2 bulan telah berlalu. Itu artinya sejak sebulan butik Alena beroperasi. Butik milik Alena diberi nama 'Lea Boutique'. Lea adalah nama ibu kandung Alena.
Usaha Alena terbilang langsung berkembang pesat. Pengunjung begitu takjub melihat semua rancangan Alena yang sangat kekinian dan anti mainstream. Bahkan sejak pembukaan hari pertama sudah banyak yang memesan baju dari butik itu.
Alena sedang bekerja di ruangannya.
Tokkk Tokkk Tokkk. Terdengar suara ketukan pintu. "Masuk." jawab Alena.
Seorang wanita yang merupakan asistennya bernama Gia masuk ke ruangannya.
"Ada apa Gia?" tanya Alena.
"Nona diluar ada pengunjung yang ingin bertemu dengan Nona." ucap Gia.
"Baiklah, kau boleh pergi." Alena berdiri dan keluar ruangannya untuk menemui pengunjung itu.
Saat dia sudah sampai tepat didepan pengunjung itu matanya terlihat membulat dan mulutnya menganga seperti orang yang benar-benar terkejut.
Ternyata yang datang adalah anggota keluarga Armadja yaitu Viana, istri Sean Armadja bersama anak-anaknya.
"Nona Viana, si...silakan duduk." ucap Alena.
"Terima kasih." Viana dan kedua anaknya duduk di sebuah sofa yang ada diruang tamu butik itu.
Alena terlihat sangat gugup. Butiknya baru saja didatangi oleh orang hebat. Dia berdecak kagum melihat istri Sean Armadja yang begitu cantik dan langsing meski sudah mempunyai 2 anak.
"Apa kamu punya rancangan model terbaru yang belum pernah dirancang untuk siapapun? Aku ingin memesan untukku, suami, dan kedua anakku ini" ucap Viana to the point.
"Ada Nona, sebentar ya." Alena segera beranjak dari kursinya dan melangkah menuju ruangannya untuk mengambil beberapa gambar hasil desainnya.
"Ini Nona." Alena menyerahkan kertas-kertas yang berisi gambar hasil desainnya.
Viana melihat satu persatu gambar itu dengan serius.
Jika keluarga Armadja memakai jasa butikku, maka butikku akan semakin besar. Ya Allah apa ini mimpi. Batin Alena.
"Ini, aku mau yang ini." Viana menunjuk sebuah rancangan yang menurutnya bagus.
"Baiklah Nona, mari menuju ruang pengukuran. Bagaimana dengan Tuan Sean, Nona?" tanya Alena.
"Suamiku akan datang sebentar lagi. Sekarang ukur saja kami terlebih dahulu." ucap Viana.
"Baik Nona, silakan ikut saya." Alena mempersilahkan Viana menuju ruang pengukuran. Disana mereka du ukur satu persatu.
Setelah selesai mereka kembali ke ruang tamu dengan teh yang di sediakan karyawan Alena. Beruntung Sevina dan Reyza, anak Viana sangat baik dan anteng.
"Nona, kapan baju-baju itu akan digunakan?" tanya Alena.
"3 minggu lagi. Bisa kan?" tanya Viana.
"Tentu Nona, kami akan mempersiapkannya secepat mungkin." jawab Alena.
"Kamu hebat bisa mempunyai butik yang terkenal dalam sebulan. Karena itu aku juga penasaran dengan butik ini dan ternyata kata-kata mereka benar, rancanganmu semuanya bagus." Puji Viana.
Wajah Alena langsung memerah mendapat pujian seperti itu. Apalagi yang memuji adalah Viana Armadja. Dia tidak menyangka hari ini akan datang.
"Terima kasih Nona, anda terlalu berlebihan. Saya tidak sehebat itu." Alena merendahkan dirinya.
"Saya menyukai orang hebat yang rendah hati." Kata-kata Viana mengobrak-abrik jiwa Alena. Ingin rasanya dia lompat-lompat sangking girangnya.
"Oh ya siapa namamu?" tanya Viana.
"Nama saya Alena Nona." jawab Alena.
"Sayang."
Suara seorang laki-laki tidak jauh dari mereka. Dialah Sean Armadja.
"Papaaaa." Kedua anaknya berlari menghambur ke pelukan Sean. Sean memeluk mereka dan menciumnya secara bergantian.
Alena tersenyum melihat pemandangan keluarga bahagia Armadja.
