Akhirnya, mereka selesai makan malam di Hanni Klen Restaurant, restoran mewah dengan lampu kristal berkilauan dan alunan musik klasik yang lembut. Piring-piring porselen telah kosong, hanya menyisakan jejak saus dan aroma rempah yang masih menggantung di udara.
Di parkiran Hanni Klen Restaurant, kesunyian terasa begitu mencekam, hanya diterangi lampu redup yang memantulkan cahaya pada aspal basah sisa hujan sore tadi. Restoran itu telah sepenuhnya dibooking oleh Sebastian, meninggalkan hanya tiga mobil mewah yang terparkir rapi, salah satunya adalah miliknya.
Di sana, Ronan asal menarik tangan Charlotte, jemarinya mencengkeram erat pergelangan gadis itu tanpa memberi kesempatan untuk melawan. Dengan langkah tergesa, ia menyeret Charlotte menuju mobilnya, membuka pintu dengan kasar, lalu mendorongnya masuk ke dalam. Charlotte meronta, berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Ronan. Nafasnya memburu, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri, namun pintu segera dibanting dan terkunci.
Charlotte Waverley.
Paskiainen! Lepaskan aku!
Walaupun Charlotte berbicara seperti itu, Ronan tidak peduli. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia menancap gas, meninggalkan jejak debu di parkiran sepi Hanni Klen Restaurant. Suara deru mesin yang melaju kencang perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan empat orang yang masih berdiri di bawah redupnya lampu jalan, Isabella, Sebastian, Margaret, dan Alaric.
Margaret Everly.
Apakah tidak apa-apa Charlotte dibawa paksa seperti itu?
Alaric Vainio.
Ouh? Mereka berdua memang sepasang kekasih. Tidak apa-apa, mereka memang sedang bertengkar.
Margaret Everly.
Be-gituu yaa..
Margaret Everly.
( Mimpi gasih? Gua ngobrol sama my sweety Alaric (♥ω♥*) )
Alaric Vainio.
Nona Margaret apakah punya pasangan?
Margaret Everly.
A-ku?
Alaric Vainio.
Iya, anda nona Margaret Evely.
[ Tersenyum manis ]
Margaret Everly.
Aku single!
Alaric Vainio.
Berarti kita sama, saya juga single. Jadi nona Margaret mau saya antar pulang?
Margaret Everly.
Apakah tidak merepotkan anda? anda adalah seorang penyanyi terkenal, anda pasti sibuk.
Alaric Vainio.
Tidak, saya akan sangat senang jika Anda bersedia menerima tawaran saya untuk mengantar Anda
Margaret Everly.
Ba-iklah, saya terima tawaran anda.
Margaret Everly.
( MIMPI APA GUA ANJERR! )
Margaret masih sulit mempercayai kenyataan bahwa ia kini berjalan di samping Alaric Vainio, idolanya selama ini. Lampu-lampu di parkiran berpendar lembut, menerangi sosok pria itu yang tampak begitu tenang di bawah cahaya malam. Margaret menggenggam tali tasnya erat, berusaha menekan debaran di dadanya agar tidak terlihat gugup. Dan sekarang hanya tersisa Isabella dan Sebastian, sebenernya momen ini lah yang paling di hindari Isabella.
Sebastian Alderidge.
Ayo kita juga pulang, sayang.
Isabella Kensington.
Cukup Mr. Sebastian Alderidge! Ini sudah keterlaluan, saya bukan kekasih anda! Ini sangat tidak nyaman.
Sebastian Alderidge.
Mata Sebastian berkilat tajam, rahangnya mengeras saat mendengar kata-kata Isabella yang seolah menentangnya. Amarah membara di dadanya, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Baginya, Isabella adalah miliknya sepenuhnya. Tak seharusnya ia membantah, apalagi menentang kehendaknya.
Sebastian Alderidge.
Sayang, sudah ku bilang, kamu milik-ku sepenuhnya.
Isabella Kensington.
Sepertinya anda sudah gila?
Sebastian Alderidge.
Yaa, aku gila karena kamu Isabella Kensington.
Isabella Kensington.
Menjijikkan!
[ Hendak berjalan meninggalkan Sebastian ]
Sebastian Alderidge.
[ Menahan tangan Isabella dengan kuat ]
Masuk kedalam mobil!
Comments