Akhirnya, malam pun tiba, dan ketiga gadis itu, Charlotte, Margaret, dan Isabella, melangkah masuk ke Hani Klen Restaurant, tepat seperti yang diperintahkan oleh Sebastian Alderidge. Cahaya lampu kristal berpendar lembut, memantulkan kilauan keemasan di lantai marmer yang dingin. Isabella, dengan gaun milik Juliet Ellsworth yang anggun membalut tubuhnya, tampak seolah berasal dari dunia lain, elegan, namun menyimpan ketegangan di balik senyumnya.
Setelah mereka masuk, pemandangan yang menyambut mereka terasa begitu aneh. Semua meja di restoran itu kosong, kecuali satu di tengah ruangan, tempat Sebastian Alderidge duduk bersama dua orang lainnya. Margaret hampir kehilangan kendali ketika mengenali salah satu dari mereka Alaric Vainio, penyanyi terkenal dari Finlandia yang telah lama menjadi idolanya.
Margaret Everly.
Isabella! Lihat i-tuu, Alaric Vainio!
[ Bisiknya pada Isabella ]
Margaret Everly.
Isabella Kensington.
I-ya! Aku sudah melihatnya dari tadi Margaret.
[ Bisiknya balik kearah Margaret ]
Isabella Kensington.
Charlotte Waverley.
( Merepotkan! Isoveli aja udah cukup bikin ribet, sekarang dia bawa kedua assassin gila ini! )
Charlotte Waverley.
Setelah kehadiran Charlotte, Isabella, dan Margaret, tatapan Sebastian langsung tertuju kepada Isabella, seolah hanya dialah satu-satunya orang di ruangan itu. Matanya yang tajam mengamati setiap detail gaun milik Juliet Ellsworth yang membalut tubuh Isabella, rambutnya yang tertata sempurna, dan ekspresi wajahnya yang berusaha tetap tenang meski jelas ada kebingungan di baliknya.
Alaric Vainio.
Wah! Ternyata Mr. Sebastian Alderidge mengundang para gadis cantik.
Alaric Vainio.
Charlotte Waverley.
( Menjijikkan sekali mulutnya itu! )
Akhirnya mereka pun duduk. Apesnya, Isabella harus duduk di samping Sebastian, dan sejak tadi pria itu menatapnya dengan lembut, terlalu lembut hingga terasa mengancam. Isabella meneguk ludah, berusaha tak menunjukkan ketakutannya, sementara Sebastian hanya menyunggingkan senyum tipis, seolah menikmati kegelisahannya. Di sisi lain, Margaret duduk di samping Alaric, yang meski berkarakter tenang dan lembut, tetap membawa aura misterius yang sulit ditebak.
Sebastian hanya melirik sekilas ke arah Charlotte sebelum tanpa ragu meraih tangan Isabella. Sentuhannya lembut terlalu lembut untuk seseorang sepertinya namun justru itulah yang membuat Isabella semakin waspada. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya menegang, dan pikirannya berputar mencari alasan di balik gerakan pria itu.
Sebastian Alderidge.
Apa kamu keberatan aku membawa teman-ku, rakas-ku?
Isabella Kensington.
...
Charlotte Waverley.
I-soveli?!
Margaret Everly.
( INI BENERAN-?! )
Sebastian Alderidge.
Jika kamu keberatan dengan keberadaan mereka, aku akan mengusir mereka. Bagaimana rakas-ku?
Isabella Kensington.
A-ku tidak keberatan Mr. Sebastian Alderidge.
Sebastian Alderidge.
Baiklah rakas-ku.
Isabella Kensington.
Hullu! Bagaimana bisa dia mengatakan seperti itu.
[ Gumamnya ]
Sebastian Alderidge.
Bisa, karena kamu milik-ku! Honey.
[ Bisiknya pada Isabella ]
Comments