Satu minggu kemudian,Ardan telah kembali bekerja ke kantor. Setiap pagi setelah shalat shubuh Ani bergegas mandi dan memasak untuk sarapan. Kemudian dia menyiapkan baju kerja Ardan. Begitulah rutinitasnya setiap pagi setelah mengantar Ardan ke depan, ia akan kembali ke kamarnya. Benar-benar tidak ada aktivitas lainnya lagi. Dia benar-benar santai semenjak menjadi nona muda dirumah itu.
Walaupun mereka adalah suami istri namun itu hanya sebatas melayani Ardan di kesehariannya. Melayani seluruh keperluan Ardan. Terkecuali melayani Ardan di tempat tidur.
Semenjak kejadian di malam pertama waktu itu. Mereka tak banyak bicara. Hanya berbicara seperlunya saja. Walau bagaimanapun juga dia tahu bahwa sekarang statusnya adalah seorang istri. Akan tetapi dia sendiri sangat sulit menerima bahwa dirinya telah menikah kembali. Sebenarnya Ardan memperlakukannya dengan sangat baik. Namun apa daya hatinya masih belum menghangat.
Bosan. Sangat bosan. Ani kemudian teringat uang mas kawin yang diberikan Ardan.
Apa aku pulang saja ke desa dulu ya untuk cari sawah? Setidaknya daripada uang ini tetap di dalam tabungan dan tersimpan tak pernah aku pakai.
"Tapi apa Mas Ardan bakalan ngizinin aku pulang ke rumah?" Pikirannya kembali menerawang. Diraihnya ponsel miliknya.
"Aku lupa aku tak punya nomor Mas Ardan." Mariani menggumam lirih. Merutuki kebodohannya yang tak menyimpan nomor suami sendiri.
Diliriknya jam dinding masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dia keluar kamar menuju dapur dia harus melakukan sesuatu agar dirinya menjadi berguna. Dari pada gulung-gulung di atas tempat tidur.
"BI Inah."
"Ya, Nona Muda? Apa ada yang bisa saya bantu?" Bi Inah membalikkan badan.
"Kayaknya bahan-bahan di lemari es sudah hampir habis, BI. Biar aku yang belanja ya. Mulai sekarang Bibi nggak usah belanja. Toh tugas memasak juga aku." Ani tersenyum meyakinkan BI Inah bahwa dia baik-baik saja. Memang kenapa dia tak baik-baik saja? Toh dia sudah sering pergi ke pasar tradisional.
---
Pak Surya membukakan pintu mobil. Sebenarnya Ani sendiri masih belum terbiasa dengan perlakuan para pelayan di rumah itu. Apalagi hanya berurusan dengan membuka pintu mobil, yang bahkan harus dibukakan oleh sang supir. Akhirnya mobil mulai melaju meninggalkan garasi. Beranjak menjauh menuju pasar tradisional.
Sebenarnya Bi Inah sudah menyarankan untuk belanja bahan-bahan di supermarket akan tetapi Ani menolaknya. Karena baginya belanja di pasar tradisional menurutnya jauh lebih murah dan yang pasti segar-segar juga. Terlebih, yang pasti bisa lebih hemat.
Setelah beberapa saat akhirnya sampailah mereka di pasar tradisional. Ani mengenakan drees selutut yang terkesan simple dan santai. Sebenarnya mami yang telah membelikan baju-baju Ani satu lemari penuh. Mami benar-benar memahami selera Ani yang terkesan simple. Dia bahkan mengikat rambutnya ke atas. Dengan polesan make up yang tipis.
Bagaimanapun juga dia tumbuh di keluarga kurang mampu. Jadi, baginya make up adalah barang mewah untuknya. Bahkan mami juga telah menyiapkan make up yang terbilang cukup lengkap. Namun bagi Ani itu adalah sesuatu yang berlebihan dan pasti sangat repot jika kemana-mana harus berpoles make up tebal. Rasanya risih juga.
Mariani berjalan memasuki satu persatu gang dipasar menuju ke arah penjual ikan. Tentu saja wajahnya terlihat semringah.
"Pak, ikan gurame tiga kilo. Mujair tiga kilo. Semua ambil yang besar ya."
"Baik, Neng." Pria itu kemudian menimbang ikan gurame dan mujair.
"Bersihkan semua ya, Pak."
"Siap, Neng."
Setelah membayarnya kemudian dia beranjak menuju penjual daging ayam. Dia membeli lima kilo daging ayam. Kemudian beranjak menuju penjual sayuran.
Akhirnya Mariani mendapatkan apa yang dia butuhkan selama beberapa hari ke depan. Dia kemudian beranjak menuju tempat akhir ke tempat pak Surya berada.
Uang belanja dari Mas Ardan masih sisa banyak, lumayan kusimpan saja untuk berjaga-jaga. Toh ada pepatah mengatakan kalau dikit-dikit lama-lama akan menjadi bukit. Setidaknya dia akan menyimpan uang itu di banknya nanti jika dirasa agak banyak.
"Ani? " Teriak seseorang memanggil namanya.
Ani menoleh, ia melihat siapa yang memanggilnya. Ani sontak kaget dan itu membuatnya berlari seakan tak ingin ditemukan oleh orang yang memanggilnya.
"Ah, sial dia lari. Hm tak kusangka dia datang ke kota J ternyata." Gadis itu tersenyum sinis. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.
"Sayang! Kenapa kamu lari sih? Ini belanjaan kamu. Kenapa juga mesti belanja ke pasar tradisional sih? Kan di supermarket juga ada. Mana tempatnya kumuh gitu." Seorang pria dengan umur sekitar 26 tahun itu mengerucutkan bibirnya. Seakan saat ini dia tengah kesal lantaran wanitanya tiba-tiba berlari.
"Sudahlah, Sayang. Kamu pasti kaget siapa yang tadi aku panggil." Wanita itu tersenyum.sinis.
"Siapa? Pria tampan lain? Apa aku tak cukup buatmu?" Pria itu menekankan tentang dirinya.
" Ish, Sayang ... Mana ada begitu. Aku tadi ketemu sama mantan kamu. Mantan kamu yang kamu ceraikan setahun yang lalu!"
Alis lelaki itu bertaut. Memang siapa mantan yang dia ceraikan? Ada satu memang mantan istrinya. Dan itupun dia yang diceraikan. Karna ulahnya yang sudah kelewat batas. Hanya karna cemburu.
"Maksudmu Ani?" Benar dia adalah mantan suami Ani.
Mereka bercerai satu tahun yang lalu dan yang kini tengah bersamanya adalah kekasih barunya. Namanya Intan. Nama pria itu adalah Johan Saputra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
purnama
akhir cerita kok bingung nyerna tulisan mu
2021-02-06
2
saya cantikkj
orang kaya beli bahan makan ko' cuma sekilo pembantu makan apa dink
2021-01-29
1
baida zu
msh mesteri knp Dy bercerai ya...
2021-01-09
1