Arjuna melangkah mendekati Alena dan Shaka. Matanya menatap serius kepada sepasang suami istri itu. "Apakah harus aku yang datang terlebih dahulu baru Kau akan mengundangku? Sepertinya kau sudah melupakan Kakekmu."
"Kami tidak pernah melupakan kakek. Sebenarnya kami ingin mengunjungi kakek tapi belakangan Alena kurang enak badan." ucap Shaka berbohong. Alena hanya menunduk saja. Rasanya berhadapan dengan Shaka atau kakeknya sama saja. Keduanya mempunyai aura yang menakutkan. Kini Alena tau darah siapa yang menuruni sifat Shaka.
"Kakek, ayo kita ke ruang makan." ajak Shaka.
Tanpa menjawab, Kakek melangkahkan kakinya ke ruang makan. Alena dan Shaka ikut menyusulnya.
Makan malam pun dimulai. Sepanjang makan, kakek terus saja memperhatikan mereka.
"Alena." Panggil kakek.
Alena terkesiap dan langsung menghentikan aktivitas makannya. "Iya Kek." jawab Alena yang kini jantungnya berdegup kencang karena suara kakek Shaka yang memanggilnya sungguh menakutkan. Nada suara yang berat dan terdengar begitu datar.
"Berapa umurmu?" tanya kakek.
"U...Umurku 24 tahun kek." jawab Alena gugup. Bahkan dia tidak berani menatap kakek yang bertampang dingin dan terlihat arogan. Tentu saja, Shaka sendiri pun tidak berkutik saat ada kakek.
"Apa pendidikan terkahirmu?"
Lagi-lagi pertanyaan yang biasa namun menjadi beban bagi Alena karena harus terus menjawab. "Aku lulusan Fashion Design kek." jawab Alena.
"Kenapa tidak membuka usaha butik? Shaka mempunyai banyak uang. Kau bisa meminta modal darinya. Sayang sekali jika keahlianmu tidak tersalurkan"
Habis sudah, Alena kehabisan alasan. Memangnya apa yang harus dia katakan? Mana mungkin dia bilang kalau Shaka sudah memberikannya pekerjaan, yaitu sebagai pelayan rumah ini.
"Untuk apa kek? Aku tidak ingin istriku bekerja. Kasihan dia. Lebih baik dia di rumah saja menikmati semua fasilitas dan uangku, bukan begitu Alena?" Shaka membelai lembut rambut Alena. Seketika jantung Alena hampir copot. Belaian itu terasa seperti tangan yang siap menjambaknya dan menyeretnya.
"I..Iya suamiku." Alena semakin gugup. Dia sangat tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Dia harus bersandiwara seolah dia adalah istri yang sangat dicintai oleh Shaka.
"Aku bertanya padanya bukan padamu." ucap kakek ketus.
Shaka langsung terdiam.
"Shaka benar kek. Lebih baik aku dirumah saja." jawab Alena.
"Tidak, aku ingin kau membuka usaha butik. Aku tidak suka melihat orang yang menyia-nyiakan pendidikannya." tutur kakek Shaka. Sejak dulu dia memang menanamkan kedisiplinan terhadap anak dan cucunya. Baik laki-laki dan perempuan, dia tidak membedakannya. Jika mereka punya kemampuan, maka harus dikembangkan.
Alena terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa. Pelan-pelan dia melirik Shaka yang terlihat bingung dengan ucapan kakeknya.
"Bagaimana Alena?" tanya kakek lagi. Beruntung kakek tidak marah karena harus bertanya dua kali.
"Aku....ikut kata Suamiku saja kek." jawab Alena. Dia berharap jawabannya tidak salah.
"Shaka?" Mata kakek kini beralih kepada Shaka. Shaka terlihat semakin bingung. Entah apa yang ada dipikirannya. Mungkin saja dia takut kalau orang akan tau bahwa Alena adalah istrinya.
"Jika itu keinginan kakek, aku setuju." jawab Shaka terpaksa. Memangnya alasan apalagi yang bisa dia gunakan? Bisa-bisa kakek curiga bahwa dia sudah menyiksa Alena selama ini.
"Bagus, mulai besok persiapkan semuanya." ucap kakek kepada Shaka.
Shaka hanya mengangguk pelan. Sungguh, kakeknya memang tidak bisa di bantah. Mereka pun melanjutkan malam malam tanpa berbicara apapun lagi. Setelah makan malam selesai, kakek pun pulang. Shaka dan Alena mengantarnya sampai depan pintu sampai mobilnya menghilang dalam pandangan.
Shaka menghembuskan nafas lega. Dia berbalik dan melangkah menuju ruang keluarga. Dia memanggil Alena dengan isyarat tangan. Alena melangkah dan berdiri dihadapan Shaka. "Duduk." Perintah Shaka.
