3 hari telah berlalu. 2 hari lagi seharusnya menjadi hari bahagia untuk Shaka dan Nadia. Namun takdir telah berkatan lain. Pernikahan indah itu tidak akan terjadi.
Di rumah keluarga Wijaya.
Shaka dan ibunya tengah duduk di sofa ruang tamu itu. Selama 3 hari ini Shaka dan ibunya membantu acara tahlilan di rumah itu.
Rika menatap wajah gadis yang tengah duduk disamping Alfian. Dia adalah Alena.
"Saya minta maaf karena ini waktu yang tidak tepat untuk saya membahas ini. Namun saya minta agar pernikahan ini tetap berlanjut." ucap Rika.
Semua yang ada disitu terkejut termasuk Shaka yang tidak tahu menahu bahwa ibunya akan berkata seperti itu.
"Maaf Ny. Rika, tapi Nadia telah tiada. Pernikahan itu tidak mungkin terjadi." Alfian mencoba memberi pengertian kepada Rika.
"Saya tahu. Tapi bukankah Alena putri anda juga." ucap Rika.
Alfian, Sarah dan Shaka langsung menoleh ke arah Alena. Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan Rika.
"Apa? Tidak Ny. Rika, Alena tidak boleh menikah dengan Shaka." Sarah mencoba menolak permintaan Rika.
"Kenapa Nyonya? Alena juga anak keluarga Wijaya. Saya ingin Alena menjadi istri Shaka. Saya mengerti duka Nyonya, tapi saya juga menginginkan putra saya menikah dengan keluarga Wijaya sebagai perjanjian kerja sama perusahaan kita. Jika tidak ada pernikahan maka kerja sama akan saya batalkan." ucapan Rika sedikit mengancam.
Sarah dan Alfian terdiam.
"Maaf Paman, Bibi saya tinggal sebentar." Shaka menarik tangan ibunya dan menjauh dari ruang tamu itu.
"Bu, apa maksud Ibu? Kenapa aku harus menikah dengan gadis itu. Aku tidak mencintainya Bu." Shaka menatap penuh permohonan.
"Ya sudah ayo pulang dan lihat seluruh harta warisan akan jatuh ke tangan Fredi adik tirimu."
Mata Rika berkaca-kaca. Rasanya dadanya begitu sesak mengingat bagaimana suaminya berselingkuh dan menceraikannya demi wanita lain. Bahkan setelah suaminya meninggal, istri keduanya malah berusaha merebut harta peninggalan suaminya. Ayah mertua Rika memberi pilihan. Jika Shaka ingin menjadi pewaris maka dia harus menikah terlebih dahulu.
Shaka menghela nafas berat. Dia ingin sekali menolak tapi jika itu terjadi maka dia akan kehilangan hartanya yang akan jatuh ke tangan adik tirinya. Beruntung, kakeknya memberinya solusi untuk menjadi pewaris. Sehingga sang adik hanya akan mendapat sebagian kecil warisan Alm Ayahnya karena dulu Alm Ayahnya dan selingkuhannya hanya menikah secara agama saja. Tidak secara hukum karena larangan sang kakek.
"Baiklah Bu. Tapi tidak ada resepsi." tawar Shaka.
"Kenapa Nak." tanya Airin.
"Rencana awal Aku dan Nadia akan melangsungkan resepsi 3 bulan lagi saat ulang tahunnya. Tapi aku tidak menikah dengan Nadia Bu. Aku tidak mau menghancurkan Nadia. Lagi pula undangan belum disebar jadi pernikahan ini tidak perlu resepsi" jawab Shaka.
"Baiklah." jawab Rika.
Shaka dan Rika kembali mendatangi mereka.
"Bagaimana Tn. Alfian?" tanya Rika.
Alfian menghela nafas panjang. "Baiklah kami setuju." jawab Alfian.
Sarah hanya diam dan melirik Alena dengan tatapan sinis. Alena hanya menunduk sedih.
