Alena menatap lekat wajah kakek. Dia juga memegang tangan kakek. "Kakek, aku mengerti tentang perasaan kakek. Aku akan bersamanya tapi hanya sampai batas kesabaran. Aku bukan malaikat kek. Aku hanya manusia biasa." ucap Alena.
"Kakek mengerti. Kakek juga tau Shaka memang orang yang keras. Tapi dia mempunyai alasan dibalik sikap kerasnya." ucap Kakek.
"Apa yang kakek inginkan sekarang katakanlah." ucap Alena yang kembali menangis mengingat umur kakek yang tak akan lama lagi.
"Kakek hanya ingin melihat keluarga kakek rukun dan damai." ucap Kakek lirih.
"Mereka sudah rukun kek. Kakek, bolehkah aku dan Shaka tinggal disini?" tanya Alena.
Kakek begitu bahagia mendengar penuturan Alena. Dia tentu sangat senang bisa bersama cucunya yang sangat dia cintai. "Tentu saja Alena. Kakek ingin melihat Shaka setiap hari." ucap kakek. Alena tersenyum.
2 jam kemudian, Shaka kembali dari meetingnya dengan Sean. Dia melihat wajah Alena yang berbeda. Dia seperti habis menangis. Shaka terlihat cemas. Dia takut kalau Alena telah menceritakan kekejaman yang dulu dia lakukan pada Alena.
"Ada apa ini kakek?" tanya Shaka.
"Tidak ada, Alena bilang dia ingin tinggal disini untuk beberapa waktu. Dia merasa nyaman berada disini." ucap kakek.
"Apa? Tinggal disini?" tanya Shaka heran.
"Iya, tidak apa-apa. Kalian cucuku. Rumah ini juga milik kalian." ucap kakek.
Shaka menatap Alena yang tengah tersenyum kecil. "Baiklah, aku akan menyuruh pelayan mengantarkan pakaian dan keperluan kita. Aku akan menelpon Ibu untuk memberitahukan ini." ucap Shaka. Dia langsung mengambil ponsel dan menelpon ibunya lalu pelayan rumahnya, yaitu Erika.
Alena masih bersama kakek. Dia kembali menangis saat melihat kakek. Kakek menghapus air matanya dan menggeleng memberi isyarat agar jangan menangis atau Shaka akan tau.
1 jam kemudian, Erika datang dengan membawa pakaian dan perlengkapan kerja baik Alena maupun Shaka dan menyusunnya dikamar yang akan mereka tempati. Karena mereka tinggal dirumah kakek, mereka harus sekamar. Namun Alena tetap waspada agar Shaka tidak macam-macam.
Pada malam harinya.
Setelah makan malam, Alena dan Shaka tidur diranjang yang sama. Ada bantal guling yang membatasi keduanya.
Shaka membuka pembicaraan. "Alena, kenapa kau tiba-tiba ingin pindah kesini?" tanya Shaka.
Namun bukan jawaban yang Shaka dengar, melainkan isak tangis dari Alena. Shaka bangun dari posisi tidurnya. Dia melihat Alena sedang menangis. "Alena, apa yang terjadi?" tanya Shaka cemas.
Alena mendudukkan dirinya. "Apa kau sangat menyayangi kakek?" tanya Alena sambil menghapus air matanya.
"Tentu saja aku sangat menyayanginya. Tapi apa hubungannya dengan tangisanmu?" tanya Shaka semakin bingung.
Alena masih tetap menangis. Shaka mencoba menyentuh bahunya perlahan. "Alena katakanlah. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Shaka.
Alena menghentikan tangisannya. Dia menatap Shaka dengan penuh kesedihan. "Kakek. Kakeeeeek." Alena kembali menangis dan itu membuat Shaka semakin cemas.
Shaka terdiam cukup lama lalu membuka suara. "Apa kakek mengatakan padamu perihal penyakitnya?"
Alena menghentikan tangisannya. Dia terkejut dengan pertanyaan Shaka. "Bagaimana....." Alena menggantung kalimatnya.
"Apa kau kira aku bodoh? Apa yang terjadi pada kakek tentu aku mengetahuinya. Sejak dia mengumumkan tentang penyatuan keluargaku dan Fredi, aku menyadari ada yang janggal." ucap Shaka.
"Lalu kenapa kau tidak menemani kakek disaat-saat terkahirnya?" tanya Alena.
