Hari ini Greetha dan Nico berkunjung ke rumah Ardan. Karena memang mereka berencana membicarakan keputusan terakhir mereka. Bagi mereka sudah tak dapat ditunda lagi secepatnya lebih baik, mengingat anak lelakinya itu usianya hampir kepala empat.
Tentu saja Bi Inah mengerti hal ini. Walaupun Greetha tak membicarakan hal ini dengan Bi Inah namun Bi Inah dapat menangkap maksud kedatangan kedua majikannya itu. Karna tuan besar pun juga datang berkunjung. Jelas akan ada yang dibicarakan.
"Ardan belum pulang, Bi ?" Nico mengawali pembicaraan. Kini mereka berada di ruang keluarga.
"Belum, Tyan. Mungkin sebentar lagi." Bi Inah kembali ke dapur meminta Ani untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk kedua majikannya itu.
Sesaat Nico memandang gadis pilihan istrinya saat wanita yang dimaksud meletakkan minuman dan makanan ringannya di meja. Sekilas dia menyunggingkan senyum.
"Sepertinya papi juga cocok, Mi." Nico setuju dengan pilihan Greetha, membuat perempuan itu tersenyum. Ya tidak salah dia memilih gadis itu. Gadis itu tak banyak bicara. Hanya melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik.
"Ani siapkan makan malam ya hari ini saya dan suami saya makan malam di sini," kata Greetha sembari tersenyum.
"Baik, Nyonya." Kemudian Mariani kembali ke dapur menyiapkan makan malam untuk keluarga Wijaya.
Beberapa saat kemudian Ardan pulang ke rumah. Dia mendapati kedua orangtuanya duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi.
"Loh Papi Mami kesini. Kok nggak ngabarin Ardan sih? Kan Ardan bisa pulang cepet." Ardan lalu mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Nggak pengen ganggu kamu. Kan kamu juga lagi ada proyek besar." Nico tersenyum.
"Aduh, Papi. Kan ada Pak Herman. Toh Pak Herman juga bisa diandalkan." Ardan berkilah.
"Sudah sudah ... Ardan kamu bebersih badan dulu gih, nanti habis itu kita makan malam bareng. Setelah makan malam ada yang ingin mami sama papi omongin." Greetha memilih menengani dua pria yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Oke, Mi." Ardan mencium pipi maminya. Greetha tersenyum.
Syukurlah aku membesarkannya dengan baik. Walaupun terkadang suka bandel tapi anak itu selalu menghormati siapa saja yang lebih tua. Batin Greetha.
Pasti tentang perjodohan itu. Kalau aja gue bisa nikahin pelayan gue. Mungkin besok nikah gue juga mau. Ardan tersenyum tetapi kemudian senyuman itu musnah dari bibirnya. Karena menikahi gadis pelayan itu jelas tak mungkin.
Akhirnya mereka makan malam bersama. Menu hari ini semur daging sambal Pete dan mujair goreng. Tentu saja Ardan yang baru pertama kali makan sambal pete menghabiskan 2 piring nasi. Bukan hanya papi dan mami yang melongo Bi Inah dan Pak Surya yang ada di ruang makan pun juga tak habis pikir bagaimana bisa segitu sukanya tuan muda mereka dengan menu sambal pete itu? Nico hanya menggelengkan kepalanya karna kehabisan kata-kata melihat anak lelakinya makan dengan lahap. Setelah mereka selesai makan, mereka menuju ruang kerja Ardan.
"Ardan..... kamu tahu umur berapa sekarang kamu nak?" Nico mengawali pembicaraan.
Sudah jelaskan sekarang pembicaraan ini mengarah kemana. Tebak Ardan dalam hati.
"Ya, Pi... Ardan tau. Maaf sudah bikin Papi dan Mami khawatir," jwab Ardan.
Greetha menghembuskan nafas pelan. Pembicaraan kali ini sangat hati-hati. Akan tetapi memag Ardan yang keterlaluan. Masa iya, seumur hidupnya tidak akan melihat perempuan yang akan mendampingi anak tercintanya? Greetha memejamkan kedua mata miris.
"Papi dan mami punya calon terakhir buat kamu. Ini nggak bisa diganggu gugat. Kalau saja kamu sudah nikah, papi mami gak bakalan maksa-maksa kamu seperti ini, Ardan. Papi dan mami sudah tua. Tolong mengertilah sedikit perasaan papi dan mami yang khawatir padamu, Nak." Nico menghembuskan nafas. Kemudian melanjutkan, " Maaf kalau kemarin-kemarin papi dan mami keras padamu. Karena jauh di lubuk hati papi dan mami ini sangat menyayangimu Ardan. Terlebih kamu hanya punya papi dan mami sebagai keluargamu. Jikalau papi dan mami suatu saat tak bisa bersamamu lagi, lalu bagaimana kamu nanti? Siapa yang menemanimu saat kamu susah nanti?"
Ardan tertunduk lesu. Benar apa yang dikatakan papinya. Ada setitik cairan bening di pelupuk matanya. Ah, kenapa dia tak berpikir sejauh ini? Sesal Ardan.
"Baiklah. Ardan, apa kamu menyukai Ani? Maksud papi Mariani." Nico berbicara dengan tegas.
Ardan segera mengangkat wajahnya. "Maksud, Papi ? Mariani pelayan di rumahku?" tanya Ardan. Tentu saja dia bingung. Apa hubungannya dengan wanita itu?
"Ya .. papi dan mami mau menjodohkan kamu dengannya. Ini calon terakhir untukmu. Kamu bersedia atau tidak?" Nico menatap tajam sang putra.
"Tentu saja Ardan mau, Pi." Ardan menjawab dengan cepat.
