"Ayo lakukan dengan cepat setelah itu, aku akan kembali ke kamarku," ucap Ani dengan ekspresi datar.
Ardan yang tadi hanya bercanda saja seketika ia diam. Setelah melihat bahwa yang dilakukan oleh perempuan yang kini menjadi istri sahnya itu benar-benar diluar nalar. Bagaimana mungkin dia memasang wajah datar tanpa ekspresi apapun setelah menyuruh pria itu untuk menidurinya? Sekilas menyiratkan bahwa hanya itu yang diinginkan Ardan setelah menikah.
" Apa maksudmu?" tanya Ardan keheranan.
"Tentu saja melayanimu. Memangnya apa lagi?" Suara Mariani terdengar tak enak di telinga Ardan.
"Jadi, maksudmu yang ada di pikiranku saat ini hanya untuk ini?"
"Ya." Ani menjawab dengan mantap. Memang apa lagi yang diinginkan lelaki seperti Ardan yang menikahinya karena memaksa? Batinnya dalam
"Ck." Ardan berdecak. "Begitu kotornya kamu nilai aku?" Ardan mulai meninggikan suaranya. "Apa kamu pikir aku menikahimu hanya untuk memuaskanku di ranjang ha?"
Ani terdiam. Ia sangat paham apa yang diinginkan pria kaya seperti Ardan. Bukankah mantan suaminya juga begitu? Hanya memikirkan ************ saja! Bahkan tak segan menyakiti hati dan pikiran istrinya sekalipun sang istri tengah hamil!
"Kamu pikir hanya untuk itu aku menikahimu? Heh, diluar sana banyak perempuan yang lebih cantik darimu yang bisa kuajak tidur setiap hari! Aku tak mengerti bagaimana kamu bisa menilai aku sekotor itu?" Ardan menggelengkan kepala tak percaya.
"Bukankah kau yang memaksaku untuk menikah denganmu? Jadi sekarang kuserahkan tubuhku untukmu malam ini." Ani beranjak dari tempatnya.
Ardan belum sempat menjawab. Kemudian Mariani mencium bibir Ardan. Sangat dalam. Ardan yang kaget dengan ulah Ani menyambut bibir mungil nan ranum milik Ani. Salah ... Ada yang salah. Tangan Ani mulai nakal menyentuh area sensitivnya. Seketika Ardan mulai mencoba melepaskan ciuman Ani. Akan tetapi Ani semakin nakal menggerayangi setiap jengkal tubuh Ardan tanpa melepaskan ciuman itu.
Kaos Ardan pun telah tersingkap ke atas, kini tangan Ani mulai membuka celana ardan. Ardan yang menyadari ada yang salah dengan Ani. Langsung mendorongnya sekuat tenaga. Ani terjungkal di ranjang.
"Apa yang kau lakukan?" Ardan telah berdiri dengan sempurna.
"Sudah kubilang, aku melayanimu!" Ani tersenyum sinis. Kemudian Ani mencoba kembali mendekati Ardan.
"Sudah cukup!" Ardan menepis tangan Mariani.
"Ayolah, Tuan. Bukankah Anda juga menginginkan ini. Anda memaksa untuk menikah dengan saya juga untuk tubuh ini? Anda telah membayar mahal kan?"
"Kubilang cukup!" Suara Ardan cukup menggelegar memenuhi seisi kamar.
"Apa yang ada di otakmu hah? Apa kau pikir aku sama seperti lelaki lain yang kau jumpai diluar sana? Apa kau pikir aku menikahimu karna aku menginginkan tubuhmu hah? Begitu kotornyakah pikiranmu tentang aku?" Ardan tak habis pikir bagaimana mungkin istri yang dia cintai berpikiran buruk tentangnya. Terlihat Ani meremas sprei kasur mencoba menenangkan kembali pikirannya.
"Hahaha. Tuan Muda, hidup Anda dan saya sangat berbeda lalu untuk apa kau menikahiku? Aku hanyalah perempuan desa yang miskin. Bahkan aku mempunyai anak dari lelaki lain. Kau kan yang memaksaku menikah denganmu? Jadi, untuk apa kalau tujuanmu bukan untuk menjadikan aku penghangat ranjangmu? Sekarang aku sedang melaksanakan tugasku. Kenapa kau hentikan? Nikmatilah permainanku, Tuanku." Ani bangkit dan kembali merapatkan tubuhnya kepada Ardan.
Wanita itupun mencium bibir lelaki di hadapannya yang notabenenya masih tersulut emosi. Ani tetap melancarkan aksinya walau target di depannya masih terdiam. Setelah beberapa saat Ardan melepaskan Ani kembali.