"Aku ingin memberi kesempatan untuk Fredi terlebih dahulu. Aku hidup dengan limpahan kasih sayang dan perhatian kakek semasa kecil. Sedangkan Fredi tidak. Aku ingin kakek bahagia bisa memeluk cucu yang satunya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatiannya semasa kecil." ucap Shaka lirih.
Alena tidak menduga pemikiran Shaka tentang Fredi. Ternyata orang sepertinya mengerti akan arti peduli meski dia sangat membenci Fredi.
"Dan kenapa kau tidak memberi tahuku atau Ibu?" tanya Alena.
"Apa yang akan terjadi jika aku memberitahu Ibu dan kau. Lihatlah kau sekarang, menangis tiada henti dan membuat kakek semakin bersedih. Aku ingin disisa umur kakek, orang-orang disekitarnya tidak menunjukkan raut kesedihan di wajah mereka." Shaka menatap Alena dengan tatapan sedih.
"Karena itu aku minta, berhentilah menangis dan buatlah kakek senang dengan keceriaanmu. Aku senang sekali kau mengajakku tinggal disini. Jika aku yang tiba-tiba berkata bahwa aku tinggal disini, pasti kakek akan curiga jika aku sudah tau." ucap Shaka dengan wajah sedih.
Alena terdiam, bulir air mata kembali membasahi pipinya. "Aku tidak bisa bersandiwara." ucapnya.
"Jika kau tidak bisa bersandiwara, hiburlah kakek. Jika kau tidak bisa tertawa, maka buatlah kakek tertawa. Cutilah untuk sementara waktu. Karena kakek tidak akan memperbolehkanku cuti dari kantor." ujar Shaka.
Alena mengangguk. "Maaf." ucap Shaka sambil menghapus air mata Alena. Alena menatap Shaka dengan tatapan serius. Apa ini? Dia bisa selembut ini? Tidak, aku tau dia begini karena suasana hatinya sedang sedih. Batin Alena.
"Ya sudah kalau begitu tidurlah. Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam." ucap Shaka yang langsung merebahkan diri dan menarik selimut lalu tidur membelakangi Alena.
Alena melihat Shaka membelakanginya. Semoga saja apa yang dia katakan benar. Batin Alena. Dia merebahkan diri kw ranjang dan menarik selimut lalu membelakangi Shaka juga. Shaka menoleh dan tersenyum melihat Alena tidur dengan membelakanginya.
Kau bahkan terlihat sangat takut jika aku meminta hakku. Batin Shaka.
Dia kembali meluruskan kepalanya dan mencoba untuk tertidur. Namun air matanya tiba-tiba menetes membasahi pelipis matanya. Sejak tadi Shaka memang menahan tangis. Dia membayangkan saat kakek pergi dari dunia ini. Kakek yang selama ini dia anggap sebagai pengganti ayahnya harus pergi menyusul ayahnya. Tidak ada lagi yang akan memarahi atau menegurnya saat dia melakukan kesalahan.
Jika Alena saja yang bukan darah kakek bisa bersedih, maka Shaka jauh lebih terluka. Apalagi dia tidak bisa menumpahkan kesedihan didepan siapapun apalagi Alena. Maka air matanya selalu bersembunyi didepan semua orang.
Shaka menghapus air matanya. Dia mencoba memejamkan matanya dan akhirnya terlelap.
Semantara itu, Alena masih membuka matanya. Dia tidak bisa menangis dengan baik. Aku mendengar isak tangismu Shaka. Tapi kau terlalu angkuh untuk menunjukkan air matamu. Batin Alena.
Ternyata sejak tadi dia mendengar isak tangis Shaka. Bahkan dia sempat menoleh saat Shaka menghapus air matanya. Ada rasa kasihan yang menyelinap dihatinya, namun rasa sakit hatinya juga masih mengisi relung hatinya kala mengingat perlakuan buruk Shaka selama ini. Entahlah, dia merasa bingung harus bagaimana. Disatu sisi dia kasihan pada Shaka. Tapi disisi lain, Shaka terlalu kejam untuk dikasihani. Alena mencoba kembali menutup matanya hingga akhirnya benar-benar terlelap dalam tidurnya. Baik Shaka maupun Alena akhirnya sama-sama tertidur dengan lelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
ismawati widjaya
kw rnjang
2022-10-02
1
ismawati widjaya
kw apa
2022-10-02
1
Shepty Ani
oke shaka aku memaafkanmu tp berusahalah dan berjuanglah untuk kebahagiaan alena bahagiakan dia
2022-09-06
1