Ardan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Benar-benar tak habis pikir dengan istrinya itu. Ternyata seburuk itu dirinya di hadapan sang istri.
Padahal dari awal aku sudah mengatakan kalau aku memilihnya karena aku mencintainya. Lantas apa yang salah dari cintaku ini? Papi sama mami jangan sampai tahu aku tidur di sini. Kalau kembali ke kamar rasanya sesak sekali. Padahal harusnya ini menjadi malam pertama kita, Sayang.
Ardan melirik ke arah jam dinding sudah pukul 1 malam. Namun matanya tak juga terpejam. Bahkan rasa kantukpun lama tak menghampirinya.
Shittt! Apa gara-gara aku tidur di sini jadi nggak bisa tidur. Seharusnya malam ini aku masih tidur di kasurku yang empuk.
Ardan bangun dari tidur telentangnya. Kemudian mengingat kejadian yang membuatnya terhempas dari kamarnya sendiri. Blush ... Pikirannya kembali pada dua buah dada istrinya yang menyembul keluar saat pertengkaran tadi. Terlihat putih mulus dan masih kencang. Rasanya dia ingin menghabisinya malam ini. Namun apa daya. Istrinya benar-benar dalam kondisi tak baik. Seakan-akan Ardan menikahinya hanya sebatas penghangat untuk ranjangnya.
Rasanya ada yang aneh.... Mungkin dia ditolak dulu bukan karna alasan perbedaan dua keluarga yang bagai langit dan bumi. Tapi masih ada hal lain yang tak pernah dia ungkapkan dari pertama. ****! Mau dipikir berapa banyakpun tetap ada yang janggal dengan sikapnya tadi. Ardan mengacak rambutnya frustasi.
Di sisi lain...
Ani masih termenung. Terdengar sayup-sayup pembicaraannya dengan Ardan. Dia yang masih sanksi akan ungkapan cinta dari Ardan.
Bagaimana mungkin ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Heh itu konyol tuan muda. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta dengan perempuan sepertiku?
Sudahlah mending tidur saja. Toh kalau dia selesai dengan urusannya pasti balik tidur. Huhh untung dia keluar kamar. Kalau enggak bisa kehabisan nafas nanti. Mariani membatin lega.
Pagi harinya ...
Dering alarm berbunyi menunjukkan waktu pukul 4 pagi. Sebelum papi dan mami bangun Ardan harus kembali ke kamarnya. Daripada nanti banyak omongan kalau mereka tidur terpisah. Karna seharusnya memang tadi malam adalah malam pertama mereka. Yang justru mereka lalui dengan sedikit drama.
Setelah sampai di kamar Ardan tak mendapati istrinya di tempat tidur. Dilihatnya tempat tidurnya sudah rapi. Namun, terdengar suara gemericik air. Menandakan bahwa ada orang di sana. Ardan pun kemudian menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Ahhhh ... Rasanya sangat nyaman.
Setelah beberapa saat keluarlah Ani dengan handuk melilit hingga dada kemudian rambut yang basah dan tertutup handuk. Karena memang Ardan tak memiliki pengering rambut.
Ardan yang melihatnya sontak saja kelelakiannya pun bangkit karena pesona indah di hadapannya kini. Bagaimana tidak? Kulitnya terlihat sangat mulus sekali. Dia tak bergerak dari tempatnya. Hanya memandangi saja. Ani yang mengetahui bahwa Ardan tengah memandanginya pun dibuat canggung.
"Eh, Mas Ardan. Maaf tadi kamar mandinya aku pakai." Mariani tersenyum canggung kemudian mendekati lemari untuk mengambil baju gantinya.
"Hm."
"Mas nggak mandi?" tanya Mariani. Ia bingung.
"Hm."
*Ya ampun. Coba ngomong lainnya kenapa sih? Lagian kenapa balik ke sini lagi? Bukannya tadi malam tidur diluar*? Ani membatin resah.
Secepat kilat Ani mengambil baju ganti kemudian Berlari menuju kamar mandi. Ardan yang sempat melihat tingkah istrinya itu. Dia terkekeh geli melihatnya panik karena kedatangannya.
"Mau mandi sekarang nggak Mas? Aku siapin airnya." Mariani telah keluar dari kamar mandi dengan dress selutut berwarna biru laut dan berlengan panjang.
