Di depan Mama Lilis dan juga Ibu Merry, Kikan dan Rey terlihat begitu akrab, tetapi nyatanya tidak demikian.
Rey berjalan mendahului istrinya berjalan menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya.
Kikan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang, ia mengambil koper yang saat itu berada di atas lemarinya.
"Kak Rey, kita membawa koper berapa?" tanya Kikan. namun Rey hanya diam saja dan sibuk mengambil baju - bajunya yang sudah di tata rapi oleh Mama Lilis kemarin. Kikan menggerutu kesal dan ia menurunkan 3 koper besar dari atas lemari. Rey melirik tajam ke arah koper yang saat ini Kikan pegang.
"Jangan membawa baju dan barang terlalu banyak! jangan menyusahkanku di-sana," tegur Rey dengan tatapan sinisnya,
"Yang menyusahkan itu dirimu, siapa suruh mengajakku untuk pindah dari sini," celetuk Kikan, hingga membuat dirinya menghela nafas dengan kesal. ia mengembalikan dua koper ke tempat asalnya, hingga kini ia menyiapkan 1 koper untuk barang - barang miliknya dan juga milik suaminya.
Rey hanya diam tak menghiraukan celotehan istrinya yang membuat telinganya hampir sakit. ia sibuk meletakan satu persatu baju miliknya ke dalam itu.
"Kenapa kau diam saja? tidak bisa menjawab?" tanya Kikan, hingga membuat laki - laki yang ada di kamarnya saat ini merasa kesal.
"Sekali lagi bicara, akan ku tambal mulutmu itu!" seru Rey sambil mengernyitkan dahinya.
"Cepatlah sedikit, aku akan menunggumu di bawah," kata Rey.
"5 menit!" imbuhnya.
"Kak Rey,tunggu ..." panggil Kikan.
"Ada apa lagi?" tanya Rey dengan menautkan kedua alisnya.
"Tolong bawakan kopernya, ini sungguh berat, " pinta Kikan.
"Punya tangan, jangan manja!" ketus Rey, ia berlalu meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga menuju ke halaman rumah untuk memanaskan mesin mobil miliknya
Mulut Kikan tak henti - hentinya menggerutu, ia berjalan terengah - engah dengan menarik koper yang berisi-kan baju miliknya dan juga baju milik suaminya, ia menuruni anak tangga dengan perlahan - lahan karna takut tergelincir. Kikan menghampiri suaminya yang saat ini berdiri di samping mobilnya dengan membuka pintu bagasi belakang mobil, tangannya menyaut koper yang di pegang oleh Kikan dengan begitu kasar. hingga membuat decakan kesal mulut wanita itu terdengar begitu jelas.
Kemudian Ibu dan juga Mama Lilis menghampiri mereka berdua di halaman rumah.
"Kenapa terburu - buru sekali, sih kalian, Nak." Ibu bertanya dengan wajahnya yang begitu sayu.
"Ibu jangan khawatir, nanti Rey dan Kikan akan berkunjung kemari dua hari sekali," kata Rey,
"Baiklah, Nak. ibu minta tolong jaga Kikan ya, Nak. hanya Kikan harta Ibu satu - satunya," pinta Ibu dengan menatap wajah Kikan berkaca - kaca. Kikan rasanya ingin sekali menangis, namun dirinya begitu malu. ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah, Kikan mendekap tubuh Ibunya dengan begitu erat.
"Ibu jangan meng-khawatirkan itu, Rey akan menjaga Kikan." Rey berucap dan melihat Ibu dan anak itu masih berpelukan.
"Ibu baik - baik, ya di rumah. Kikan akan selalu merindukan Ibu, Ibu jangan lupa telat makan dan juga minum obat," tutur Kikan sembari mencium pipi Ibunya kemudian melepaskannya. Ibu hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Nak, Mama dan Ibu tidak bisa ikut mengantar di rumah baru kalian, Ya. karna Mama sangat lelah, begitu juga dengan Ibu kamu," kata Lilis.
"Iya, Ma. tidak apa - apa,"saut Kikan.
"Kikan, ingat perkataan Ibu, kamu harus berbakti dan menurut kepada suamimu, layani semua kebutuhan-nya," tutur Ibu. Kikan sejenak melirik ke rah Rey dan mengiyakan nasehat ibunya.
Kikan dan Rey masuk ke dalam mobil, Rey mulai menyalakan kembali mesin mobil yang sempat ia matikan tadi. kedua pasangan itu melambaikan tangannya kepada Ibu dan juga Mamanya, dan seketika itu, Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
memang sungguh berat untu Kikan meninggalkan rumah itu, terlebih lagi di sana masih ada orang yang ia kasihi, namun bagaimana lagi, ini ialah permintaan suaminya dan meskipun Kikan tak menyukainya, ia harus tetap menerima apapun keputusannya.
