Meskipun Ardan masih bingung. Akan tetapi dia tak bisa menutupi bahwa dia saat ini tengah bahagia. Wanita yang dia cintai akhirnya mau menerima pinangannya. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Seakan dia tengah dimabuk cinta.
"Jadi, Mi. Dia akhirnya menerima lamaranku . Ardan benar-benar bersyukur saat ini." Ardan mengurut dada karena perasaan lega yang membuncah.
"Ya, Nak. Pasti apapun itu kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia. Maka mami dan papi juga bahagia. Di usia mami yang sudah tua akhirnya anak mami satu-satunya akhirnya akan menikah. Mami bahagia sekali." Greetha terharu. Akhirnya kebahagiaan datang menghampiri. Akhirnya dia mempunyai menantu, impiannya selama ini.
Di sisi lain. Brian adik lelaki Ani, kini bisa ke kampus kembali. Bahkan keluarga Ardan memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya. Bagaimanapun dia menolak pasti keinginan orang kayalah yang menang. Untuk orang kecil sepertinya sangat mustahil.
Akan tetapi Mariani cukup bahagia. Karena dia tak perlu mengkhawatirkan adik lelakinya lagi. Terlebih, Brian telah memiliki satu sepeda motor trail yang dibrandol puluhan juta. Tentu saja keluarga Wijaya yang mengirimkannya.
Saat ini Ardan dan Mariani akan mencari cincin untuk pernikahan mereka. Mami dan papi berharap mereka bisa saling dekat saat keduanya tengah bersama. Terlebih, sang putra yang dimabuk asmara. Tentunya, menjadi kebahagiaan terbesar Greetha dan Nico. Mengingat usia Ardan sendiri 38 tahun. Pria yang memiliki garis wajah keturunan bule ditambah kekayaan keluarga Wijaya menjadikan Ardan pria matang yang menjanjikan untuk wanita manapun.
"Nanti kamu pilih kalau ada yang kamu suka." Ardan berkata sembari menuntun Ani memasuki mall terbesar di kota itu.
"Baik, Tuan." Mariani masih kikuk. Jujur saja ada banyak keraguan dan ketakutan yang tak bisa dia jelaskan.
Ardan menghentikan langkahnya, kemudian menatap wanita yang saat ini tengah berada di depannya. Ternyata selama 3 hari ini dia tak berubah sama sekali. Ardan pun melepaskan genggaman tangannya dengan kasar.
"Sebentar lagi kita akan menikah. Pantaskah kamu memanggil calon suamimu dengan panggilan tuan?" Suara bariton Ardan Wijaya terdengar tak enak di telinga Mariani.
"Ah. Lalu saya harus memanggil Anda apa?" Mariani menutup mulutnya dengan satu tangan.
Ardan mengernyitkan dahi. "Menurutmu?"
"Mas ... Mas Ardan. Begitu?" Cukup kaku juga lidahnya memanggil tuannya dengan panggilan mas.
Mariani benar-benar seperti mimpi. Bisa bersama tuan muda dari keluarga kaya. Tapi sayang dia hanya diberi waktu satu minggu untuk menyiapkan pernikahan. Dia tak bisa mengenal Ardan lebih dekat. Mengenal sosok yang esok akan bersamanya di masa tua. Entahlah jika takdir mengizinkan maka mereka akan bersama hingga till jannah.
"Ya .... Itu lebih baik, Sayang." Ardan tersenyum puas.
Meskipun awalnya dia ingin panggilan sayang. Akan tetapi dia sekarang cukup puas. Setidaknya panggilan itu lebih baik dari pada harus dipanggil tuan bukan? Ani yang mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir Ardan pun membulatkan matanya. Kaget.
Bagaimanapun juga rasanya aneh kalau tiba-tiba dia dipanggil dengan panggilan sayang. Ardan kembali menggenggam tangan Mariani. "Ayo... biar cepat selesai dan kemudian kamu bisa istirahat."
Ani menganggukkan kepalanya. Dia memang ingin segera selesai supaya rasa kikuk dan canggung itu segera menghilang. Bahkan detak jantungnya sangat tidak normal hari ini.
Kini mereka telah sampai di tempat yang menjual perhiasan. Ani masih diam mematung. Bagaimanapun tidak dia tak pernah ke tempat itu sebelumnya. Rasanya tak enak, sekalipun itu untuk pernikahan keduanya.
"Ayo, kenapa masih bengong, Sayang? Kita pilih sesuai keinginanmu. Di sini mami biasanya beli perhiasan,aku jamin kamu pasti suka." Ardan menggandeng tangan Mariani. Menggambarkan bahwa dia sangat bahagia bisa menikah dengan orang yang dia cintai.
Tuan muda, pasti mahal perhiasan di sini. Apalagi nyonya besar juga membeli perhiasan di sini. Anda pasti gila mau membelikan saya perhiasaan mahal di sini. Mariani meremas ujung bajunya. Wanita itu bahkan menggigit bibir bawahnya.
"Baik, Mas." Mariani menyerah. Akan tetapi dia bertekad mencari cincin yang paling murah di sini.
"Mbak, sini.....tolong pilihkan yang paling bagus di sini. Tebtunya yang cocok untuk calon istri saya ini. Jangan kecewakan saya." Ardan menarik tubuh Mariani agar mendekat ketubuhnya.
Tuan muda, Anda jangan gila. Wajah Ani merah padam. Bagaimana tidak? Laki-laki dihapannya ini sudah seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Tak hanya itu, kedua mata Mariani membulat tatkala melihat harga yang tertera di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Eva Rubani
luluh juga di ani gitu dong jalani aja dl
2023-01-18
0
Nurhayati Nia
thor visual nya dongg
2021-03-01
1
Berdo'a saja
ya emang lagi jatuh cinta Ani
2021-02-06
2