"Ani, ingatlah. Aku paling suka jika kamu mau menerima setiap pemberianku." Ardan memegang kedua tangan Ani. "Aku tulus mencintaimu. Entah itu sekarang besok atau selamanya. Kaulah satu-satunya perempuan dalam hidupku setelah mamiku. Kau tahu kan aku tak banyak bicara dan kau tentu juga tahu berapa usiaku sekarang?"
Ani mengangguk pelan. Saya tahu umur tuan muda menginjak usia ke 38tahun. Tetap saja saya merasa hidup kita bagai langit dan bumi.
"Terimalah aku Ani. Aku juga akan menerima anakmu, Rendy seperti anakku sendiri. Oh ya setelah menikah nanti kau bisa membawa Rendy ke rumah ini." Ardan tersenyum tulus.
Tangannya mengelus puncak ubun-ubun Ani. Sedangkan Ani masih terdiam. Tak tahu harus berbuat apa. Banyak sekali memori masa lalu berkeliaran di ingatannya. Mariani tak ingin berharap banyak ada pernikahan ini.
Mobil mulai memasuki halaman rumah kediaman Wijaya. Banyak sekali pelayan yang menyambut keduanya kali ini. Begitu pula dengan Bi Inah yang juga menundukkan kepala. Sekalipun banyak aekali bisik-bisik mengenai Mariani yang naik strata sosial, namun Mariani memilih tak ambil pusing. Resiko memang harus ditanggunggnya.
"Tentang Rendy,biar dia diasuh ibu sama bapak saja, Mas. Mariani akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
*M*aaf tuan muda. Akan tetapi saya tak akan membiarkan siapapun menyakiti anak saya. Bukan saya tak mempercayai anda. Hanya saja hati saya masih trauma dengan laki-laki. Mariani membatin gelisah.
"Kenapa? Bukankah dia anakmu ? Apa kamu tak ingin dia tinggal di sisimu?" Ardan mengernyitkan dahinya. Tanda tak mengerti. Bagaimanapun juga dia tahu bahwa Ani begitu menyayangi keluarganya terlebih Rendy anaknya.
"Saya masih butuh waktu, Mas". Wanita itu menundukkan kepala.
Ardan melepaskan tangannya. Dia menghela napas berat. Ternyata kau masih belum bisa mempercayaiku, Ani.
"Baiklah, istirahatlah di kamar. Aku harus kembali bekerja." Ardan kemudian berlalu meninggalkan Ani yang masih diam mematung.
Maafkan saya tuan muda.
Mobil Ardan memasuki tempat parkir kantornya. Kemudian Herman menyambutnya. Dia sedikit heran karena ekspresi tuan mudanya berbeda dengan beberapa hari belakangan ini. Karna beberapa hari ini Ardan selalu tersenyum. Bahkan setiap karyawan yang menyapanya dia akan menjawab sapaan para karyawannya itu.
*Kenapa dengan tuan muda? Beberapa hari yang lalu wajahnya tampak berseri-seri seperti bocah yang mendapat permen. Tapi kenapa hari ini wajahnya seperti ditekuk begitu? Seakan langit hari ini akan runtuh saja. Akh sial*. *Jangan bilang aku akan sial juga hari ini*.
"Pak Herman, apa hari ini saya harus menghadiri sesuatu yang penting?" Ardan menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya.
"Ada, Tuan Muda. Anda harus menghadiri meeting mengenai sekolah gratis itu. Terlebih lagi kali ini kita akan membahas target pembangunan sekolah gratis tersebut."
"Baiklah, atur secepatnya dan segera selesaikan sesegera mungkin. Hari ini aku ingin segera berada di rumah." Ardan meringis. Lalu mengurut dadanya pelan.
*Sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti itu, Ani*. *Aku bahkan mencintaimu tanpa syarat. Nyatanya kau memang terpaksa menerimaku*.
"Maaf, Tuan Muda. Bukan maksud saya mencampuri masalah Anda, tapi sepertinya hari ini Anda punya banyak beban. Kalau Anda tak keberatan Anda bisa berbagi dengan saya siapa tau saya bisa membantu Anda." Sekretaris Herman terlalu peka. Sebenarnya tak ingin ikut campur. Akan tetapi melihat wajah mendung itu, Sekretaris Herman takut jika akan mempengaruhi pekerjaan tuan mudanya itu.
