Ya allah kenapa aku harus ketemu dia sih. Kenapa juga dia ada di Jakarta. Kupikir setelah aku kemari aku tak akan bertemu dengannya.
Sebenarnya dia dan Intan adalah sahabat. Namun entah mengapa sahabatnya itu begitu tega dan tak tahu malunya mengatakan kalau dia mencintai suaminya saat itu. Tiba-tiba wajahnya memerah. Bulir-bulir bening itu mengalir tanpa bisa dibendung lagi mengingat alasan kenapa dia harus bercerai dengan mantan suaminya itu.
Ah kenapa lagi ini? Dadaku rasanya sesak.
Pak Surya yang menyadari bahwa nona mudanya berdiri tak jauh tempat dia memarkir mobilnya dilihatnya nona muda itu berdiri sambil menutup wajahnya. Setelah mendekati nona mudanya barulah Pak Surya tahu nona mudanya kini menangis namun tertahan.
"Nona ada apa, Nona? Apa ada sesuatu yang membuat Anda menangis?" Pak Surya terlihat sedikit panik.
"Huh. Aku nggak apa-apa, Pak." Ani mencoba tersenyum kemudian membuang nafas berat. "Ayo pak kita pulang."
"Tunggu, Nona. Apa benar Nona tidak apa-apa?" Pak Surya terlihat ragu.
"Aku nggak apa-apa kok, Pak. Yuk jalan." Ani tak ingin melihat pria tua di depannya mengkhawatirkan dirinya.
Pak Surya membukakan pintu mobil untuk Ani. Sebenarnya dia masih sedikit khawatir kenapa nona mudanya menangis. Pasalnya selama ini nona mudanya baik-baik saja. Pak Surya juga paham jika wanita itu merupakan istri kesayangan tuan mudanya.
Selama perjalanan pulang Ani terlihat banyak merenung. Atau lebih tepatnya dia mengingat kenangan yang begitu buruk selama hidupnya. Mau bagaimanapun juga dia benar-benar tak bisa menghilangkan rasa sakit hatinya dan juga luka yang terlanjur membekas di punggungnya. Memang yang namanya sakit hati suatu saat bisa saja sembuh. Namun bagaimana dengan lukanya yang membekas untuk sepanjang hidupnya.
Sesampainya di rumah Ani kemudian langsung berlari menuju kamarnya. BI Inah yang tak sengaja berpapasan dengannya sontak kaget. Kemudian muncullah pak Surya yang sembari terengah-engah lantaran mengejar nona mudanya.
"Ada apa?" tanya Bi Inah.
"Tadi sewaktu berangkat ke pasar nona muda masih baik-baik saja. Sungguh. Namun setelah kembali dari pasar dan hendak ke tempatku, kulihat nona muda sedang berdiri sambil tangannya menutup wajahnya seakan dia tak ingin siapapun tahu kalau dia menangis," papar Pak Surya.
"Baiklah nanti setelah tuan muda Ardan sudah sampai di rumah saja kita beritahu perihal nona muda. Karena aku yakin sekarang tuan muda pasti sedang sibuk."
"Ya sudah, Bi. Aku kembali ke dapur dulu. Mau ngopi." Pak Surya berlalu.
BI Inah mengangguk pelan. Kini Bi Inah juga beranjak meninggalkan tempatnya menuju dapur kemudian masak sesuatu untuk nona mudanya itu. Dia yakin nona mudanya pasti juga belum makan siang.
Terdengar pintu kamar diketuk. Sebenarnya Ani malas untuk bangun, akan tetapi pada akhirnya dia bangun juga. Ketika pintu kamar terbuka, Ani terlihat berantakan. Rambutnya sudah tak terikat lagi. Benar-benar berantakan menurut penglihatan BI Inah itulah kali pertama nona mudanya menunjukkan perasaannya. Walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Nona, makan siang dulu. Nanti nona sakit." Bi Inah masuk dalam kamar Mariani. Lalu meletakkan nampan di nakas.
"Enggak deh, Bi. Aku nggak laper." Sembari memaksakan untuk tetap tersenyum.
