Sejak kapan bapak sama ibu ada di sini? Mariani membatin bimbang.
"A .. anu, Nyonya. Saya ingin mendiskusikan masalah ini secara pribadi dengan keluarga saya. Jika diperbolehkan saya ingin cuti untuk membicarakan ini lebih lanjut." Wanita itu memberanikan diri. Setidaknya dia ingin tahu sendiri bagaimana pandangan kedua orang tuanya tentang pernikahan ini. Begitu pikirnya.
"Baiklah, Nak. Saya memberikanmu izin untuk cuti tapi setelahnya saya harap kamu tak mengecewakanku." Greetha tak ada pilihan lain selain dia harus menuruti dan menghargai keputusan calon menantunya ini.
"Biarkan Pak Surya yang mengantar kalian." Ardan yang sedari tadi diam ikut menambahkan. "Berhati-hatilah. Aku harap keputusanmu adalah menerimaku." Dalam sekejap, mata mereka bertaut. Namun akhirnya wanita itu berlalu tanpa menoleh lagi.
Selama dalam perjalanan mereka hanya diam Rendy tidur dalam gendongan Ani, tampaknya benar-benar merindukan ibunya.
"*Oalahhhh ndukkkk kepiye Iki. Kok koyo ngene to dadine. ( oalah nlNak gimana ini? Kok kayak gini jadinya)" Ibu membuka pembicaraan begitu telah sampai dirumah. Pak Surya masih berada diluar rumah*. "Pak piye Iki pak?". ( Pak gimana ini pak? ) Ibu terlihat sangat gelisah.
"Iki dadine kepiye Nduk karepmu. Kok trimo opo ora? Bapak ibukmu manut ae.". ( Ini gimana Nak keinginanmu? Kamu terima apa tidak? Bapak ibumu nurut saja ).
"Pak aku udah gagal yang dulu. Ani cuma punya keluarga ini sama Rendy. Ani gak bisa secepet ini harus nikah lagi. "Opo ditolak ae yo pak?" ( Apa ditolak saja ya pak ? )
"Huuus ..... ngawur nduk musuhe iku wong sugeh lo. Yo Bu Yo." ( Huuus .... ngawur nak musuhnya orang kaya lo. Ya Bu ya ) Sergah bapak.
"Iyo Yo, Pak. opo wes manut ae to Nduk timbang mengko onok masalah." ( iya ya pak. Apa nurut saja ya nak. Ketimbang nanti ada masalah )".
"Tapi aku takut, Pak. Jika nanti aku gagal lagi. Apa bapak lupa Ani punya Rendy?" Mariani masih saja kejeh mempertahankan pendiriannya.
"Lalu gimana, Nduk? Bapak wes tuo ibumu yowes tuo." ( Bapak sudah tua ibuku juga sudah tua. )
"Yoweslah, Pak. Mengko tak tanya tuan muda Ardan aja. Kenopo kok milih aku." ( Yaudah pak nanti aja tak tanya tuan muda Ardan saja. Kenapa kok milih aku ).
"Sebenarnya aku juga tak tau mesti gimana lagi. Karena sepertinya tuan muda Ardan juga tak menolak. Tapi aku ragu. Dengan keadaan keluargaku yang seperti ini masa tuan muda mau nerimaku? Sepertinya aku harus membicarakan hal ini dengan tuan muda. Mariani membatin gelisah.
"Pak Surya, ini sudah malam bapak menginap di sini apa pulang ya, Pak. Tapi maaf Pak keadaan rumah saya begini." Mariani berterus terang.
"Saya menginap di sini saja. Gak papa, Neng. Tugas saya adalah memastikan kamu pulang kembali ke rumah tuan muda dengan saya. Jadi selama kamu di sini saya juga harus di sini. Maaf kalau merepotkan saya hanya menjalankan tugas saja." Pak Surya tersenyum. Kemudian Ani mempersilahkan pak Surya masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
Keesokannya, sehabis sholat subuh wanita itu telah bersiap. Ya... hari ini dia harus memberanikan diri untuk bicara dengan tuan mudanya itu. Secepatnya menyelesaikan masalah perjodohan itu. Tekadnya sudah bulat dia akan menolak perjodohan itu. Bagaimanapun mereka tak akan pernah bisa bersatu karna kehidupan mereka bagai langit dan bumi.
"Pak Surya, kita pulang ya hari ini. Ada yang harus saya bicarakan dengan tuan muda." Mariani kini telah berada di samping badan mobil. Di mana Pak Surya sedang duduk-duduk di dalam mobil dengan pintu mobil yang terbuka.
"Loh ... Kamu gak jadi cuti?" tanya Pak Surya kebingungan.