"Kenapa Papa lama sekali." gerutu Sevina sambil memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya sayang. Tadi macet dijalan." ucap Sean lembut. Seperti Viana, Sevina juga memiliki sifat yang mudah baikan kalau sedang marah.
"Sayang bagaimana? Sudah ketemu yang cocok?" Sean berjalan mendekat bersama kedua anak mereka.
"Sudah sayang. Sekarang tinggal kamu saja yang belum di ukur." jawab Viana.
"Baiklah ukur aku." Perintah Sean.
"Sayang, ruang pengukuran ada disana." Viana menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka.
"Oh, anak-anak kalian disini dulu bersama Mama ya, Papa mau ukur baju." ucap Sean pada kedua anaknya.
Sevina mengangguk, sedangkan Reyza tetap kekeh ingin ikut. "Ya sudah Reyza ikut Papa. Kak Sevina disini dulu ya." bujuk Sean.
Sevina mengangguk dan tersenyum lalu kembali mendekati ibunya.
"Sevina sangat lucu ya Nona. Begitu manis dan menggemaskan." ucap Alena menahan gemas. Ingin rasanya dia mencubit pipi tembam Sevina.
"Dia putri kebanggan Sean." ucap Viana.
"Keluarga Nona memang keluarga bahagia." puji Alena lagi.
"Hahaha cobalah berkeluarga, dan kamu akan merasakan kebahagiaan didalamnya." ujar Viana.
Alena tersenyum getir.
Untuk apa mencoba? Aku sudah berkeluarga. Menangnya kebahagiaan apa yang ada didalamnya? Hanya penderitaan saja yang ada. Batin Alena.
Tak lama kemudian Sean muncul lalu mereka pun pulang. Alena menatap mobil Sean dan Viana telah menjauh dari butiknya. Hari ini dia mendapat pelanggan istimewa. Dia akan melakukan yang terbaik untuk kepuasan keluarga Armadja. Karena jika mereka puas, maka butiknya akan semakin maju.
Pukul 3 sore Alena bersiap-siap untuk pulang.
Sesampainya dirumah, dia sudah disambut oleh Shaka yang sedang berkacak pinggang.
"Berani sekali kau baru pulang jam segini. Perjanjian awal adalah jam 2 bukan jam 3. Kau sudah terlambat 1 jam."
"Maaf Tuan, hanya saja tadi ada tamu penting yang memesan baju dibutik." Alena terlihat gugup.
"Apa? Tamu penting? Sombong sekali kau. Memangnya sepenting apa tamumu? Butik murahan seperti itu mana mungkin mempunyai tamu penting." Shaka tersenyum miring. Tatapannya penuh dengan hinaan untuk Alena.
"Iya Tuan benar." jawab Alena mengalah. Rasanya berdebat dengan Shaka akan menimbulkan masalah baru. Dia bersyukur, sejak kedatangan kakek dia tidak lagi menjadi pelayan. Shaka tidak mau kalau kakeknya tiba-tiba datang dan memergoki Alena menjadi pelayan. Bisa-bisa dia akan kehilangan seluruh warisan dalam sekejab.
"Pergilah. Aku muak melihat wajahmu."
Alena pergi ke kamarnya yang sudah berpindah jadi dilantai atas tepatnya disebelah kamar utama milik Shaka. Itu juga alasan agar kakeknya tidak curiga masalah hubungan mereka diranjang.
Sesampainya dikamar, Alena merebahkan dirinya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang ber-AC dan lebar. Kini dia tidak perlu kepanasan saat tidur. Alena melirik arlojinya.
"Sebentar lagi Sholat Ashar, aku sebaiknya membersihkan diri dulu." Alena mengambil handuk dan membersihkan dirinya lalu melaksanakan sholat Ashar. Dia selalu memanjatkan doa untuk Alm ibunya dan juga Nadia. Dia juga berdoa agar diberi kekuatan dalam menghadapi sikap kasar Shaka. Jika perceraian tidak berdampak buruk bagi perusahaan ayahnya, tentu dia akan meminta cerai atau bahkan melarikan diri dari rumah yang baginya sudah seperti neraka. Namun tidak bisa, semua kembali kepada dirinya. Jika dia ingin cerai, maka kehancuran akan melanda nasib keluarganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
nobita
perceraian mungkin jalan yg terbaik bagimu Alena.. minta pisah aja... daripada batinmu tersiksa..
2023-07-09
0
Vivia
lanjuuuutin thor
2022-05-23
0
Lisa Sasmiati
paling tidak Alena sudah bukan pembantu walaupun tidak dianggap sebagai istri oleh shaka
2022-04-25
0