Malam semakin larut. Ardan belum bisa memejamkan matanya,sekalipun pikiran tentang pembicaraan sore hari dengan maminya. Ia masih penasaran dengan pelayan barunya itu. Wajah oke. Body gitar spanyol. Kulit kuning Langsat mulus lagi. Gimana sudah jadi janda? Suami gila macam apa yang bisa segoblok itu ceraiin istrinya? Fix goblok yang hakiki. Begitu pikiran Ardan berperang.
Entah ada hasrat apa yang membuatnya segitu penasarannya dengan gadis pelayan di rumahnya. Memang di rumahnya ada banyak pelayan, namun itupun sudah lama ikut kerja dirumah utama. Kemudian saat Ardan membutuhkan pelayan untuk membantunya di rumah baru, sebagian dia ambil dari pelayan maminya itu. Jadi jelas sebagian sudah berumur paruh baya.
"Kenapa gue ngrasa sekarang, gue jomblo ngenes ya tiap malam cuma bisa peluk guling melulu? Sialan!" Ardan menggulingkan badannya ke sana kemari di atas ranjang.
"Ngomong-ngomong siapa calon terakhir dari mami ya? Jangan samai deh kayak dulu-dulu." Ardan menatap langit-langit kamar.
"Gue memag sudah seharusnya mencari istri. Mami papi sudah waktunya punya menantu. Umur juga kenapa cepet banget sih jalannya? Lagian susah tau cari yang bisa nerima gue sebagai diri gue sendiri, bukan sebagai pewaris keluarga wijaya."
Drrrtt...ddrrtt ... Benda pipih itu bergetar. Ardan segera menyambar benda itu. Dilihatnya siapa yang tengah malam menelponnya. Kevin.
"Halo? " Terdengar suara dari ujung sebrang sana.
" Hmmmm," sahut Ardan yang sebenarnya malas meladeninya.
"Loe tidur ?"
" Hmmm."
" Oh loe bisa tidur juga ya."
"Sialan! Bengek, kenapa malam-malam nelpon ? Penting kagak? Gue ngantuk." Ardan bersungut-sungut kesal.
"Alah palingan juga kagak ada yang loe peluk. Loe gak pengen gabung sini? Gue lagi di club' nya si Dion ni."
"Enggak deh gue tidur aja, besok mo ngantor nemenin bokap. Awas ya kalo loe besok gak masuk kerja, gue potong tu gaji loe." Ardan mematikan telponnya. Sebelum mendengar ocehan Kevin yang jelas seperti emak-emak itu.
Malam mulai beranjak pelan. Ardan pun sebisa mungkin memejamkan matanya untuk tidur karena besok harus menemui papinya yang jelas bakal mengamuk karena tingkah kekanakannya itu.
Suasana pagi di rumah itu berjalan seperti biasa. Namun kali ini ada yang menggelitik hati kecil Ardan untuk sarapan di rumah. Biasanya ia tak mau sarapan di rumah. Karena siapa lagi? Kalau bukan karna daun muda yang mulai sedikit menarik perhatiannya itu.
"Pagi, Bi Inah... mau dong sarapan di rumah." Ardan membuka percakapan di dapur.
Matanya mencari kearah di mana daun muda itu berada. Tampilan sederhana dengan polesan make up tipis menyapu kulitnya yang indah, membuatnya mencolok dari pelayan yang lainnya.
"Baik, Tuan Muda. Tapi, kalau mendadak begini BI Inah cuma bisa bikin nasi goreng aja. Waktunya mepet, Tuan Muda." BI Inah sedikit kaget dengan sikap Ardan karna biasanya dia memang tak sarapan di rumah.
"Biar dia aja Bi yang masak." Ardan menunjuk Mariani yang menunduk. "Kemarin aku udah coba masakannya kok. Enak, sesuai selera lidah Ardan. Hm siapa namamu ?" Pertanyaan Ardan sontak membuat semua mata menoleh ke arah yang dituju Ardan. Sosok daun muda yang membuatnya penasaran dan terus penasaran. Gadis itu membatu. Kemudian dengan tangan gemetar menunjuk wajahnya sendiri.
"Dia kaget? Oh astaga! Jantungku!" Ardan membatin gemas.
"Hm, iya. Nama loe siapa ? Biar enak juga gue manggilnya." Lagi, Ardan menunjuk Mariani.
"Mariani, Tuan Muda." Wanita itu masih menundukkan kepala.
