Episode 18
Mari beralih sebentar. Di dalam sebuah pesawat mewah yang melayang di atas hamparan awan, suasana terasa begitu tenang namun mencengkam. Pesawat itu bukan milik sembarang orang, melainkan milik seorang pria misterius yang jarang menampakkan diri di hadapan publik. Cahaya lampu redup berpadu dengan interior elegan, menciptakan suasana yang begitu berkelas. Di dalamnya, hanya segelintir orang yang diizinkan untuk ikut dalam perjalanan ini.
Semeone 2
Sepertinya sebentar lagi kita akan mendarat di Finlandia King.
Semeone 3
Apakah Anda yakin kali ini Anda yang akan menang, King?
Semeone 2
[ Menatap tajam Semeone 3 ]
Berani sekali kau!
Semeone 3
Benar, bukan? Dahulu, King tidak berhasil mendapatkan Juliet Ellsworth.
Di dalam kabin pesawat yang sunyi, dua pria misterius itu terlibat dalam perdebatan sengit. Suara mereka terdengar tajam meski tetap terkendali, seolah masing-masing berusaha menekan emosi yang siap meledak. Namun, di antara mereka, pria yang disebut King tetap acuh tak acuh. Duduk dengan tenang di kursinya, ia tak menghiraukan ketegangan yang memenuhi ruangan. Matanya hanya terpaku pada sebuah foto di tangannya, potret seorang gadis cantik dengan tatapan yang sulit diartikan.
Someone 1
( Olet erittäin kaunis, mutta vihaan sinua, Juliet Ellsworth. )
Mari beralih lagi. Sekarang, Isabella sudah duduk tepat di depan Sebastian Alderidge. Ruangan utama CEO Alderidge Company terasa begitu megah, dengan dinding kaca tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota di kejauhan. Aroma kopi dan kayu mahoni memenuhi udara, sementara cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilauan elegan di seluruh ruangan.
Sebastian Alderidge menatap Isabella dengan sorot mata lembut, namun ada sesuatu yang begitu dalam dan menghanyutkan di sana, seakan dirinya sudah sejak awal tahu bahwa momen ini akan tiba. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, penuh percaya diri, seolah membaca setiap langkah yang telah Isabella ambil hingga akhirnya berdiri di hadapannya.
Isabella Kensington.
Saya, butuh bantuan anda Mr. Sebastian Alderidge.
Sebastian Alderidge.
Aku akan selalu membantumu sweetheart.
Isabella Kensington.
Boleh saya meminjam uang pada anda, Mr. Sebastian Alderidge?
Sebastian Alderidge.
Berapa yang kamu butuhkan sweetheart?
Isabella Kensington.
Sekitar 167.800 euro. Saya mohon dengan sangat, Tuan Sebastian Alderidge, saya benar-benar membutuhkan dana ini. Saya berjanji akan mengembalikan uang anda.
Sebastian Alderidge.
Kapan tepatnya kamu akan mengembalikan uang ini, sweetheart? Aku ini seorang pebisnis, honey, dan aku tidak suka menunggu. Aku harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.
Mendengar ucapan Sebastian Alderidge, Isabella terdiam. Ada ketegangan di matanya, tapi dia tahu pria itu tidak berbicara sembarangan. Beberapa detik kemudian, Sebastian menyodorkan sebuah dokumen ke hadapannya. Kontrak dengan kop perusahaan yang mencerminkan kekuasaan.
Sebastian Alderidge.
Tanda tangani kontrak ini, dan kamu bahkan tak perlu repot-repot mengembalikan uang yang kamu pinjam, honey. Setiap bulan, kamu juga akan menerima bayaran. Tentu saja, ada syaratnya, kamu harus bekerja untukku. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, jadi pikirkan baik-baikbaik-baik, sweetheart.
Dengan sigap, Isabella membaca dokumen yang diberikan Sebastian Alderidge. Namun, semakin jauh matanya menelusuri isi kontrak, semakin kuat rahangnya mengatup. Hingga akhirnya, dengan mata membelalak dan napas memburu, ia menatap Sebastian dengan campuran keterkejutan dan kemarahan.
Isabella Kensington.
Pekerjaan apa ini-?!
Di dalam kontrak itu, Isabella menemukan sesuatu yang nyaris membuatnya kehilangan kata-kata. Pekerjaan yang tertulis di sana bukanlah asisten, sekretaris, atau bahkan rekan bisnis, melainkan Sugar Baby Sebastian Alderidge. Matanya membelalak, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi. Ini bukan sekadar pinjaman dengan imbalan kerja biasa. Ini kesepakatan yang gila. Dengan tangan gemetar, ia meremas lembaran kertas itu, lalu menatap Sebastian tajam.
Isabella Kensington.
Anda bercanda kan-?!
Isabella Kensington.
( Ini sama saja aku menjadi pemu4s n4fsu pribadi-nya! )
Saat Isabella hendak meledak dalam amarah, napasnya tersengal menahan emosi yang nyaris tak terbendung, tiba-tiba ponselnya bergetar di genggaman. Nada dering itu seperti menariknya kembali ke realitas. Dengan tangan masih gemetar, ia melirik layar, nomor rumah sakit. Seketika, kemarahan yang membara di dadanya berganti dengan kecemasan. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengangkat panggilan itu, berharap kabar yang diterimanya bukanlah sesuatu yang lebih buruk dari kejutan yang baru saja ia hadapi.
Suster Rumah Sakit.
📲 Selamat malam, Nona Isabella Kensington. Mohon maaf mengganggu. Kami ingin menginformasikan bahwa Ny. Lillian Chatsworth membutuhkan operasi segera. Jika tidak dilakukan secepatnya, nyawanya dalam bahaya. Mohon konfirmasi Anda sesegera mungkin.
Isabella Kensington.
📲 Ya, segera lakukan operasinya. Saya akan mengurus biaya rumah sakit secepatnya. Mohon pastikan semua prosedur berjalan dengan baik, dan beri saya kabar setelah operasi selesai.
Suster Rumah Sakit.
📲 Baik, kami akan melakukan semaksimal mungkin.
Setelah mengatakan itu, Isabella menutup telepon dengan tangan gemetar. Tanpa ragu lagi, ia meraih pena dan menandatangani dokumen yang disodorkan Sebastian Alderidge. Matanya kosong, pikirannya dipenuhi bayangan ibunya yang terbaring di rumah sakit. Tak ada pilihan lain. Saat tanda tangannya terukir di atas kertas, Sebastian menyandarkan punggungnya, menatapnya dengan senyum puas senyum manis yang penuh kemenangan.
Sebastian Alderidge.
Keputusan yang bijak, honey.
Sebastian Alderidge.
Sekarang, mari kita segera ke rumah sakit. Ibumu pasti membutuhkan kehadiranmu di sisinya.
Isabella Kensington.
Ya...
Comments