Nico tersenyum tipis melihat kelakuan Ardan yang bingung. Teringat kejadian kemarin saat ia pulang rumah. Saat Nico sampai di rumah, Greetha langsung menuju meja kerja Nico Tri Wijaya, suaminya. Kemudian menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya. Terlihat dia mengernyitkan dahi. Sebelum dia membuka suara Greetha pun menjelaskan.
"Dia calon terakhir untuk Ardan, Pi. Setelah ini mami nggak tau lagi mau mencoba cara apa lagi." Ekspresi yang sendu itu cukup terlihat, membuat lelaki di hadapannya membuang nafas. Ya tentu saja mereka sudah lelah. Bagaimana tidak anak semata wayangnya sekalipun belum pernah memperkenalkan calon istrinya? Cukup meresahkan.
"Lalu Ardan gimana, Mi? Sebenarnya tidak peduli mau seperti apa latar belakang atau statusnya yang terpenting dia gadis baik-baik. Itu sudah cukup untuk kita, Mi."
"Aku sudah memastikannya, Pi. Bahkan aku sudah menyelidiki secara menyeluruh siapa gadis itu. Aku meminta Lita anak buah papi dari Geng Mafia Dark Knigh untuk melacak idetitas Mariani. Walaupun janda, tapi dia gadis baik. Lagian Ardan juga sudah berumur, P. Nggak mungkin juga kan. Sembarang gadis yang bakalan tulus nerima Ardan. Kita tahu, bagaimana kriteria istri idaman Ardan." Greetha berharap suaminya setuju. Karena mau bagaimanapun, Nico berasal dari keluarga yang biasa.
"Ia papi setuju apa Ardan tertarik setelah melihat gadis itu?" Nico menghela napas. Rasanya ada kelegaan tersendiri ketika ia dihadapkan dengan calon yang disodorkan Greetha.
"Kayaknya iya, Pi. Dia masih cantik kok. Papi juga harus coba masakannya. Ardan juga suka, Pi." Greeta dan Nico pun akhirnya setuju untuk menjodohkan mereka berdua.
--
Ardan masih terdiam mencoba mencermati apa yang sebenarnya terjadi. Nico menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Sudahlah... Kembali ke ruanganmu lagi dan jangan diulangi lagi. Jangan kekanakan. Ingat umurmu." Kata-kata papi membuyarkan semua lamunan Ardan.
" Iya, P. Ardan kembali dulu." Dia lolos ? Benar-benar keajaiban. Ardan membatin bahagia. Lalu keluar ruangan Nico.
"Pak Herman, sebenarnya ada apa dengan papi? Tumben nggak ngamuk dulu. Biasanya kalau belum jadi beruang belum selesai ini urusannya." Ardan pun bertanya ke sekretarisnya itu. Namun sekretaris Herman hanya mengangkat bahu.
Sekretaris sialan ini pasti tahu apa yang terjadi. Huuuhhh mentang-mentang yang gaji loe papi ya loe gak pernah ada di pihak gue. Ardan membatin kesal.
Maaf tuan muda, sebenarnya saya tahu kenapa tuan besar hari ini tak marah. Tentu saja karna hari besar dan hari bersejarah sebentar lagi akan berlangsung. Tenang saja. Ini bukan tentang geng mafia. Batin Herman.
Ardan kembali ke ruangannya dan menyibukkan diri karena memang banyak sekali berkas yang harus diurus. Namun sekelebat bayangan gadis itu muncul memenuhi pikirannya. Sekilas membuyarkan fokusnya pada berkas-berkas di hadapannya.
Kenapa gue pengen pulang cepet ya. Rasa-rasanya pengen ketemu dia.
"Pak Herman setelah ini ada pertemuan penting tidak?" tanya Ardan.
Terlihat sektretais itu mendongakkan kepalanya. Mengalihkan fokusnya pada laptop yang didepannya kearah tuan mudanya itu.
"Sekitar pukul 2 sore nanti bertemu clien untuk membicarakan proyek " Sekolah Gratis ", Tuan Muda," ujar Herman.
Tolong, tuan muda jangan buat saya susah. Saya perlu hari-hari berjalan dengan tenang. Karena saya tentu saja harus pulang tepat waktu untuk anak dan istri saya. Masa saya harus tidur diluar lagi. Gara - gara anda minggat selama satu Minggu ini. Bahkan saya menjadi menyedihkan karena diabaikan istri sendiri. Saya kan juga harus minta jatah. hiks hiks
"Setelah itu?"
"Kembali ke kantor untuk mengurus kembali berkas-berkas yang Anda tinggalkan kemarin-kemarin, Tuan Muda." Sekretaris itu menautkan kedua alisnya mencoba menebak ada apa dengan tuan mudanya itu. Ia mulai waspada.