"Oke bikinin gue nasi goreng ya, gue tunggu di ruang makan. Santai aja, lagian gue nggak ada jadwal penting kok." Ardan tersenyum agar pelayan baru itu tak secanggung itu.
Karena mungkin dia pelayan baru, untuk itu sikapnya agak kaku dan terlalu menaruh hormat takut membuat kesalahan. Padahal Ardan dan mami papinya selalu baik dalam memperlakukan pelayan mereka. Maka dari itu tak sedikit juga yang betah bekerja di keluarga Wijaya.
"Baik, Tuan Muda." Wanita itu membungkuk kemudian berlalu mengerjakan tugas membuat sarapan tuan mudanya itu.
"Sepertinya lidah tuan muda cocok dengan masakanmu, Ani. Kalau begitu setiap hari sepertinya tugas memasak, aku serahkan ke kamu. Karana nggak biasanya memang tuan muda mau sarapan di rumah. Keluarga ini baik, jadi jangan terlalu kaku menghadapi tuan muda. Bersikap hormat seperti biasanya saja. Jangan terlalu kaku. Kamu mengerti?" Memang hanya Bi Inah yang paling peka dengan situasi apapun.
"Baik saya mengerti."
Kamu gadis yang baik Ani. Jika kelak perasaanku ini benar mungkin kamu akan menjadi nyonya muda di keluarga ini. Dan sepertinya, tuan muda sedikit menaruh perhatian padamu. Semuanya tentu saja karena mata tidak dapat berbohong. Bi Inah membatin seraya mengamati gerak-gerik Mariani.
Akhirnya nasi goreng seafood tersaji. Dengan taburan udang yang memang kesukaan Ardan. Dia tersenyum puas.
Hmmm dia tau apa yang gue suka. Sepertinya mulai malam ini gue bakal makan di rumah deh. Enak.
Ardan sarapan dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya. Karena daun muda itu tau apa yang dia suka. Padahal, Ani hanya iseng menambahkan sedikit sentuhan akhir supaya nasi goreng itu terlihat lebih menarik.
Sesampainya di kantor Ardan langsung menemui direktur utama perusahaan Wijaya itu. Karena Ardan tahu mungkin saja papinya itu bakal ngamuk besar lantaran dia "Minggat" dari rumah selama satu minggu. Didampingi sekretaris pribadinya. Hermansyah. Selama menuju ruang direktur Ardan melangkahkan kakinya dengan senyum yang terus ia sungging membuktikan bahwa dia sedang dalam keadaan baik dan bahagia. Tentu saja karena daun muda itu.
Para karyawanpun menundukkan kepala dengan hormat ketika Ardan melewatinya, akan tetapi sungguh diluar dugaan, seperti es Kutub Utara yang kini sedang mencair begitulah situasi yang digambarkan para karyawannya. Sosok Ardan yang dingin dan cuek itu kini tengah merekahkan senyumnya.
Sekretaris Herman membukakan pintu untuk Ardan. Terlihat di dalam ruangan itu ada sosok yang sangat ia cintai. Sosok yang dari kecil menjadi pahlawan baginya.
" Papi." Ardan membatu tentu saja. Bakal ada beruang ngamuk nih.
"Kemarilah.... Anakku. Kenapa kamu kekanakan sekali hah? Mau bikin papi diusir mamimu karna kamu nggak pulang-pulang?" Suara Nico terdengar ramah.
Ardan melotot. Sikap papi biasanya tak seperti ini. Bakal mengamuk membuang apa saja di depannya, saat tau anak semata wayangnya ngambek dan minggat dari rumah setelah acara "Kencan buta" yang diatur maminya.
Memang hubungan ayah dan anak itu sangat baik. Namun satu hal yang membuat mereka terkadang adu argumen tentang " Ardan yang belum kawin " tentu saja.
"Kok diam? Kenapa? Belum cukup mainnya?" Papi menambahkan.
"Aneh ini aneh. Sumpah. Kenapa papi gak marah ? " Ardan menatap sekretarisnya meminta jawaban. Sekretaris Herman bergeming. Ia tetap berdiri tegap mengabaikan Ardan yang bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 476 Episodes
Comments
Hayatunatun
baru baca semoga bagus critanya..
2022-11-28
0
Black Shadhow Queen 💎💎💎💎
cie cie kesem sem daun muda ardan😂😂😂
2021-05-06
1
Nur'aini
janda lebih menggoda ya ardaann 😂
2021-03-24
1