~ Pov Ardan Wijaya~
Sudah berapa hari ini aku minggat dari rumah, lagi-lagi mami belum nyerah juga. Kenapa segitunya sih? Semua perempuan sama aja kan? Cuma mau duit doang. Noh lihat gadis-gadis itu semua pergi begitu aku kasih duit. Huuuhhh.
"Hey, Bro. Tolong dong dikondisikan. Jangan lama-lama numpang di apartemen gue ya". Kevin terlihat frustasi. Dia pasti akan mengomel panjang lebar. "Huh gila ya? Ngapain sih minggat dari rumah segala. Ini lagi cecunguk satu ini, ngapain Lo ngekor Ardan Mulu hah? Gak punya rumah loe ?" Kevin sangat kesal karena nggak cuma aku saja yang minggat ke sini.
"Best friend dong." Dion berkata dengan entengnya.
"Sialan loe pada! Gue nggak mau tau, loe pulang berdua. Kasian tau orang tua nyariin loe pada." Kevin mulai berkacak pinggang. Aku meliriknya sebal.
"Siapa juga yang mau lama-lama di sini? Nih gue beberes mau pulang juga." Aku bersungut-sungut. "Temen macam apa loe ngusir gue segala? Nggak banget deh."
"Eh loe pulang? Ikut donk, di sini ada orang frustasi tuh mulai gila gara-gara diputusin." Dion beranjak dari tempatnya terlihat mulai berkemas, sama sepertiku.
"Eh ******! Gue udah nampung Lo berdua tau. Kenapa malah gue yang dikatain?" Kevin tak mau kalah karna selama satu Minggu ini dia menampung kedua sahabatnya diapartemennya. Apartemen kevin sudah kayak kapal pecah karna dihuni 3 cowok. Aku paham itu, tetapi 'kan aku ini sahabatnya.
"Ya udah, gue cabut dulu ya. Thanks, udah nampung gue." Aku langsung ngeloyor pergi meninggalkan Dion yang masih berkemas.
"Eh bro tunggu." Dion berlari menyusulku.
"Jangan pada balik oke, Bro! Apartemen gue bukan tempat penampungan!" Sekilas terlihat Kevin melemparkan bantalnya.
Sesampainya di rumah setelah mobil memasuki parkiran. Aku melihat mobil mami ada di garasi. Berarti mami masih ada di sini. Fuuuuhh. Kenapa lagi sih? Kenapa belum menyerah?
"Dari mana saja?" Pertanyaan dari mami langsung membuka percakapan kami. Padahal aku ini baru saja sampai.
"Eh mami di sini. Sejak kapan, M?" Aku lihat mami di meja makan. Mungkin sedang menungguku pulang. Sebenarnya aku tidak tega. Sayangnya, aku cukup malas untuk mendengarkan keluhannya karena aku belum menikah.
"Hm. Kenapa gak ke kantor? Kenapa gak hubungi mami? Udah mulai gak sayang ya sama mami?" Mami memojokkanku lagi.
" Mi... bukan begitu. Mana ada Ardan gak sayang Mami? Nih buktinya Ardan udah pulang kan? Lagian mami juga sih kenapa ngeyel banget sih pengen jodohin Ardan. Kan Ardan bukan anak kecil lagi." Karena haus, langsung kusambar minuman mami.
"Nah itu tau bukan anak kecil lagi. Cepetan cari istri biar ada yang jaga kamu. Mami bisa gendong cucu. Gak tau apa kesampaian gak cita-cita mami ini buat gendong cucu sebelum mami mati nanti."
"Uhuk ... uhukkk... " Sialan! Mami mulai lagi. " Aduh, Mi. Nanti Ardan pikirin lagi ya. Jangan ngomongin yang enggak-enggak." Kulihat sosok wanita dihadapanku. Guratan guratan karna usianya yang sudah mulai senja terlihat rapuh. Mungkin memang sudah waktunya bikin mami bahagia. Aku membatin sendu.
"Mami ada satu calon buat kamu. Udah mami pastikan latar belakangnya. Umur kamu udah segitu nggak sembarang gadis juga yang mau sama kamu meskipun kamu punya materi." Mami menjelaskan dengan pelan berbeda sekali dari sebelumnya. Apa aku coba aja ya? "Yah... ini yang terakhir buat kamu. Mami udah nggak ada calon lagi, kalau kamu gak mau yaudah. Mami nggak maksa kamu. Biarin papi mami tenang dengan rasa kesepian karna di rumah utama, cuma ada dua orang yang sudah tua. Bahkan nggak bisa melihat menantu." Raut wajah mami berubah jadi mendung.
