Akhirnya, setelah beberapa hari yang melelahkan, Isabella bisa menghela napas lega saat langkah kakinya menyentuh lantai kayu rumah kecilnya. Meskipun sederhana, tempat ini selalu memberinya kehangatan yang tak tergantikan dindingnya yang berlapis kenangan, aroma teh hangat yang selalu menyambutnya, dan jendela mungil yang membiarkan cahaya senja masuk dengan lembut.
Saat Isabella tengah menikmati hidupnya yang damai, berbaring di atas kasurnya dengan mata setengah terpejam, tiba-tiba suara dering ponselnya memecah keheningan. Ia melirik layar, mendapati sebuah nomor tak dikenal terpampang di sana. Sesaat, pikirannya dipenuhi keraguan. Haruskah ia mengangkatnya atau mengabaikannya begitu saja? Namun, entah mengapa, ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa panggilan ini penting.
Someone 1
📲 Selamat siang. Apakah saya sedang berbicara dengan Nona Isabella, putri dari Ny. Lillian Chatsworth?
Isabella Kensington.
📲 Benar, saya Isabella. Dengan siapa saya berbicara?
Suster Rumah Sakit.
📲 Saya dari Rumah Sakit Vallenhart ingin menginformasikan bahwa Ny. Lillian Chatsworth mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis. Mohon kehadiran Nona Isabella untuk mendiskusikan penanganan medis lebih lanjut.
Isabella Kensington.
📲 A-pa-?!
Mendengar kabar dari pihak rumah sakit, jantung Isabella berdegup kencang, rasa panik langsung menyelimuti dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia menutup telepon, meraih tasnya, lalu berlari keluar rumah. Dengan napas tersengal, ia bergegas menuju halte bus terdekat, berharap tidak perlu menunggu terlalu lama. Setiap detik terasa begitu lambat, dan pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang keadaan ibunya.
Setelah tiba dengan napas tersengal, Isabella berdiri di depan meja resepsionis, membuat sang perawat terkejut melihatnya. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan matanya yang dipenuhi kecemasan langsung mencari seseorang yang bisa memberinya jawaban.
Isabella Kensington.
Isabella Kensington.
Saya Isabella Kensington. Bisakah Anda memberi tahu saya di mana ruang perawatan ibu saya, Ny. Lillian Chatsworth?
Suster Rumah Sakit.
Ny. Lillian Chatsworth dirawat di ruang ICU, lantai tiga, kamar 305. Mohon ikuti petunjuk ke lift di sebelah kanan, dan harap tetap tenang saat memasuki area perawatan intensif.
Isabella Kensington.
Terimakasih suster.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada suster, Isabella segera bergegas menuju lift, menekan tombol lantai tiga dengan tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdebar kencang saat pintu lift tertutup, dan ruang sempit itu seolah semakin menyesakkan dadanya. Ia menggigit bibir, mencoba menahan kecemasan yang semakin memuncak seiring detik-detik berlalu.
Begitu tiba di depan pintu, Isabella tanpa ragu langsung masuk, namun langkahnya seketika terhenti saat pandangannya jatuh pada sosok ibunya di atas ranjang. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat menekan jantungnya. Matanya membelalak melihat tubuh ibunya yang lemah, hampir tak bergerak, dengan begitu banyak alat medis terpasang, monitor detak jantung, infus, selang oksigen, dan berbagai kabel yang seakan mengikatnya pada kehidupan.
Isabella Kensington.
I-bu-?! hikss...
Dengan langkah gemetar, Isabella perlahan mendekati ranjang ibunya, matanya tak lepas dari wajah pucat yang tampak begitu rapuh di balik selang oksigen. Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan, menetes di jemari yang kini menggenggam tangan ibunya dengan hati-hati, seakan takut menyakitinya.
Comments