"Ayo, Sayang. Pilihlah salah satu. Mana yang kamu suka, jangan diam aja dong." Ardan membuyarkan lamunan Ani .
"Mas, di sini kayaknya mahal-mahal deh. Kita coba cari tempat lain yuk," ajak wanita itu dengan wajah sungkannya.
"Enggak. Kita cari di sini aku nggak mau capek keliling." Putus Ardan seenaknya.
Tuan muda kumohon jangan buat saya seperti perempuan mata duitan. Ani menundukkan kepalanya. Dia benar-benar malu dengan dirinya. Dia merasa dirinya tak pantas menerima itu semua.
"Mbak, aku mau satu set pernikahan ditambah dengan satu cincin kawin. Ambilkan yang terbaik di sini." Ardan tak sabar melihat Ani yang menunjukkan rasa sungkannya itu.
Pelayan itu mengangguk kemudian mencarikan perhiasan yang terbaik ditempat itu. Setelah beberapa lama pelayan itupun kembali. Kemudian memperlihatkan satu set perhiasan itu kepada Ardan. Lagi-lagi mata Mariani melebar. Ada berlian juga sebagai hiasan di kalungnya.
"Baiklah. Aku ambil semua dan bayar pakai ini". Ardan menoleh ke calon istrinya yang kini membatu.
Dia tersenyum. Ardan benar-benar tak sabar agar mereka segera meninggalkan tempat itu. Jika menunggu Ani yang memilihnya, Ardan bahkan tak tau kapan akan selesai karena tentu saja pasti Ani akan meminta ke tempat lain setelah tahu harganya.
"Mas, kenapa Mas beli satu set perhiasan juga? Jangan boros-boros Mas kan kita nikah cuma sekedarnya saja. Yang penting menikah. Kenapa Mas beli satu set perhiasan juga. Aku rasa itu tidak perlu." Mariani menggelengkan kepala.
"Buat calon istri. Kenapa boros? Kan juga buat mas kawin juga bisa. Sudahlah, Sayang. Itu juga kewajibanku buat bahagiain kamu."
Kan aku sudah bilang untuk memilih sendiri. Kamu milihnya lama ya mending aku yang pilih. Daripada kelarnya besok. Ardan membatin kesal.
Ani menghela napasnya. Percuma berdebat dengan Ardan saat ini. Akhirnya selama memilih pernak pernik pernikahan pun Ardan yang memilih semuanya. Ani benar-benar kesal padanya. Karena bagi Mariani, semuanya berharga cukup fantastis. Sedangkan dia hanya seorang wanita desa yang harus memperjuangkan hidupnya sendiri.
Bisa tidak Anda tak menatap saya seperti itu. Mariani menundukkan pandangan ketika tak sengaja mata coklatnya beradu dengan mata elang Ardan.
"Aku benar- benar bersyukur karena akan menikah denganmu. Seorang perempuan yang sederhana teguh dan mandiri. Tentu saja aku tak akan melepaskanmu. Ardan membatin posesif.
"Mas, yakin aku nggak apa-apa nerima ini semua? Rasanya, aku tak pantas. Bahkan tadi kalung itu bermata berlian murni." Mariani menunjukkan paper bag miliknya.
"Iya. Apalagi? Kalau kamu nggak suka, sini aku buang!" Ardan bersungut-sungut kesal. Kenapa dia nggak nerima gitu saja sih?
"Iya, aku terima." Ani terbata melihat sorot mata Ardan yang tajam itu.
Seperkian detik kemudian laki-laki itu menggandeng tangan Ani berlalu dari tempat perhiasan. Kemudian berlalu kepakaian wanita.
"Mas, ngapain kita ke sini?" tanya Ani.
"Ngapain lagi? Ya buat beli bajulah, masa iya beli sayuran?" sungut Ardan kesal. Apalagi kali ini? Apa wanitanya ini benar-benar nggak senang diajak berbelanja seperti ini?
"Ba-baju untuk siapa?" Kembali lagi pertanyaan itu dilontarkan dari bibir ranum milik Ani.
"Bajuku!"
"O...oh." Mariani melepaskan cekalan tangannya di lengan Ardan.
Ardan menautkan kedua alisnya begitu mendapatkan jawaban dari calon istrinya itu. Rasanya ada yang aneh dengan jawaban Mariani. Hei, ini toko yang menyediakan pakaian wanita. Jangan bilang Mariani percaya kata-kata Ardan barusan.
"Baju siapa lagi kalau bukan bajumu?Sana beli sesukamu. Jangan buat aku marah lagi," ucap Ardan.
"Mas, kita beli di pasar aja yuk." Ani menarik lengan calon suaminya.
Ardan memutar bola matanya ketika Mariani memintanya berbalik badan. Dengan kesal ditariknya kembali tubuh mungil istrinya. Kemudian dia mendekati pakaian-pakaian yang tergantung itu. Diambilnya satu persatu baju itu. Dress yang sekiranya pas ditubuh calon istrinya.
"Mbak, bungkus semua! Jangan sampai ada yang teringgal." Ucapan Ardan membuat wanita di sampingnya terhenyak kaget. Baju itu sekiranya lebih dari sepuluh potong baju! Mariani mulai panik saat pelayan toko bergerak mendekati Ardan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Eva Rubani
Terima aja rezeki..
2023-01-18
0
mamah teby
si Ani biasanya meli baju di pasar loak hehehe 😂😂😂
2021-04-15
1
Berdo'a saja
masih sungkan
2021-02-06
1