"Yaudah, kalau Mami pengen aku bisa secepatnya ketemu dengan gadis pilihan mami ini, Ardan ikut Mami aja. Mami jangan sedih lagi dong." Aku menyerah deh. Bagaimanapun juga, bener apa yang mami bilang. Papi dan mami udah tua semua. Waktunya gue cari pendamping hidup. Yang bisa merawat mami dan papi nanti.
"Yaudah makan ya. Ani, mana makanannya? Anakku mau ikut makan juga." Mami terlihat sedikit bahagia.
Kemudian kulihat seorang pelayan ... baru? Itu menyiapkan makananku. Masih muda juga. Mungkin umurnya masih 23 atau 24 tahunan. Gue lihat sekilas cantik juga. Tubuhnya mungil. Mungkin tipe lelaki umumnya. Ngomong-ngomong mau kerja jadi pelayan? Sejak kapan? Gila! Tahun berapa ini masih mau jadi pelayan? Mengucapkan permisi dan kemudian pergi kembali ke dapur. Pikiranku masih ke arah gadis itu menghilang ada berbagai pertanyaan yang berkecamuk.
"Dia pelayan baru. Di sini kerja dua hari ini. Namanya Mariani. Keponakan Mang Eko. Ini masakan dia, ayo dicoba." Mami menyunggingkan senyuman.
Aku mengernyitkan dahi. Kenapa mami seakan senang dengan gadis itu? Di meja makan ada masakan rumahan. Masakan diakah? Aku memandangi semua menu yang tersedia di atas meja.
"Sayur asem pindang goreng mujair bakar sama ayam panggang ini ada sambal juga. Kamu mau yang mana?" Mami menawariku. Kelihatannya enak.
"Sayurnya, Mi. Sama mujair bakar dong." Mami masih dengan telateb mengambilkan makanan untukku. Mulai kusendokkan ke mulutku. Enak kok. Huuhh sambalnya sepedes ini, perasaan masakan bibi beda nggak gini. Hm, kalau dimasakin kayak gini terus mending makan di rumah aja terus. Batinku.
"Enak kan sambelnya? Ini sambel janda namanya soalnya yang bikin janda." Kata-kata Mami membuatku terbatuk.
"Uhuk... uhukk...uhukkk..." Kaget aku. Aku pun langsung mencari minuman. "Yang bener aja, Mi? Ardan lagi makan sambel ini. Mana ada namanya sambel janda gini, bercanda juga lihat situasi dong. Mami ini aneh-aneh aja ngasih nama sambel." Aku meletakkan gelas yang isinya telah kosong.
"Siapa juga yang bercanda. Ll? Orang emang sambel janda kok. Yang bikin tadi mami panggil kesini buat siapin." mlMami tetap ngeyel nggak mau kalah.
"Di sini gak ada kok yang janda, Mi. Udah deh jangan ngomong yang aneh-aneh. Ayok habisin makanannya. Habis ini Ardan mau beberes mau mandi. Badan gerah." Aku mulai makan lagi.
"Lah yang bikin emang janda, Ardan. Mami nggak bohong kok. Itu tadi si Ani." Mami mengucapkannya dengan wajah yang serius.
Nggak mungkin bercanda juga sekarang. Aku diam. Umurnya berapa? Kok udah janda aja? Nggak kerasa mukaku merah padam, malu karna belum laku sampai sekarang. Bujang tua. Sekelebat bayang permintaan mami untuk mencari istri muncul. Ternyata jika dibandingkan dengannya, aku bukan apa-apa ya. cih. Pikiran tentang tubuh mungil nan molek itu berkeliaran mesum di otak. Ah kenapa juga sih pikiran jorok ini. Ah udah ah lanjut makan.
Selesai makan aku langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri malam semakin larut. Mami juga sudah pamit pulang setelah makan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
cahya sumirat
yang ada dipikran arkan apa ketika tau ani janda ajd berkeliaran gt. hahaa
2023-02-01
0
Anhy Nurani
masih nyimak thor
2021-04-15
1
mamah teby
sambel janda hehehe 😂😂😂
2021-04-15
1