Ardan menoleh ke sekretaris pribadinya. "Menurutmu, bagaimana caranya memperlakukan seorang perempuan, agar perempuan itu bisa luluh dan jatuh hati Pak Herman? Aku benar-benar bingung sekarang." Ardan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar frustasi.
Sekretaris pribadi Ardan mengangkat satu alisnya. Pertanda bahwa dia kaget mendengar curhatan pewaris satu-satunya keluarga Wijaya itu.
*Oh ternyata masalah perempuan. Ah tuan muda kenapa Anda begitu polos ? apa anda tak malu dengan umur Anda sekarang. Ternyata tuan muda sedang jatuh cinta*. Sekretaris Herman membatin sembari menahan tawa.
"Perempuan sangat suka diberi perhatian, Tuan Muda. Dari hal yang terkecil sampai hal terbesar sekalipun. Serta jangan mengatakan bahwa Anda mencintainya. Karena itu tak akan berhasil. Yang dibutuhkan oleh para perempuan hanyalah bukti." Sekretaris Herman memang begitu mencintai sang istri. Untuk itulah, ia paham bagaimana kegundahan hati Ardan.
"Bukti apa? Aku sudah mengatakan, jika aku mencintainya berulang kali"
"Tentu saja bukti, bahwa Anda benar-benar tulus jatuh cinta padanya, Tuan Muda."
"Kau pikir aku belum mencobanya, Pak Herman. Bahkan aku sudah mengajak dia untuk menikah dalam waktu kurang dari empat hari lagi! Sayangnya dia masih saja menjaga jarak." Ardan mengusap wajah. Jatuh cinta memang bisa membuat orang frustasi.
"Hah?" Pak Herman kaget bukan kepalang.
Karena setau Pak Herman, Ardan tak pernah menggandeng siapapun kecuali perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Dia tahu kalau tuan mudanya masih pusing dengan seorang perempuan yang baru-baru ini dikenalnya. Hanya saja dia tak tahu bahwa akan secepat ini mendengar kabar berita baik dari Ardan.
"Iya, Pak Herman. Minggu ini aku akan menikah. Dengan perempuan pilihannya papi dan mami. Aku sungguh jatuh cinta padanya. Sayang sekali aku ditolak mentah-mentah olehnya. Biarpun akan menikah, dia masih menjaga jarak denganku." Ardan mengacak rambut kasar. Dia tak habis pikir dia ditolak mentah-mentah hingga saat ini.
"Kalau begitu Anda bisa membuatnya jatuh cinta nanti setelah menikah, Tuan Muda. Bukankah Anda akan tinggal bersamanya setiap hari. Dengan begitu Anda bisa membuatnya jatuh cinta dengan sendirinya kan tuan muda?"
Ardan mengangkat sebelah alisnya. Kemudian dia berpikir sebentar, lalu terlihat dia menyunggingkan senyum sekilas. Setelahnya dia mencoba beranjak dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba Pak Herman, sekretarisnya menahannya.
"Tunggu, Tuan Muda. Anda mau kemana?"
"Tentu saja memperjuangkan cintaku. Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku secepatnya. Agar aku bisa tenang juga, Pak Herman. Ada apa kau mencegahku? Bukankah ini idemu?" Ardan masih tak mengerti bukankah ini ide Pak Herman? Lalu kenapa dia menahannya?
"Maaf, Tuan Muda. Akan tetapi sepertinya Anda harus mengikuti meeting hari ini. Karena meeting hari ini sangat penting."
Ardan mengepalkan tangannya. Dia geram terhadap kelakuan sekretarisnya itu. Sayangnya, Pak Herman lebih tua lima tahun darinya. Sehingga mau tak mau, Ardan menuruti kata-kata Pak Herman.
*Bukankah kau yang memberikan ide ini, Pak Herman? Lalu kenapa kau mencegahku untuk memperjuangkan cintaku dan mengatakan hari ini ada meeting penting. Kalau begitu kau seharusnya tak memberiku ide ini! Kau membuatku tambah gelisah karena tak segera melaksanakan ideku ini. Dasar sekretaris sialan*! Ardan membatin kesal. Meski begitu, ia kembali mendudukkan bokongnya di kursi miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
mamah teby
ges te sabar bang Ardan
2021-04-15
1
Ch.Bhadriyyach💋
ini to si Rendy.. yg colab Ama leo..
2021-02-27
2
Berdo'a saja
buru-buru amat sibabang
2021-02-06
1