Waktu terus berlalu, 3 bulan sudah butik Alena beroperasi. Kini Lea Boutique semakin besar dan terkenal dimana-mana. Itu karena keluarga Sean Armadja telah merekomendasikan butik Alena pada semua rekan bisnisnya. Alasannya karena mereka sangat puas dengan hasil rancangan Alena.
Bahkan Sean merekomendasikannya pada teman Shaka, suami Alena sendiri. Mereka sedang makan siang di sebuah restoran setelah membahas masalah pekerjaan.
"Hei, jika kau ingin memesan baju untuk acara khusus. Aku sarankan pergilah ke butik langganan istriku. Rancangannya sungguh luar biasa. Istriku sampai berdecak kagum karenanya." ucap Sean disela suapannya.
"Oh ya? Butik yang mana?" tanya Shaka.
"Lea Boutique di jl. xxx." jawab Sean.
"Uhukk uhukkk...." Shaka terbatuk-batuk.
"Hei pelan-pelan." ucap Sean.
Shaka mengambil sebuah gelas berisi air lalu meminumnya. "Tunggu! Apa katamu? Lea Boutique?" Shaka masih tidak percaya.
"Ya, pemiliknya bernama Alena. Menurut istriku dia sangat cantik dan berkelas. Sangat cocok dengamu. Cobalah kesana dan lihat sendiri. Jika kau suka dekati saja dia." ujar Sean.
Shaka melongo. Bagaimana bisa dia mendekati Alena, sedangkan Alena adalah istrinya sendiri. "Kau bergurau. Lupakanlah dan cari pembahasan lain" ucap Shaka yang melanjutkan makannya.
"Kau ini. Padahal dia wanita karir yang cerdas dan sukses. Aku yakin jika dia punya suami pasti suaminy akan bangga memiliki istri yang hebat sepertinya. Ah aku jadi memuji wanita lain." Sean tertawa.
"Kenapa kau memujinya? Apa kau menyukainya?" Tatapan penuh selidik.
"Apa? Yang benar saja kau ini. Aku mempunyai bidadari surga diruma kenapa aku harus melirik wanita lain?" Sean menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah melihatmu memuji wanita lain." ucap Shaka.
"Itu karena aku benar-benar mengakui kejeniusannya saat merancang baju-baju yang bagus dan berkelas. Dan aku memujinya atas sepengetahuan istriku. Kau tau? Bahkan sekarang istriku sudah berteman dengannya. Mereka biasa menghabiskan waktu saat Alena tidak sibuk." tutur Sean.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya." ucap Shaka.
"Sayang sekali. Aku hanya mengingatkan saja, jika kau tidak segera bertindak, dia akan diambil orang." Sean kembali menggelengkan kepalanya.
Shaka terbatuk-batuk lagi setelah mendengar penuturan Sean. "Apa katamu? Diambil orang?"
"Tentu saja? Siapa yang tidak mau dengan wanita karir yang cantik dan cerdas. Istriku bilang, Alena sering mendapat kiriman bunga dari penggemar. Bahkan beberapa pengusaha muda terang-terangan datang dan menyatakan cinta padanya. Istriku sering menjadi saksinya." tukas Sean.
Mata Shaka membulat. Tangannya mengepal keras. "Lalu apakah ada yang dia terima?" tanya Shaka.
"Tidak, dia selalu menolak mereka. Aku juga heran, padahal yang menemuinya adalah para pengusaha tampan dan sukses, tapi dia sama sekali tidak tertarik." jawab Sean.
"Sudahlah untuk apa membahasnya. Ayo lanjutkan makanannya." ujar Shaka.
Sean tersenyum dan geleng-geleng kepala. Shaka tidak peduli, tapi sejak tadi terus bertanya. Itu terlihat lucu bagi Sean untuk seorang Shaka yang bahkan sikapnya lebih dingin dari Sean.
Setelah menghabiskan makan siang, mereka pun membubarkan diri. Sean kembali ke kantornya dan Shaka pergi ke arah yang berlawanan dari kantornya.
Sesampainya ditempat tujuannya, Shaka langsung masuk dengan raut wajah kesal. "Mana bos kalian?" tanya Shaka pada semua karyawan tempat itu.
Semua karyawan yang ada disitu takut dengan Shaka yang terlihat sangat marah. "A...Ada di ruangannya Tuan." jawab salah satu karyawan.
Shaka langsung menuju ruangan yang ditunjuk karyawan tadi, yaitu ruangan Alena.
"Bukankah dia Shaka Prasetya?"
"Iya benar, kenapa dia kemari? Dia terlihat sangat marah."
