Akhirnya hari yang ditunggu-tungguvpun datang juga. Para pelayan sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ani saat ini tengah menunggu di kamar, dia sedang dirias oleh MUA terkenal pagi-pagi sekali. Sebenarnya dia menginginkan pernikahan sederhana tetapi mengingat mertuanya adalah orang kaya dan berpengaruh pasti mengharapkan pernikahan yang megah untuk putra kesayangannya itu.
Apalagi Ardan adalah putra satu-satunya keluarga Wijaya tentu saja harus diadakan pernikahan yang semegah-megahnya. Namun, tidak untuk dipublikasikan. Hanya keluarga besar saja yang tahu.
Keluarga Ani sudah datang dari kemarin malam. Mereka dijemput oleh Pak Surya dan tentu saja pakaian serta keperluan mereka juga sudah disiapkan oleh Greetha dan Nico. Bagaimanapun kedua belah pihak keluarga harus hadir mengingat ini adalah hari bahagia sekali seumur hidup.
Ani sangat gugup meskipun ini adalah pernikahan keduanya. Bagaimana jika dia berbuat kesalahan? Pasalnya keluarga Wijaya adalah orang yang paling kaya di kota itu. Dia baru saja browsing tentang keluarga Wijaya dan ternyata keluarga Wijaya adalah keluarga terkaya no 3 di Asia. Bagaimana mungkin hidupnya kini berbanding terbalik dengan kehidupannya dulu?
Memang keluarga mantan suaminya adalah orang terpandang di desanya tetapi ternyata calon keluarga barunya itu malah lebih lebih lebih kaya dari mantan suaminya. Tiba-tiba ada buliran air bening mengalir dari pelupuk matanya.
Dia takut jika kali ini dia akan gagal mempertahankan rumah tangganya. Kembali teringat apa yang dilakukan oleh mantan suaminya itu. Apalagi mengingat Ardan adalah orang terkaya di Asia no tiga.
"Mbak, jangan nangis nanti makeup nya luntur. Saya tau Mbaknya lagi bahagia tapi tolong jangan sampai air mata Anda menetes nanti takutnya luntur make-upnya." Perias itu menegur lembut Mariani.
Ani mengangguk walaupun sebenarnya dia sangat sedih. Tapi dia berharap dia bisa menemukan kebahagiaan setelah menikah. Ani terlihat sangat cantik. Dia kemudian menuju Ardan dengan sangat anggun.
Wah.Bener-bener nggak salah aku memilih calon istri. Setelah dipoles benar-benar seperti batu berlian yang sangat cantik dan indah. Ardan membatin seraya matanya tak berkedip melihat Mariani.
Ya ampun. Kenapa Mas Ardan melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku. Apa make upku terlalu tebal? Atau ada yang luntur karena tadi aku menangis? Mariani membatin gelisah.
Prosesi ijab Qabul berjalan lancar. Kini mereka melangsungkan resepsi pernikahan hari itu juga. Keduanya pun kini telah sah sebagai suami istri. Karena akan sangat merepotkan jika resepsi digelar kapan hari. Lebih praktis jika digelar bersama ijab Qabul.
Keluarga Ani sebenarnya juga datang akan tetapi mereka terlalu minder karena tamu kebanyakan adalah orang yang berpengaruh di kota itu. Hanya segelintir yang diundang. Orang-orang penting dan memiliki kerja sama dengan keluarga Wijaya. Terlebih, walikota juga turut hadir di sana.
"Terima kasih, karena telah memberikan anak perempuan kalian kepada keluarga kami. Kami berjanji akan membahagiakan anak perempuan kalian seperti anak perempuan kami sendiri," kata Greetha.
"Injih bune. Matursuwun. Iki Kulo sekeluarga pamit. Nitip Nduk Ani. " ( Ia Bu. Terima kasih. Ini saya dan sekeluarga pamit. Nitip nak Ani.)
"Ya. Terima kasih. Setelah hari ini akan ada orang yang memperbaiki rumah kalian. Aku tidak ingin keluarga menantuku juga menderita. Jadi saya harap Anda sekeluarga menerima satu kebaikanku ini. Tolong jangan menolaknya. Anggap saja ini hadiah untuk kalian semua," ucap Greetha.