"Aku ingin pulang ke rumah secepatnya. Setelah pertemuan itu. Tenang saja. Aku akan bawa pekerjaan yang tersisa nanti." Ardan tahu sekretaris itu yang bakal kerepotan kalau-kalau dia minggat lagi. Karena tentu saja sekretaris itu harus bekerja 3-4 kali lipat dari biasanya. " Aku juga nggak bakalan pergi main ke club' Dion juga kok. Bakalan di rumah." Ardan menegaskan.
Wah wah apa benar rumor itu kalau tuan muda sudah memulai kisah panah asmaranya ? Wkwkwk. Herman membatin penuh syukur.
Sekretaris itu tersenyum sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Begitu pula dengan Ardan yang kembali fokus pada pekerjaannya.
Tepat pukul 5 sore mobil memasuki garasi. Sekretaris itu kemudian membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya. Terlihat Ardan begitu sumringah. Tak henti-hentinya senyum ia sungging. Memamerkan kalau dia sangat senang hari ini.
Ardan langsung menuju ke dapur. Sontak saja membuat para pelayan secepatnya berbaris dan membungkukkan badannya. Mereka kaget bagaimana mungkin tuan muda mereka bisa pulang secepat itu. Terlebih lagi karna sangat jarang pergi ke dapur. Biasanya BI Inah yang selalu menemani dan melayaninya setiap dia membutuhkan sesuatu.
Namun kali ini dia sepertinya tak lagi membutuhkan Bi Inah karena tentu saja si daun muda itu yang lebih dia butuhkan. BI Inah ada di samping Ardan tapi dia tetap diam karena tau siapa yang Ardan cari. Sosoknya tertangkap mata ardan. Ardan tersenyum kecil.
"Siapkan aku makan. Hari ini aku makan di rumah. Terserah menu apapun yang penting kamu yang masak." Ardan menunjuk Wanita itu. Mariani mendongak.
"Baik, Tuan Muda."
"Oh ya ,Bi Inah. Mulai sekarang aku bakalan makan dirumah deh. Jadi tolong siapkan makananku ya. Nanti aku bakalan ngabarin pak Surya jika aku pulang ke rumah sekitar jam berapa." Ardan berbalik memandang Bi Inah.
" Baik, Tuan Muda." Bi Inah membungkukkan tubuhnya.
" Oke aku mau mandi dulu."
Ardan menuju ke kamarnya. Tentu saja para pelayan memulai pekerjaanya kembali. Ani tentu saja harus memasak untuk majikannya itu. Ia bingung, mulai dari mana karena dia tak tahu masakan seperti apa yang disukai oleh tuan mudanya itu. BI Inah tau gadis itu bingung. Dia menepuk bahu gadis itu.
"Terserah, karena sepertinya tuan muda sangat menyukai apa yang kamu masak. Kalau tuan muda tak suka biasanya langsung pergi dan gak bakalan dimakan. Masakan rumahan mungkin baginya masakan yang enak, karena selama ini yang memasak untuk keluarga ini adalah chef yang mana masakannya tentu saja bukan masakan rumahan. Jadi tak usah bingung. Apa yang ada di dalam lemari es coba lihat?" Bi Inah mengintip lemari es.
Kalau sudah ada chef kenapa butuh saya untuk masak? Apa tuan muda punya kelainan masakanku kan hanya masakan rumahan biasa saja. Ani membatin bingung.
Ardan berjalan menuju ruang makan. Tentu saja dia sudah lapar. Apalagi mengingat siapa yang masak. Terlihat di meja makan tersedia udang goreng tepung dadar jagung dan sayur bening tak lupa ada sambal juga. Ardan tersenyum. Memang kelihatan enak. Kemudian dia mulai menyendokkan sesuap demi sesuap kemulutnya. Rasanya segar dan juga ada rasa gurih dari dadar jagung ditambah renyahnya si udang tepung serta sambal yang memang sambal si janda yang membuatnya menambah selera makannya. Benar-benar menyenangkan makan di rumah pikirnya.
Ardan tersenyum puas. Benar-benar enak menurutnya. Walaupun hanya terlihat biasa dan sederhana. Pak Surya dan BI Inah terbengong. Bagaimana tidak? Tuan muda mereka bahkan jarang sekali makan dirumah. Meskipun chef keluarga ini mempunyai standar tinggi untuk cita rasa makanan. Namun hanya berbekal masakan rumahan saja mampu membuat nafsu makan Ardan meningkat 2 kali lipat dari biasanya.
"Aku sudah selesai, Bi. Setelah ini bereskan dan kalian juga harus beristirahat setelahnya." Ardan berlalu meninggalkan kedua orang yang masih terbengong namun dengan sigap menyadari bahwa tuan muda mereka sudah berlalu pergi ada rona bahagia diwajah mereka. Setelah para pelayan membersihkan meja makan, maka pekerjaan mereka selesai. Para pelayan pergi ke kamar masing-masing. Malam pun mulai beranjak larut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
cahya sumirat
kau pilih gadis atau janda ?
2023-02-01
0
Anonymous
Cerita yg ku cari2
2021-09-29
0
laili azzahra
baca novel ini bner2 bkin ketawa ketiwi aku tu...😊😊
2021-06-09
2