"Sudah hentikan." Ardan menghentikan aksi wanitanya. "Aku beri tahu kamu satu hal, aku menikahimu karna aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, saat aku pertama kali bertemu denganmu. Aku menyukai masakanmu. Alangkah bahagianya jika aku memiliki istri yang begitu pandai memasak." Ardan menghentikan bicaranya sebentar kemudian dia menghela napas dalam-dalam. Tampak Mariani masih saja datar. Akan tetapi di mata itu, Ardan tahu. Jika Mariani tengah menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.
"Tak perduli kau sudah memiliki anak dengan siapapun. Aku akan tetap mencintaimu. Tak perduli juga seperti apa kamu, hatiku tetap memilihmu. Lantas, apa yang salah jika aku mencintaimu? Aku memang memiliki segalanya tapi apa kamu pikir aku sering bermain perempuan diluaran sana? Tidak. Aku tak pernah menyentuh perempuan manapun. Kau lihat. Usiaku sudah memasuki 38 tahun. Apa kamu pikir aku bisa mendapatkan gadis dengan usiaku segini. Mereka yang aku temui semua menginginkan uangku. Bukan diriku."
Ardan menghentikan kata-katanya. Perempuan di hadapannya kini mulai meneteskan air mata. Namun tak ada suara isak disana. Mungkin dia berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh.
"Sebenarnya tadi aku hanya menggodamu saja. Namun, tak kusangka kau bisa dengan sangat berani memberikan tubuhmu." Ardan menatap lekat Mariani.
"Bagaimanapun kau pasti menginginkannya bukan?" Kini Ani mulai membuka bajunya yang sudah tak berkancing itu.
Namun Ardan menghentikannya. Kemudian Ardan mengancingkan kancing-kancing itu satu persatu. Ani hanya diam menatap sang pemilik tangan yang tidak berhenti mengancingkan kancingnya.
"Dengar ... Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi." Ardan mengecup puncak ubun-ubun Ani. "Aku akan meminta jatahku, ketika hatimu sudah menginginkanku. Ketika hati kita telah terpaut, entah kapanpun itu. Aku akan selalu menunggumu. Menunggumu untuk mampu memberikan seluruh sendi kehidupanmu padaku. Bersandar padaku. Dan hanya melihatku."
Ani kini mulai terisak. "Hiks.....hiks....hikss...hikss Aku tak pantas untukmu, Tuan. Hiks kenapa anda begitu mencintaiku. Hiks."
Ardan membenamkan kepala istrinya ke dada bidangnya. Mencoba menenangkan wanitanya itu. Tangannya juga mengusap pucuk kepala sang istri. Ardan tahu, wanitanya itu pasti memiliki alasan lain yang sangat kuat. Ardan bisa melihatnya dengan jelas. Seperti apa tubuh sang istri yang gemetar ketakutan.
"Jangan menangis. Nggak malu sama anakmu? Hm." Ardan melepaskan pelukannya. Direngkuhnya kedua pipi istrinya. Kini kedua pasang mata itu terpaut.
"Aku akan menyentuhmu ketika hatimu telah menerimaku. Sekarang cobalah untuk menghargai diri sendiri. Karena siapapun pantas untuk mencintai dan dicintai." Pria itu mengecup kening istrinya dengan sangat dalam.
Ardan tersenyum kemudian melenggang pergi meninggalkan Ani di kamarnya. Mungkin malam ini dia akan tidur di ruang kerjanya saja. Toh daripada semakin panjang urusannya jika dia tetap di kamar. Mengingat istrinya masih dilanda gelisah dan rasa takut.
"Apa maksudmu dengan menghargai diriku sendiri?" Gumam Ani.
Sembari mengingat tingkah bodohnya yang memaksa Ardan untuk bercinta. Ya benar. Dia tak ada bedanya dengan ******-****** diluar sana yang mencoba menggoda Ardan.
"Apa benar semua orang pantas untuk mencintai dan dicintai? Apakah aku juga pantas?" Ani masih bergumam kecil.
Wanita itu merebahkan tubuhnya di ranjang. Rambutnya tergerai berantakan dan Mariani tak mempedulikan hal itu. Pikirannya tertuju kepada pria yang telah sah menjadi suaminya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
cahya sumirat
trauma akan pernikahan ani yg pertama masih menyelimuti dirinya, sehingga ani berfikir semua laki" kaya jahat... cuma menginginkn tubuh wanita ,dikira wanita miskin dpt dbeli dg uang , pdhlardan benar" mncintaimu ani. sudahlah ani rhoma begitu mncintaimu😂🤣
2023-02-05
0
hìķàwäþî
ani trauma oleh bg roma.. ditinggalkn Begadang utk Judi..
2021-06-03
2
Musniwati Elikibasmahulette
kisah yg sangat menyentuh
2021-05-27
2