Mari kita pindah posisi dahulu. Sekarang Charlotte bersama Ronan. Mereka telah sampai di depan gerbang rumah Keluarga Waverly. Namun, mereka masih berada dalam mobil. Charlotte terengah, bahunya masih terasa sakit akibat genggaman kuat Ronan yang tadi menyeretnya masuk ke mobil. Ia menatap lelaki di sebelahnya dengan kemarahan yang membara, tapi Ronan hanya bersandar santai di kursinya, seolah tak terjadi apa-apa.
Charlotte Waverley.
Kau memang paskiainen Ronan!
Charlotte Waverley.
Charlotte memaki-maki Ronan dengan kasar, meluapkan amarahnya tanpa peduli seberapa keras suaranya menggema di dalam mobil. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh kebencian, tetapi Ronan tetap tak bereaksi. Tanpa menoleh atau menunjukkan tanda-tanda peduli, tangannya dengan santai menekan tombol di sampingnya. Pintu di sebelah Charlotte terbuka dengan suara klik tajam, membiarkan udara malam masuk dan menyelimuti tubuhnya yang masih dipenuhi amarah.
Ronan Graves.
Keluar.
[ Ujarnya dingin ]
Charlotte Waverley.
Aku belum selesai bicara, dasar paskiainen!
Ronan Graves.
Keluar! Atau kekasih kecilmu itu aku kirim dalam peti.
[ Ujarnya dingin ]
Charlotte Waverley.
Jangan bawa-bawa dia!
Akhirnya, Charlotte keluar dari mobil dengan gerakan kasar, amarahnya begitu membara hingga nyaris membakar udara di sekitarnya. Rahangnya mengatup kuat, tangannya terkepal di sisi tubuhnya, tetapi Ronan sama sekali tak peduli. Begitu kakinya menyentuh tanah, suara deru mesin memenuhi udara, dan dalam hitungan detik, Ronan menancap gas, meninggalkan rumah Waverly tanpa menoleh sedikit pun.
Ronan Graves.
( Rasittava )
Di tengah perjalanan, Ronan Graves merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya, matanya tetap fokus pada jalan di depannya. Dengan satu tangan di kemudi, ia menekan angka yang sudah dihafalnya di luar kepala. Nada sambung berbunyi, panjang dan hampa, sebelum akhirnya seseorang mengangkat di ujung sana.
Ronan Graves.
📲 Dimana King? Berikan handphone-nya pada King.
Ronan Graves.
Semeone 2
📲 King sibuk, jelaskan sekarang.
Ronan Graves.
📲 Gadis itu bukan hanya menyerupai Juliet Ellsworth, wajah, ekspresi, bahkan caranya bergerak begitu identik. Suaranya pun sama, hingga siapa pun yang mendengarnya akan yakin bahwa dia adalah Juliet Ellsworth.
Ronan Graves.
📲 Sebastian Alderidge juga sudah bergerak, seperti-nya dia ingin memiliki Isabella Kensington sepenuhnya, seperti saat dia memiliki Juliet Ellsworth.
Akhirnya, telepon itu terputus sepihak, meninggalkan nada sambung yang terdengar singkat sebelum akhirnya menghilang. Namun, Ronan tak menunjukkan tanda-tanda kesal atau terganggu. Wajahnya tetap datar, sorot matanya tajam menatap jalan di depannya, seolah percakapan tadi tak lebih dari formalitas yang sudah ia perkirakan.
Mari pindah posisi. Di sebuah ruangan mewah di Swedia, dua lelaki misterius duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja kayu mahoni yang dipoles sempurna. Lampu gantung kristal di atas mereka memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan samar di dinding berlapis marmer. Salah satu dari mereka menyandarkan punggungnya dengan santai, jemarinya mengetuk-ketuk lengan kursi, sementara yang lain duduk tegak dengan ekspresi dingin, matanya tajam seolah menembus setiap detail di ruangan.
Comments