Pasalnya kemarin Ani mendapatkan cuti. Namun entah mengapa tiba-tiba hari masih begitu pagi dia mengajaknya untuk kembali ke rumah tuan muda.
"Iya, Pak. Ada yang harus saya selesaikan secepatnya." Wanita itu menjawab mantap. Sudah tak bisa ditunda lagi daripada semakin mengulur-ulur waktu. Dia tak akan pernah bisa tenang. "Sebentar aku pamit orang rumah dulu, Pak."
"Pak buk Ani berangkat sekarang saja. Saya ingin membicarakan ini secepatnya dengan tuan muda." Ani berpamitan dengan keluarganya.
"Iyo Nduk ati-ati. Bapak ibumu mung biso berdoa semoga apik-apik wae. Trus bapak manut keputusanmu kok trimo opo ora seng ngerti Yo awakmu. Soale seng nglakoni Yo awakku nduk." ( Iya nak hati-hati. bapak ibumu hanya bisa berdoa semoga baik-baik saja. Terus bapak ikut keputusanmu kamu terima apa tidak yang jalani ya kamu nduk ).
"Iya, Pak. Uh anak ibuk sini, Nak." Ani kemudian berpamitan dengan anaknya, belahan jiwanya. Diciumi pipi gembul anaknya itu. Bocah itu terlihat sangat damai dalam pelukannya.
"Mbak ... Maaf Brian belum bisa bantu, Mbak. Semoga mereka mau mendengarkan Mbak ya," kata Brian adik lelakinya.
"Aminnn ... semoga saja. Yasudah Pak Buk nitip Rendy ya... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Pak Surya melajukan mobilnya. Menyusuri jalan desa yang masih asri. Ani memandang ke arah luar jendela. Pikirannya melayang entah kemana. Setelah beberapa jam akhirnya mobil memasuki gerbang rumah Ardan, kemudian menuju garasi. Saat sampai di sana Ardan belum pulang. Diliriknya jam dinding. Memang belum waktunya dia pulang kerja. Akhirnya dia menuju dapur mencari Bi Inah. BI Inah kaget karna seharusnya gadis itu sedang cuti. Tapi akhirnya Bi Inah menyadari ada hal yang gadis itu harus lakukan. Ani kemudian melanjutkan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan.
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Ardan memasuki rumahnya. Dia langsung menuju ke kamarnya. Ani yang mengetahui Ardan akan masuk ke kamarnya pun berjalan mendekat.
"Tuan muda tunggu! " Teriak Ani memanggil Ardan.
Ardan yang mengenali suara itu langsung memutar tubuhnya ke belakang. Tampak sosok yang dia rindukan. Ardan tersenyum.
"Kamu sudah kembali ? Aku pikir kamu akan lama." Lelaki itu masih tersenyum.
"Nanti sehabis makan malam ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Tuan Muda. Bisakah Tuan Muda meluangkan waktu untuk membicarakan masalah kemarin dengan saya?" tanya Ani. Wanita itu mencoba berbicara setenang mungkin.
"Kamu sudah mempunyai jawaban? Katakanlah!" Rasanya Ardan sudah tak sabar untuk mengetahui jawaban yang akan diberikan oleh Ani.
"Bisakah kita membicarakannya di taman belakang, Tuan? Kumohon Tuan Muda bersedia." Wanita itu memohon.
"Baiklah. Kalau gitu aku ke atas dulu mau bersihin badan." Ardan menunjuk lantai dua dengan dagunya.
"Baiklah, Tuan Nuda dan terima kasih." Wanita itu menundukkan kepalanya. Kemudian berlalu pergi.
Waktu benar-benar cepat berlalu. Tak terasa Ardan telah selesai makan malam. Ani sudah menunggu dengan gelisah di taman belakang. Sesekali dia \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* bajunya. Suara langkah kaki Ardan terdengar mendekat. Kini dia dapat melihat sosok Ani yang memunggunginya .
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Ardan. Dia benar-benar sudah tak sabar mendapat jawaban dari wanita itu. Deg ... deg suara detak jantungnya berpacu semakin cepat.
Wanita itu menarik nafas. Kemudian...
"Tuan Muda. Maaf saya menolak. Saya tak bisa menikah dengan anda."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Eva Rubani
aduh ngapa d tolak ani???
2023-01-18
0
hìķàwäþî
budaya itu cocok2 aj bagi si pemakainya, trmasuk bahasa.. blm tentu cocok bg org di luar si pemakai budaya.. mnurut gue itu mah
2021-06-03
0
Berdo'a saja
jederrrrr
2021-02-06
0