"Iya deh."
Selanjutnya Ani masuk ke kamar mandi kembali dan kemudian menyiapkan air hangat untuk Ardan mandi. Tak beberapa lama dia pun keluar.
"Sudah, Mas. Airnya sudah aku siapkan." Mariani beranjak pergi meninggalkan sang pemilik kamar.
"Tunggu, mau kemana?"
"Ke dapur mau nyiapin sarapan. Mas mau dimasakin apa buat sarapan?" Mariani memakai sandal tipisnya.
"Terserah, aku makan semua yang kamu masak kok."
"Iya, Mas." Sebelum menuju ke dapur Ani terlebih dahulu menyiapkan pakaian kerja untuk Ardan. Setelahnya Ani pun berlalu meninggalkan kamar.
Setelah berkutat di dapur dan dibantu Bi Inah, Ani kemudian memanggil semua penghuni rumah untuk sarapan.
"Mas, ayo sarapan. Sudah siap tuh di bawah.Ani memanggil Ardan yang tengah memakai dasi. Mariani segera berlalu, masih malu mengingat tingkah konyolnya didepan Ardan tadi malam.
" Iya, Sayang."
Ardan dan Ani pun menuruni tangga. Terlihat di meja makan papi dan mami sudah terlebih dahulu duduk di sana. Greetha tersenyum melihat pasangan muda mudi pengantin baru itu datang dengan rasa canggung. Tiba-tiba Nico cengengesan tak jelas. Greetha dan yang lainnya mengernyitkan dahi. Bingung mau bereaksi seperti apa.
"Papi kenapa sih? Kok cengengesan gitu?" Greetha sudah tak sabar. Karena melihat suaminya tak berhenti untuk tersenyum.
"Iya nih apaan sih, Pi?" Ardan yang sedari diam ikut bicara.
"Halah udah deh pengantin baru juga kok. Nggak ada capeknya langsung ngegas aja walaupun capek. Iya kan, Nak?" Nico memainkan kedua alisnya naik turun.
"Lah Papi tu ngomong apa sih? Pertama senyum-senyum nggak jelas. Sekarang ngomongnya nggak nyambung," ujar Greetha dengan nada sewot.
"Papi nggak cengengesan kok ,Mi. Papi kan lagi bahagia karena akhirnya senjata Ardan masuk ke sarangnya juga hehehe." Nico masih tersenyum lebar.
" Tunggu, tunggu, kok makin nggak nyambung Pi?" Greetha semakin bingung.
Papi melirik Ani diam-diam. Entah anak menantunya itu sibuk sarapan atau pura-pura tidak dengar. Yang pasti, Mariani sibuk dengan sarapannya.
"Ardan, jangan pura -pura bodoh kamu. Masa nggak tau apa yang papi omongin? Maksud papi itu papi hari ini bahagia karena akhirnya senjata kamu masuk ke sarangnya. Kan tadi malam kalian sudah malam pertama." Papi masih menyunggingkan senyum bahagianya.
Bruft ... Ardan yang saat itu sedang minum pun langsung menyemburkan airnya. Bukan Ardan saja yang kaget tetapi istrinya juga tak kalah kagetnya.
" Uhuk, uhuk."
"Nih minum." Ardan menyodorkan gelas minumnya. Mariani menerimanya tanpa sepatah kata.
"Kenapa papi ngomong kayak gitu sih? Padahal tadi malam udah kayak mau perang aja. Untung aku bisa tetap tenang dan pergi ke ruang kerja. Terus malam pertama dari mana?Orang tidur pisahan". Kata Ardan dalam hati.
"Apa sih maksud papi? Malam pertama apa? Malam pertama bibir kita sih iya. Dan itupun aku yang maksa. Tapi kenapa papi bisa mikir aku dan mas Ardan habis malam pertama? Bentar deh ini pasti ada yang salah.
Sialan. Rambutku basah! Ani membatin dan segera menundukkan kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Rizca Eva
kirain ani anak polos yang halus bicaranya ternyata .....
2021-11-14
0
Berdo'a saja
siapa basahin rambut saat malam pertama
2021-02-06
1
Al-Latif c'cikal
burung masuk sarangnya 🤣🤣🤣 tapi boong
2021-01-28
2