"Sudah, Nona Muda. Ini saatnya makan siang apa Nona Muda mau saya suapi?" tawar Bi Inah.
" Eh oh ... Enggak usah, Bi. Taruh di meja riasku saja nanti aku bakalan makan."
BI Inah mengangguk. Setelah menaruh makanan itu dia menundukkan kepalanya. Lalu melenggang keluar tanpa bicara sepatah katapun.
Mariani kemudian berjalan ke meja riasnya.
Oh ya ampunnn kenapa mukaku kelihatan berantakan? Pantesan BI Inah dan pak Surya sangat khawatir.
"Selamat malam, Tuan Muda." Pak Surya dan BI Inah menyambut kedatangan Ardan.
Kemudian Bi Inah menceritakan kejadian tadi siang. Kini Ardan yang tersulut amarah lantaran wanitanya menangis, Ardan langsung meraih hp yang ada di saku celana.
"Pak Herman, segera cari tahu masalah istriku tadi siang. Kenapa dia pulang tiba-tiba menangis! Ingat malam ini harus sudah ada kabar darimu!"
Ardan menutup panggilan sepihak sebelum mendengar jawaban dari sekretarisnya itu. Pria itu menghela napas dalam. Kemudian Ardan bergegas menaiki tangga.
*Ohhh shirt aku kecolongan* !!!
Brak! Pintu kamar terbuka lebar, membuat Ani yang berada di dalam kamar sontak langsung kaget. Tanpa disangka, justru jatuh terjerembab di bawah tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaanmu? Kenapa kau menangis?" Ardan memberondong Mariani dengan banyak pertanyaan. Ani belum membuka mulutnya namun serentetan pertanyaan Ardan membuatnya beku.
" Mas, Mas Ardan tak ingin membantuku bangun?" Ani memberengut kesal.
" Oh maaf, Sayang." Ardan segera menarik tangan Mariani.
"Terima kasih." Ani memberikan seulas senyum manis pada Ardan untuk menutupi segala bentuk perang batin yang melanda hati.
"Jangan berbohong. Kenapa kau sembunyikan? Nggak pengen cerita?"
"Enggak, Mas. Aku nggak apa-apa. Mas kan baru pulang aku siapin air dulu ya. Seharian kerja pasti lengket dan capek." Ani mencoba mengalihkan topik dan beranjak meninggalkan Ardan.
Namun Ardan secepat kilat menyambar tangan istrinya itu. Kemudian memeluknya dan membenamkan kepalanya. Dipeluknya dengan erat. Sangat erat.
"Tolong, jangan sembunyikan apapun dariku," tandas Ardan.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Lihat, aku nggak kenapa-kenapa kan?" Ani melepaskan pelukan Ardan, itu kali pertamanya Ardan memeluknya.
Setelah seminggu menjadi orang asing kini Ardan sedikit menghangat karena dilihatnya sosok istrinya itu kini tengah menyembunyikan gundah gulananya. Rasa di dalam hati kian bergejolak. Ardan menahan emosinya mati-matian.
"Ceritakan, aku tau kamu berbohong." Ardan menatap lekat mata istrinya. Mencoba menyelidik.
"Beneran, Mas... Aku gak ..." Belum sempat Ani meneruskan perkataannya Ardan sudah membungkamnya terlebih dahulu.
"Apa gunanya kita menikah?" Pertanyaan dari Ardan menohok hati Mariani. Sontak Ani membuang wajahnya ke arah lain.
Ani tau cepat atau lambat mereka akan membahas hal ini juga. Namun meskipun begitu dia tetap berusaha tenang. Ani tak ingin mengingat masa lalunya kembali.
"Mas, aku...."
"Aku tau kamu berbohong. Mata seseorang tak akan pernah bohong."
Jantung Ani kini berpacu cepat. Bagaimana jika suaminya itu tau kalau dia bertemu dengan masa lalunya yang membuat Ani tak bisa melupakannya.
