikan pulang. Ia pun menegur dan .menghampirinya.
"Selarut ini? untuk apa kau pulang," tegur Rey sembari mengernyitkan dahi, namun Kikan hanya diam tak menghiraukan teguran suaminya itu. Kikan berlalu meninggalkan Rey, untuk masuk ke dalam kamar. Namun, saat Rey melihat istrinya tersebut berjalan dengan pincang. Ia sesegera mungkin menanyakannya.
"Kakimu kenapa?" tanya Rey, ia mengahimpiri Kikan dan memperhatikan kakinya.
"Bukan urusanmu." Kikan kembali melangkahkan kakinya perlahan - lahan. Namun, tiba - tiba tangan Rey yang kekar itu langsung mengangkat Tubuh Kikan.
"Kau mau apa? turunkan aku ... " teriak Kikan dengan meronta - ronta, berharap laki - laki itu menurunkannya.
"Apa kamu bisa diam?" seru Rey seraya menatap tajam kedua mata Kikan dari dekat, kemudian, ia menurunkan Kikan dan membantu-nya untuk duduk di atas sofa yang ada di ruang depan. Rey duduk berjongkok di hadapan Kikan. dan memegang pergelangan kaki Kikan yang sakit.
"Awww ..." Kikan mendesis menahan rasa sakit.
"Ini sepertinya terkilir, kenapa kau bisa sampai terkilir?" tanya Rey, ia sedikit memberi sentuhan di pergelangan kaki itu.
"Bukan urusanmu! Tolong minggir-lah, aku mau ke kamar." Kikan menepis tangan Rey yang saat ini sedang menyentuh pergelangan kakinya.
"Jelas ini urusanku! kalau sampai ada apa - apa denganmu, bisa - bisa aku yang akan disalahkan, Mengerti." seru Rey dengan kesal. mendengar Rey berteriak seperti itu, Kikan membungkam mulutnya seketika.
"Tunggu disini, jangan ke mana - mana!" perintah Rey, Kikan pun mengiyakannya.
Rey, mengambilkan air hangat yang baru saja ia ambil dari dapur, kemudian ia berjongkok kembali di depan Kikan dan mencoba mengompres kaki Kikan seraya memberikan pijatan kecil di sana. Kikan pun hanya terdiam dan memperhatikan laki - laki itu dengan begitu seksama. Rey mengangkat kembali tubuh Kikan ke kamar dan membantunya berbaring diatas tempat tidur-nya. setelah itu, Rey teringat kembali bahwa dirinya sudah memiliki janji untuk bertemu dengan adiknya di cafe.
"Nona Kikan, aku tinggal pergi keluar sebentar," kata Rey berpamitan kepada Kikan.
"Meskipun kau pergi lama tidak ada pengaruhnya bagiku." Kikan bergumam pelan.
"Bilang apa kamu?" tanya Rey dengan kesal.
"Tidak, tidak bilang apa - apa. sudah sana pergi," jawab Kikan sembari memalingkan pandangannya.
Lalu, Rey, mengambil jaket berwarna hitam yang kala itu tergantung di hanger yang ada di dekat lemari. ia mengenakan jaket tersebut hingga menutupi seluruh tubuhnya, ia meraih ponsel sekaligus kunci mobil dan di masukan ponsel tersebut ke dalam sakunya. Dan saat dirinya hendak melangkahkan kaki untuk keluar kamar, tiba - tiba Rey mengurungkannya dan kembali menghampiri Kikan.
"Ada apa lagi?" tanya Kikan.
"Jangan lupa makan-lah, Jangan sampai orang mengira seolah - olah aku sedang menyiksamu di sini," seru Rey, ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Kikan.
Kikan masih mengernyit dengan keheranan. Ia memperhatikan Rey dari belakang dan pikirannya bertanya - tanya akan suaminya yang pergi malam hari seperti ini.
"Apa dia menemui kekasihnya?" gumam Kikan.
"Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sintia Dewi
alka alka itu jodoh yg disiapkan mamamu tp km kabur dan skrang km tertarik? telat... dia udh jd jodoh kakakmu yg dingin itu. rasakan/Chuckle/
2024-08-28
0
Mimilngemil
Cemburu kah..
2023-11-02
0
Mimilngemil
Rey semoga kamu jatuh cinta sama Kikan dan Kikan pun demikian.
2023-11-02
0