Keluarga Ani semuanya saling pandang. Mereka benar-benar tak menyangka jika akan mendapatkan kebaikan dari besan mereka. Kemudian setelah berterima kasih mereka akhirnya mohon undur diri. Mengingat Brian esok hari harus ke kampus.
Satu persatu para tamu mohon undur diri. Malam juga kian bertambah larut. Kini Ardan pun menuntun sang istri untuk segera beristirahat.
"Mami, Papi, Ardan sama Ani pamit untuk istirahat ya." Ardan berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Ya, Nak. Istirahatlah, papi sama mami akan istirahat juga. Ani jangan sungkan lagi, kita sekarang keluarga." Nico tersenyum. Akhirnya anak lelakinya benar-benar telah menikah. Dia akan membanggakannya nanti di depan kolega bisnisnya.
Ani mengangguk. Kemudian dia bersama Ardan menaiki tangga. Mulai malam ini mereka akan tidur bersama di kamar Ardan. Ardan membuka pintu kamarnya perlahan.
"Nah, Sayang. Mulai malam ini kita akan tidur di kamar ini, "Ardan sembari tersenyum.
Ani melihat kamar itu terdapat satu ranjang besar yang sudah dihias di sana sini. Terlebih di ranjang itu ada banyak taburan kelopak bunga mawar mewrah. Ya.... malam pertama. Mariani menelan ludahnya sendiri.
"Aku mandi dulu, setelah itu kau juga mandilah." Ardan berlalu ke kamar mandi yang terdapat di kamarnya. Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air.
Ani duduk di tepi ranjang. Dia melihat sekeliling kamar. Kamar yang cukup rapi untuk seorang pria. Detak jantung wanita itu tak lagi mampu dikondisikan. Pikirannya tertuju akan statusnya sebagai istri. Selang beberapa menit kemudian Ardan telah selesai.
" Mandilah...... pasti sangat lengket." kata Ardan.
"Em, baju gantiku di bawah mas." Ani menggigit bawah bibirnya.
"Mami sudah menyiapkan semuanya kok." Terlihat Ardan membuka lemarinya. " Sebelah sini bajumu semua." Pria itu tersenyum. Cukup tampan dengan kulitnya yang putih. " Gantilah, Sayang. Lalu sebelah sini baju tidurmu."
Ani mengangguk. Kemudian mendekati lemari tempat baju itu berada. Mendadak dia membulatkan matanya. Pakaian tidur macam apa ini? Mariani menggelengkan kepala tak percaya.
"Maaf, mami yang pilih." Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya.
Kemudian dia terpaksa mengambil salah satu yang menurutnya agak tertutup. Yah walaupun bisa dibilang kurang bahan tapi setidaknya masih lumayan ketimbang yang lainnya. Setelahnya dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai mandi kemudian dia menaruh baju pengantinnya di ranjang baju kotor. Dia keluar kamar mandi. Dilihatnya Ardan masih sibuk dengan laptopnya. Syukurlah. Sepertinya pekerjaannya tak bisa ditinggal. Setidaknya malam ini aku bisa lolos.
"Sayang, kau melupakan malam pertama kita kah?" Ardan tersenyum jahil,dia hanya menggoda Ani karena melihat Ani yang terburu-buru naik ke tempat tidur.
Fuh. Sepertinya percuma menghindar. Ardan mendekati wanita itu. Dia hanya berniat menggodanya saja. Kemudian, terlihat Ani membuka bajunya. Menampakkan sesuatu yang sangat menantang dari balik baju tidurnya.
"Ayo lakukan dengan cepat setelah itu, aku akan kembali ke kamarku," tandasnya dengan ekspresi yang datar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Berdo'a saja
kok pindah ke kamar
2021-02-06
1
Nur Sanah
aduhhh mau ko gitu sich🙃🙃🙃
2020-05-18
1
Hanik Suyanti
😃😃😃😃😃
2020-02-08
4