Malam pun tiba, dan Charlotte mengajak kedua temannya, Isabella dan Margaret, ke kamarnya untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas. Kamar itu luas dan tertata rapi, dengan lampu gantung yang memancarkan cahaya hangat, menciptakan suasana nyaman. Charlotte membuka lemari, mengeluarkan handuk bersih, lalu menyerahkan masing-masing satu kepada teman-temannya.
Setelah Charlotte, Margaret, dan Isabella selesai mandi, mereka melangkah menuju ruang makan, di mana aroma sup hangat dan roti panggang memenuhi udara. Saat memasuki ruangan, mata mereka langsung tertuju pada sosok Sebastian Alderidge yang sudah duduk di ujung meja, jemarinya dengan tenang membolak-balik halaman sebuah buku.
Sebastian Alderidge.
Charlotte Waverley.
Wah, tumben isoveli mau makan bareng-bareng.
Charlotte mengerucutkan bibirnya, kesal karena Sebastian terus mengabaikannya. Sementara itu, Sebastian tetap duduk dengan santai, tatapannya terpaku pada Isabella yang berdiri tak jauh darinya. Gaun tidur satin berwarna lembut yang dikenakan Isabella terlihat begitu familiar di mata Sebastian.
Sebastian Alderidge.
Itu milik Juliet?
[ Ujarnya dingin ]
Isabella Kensington.
Charlotte Waverley.
Ouh! Iyaa, Itu punya isosisko Juliet. Aku meminjamkan pada Isabella, karena Isabella tidak membawa piyama tidur.
Isabella Kensington.
( Siapa sebenarnya Juliet? Gaun ini miliknya, dan saat pertama kali aku bertemu dengan Mr. Sebastian Alderidge, bibirnya tanpa ragu menyebutku dengan nama itu, seolah aku adalah bayangan dari seseorang yang pernah ia kenal. )
Charlotte Waverley.
Apakah tidak boleh isoveli?
Charlotte menghela napas, jelas kesal karena lagi-lagi pertanyaannya tak mendapat jawaban. Sebastian tetap diam, sementara Isabella hanya menunduk, sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa kata-kata lagi, mereka mulai menyantap makanan di depan mereka.
Setelah selesai makan, Charlotte, Margaret, dan Isabella berjalan kembali ke kamar Charlotte. Lorong-lorong rumah itu terasa sunyi, hanya terdengar langkah kaki mereka yang bergema di antara dinding-dinding tinggi. Margaret berjalan di depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kedua temannya mengikutinya.
Di kamar Charlotte, mereka bertiga duduk melingkar di atas karpet, kartu UNO berserakan di antara mereka. Tawa dan keluhan sesekali memenuhi ruangan, terutama saat seseorang terkena kartu +4 atau harus mengambil banyak kartu. Margaret yang paling bersemangat, sering kali berseru riang setiap kali berhasil membuat lawan kesulitan.
Charlotte Waverley.
Ternyata Margaret sangat hebat dalam memainkan UNO!
Isabella Kensington.
Benar, aku dan Vivi selalu kalah jika bermain UNO bersama Margaret.
Charlotte Waverley.
Vivi? Siapa dia?
Isabella Kensington.
Nama lengkapnya adalah Vivienne Pembroke, dia adalah sahabat kami. Dia pemilik cafe, hampir setiap hari kami pergi bermain di cafe Vivi.
Charlotte Waverley.
Apakah boleh lain kali ajak aku ke cafe Vivi, sekalian kenalkan aku pada Vivi?
Isabella Kensington.
Tentu saja boleh Charlotte!
Margaret Everly.
Eh, Charlotte, di rumahmu apakah tidak ada susu?
Charlotte Waverley.
Di kulkas dapur ada banyak sekali, kamu mau? Biar aku suruh pelayan untuk mengambilkan.
Isabella Kensington.
Tidak usah kamu panggilkan pelayan Charlotte, mereka pasti sudah tidur. Biarkan aku saja yang mengambil kan untuk Margaret, lagian aku sudah hafal peta rumahmu.
Margaret Everly.
Benaran Isabella? Wahh, terimakasih yaaa! Tolong ambilkan yang banyak!
Charlotte Waverley.
Ehh, biar pelayan ajaa.
Margaret Everly.
Isabella bisa kok Charlotte!
Charlotte Waverley.
Eumm, baiklah. Hati-hati Isabella, kalau ada bahaya langsung telfon aku saja.
Comments