Mari beralih sebentar ke apartemen Ronan, sebuah bangunan megah yang menjulang di tengah kota, dijaga dengan ketat seolah menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kemewahan. Keamanan di gedung ini luar biasa ketat, jauh melebihi standar apartemen biasa, kamera pengawas tersebar di setiap sudut, penjaga bersenjata berpatroli tanpa henti, dan akses masuk dibatasi hanya untuk segelintir orang tertentu. Semua ini bukan tanpa alasan. Di balik pintu yang tertutup rapat, terdapat empat tamu misterius yang datang atas undangan Ronan, masing-masing membawa aura yang sulit ditebak.
Sekarang, mereka semua berada di dalam kamar apartemen Ronan, duduk dalam diam yang terasa lebih berat daripada kata-kata. Cahaya lampu yang redup memantulkan bayangan mereka di dinding, menciptakan suasana yang semakin menegangkan. Teman-teman Ronan, empat sosok yang kehadirannya begitu mencolok, membawa aura dingin yang mencengkam, seolah setiap tarikan napas mereka mengisi ruangan dengan ketegangan yang tak terlihat. Tatapan mereka tajam, penuh perhitungan, seakan setiap gerakan sekecil apa pun memiliki makna tersembunyi.
Semeone 3
Membosankan sekali.
Semeone 3
Semeone 2
Tidak usah banyak mengeluh!
Semeone 2
Semeone 4
Nikmati saja permainan kita.
[ Ujarnya dingin ]
Semeone 4
Semeone 3
Nikmati? Ini membosankan.
Semeone 3
King, Anda memiliki mansion di Finlandia. Mengapa kita tidak pergi ke sana saja? Tempat itu jauh lebih layak daripada tinggal di apartemen Ronan yang terasa membosankan ini.
Satu tembakan melesat cepat menuju Semeone 3, suara dentumannya menggema di seluruh ruangan, memecah ketegangan yang sudah terasa sejak awal. Peluru itu datang dari sudut kanan apartemen Ronan, ditembakkan oleh Semeone 1 dengan presisi yang mengerikan. Dalam hitungan detik, waktu seolah melambat, mata semua orang tertuju pada lintasan peluru yang melesat tajam.
Someone 1
Tampaknya aku telah memberimu terlalu banyak kebebasan, hingga kau berani lancang mengusik rencana yang telah kuatur dengan sempurna.
Someone 1
'PROK PROK PROK'
Tepuk tangan bergema di seluruh ruangan, memecah ketegangan yang masih menggantung di udara. Suara itu datang dari arah pintu apartemen, ritmenya lambat namun penuh ironi, seolah menjadi tanda kehadiran seseorang yang telah mengamati segalanya. Saat semua mata beralih, sosok Ronan muncul di ambang pintu, berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. Senyum tipis terukir di wajahnya, namun sorot matanya tajam, menandakan bahwa ia bukan sekadar tamu yang baru tiba ia adalah pemain yang telah menunggu momen yang tepat untuk memasuki panggung.
Ronan Graves.
Jika kau bosan, pergi saja. Aku sama sekali tak keberatan, tyhmä.
[ Ujarnya dingin ]
Comments