Ani kembali menerawang. Jika seperti ini maka dia dan keluarganya tak akan bisa hidup tenang. Gara-gara dirinya adik lelaki kebanggaan keluargan tak dapat lagi meneruskan kuliahnya. Bagaimanapun juga itu semua adalah awal dari penolakan pinangan tuan muda itu. Mariani merasa harus melakukan sesuatu. Sekarang dia telah memutuskan.
"Ardan, Kamu kenapa, Sayang?" Nico tak habis pikir anak lelakinya kini bertekuk lutut pada seorang wanita. Sekarang, tinggal menunggu waktu saja.
"Pi, dia nggak balik," ujar Ardan dengan mata yang sayu.
"Tenanglah, Nak. Cepat atau lambat dia pasti akan segera mencarimu. Mami dan papi sudah memastikan hal itu." Lagi-lagi Nico tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah.Ardan akan menunggu sedikit lebih lama lagi, Pi. Ardan akan bersabar sedikit lagi. Ardan nggak tau lagi, Pi. Dia bener-bener wanita yang berpendirian yang teguh. Bener-bener nggak mudah dapetin dia, Pi. Padahal aku sudah menjanjikan masa depan yang terjamin untuknya. Sayangnya, dia bukan wanita mata duitan yang selama ini mendekati Ardan. Papi tahu kan maksud Ardan? Dia, satu-satunya wanita idamanku." Ardan terlihat frustasi.
Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu mengusap wajah kasar. Nico sendiri hanya bisa mengusap punggung lebar sang putra tercinta. Mau seperti apa, Ardan telah menjatuhkan pilihannya. Hal itu membuat Nico akan bertindak lebih nekat lagi jika Mariani masih tidak terpengaruh dengan apa yang dia lakukan.
Ani kini telah sampai di depan rumah Ardan. keputusannya sudah bulat. Pak satpam yang sudah tau akan kedatangan Ani dalam kurun waktu beberapa hari lagi pun langsung membukakan pintu gerbang. Selanjutnya BI Inah pun mengantarkan Ani ke tempat majikan perempuannya itu. Ya ... BI Inah tau bahwa Ani akan segera mendatangi rumah keluarga Wijaya.
"Nyonya." Ani membuka suaranya walaupun ketakutan.
"Aku pikir kau tak akan pernah kemari. Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah memutuskan kembali keputusanmu baik-baik? " Greetha tersenyum puas.
Karena pada akhirnya wanita itu telah kalah. Ya, benteng pertahanannya kalah karena dia tak punya materi untuk melawan. Walaupun dia memiliki pendirian yang teguh sekalipun. Namun, di sisi hatinya yang lain Greetha memuji ketangguhan hati Mariani. Jujur, dia semakin menyukai sang calon menantu.
"Saya berubah pikiran, Nyonya. Saya menerima lamaran Tuan Ardan tapi dengan satu syarat." Mariani menatap manik mata biru milik Greetha.
"Syarat apa? Katakanlah." Greetha menghembuskan napas.
Wanita itu melirik Bi Inah sekilas. BI Inah terlihat menyunggingkan senyumnya. Mariani menghela nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Tolong Nyonya tetap memberikan adik lelaki saya beasiswa. Hanya itu, Nyonya." Mariani telah pasrah.
"Tentu saja. Bukan hanya adikmu yang akan kami tanggung seluruh kebutuhannya. Akan tetapi juga anakmu. Aku akan sangat senang jika dia ikut kau bawa dalam rumah ini. Tapi jika tidak pun tidak masalah, karna aku yakin pasti sulit untuk menerima kami sebagai keluarga barumu." Greetha tersenyum lembut.
Perangainya berubah dalam sekejap. Padahal tadinya ia pikir Mariani akan memberikan syarat yang lumayan berat. Nyatanya hanya sebuah penawaran biasa saja. Pihak kampus juga sebenarnya tak bisa menghentikan beasiswa seseorang secara sepihak. Terlebih Greetha sudah melihat sendiri prestasi Brianto yang nyaris sempurna. Tidak mungkin juga pihak kampus akan melepaskan Brianto dengan mudah begitu saja.
Ardan yang mendengar bahwa Ani mendatangi rumahnya berlari terburu-buru. Pintu ruang kerja Ardan dia buka paksa sendiri. Napas Ardan terlihat memburu. Dan dia mendapati bahwa sosok gadis itu benar-benar ada di sana.
"Ardan, siapkan pernikahanmu segera! Kita akan melangsungkan akad nikah satu minggu lagi." Greetha terlihat bangkit.
"Hah?" Ardan yang baru saja datang tak mengerti maksud perkataan maminya.
Papi yang menyadari itu kemudian berbicara, " Ani sudah setuju untuk menikah denganmu, Ardan. Lalu Mami memintamu untuk segera menyiapkan pernikahanmu segera."
"Satu minggu lagi? Bukankah terlalu cepat, Nyonya?" Mariani memberanikan diri bertanya.
Namun setelah bertatap muka dengan majikan perempuannya itu dia kembali menundukkan kepalanya. Apalagi setelah dia mengingat bahwa Ardan berada di ruangan yang sama.
"Benarkah? Kamu berubah pikiran?" Ardan bingung. Terakhir kali dia bertemu dengan wanita itu dia masih tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Satu minggu sudah lebih dari cukup untuk bersiap-siap, Ani. Ingatlah bahwa aku hanya wanita tua yang menginginkan kebahagiaan untuk anaknya. Sama sepertimu yang menginginkan kebahagian keluarganya. Terlebih anaknya." Greetha menohok Mariani dengan kata-kata yang tajam.
"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu apa yang perlu saya siapkan, Nyonya?" tanya Mariani.
"Tidak perlu. Kamu cukup memberikan cinta dan kasih sayang untuk anakku. Biar pernikahan ini aku serahkan kepada Ardan. Mulai sekarang Pak Surya akan mengikuti dan menjaga kamu. Selama kamu berada di rumah keluargamu," tutur Greetha.
"Baiklah, Nyonya. Saya permisi." Wanita itu kemudian berlalu. Dia seakan ingin pergi saja sejauh mungkin. Namun apa daya. Dia hanyalah wanita desa yang tak berdaya.
"BI Inah antar dia ke tempat Pak Surya. Katakan seperti yang aku katakan. Bahwa dia harus menemani Ani ke rumahnya. Sebelum hari pernikahan itu berlangsung dia ditugaskan untuk menjaga Ani. Calon menantu keluarga Wijaya." Greetha menegaskan posisi Mariani.
"Baik, Nyonya." BI Inah membungkukkan badannya hormat kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu bersama Mariani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
cahya sumirat
uang adalah segalanaya d dunia ini ,
2023-02-03
0
hìķàwäþî
cinta ditolak, fulus brtindak
2021-06-03
1
Berdo'a saja
kok dihp ku jelas ya
2021-02-06
2