Alena langsung duduk berhadapan dengan Shaka. Wajah Shaka tampak kesal. "Pasti kau senang dengan keputusan kakek bukan?" Shaka tersenyum miring.
"Tidak Tuan, aku hanya menuruti permintaan kakek. Jika Tuan tidak mengizinkan, maka aku tidak akan...."
"Siapa yang bilang kalau kau boleh menjawab kata-kataku!!!" Bentak Shaka.
Alena langsung terdiam. Matanya menunjukkan ketakutan yang amat besar. Lagi-lagi bentakan Shaka mampu menggetarkan seluruh tubuhnya. Kini tangannya tampak bergetar. Shaka bisa melihat itu dengan jelas. Alena terus tertunduk ketakutan.
Takutlah. Sampai kau menjadi gila karena rasa takutmu wanita pembawa sial. Batin Shaka.
"Kau pasti menginginkan ini kan? Dengan begitu kau tidak akan menjadi pelayan rumah ini lagi."
Alena hanya terdiam dia tidak ingin mendengar bentakan dari Shaka lagi.
"Jawab!!!!" Suara bentakan Shaka kembali menggema dalam ruangan itu.
Alena tampak menangis, kini dia tidak bisa membendung tangisan ketakutannya. Shaka yang geram melihatnya langsung mendekatinya dan menjambak rambut Alena ke belakang. Alena terlihat semakin ketakutan. "Ampuni aku Tuan. Aku tidak menginginkan pekerjaan itu." jawab Alena yang tengah menahan sakit akibat jambakan itu.
Erika yang melihat dari kejauhan hanya bisa menatap sedih melihat Alena yang kembali disakiti oleh Shaka. Ingin rasanya dia memberi racun di minuman Shaka agar tidak ada lagi kekejaman untuk Alena. Tapi itu sama saja dia membunuh dirinya sendiri dan juga orang lain.
Shaka melepaskan jambakan itu dan mendorong kepala Alena ke sembarang arah hingga Alena jatuh ke lantai. "Pergilah, besok persiapkan semuanya. Mulai dari gedung dan semua keperluan untuk membuka butik itu. Banyak gedung yang aku punya dikota ini. Kau hanya tinggal memilih yang mana. Erika akan membantumu." tutur Shaka.
Alena mengangguk pelan. "Baik Tuan."
Shaka kembali menarik rambut Alena yang masih duduk dilantai. "Tapi ingat, kau tidak boleh mengatakan kepada siapapun kalau kau adalah istriku. Jika sampai ada yang tau...Kau akan tau akibatnya." Shaka melepaskan jambakannya dengan kasar dan meninggalkan Alena yang kini tengah berderai air mata.
"Nona, mari saya bantu ke kamar." Erika mengulurkan tangannya dan tersenyum lembut. Alena menatapnya dengan haru. Sepertinya hanya Erika yang mengerti rasa sakitnya. Itu jelas, Erika adalah kepala pelayan yang selangkah lebih dekat dengan Shaka sehingga dia berani berbicara dengan Alena.
Alena menerima uluran tangan Erika. Dia pun segera berdiri dengan bantuan Erika. Kini wajah cantik nan anggun sudah berubah menjadi kacau dan berantakan. Bahkan Alena masih terisak. Sesampainya dikamar Alena, Erika mendudukkan Alena diranjang lalu ikut duduk disampingnya.
"Nona harus sabar. Saya minta maaf tidak bisa berbuat apa-apa saat Tuan Shaka menyiksa Nona. Tapi saya juga wanita. Saya mengerti rasa sakit Nona. Sekarang segarkan diri Nona lalu istirahat." ujar Erika.
Alena mengangguk dan tersenyum. "Aku pasti sangat terlihat menyedihkan. Terima kasih Erika kau memang gadis yang baik." Alena menghapus sisa air matanya.
Erika mengangguk dan tersenyum. Dia mohon diri dan keluar dari kamar Alena yang sempit dan panas itu. Alena menyegarkan dirinya lalu mencoba untuk tidur. Rasanya malam ini sungguh berat. Bahkan hal yang sama sekali bukan salahnya pun bisa menjadi alasan Shaka untuk menyiksanya. Shaka sang Tuan Muda kejam yang adalah suaminya. Yang seharusnya melindungi dan menyayanginya malah menyiksanya dengan berbagai tuduhan yang menyudutkan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
tinggalin aja alena biar tau rasa
2024-11-22
0
Harlina Mami
tunggu nnti Shaka x pasti bucin abiis
2023-08-21
0
Vivia
lanjuuuutiiin kk
2022-05-23
0