Akhirnya, setelah berjalan selama 10–15 menit, Isabella tiba di dapur rumah Charlotte. Matanya langsung terpana melihat kemewahan yang terpampang di hadapannya. Meja marmer putih berkilau di bawah lampu gantung kristal, sementara lemari-lemari kayu dengan ukiran elegan berjajar rapi, menyimpan peralatan masak yang terlihat mahal.
Isabella melangkah masuk ke dapur Charlotte yang luas dan mewah. Matanya langsung tertuju pada Sebastian, yang berdiri dengan santai di dekat meja marmer, jari-jarinya melingkari gelas wine merah yang berkilauan di bawah cahaya lampu gantung kristal.
Isabella yang melihat Sebastian langsung terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat sementara tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah, tapi rasa gugup itu tak juga surut. Ada sesuatu dalam tatapan dingin pria itu sesuatu yang tak bisa ia pahami, namun cukup untuk membuat tubuhnya menegang.
Sebastian Alderidge.
Sebastian Alderidge.
Mengapa gugup? Apakah aku menakutimu Juliet?
Sebastian Alderidge.
Aih! Maksudku.. Isabella.
Isabella membeku di tempat, kata-kata Sebastian berputar-putar di kepalanya, membuatnya tak mampu berpikir jernih. Sementara Sebastian melangkah perlahan, gerakannya tenang namun sarat akan sesuatu yang tak terduga. Setiap langkahnya seperti gema yang mengguncang keberanian Isabella. Hingga akhirnya, ia berdiri tepat di hadapan Isabella.
Sebastian Alderidge.
Rakastan sinua, ikuisesti.
Isabella Kensington.
( Mencintai-ku? Selamanya? Apa maksudnya?! )
Sebastian Alderidge.
Minumlah denganku, Isabella.
Isabella Kensington.
Saya tidak bisa minum, tapi terimakasih atas tawarannya.
Isabella menolak tawaran itu dengan suara yang tenang namun tegas, lalu segera berbalik menuju kulkas, mencoba mengabaikan tatapan Sebastian yang masih tertuju padanya. Ia membuka pintu kulkas, tangannya meraih susu titipan Margaret, tetapi sebelum sempat menariknya keluar, sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya.
Sebastian. Lengan kuatnya membungkus tubuh Isabella dari belakang, mendekatkannya dengan mudah, seolah menegaskan bahwa penolakan barusan bukanlah akhir dari permainan ini.
Isabella Kensington.
Lepaskan saya tuan! ini tidak sopan!
Sebastian Alderidge.
Tak lama lagi, kau akan menjadi milikku sepenuhnya.
Sebastian akhirnya melepaskan pelukannya, namun tidak serta-merta membiarkan Isabella pergi begitu saja. Dengan gerakan tenang, ia merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam elegan. Tanpa berkata apa pun, ia menyelipkannya di antara jari-jari Isabella, seolah memaksanya untuk menerima.
Sebastian Alderidge.
Percayalah, kau akan mencari-ku suatu saat nanti. Simpan itu.
Setelah menyelipkan kartu nama itu di tangan Isabella, Sebastian melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan jejak aroma maskulin yang samar di udara. Gerakannya tetap elegan, penuh percaya diri, seolah yakin bahwa suatu saat Isabella akan menghubunginya.
Isabella Kensington.
Apasi gajelas.
[ Gumamnya ]
Isabella Kensington.
Apakah semua orang kaya, memang kurang ajar?
[ Gumamnya ]
Isabella Kensington.
Tapi Charlotte sama sekali tak kurang ajar, dia malah baik sekali.
[ Gumamnya ]
Comments