Tentu saja mau dengan daun muda yang begitu menarik itu.
"Tapi, Pi. Mmangnya sudah ngomong sama Mariani? Tentang masalah ini?" Tentu saja Ardan menyambut perjodohan ini dengan senang hati. Namun bagaimana dengan gadis itu? Apakah menerima perjodohan ini? Hati Ardan menjadi gamang.
"Biar papi dan mami nanti yang bicara sama dia. Bukankah yang pertama kami tanya dulu seharusnya kamu, Ardan? Karena takutnya kamu yang paling ngotot bilang nggak mau," papar Nico.
"Siapa bilang? Ardan mau kok." Ardan kembali merutuki jawaban spontannya itu. Yang sontak membuat kedua orangtuanya tertawa bahagia.
"Baiklah untuk mengurus masalah ini, biar papi dan mami menginap di sini. Setelah selesai baru papi dan mami bakal pulang kerumah utama," kata greetha sembari tersenyum.
Betapa bahagianya ia saat ini karena Ardan dengan senang hati mau menuruti keinginannya kali ini. Begitu juga Nico yang akhirnya bisa bernapas lega. Nico pun menelpon seseorang. Mengatakan besok siang hari pertemuannya.
Di kamar Ardan merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Rasanya tak percaya bahwa ternyata calon yang dimaksud adalah wanita yang akhir-akhir ini mencuri hatinya.
"Gimana reaksi kamu Ani? Semoga kamu juga menerima perjodohan ini."
Malam semakin larut para penghuni rumah akhirnya terlelap karena aktivitas mereka hari ini. Sedangkan Ardan sangat sulit memejamkan kedua mata. Dikarenakan hati yang tengah bahagia.
Kenapa nyonya besar memanggil saya ya? Apa jangan-jangan saya mau dipecat gara-gara masakanku kemarin? Aduh, Ya Allah tolong hambamu. Hamba butuh kerjaan ini. Batin Ani.
BI Inah membawa wanita itu menemui keluarga Wijaya semua telah berkumpul termasuk Ardan sendiri. Wanita itu masuk dengan tubuh gemetar. Dia langsung menundukkan kepalanya kalau-kalau memang melakukan kesalahan.
"Kemarilah, Nak. Jangan takut." Greetha tau wanita itu pasti bingung dan juga takut terlihat jelas dari mimik wajahnya. "Bagaimana perasaanmu bekerja disini? Apa kamu nyaman?"
"Sa..sa..aaya nyaman, Nyonya." Gadis itu masih menundukkan kepalanya.
"Saya ingin membicarakan satu hal denganmu. Apa kamu mau menikah dengan Ardan anakku?" Greetha bertanya tanpa basa-basi. Terlalu terburu-buru.
Bagai disambar petir di siang bolong saat mendengar permintaan dari majikan perempuannya itu. Mariani langsung mendongakkan kepalanya. Mencoba mendengarkan dengan lebih jelas kalau-kalau dia salah dengar.
"Saya serius, Nak. Maukah kamu menjadi istri anakku?" Greetha mengulang kembali pertanyaannya. Yang kini terdengar jelas di telinga Mariani kalau dia tak salah dengar.
"Maaf, Nyonya. Tapi saya....saya..." Wanita itu melihat sekitar, termasuk tuan mudanya, Ardan .
Lelaki itu memang tampan. Walaupun usianya sudah mulai kepala empat. Kemudian Mariani melanjutkan kata-katanya, "Saya, tak bisa, Nyonya." Mariani langsung menundukkan kepalanya kembali. Takut kalau majikannya itu akan marah.
"Kenapa? Kami akan menerima kamu dengan bahagia, Nak. Bahkan kalau kamu membawa anak kamu kemari juga tak masalah," jelas greetha.
Wanita itu terlonjak kaget. Bagaimana bisa nyonya besarnya itu tau kalau dia sudah punya anak? Benar-benar mengerikan. Mariani membatin
"Saya ... Saya tak bisa, Nyonya. Saya juga harus membicarakan hal ini kepada kedua orangtua saya dulu, Nyonya. Saya tak bisa mengambil keputusan besar ini sendirian." Wanita itu mulai berani untuk berbicara dengan nyonya besarnya itu. Bagaimanapun juga dia tak boleh memberikan alasan yang asal-asalan saja.
"Bagus .... Anak baik. BI Inah panggil mereka kemari." Greetha memberikan perintah kepada Bi Inah yang sedari tadi berada di pinggir ruangan. Bi Inah pun mengangguk tanda mengerti.
Hah emang siapa yang bakal kemari. Sepertinya mami papi gak bilang apa-apa tadi malam. Ardan membatin bingung.
"Ada apa ini? Siapa yang dipanggil Bi Inah kemari ?" Ani.
Saat baru memasuki ruangan tersebut mata Ani melotot tak percaya. Menangkap empat sosok yang paling dia rindukan memasuki ruangan itu. Bagaimana bisa Bapak, Ibu, adik lelakinya dan tentu saja... si kecil Rendy Saputra. Yang sangat dia rindukan ada di sini. Terlihat Ardan menautkan kedua alisnya.
Siapa mereka? Ardan semakin bingung.
"Kemarin saya sudah berbicara dengan kedua orangtuamu, Ani. Nah, Ani bagaimana? Mereka bilang keputusan sekarang ada di tanganmu." Nico menegaskan.
Mariani berdiri mematung seakan seluruh mata kini tertuju padanya. Wanita itu semakin meremas tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Eva Rubani
calon mertua yg baik
2023-01-18
0
hìķàwäþî
kl fulus sdh brbicara..
2021-06-03
1
Aini Tarig
semudah itu ya..
2021-02-24
2