Benda pipih milik Ardan bergetar. Kemudian Ardan menyambar hp miliknya yang dia taruh di atas ranjang tak jauh darinya. \*Herman\*. Begitulah nama yang tertera di benda pipih itu.
"Angkatlah, Mas. Mungkin penting," ujar Mariani.
Ardan mengangguk kemudian dia berjalan menuju balkon untuk menjauh dari Ani. Agar pembicaraannya itu tak didengar Ani. Setelah melirik Ani yang bergerak menuju kamar mandi. Ardan menjawab telponnya.
"Katakan!" Ardan benar-benar tak sabar.
"*Saya telah mengecek cctv area sekitar pasar. Nona Muda dipanggil oleh seorang perempuan dan kemudian dia berlari menjauh tuan muda. Sepertinya dia menghindari untuk bertemu dengan perempuan itu*." Ucap seseorang diseberang sana.
"Siapa? Apa kamu lihat bagaimana wajahnya? Kau harus selidiki masalah ini sampai tuntas!"
"*Sebentar, Tuan Muda. Memang di sekitar cctv tersebut tak terlalu jelas wajah perempuan itu. Namun kita bisa mengecek melalui cctv yang ada di dalam mobil. Kata Surya, Nona Muda berdiri tak jauh dari mobilnya. Saya akan mengecek kembali." Herman langsung memutuskan telponnya*.
"Dasar sekretaris sialan. Beraninya kau mematikan telpon!" Ardan mengumpat keras lantaran sekretarisnya itu bertindak seenak udelnya dengan mematikan telponnya. Padahal Ardan lah majikannya.
"Kenapa, Mas?" Ani melihat suaminya yang kesal gara-gara seseorang di seberang telpon mematikan telponnya.
"Biasa masalah kerjaan." Ardan tersenyum.
*Ganteng.... Ternyata pak tua yang menikahiku ganteng juga. Yah usianya memang 38 tahun kan berarti dia tua kan*. Kata Ani dalam hati.
Ani tersenyum. Lanjutnya," Airnya sudah, Mas. Silahkan mandi. Aku akan menyiapkan baju tidurmu."
"Oke." Ardan berjalan menuju kamar mandi. Diletakkannya ponsel itu di samping *bathup*.
Beberapa saat setelah Ardan menghilang di balik pintu kamar mandi. Hpnya berdering kemudian mati setelah beberapa saat.
Ting.... Pesan masuk dari Herman.
Ardan segera mengambil hpnya. Tak lama kemudian matanya melotot membaca pesan itu. Tangannya mengepal. *Sialan! Kau laki-laki brengsek beraninya kembali muncul di kehidupan istriku hah! Awas saja kau*.
\---
**Sekretaris Herman**...
Setelah dirasa pekerjaannya sudah selesai. Maka akhirnya Sekretaris Herman memutar kembali kemudinya. Sampailah dia di depan rumahnya. Namun lampu rumah itu telah padam semua.
"Sayang, maafkan aku pulang terlambat. Hari ini aku lembur, Sayang. Maafkan aku." Pak Herman mengetuk pintu berulang kali.
"Sudahlah tidurlah diluar. " Terdengar sahutan dari dalam dan tak lama kemudian jendela rumahnya terbuka, "Aku masih punya simpati kok sama kamu, Mas. Nih selimut dan bantal. Aku kan nggak mau kamu digigit nyamuk." Kemudian ditutupnya kembali jendelan kaca itu.
*Oh tuan muda saya benar-benar harus tidur diluar hiks hiks*.
Namun justru pintu utama itu terbuka ketika Pak Herman hendak melangkahkan kakinya keluar rumah. Pak Herman membalik tubuhnya. Tampak seorang wanita yang masih saja cantik di usia paruh baya itu. Sang istri tercinta.
"Masuk. Tidur di sofa!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Eva Rubani
kelewatan tu istri sekretaris ny tuan muda
2023-01-18
0
hafizh ikhwansyah
istri sekretaris Herman sangar🤣
2021-02-14
2
Berdo'a saja
kasihan kau Herman cari duit buat istri dihukum sama istri
2021-02-06
2