Di dalam mobil mereka berdua tak berkata atau pun bertegur sapa, hanya terdengar suara mesin mobil yang begitu bising di telinga mereka berdua. Kikan yang sedari tadi memperhatikan luar kaca jendela mobil, ia mulai merasa jenuh bahkan dirinya menguap berkali - kali akan kejenuhan yang saat ini menyelimuti dirinya.
"Kak Rey, apa masih jauh?" tanya Kikan. namun Rey hanya diam saja tak menggubris pertanyaan istrinya. Kikan mengerucutkan bibirnya dengan kesal, rasanya sungguh percuma ia bertanya kepada suaminya tersebut. Namun, semakin lama perjalanan yang Kikan rasakan begitu jauh bahkan lebih dari setengah jam lamanya.
"Kak Rey, sebenarnya kau mau membawaku kemana? kenapa dari tadi tidak sampai - sampai?" tanya Kikan. Namun, percuma, Rey tetap saja tak menghiraukan Kikan. ia masih sibuk memfokuskan laju kemudinya.
"Sialan, di tanya baik - baik hanya diam saja, seperti orang yang tidak bisa bicara." Kikan menggerutu kesal.
5 menit kemudian, Rey menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mewah berdinding kaca, rumah tersebut tak lain ialah rumah yang akan di tempati Kikan dan juga dirinya. kedua mata Kikan memperhatikan sekeliling rumah tersebut dari dalam mobil.
"Turun!" perintah Rey.
"Memangnya, kita sudah sampai?" tanya Kikan. Rey hanya diam dan menatap wanita yang ada di sampinya itu dengan tatapan yang tajam.
"O-oh baiklah, aku turun, aku akan turun," kata Kikan dengan nada takut, ia membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu, begitu juga dengan Rey, ia turun dari mobil dan mengeluarkan koper dan juga beberapa barang yang sempat di bawa tadi. Kikan mengambil Koper yang baru saja di turunkan oleh suaminya, ia membawa koper itu masuk ke dalam rumah dengan berjalan dengan terengah - engah. Rey meliriknya dan sesegera mungkin membuka pintu rumah yang masih terkunci, dan saat Kikan hendak masuk dengan membawa koper itu, tiba - tiba Rey begitu saja menyaut koper itu dari tangan Kikan.
"Mau kau bawa kemana kopernya?" tanya Kikan berjalan mengikuti sumainya dari belakang.
"Ku buang ... " Rey terus berjalan kemudian masuk ke salah satu kamar yang ada disana.
"Kemarikan kopernya," pinta Kikan. Rey tak segan melempar koper itu di lantai dengan begitu keras.
"Ambil sana, kalau tinggal disini, jangan banyak bicara dan jangan menyusahkanku!" seru Rey, ia hendak berlalu meninggalkan kamar itu, namun suara Kikan menghentikan langkah kakinya.
"Kak Rey," panggil Kikan.
"Ada apa lagi?" tanya Rey dengan posisinya yang masih membelakangi Kikan.
"Kau masi berhutang jawaban kepadaku," kata Kikan berjalan mendekati suaminya, seketika Rey mengubah posisinya berhadapan dengan Kikan.
"Jawaban apa?" tanya Rey dengan menautkan tajam kedua matanya.
"Jawaban, kenapa kita harus pindah kemari?" tanya Kikan dengan tatapan matanya yang begitu polos.
"Kamu ini sebenernya bodoh atau bagaimana? aku hanya ingin kebebasan. Kalau kita tinggal serumah dengan Ibu atau Mama, bisa - bisa mereka setiap waktu dan bahkan setiap detik akan mengawasi dan mengatur kita untuk berbuat ini dan itu, Sementara hubungan kita kan hanya sandiwara didepan mereka," ujar Rey dengan nada ketusnya.
"Oh, iya, ya." Kikan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Kalau begitu, aku ingin meminta satu hal terhadapmu," imbuhnya.
"Apa itu?" tanya Rey dengan menyipitkan kedua matanya akan rasa yang teramat penasaran.
"Meskipun kita hanya bersandiwara, tetapi pernikahan kita sah dimata agama dan juga hukum dan kita bersandiwara hanya untuk beberapa bulan ke depan saja, kan. jadi, aku harap kita bisa menjaga jarak harap," tutur Kikan. saat mendengar permintaan istrinya, Rey seketika langsung mengepalkan kedua tangannya. Ia melangkahkan kakinya mendekati Kikan hingga kini berdiri persis di depan wanita itu, Rey mendekatkan bibirnya di telinga Kikan, hingga membuat Kikan merasa geli
"Tenang saja, Nona Kikan. kau bukan seleraku!" seru Rey dengan penuh penekanan. dengan rasa geramnya, Rey berlalu pergi meninggalkan Kikan yang masih berdiri di dalam kamar itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Melizz
terus Ray masa Kikan harus berubah dulu jadi indomie biar jadi selera mu... /Curse/
2025-02-13
0
ayunia
ah jadi kangen sama my jasson
2024-09-30
1
Zieya🖤
cuma novel tapi aku kesal... bisak gak sih aku skip ini.... tapi panasaran😌
2024-05-01
0