"Apa Nona Alena punya kesalahan padanya?"
"Sudahlah jangan berisik nanti terdengar."
Shaka sudah sampai di depan ruangan Alena. Namun seseorang yang duduk tak jauh dari posisinya, datang menghampirinya. "Tuan, apakah sudah ada janji dengan Nona Alena?"
Shaka yang mendapat pertanyaan semacam itu langsung tersulut emosi. Tidak pernah ada satupun orang yang berani berkata seperti itu padanya. "Jika kau masih ingin hidup menyingkirlah." Shaka mendorong tubuh Gia agar menjauh darinya.
Shaka menggedor pintu ruangan Alena. Gia mencoba menghentikan Shaka namun Shaka kembali mendorongnya.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah Alena. Dia terkejut dengan kedatangan Shaka.
"Nona maafkan saya, Tuan ini memaksa ingin bertermu Nona. Saya sudah...."
"Tidak apa-apa Gia. Kamu boleh kembali ke mejamu." ucap Alena tersenyum lembut.
Gia kembali ke mejanya namun perasaannya masih was-was karena Shaka datang dalam keadaan emosi.
Alena mempersilahkan Shaka untuk masuk.
"Ada apa Tuan kemari? Apakah ada yang Tuan perlukan?" tanya Alena.
"Wah hebat sekali kau ya berani mengatakan itu padaku?" Shaka tersenyum sinis.
"Maaf Tuan, tapi tidak biasanya anda kemari." jawab Alena.
Shaka mendekat dan mencengkram lengan Alena kuat sampai dia meringis kesakitan. "Apa kau tau sekarang kau terlihat sombong." bisik Shaka.
"Aww, sakit Tuan. Aku mohon lepaskan aku." Alena memegangi tangan Shaka dan mencoba melepas cengkramannya.
Shaka medorong tubuh Alena hingga tubuhnya menyentuh dinding ruangan itu. Dia mencengkram dagu Alena. "Dengar ya, kau bisa bebas seperti sekarang semua karena kakek. Kalau bukan karenanya pasti sekarang kau sudah seperti sampah di rumahku." Mata Shaka menatap tajam.
"Tuan jika aku salah maafkanlah A..."
"Diam!!!" Suara bentakan Shaka menggema dalam ruangan itu. Beruntung ruangan Alena kedap suara.
Alena terdiam dan memicingkan matanya. Shaka mendekatkan wajahnya lalu berbisik. "Mulai sekarang katakan pada semua orang bahwa kau sudah memiliki pasangan tapi jangan sebut namaku. Jika aku melihat kau bersama laki-laki lain, habislah kau." Shaka melepaskan cengkramannya.
Alena menghembuskan nafas panjang. "Baik Tuan." jawab Alena.
"Panggil namaku."
"Baik Shaka." ucap Alena.
"Dengar baik-baik, aku melakukan ini bukan karena cemburu. Hindarkanlah pikiranmu tentang itu. Jangan pernah bermimpi. Aku hanya tidak suka jika setiap orang membicarkan dan memuji bakatmu. Jangan bermimpi kau bisa menyaingiku." Shaka merapikan jasnya dan melangkah keluar dari ruangan Alena.
Semua karyawan yang melihatnya langsung menghindar.
"Wajahnya sudah tidak semarah tadi."
"Mungkin dia datang untuk membahas masalah harga dan sudah deal jadi tidak marah lagi."
"Oh begitu."
Sementara itu.
Alena merebahkan dirinya ke sofa. Dia memegangi kepalanya. Tiba-tiba ada panggilan masuk. Alena hafal nomor itu. Itu adala nomor Hans, duda kaya yang selalu mengiriminya bunga. Alena menjawab paggilan itu. "Maaf jangan ganggu saya. Saya sudah punya pasangan." Alena mematikan panggilannya. Terlihat jelas ini bukan salahnya. Yang mendatanginy adalah mereka, sedangkan dia tidak pernah merespon.
Alena kembali melajutkan pekerjaannya. Masih banyak pesanan yang hendak dia selesaikan. Dia mencoba melupakan masalah kedatangan Shaka. Karena yang terpenting sekarang adalah fokus dengan karirnya yang saat ini sedang meroket.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Ai waty
semakin seru
2022-05-07
0
。.。:∞♡*♥
🅱🅺🅽 🅲🅴🅼🅱🆄🆁🆄 🆃🅴🆁🆄🆂 🅰🅿🅰 🅳🅾🅽🅺 ᥬ😒᭄
2022-04-27
1
。.。:∞♡*♥
ᥬ😏᭄
2022-04-27
0