Rika tersenyum. "Terima kasih, kita akan langsungkan pernikahan seminggu lagi setelah mereka mendaftarkan pernikahan ke KUA. Saya yang akan mengurusnya." ucap Rika.
Mereka mengangguk. Sedangkan Alena masih tertunduk sedih. Shaka dan Rika pun berpamitan untuk pulang.
***
Seminggu telah berlalu. Hari penikahan pun tiba. Hari ini Shaka dan Alena akan menikah. Pernikahan ini hanya dihadiri keluarga kedua mempelai saja. Alena terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, sedangkan Shaka terlihat gagah dengan setelan jas berwarna senada dengan Alena. Mereka menikah di rumah yang akan ditempati Shaka dan Alena.
Penghulu memulai acara pernikahan itu. Alfian pun menikahkan mereka. Dengan satu tarikan nafas, Shaka mengucapkan kalimat ijab qobul dengan lancar. Dan para saksi berkata "SAH".
Mereka resmi menjadi suami istri. Semua keluarga mengucapkan selamat kepada mereka termasuk kakek Shaka. Dia memberikan warisan Alm. Ayah Shaka kepadanya sebagai hadiah.
"Kau berhasil, jagalah aset keluarga kita." ucap Kakek Shaka.
Semua telah berpamitan termasuk para orang tua kedua mempelai.
Tinggallah Shaka dan Alena. Pelayan dan pengawal rumah mereka akan datang besok.
Di rumah besar ini kehidupan baru akan dimulai. Rumah ini akan menjadi saksi bisu kehidupan pernikahan mereka. Entah itu baik atau buruk tergantung mereka yang menjalani.
Bugg,,,Shaka menghempaskan tubuh Alena ke atas ranjang.
"Dengar ya, benar kata Ny. Sarah bahwa kau itu pembawa sial. Karenamu Nadia meninggal dengan cara tragis. Jika saja kau tidak pergi dengannya pasti sekarang Nadia masih hidup. Bukan, jika saja kau tidak lahir ke dunia ini kau tidak akan membawa kesialan dalam hidup kami.!!!" Sorot mata Shaka menunjukkan dendam yang sangat membara.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Saat itu..."
"Sudahlah hentikan ocehanmu. Dengar ya, jangan pernah sekalipun kau bermimpi untuk menjadi istriku. Karena seorang istri Shaka Prasetya haruslah wanita sempurna seperti Nadia, mengerti!"
Alena mengangguk.
Shaka pergi meninggalkan Alena yang berderai air mata.
"Jika kau tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan, apa kau akan tetap mencintai Nadia? Tapi karena janjiku padanya, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya." Alena tersenyum getir. Dia menghapus air matanya dan segera ke kamar mandi untuk menyegarkan diri karena sebentar lagi hari akan gelap.
Selesai membersihkan diri, Alena segera turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam untuk Shaka.
Setelah makan malam siap, Alena mencari keberadaan Shaka. Alena melihat Shaka sedang duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Raut wajah Shaka tampak sangat sedih. Alena berjalan mendekatinya. Saat sudah berada di belakang Shaka, Alena menangkap sebuah foto dalam ponsel Shaka. Ternyata sedari tadi Shaka terus memandangi foto Nadia. Pantas raut wajahnya sangat sedih. Ternyata dia masih merindukan Nadia.
"Suamiku ayo makan." ucap Alena.
Shaka langsung menoleh dan seketika ekspresi wajahnya berubah. Ekspresi yang semula sedih berubah menjadi marah.
"Berani sekali kau memanggilku begitu. Panggilan itu harusnya hanya untuk Nadia. Memangnya kau siapa ha? Panggil aku Tuan!!!" Suara bentakan Shaka memenuhi ruangan itu.
Alena terkejut. Tak disangka Shaka yang sering dia temui saat datang kerumah untuk menemui Nadia ternyata se-arogan ini. Padahal saat bersama Nadia dulu Shaka terlihat ramah dan lembut. Sekarang sepertinya Shaka telah menunjukkan sikap aslinya. Mungkin karena dia sangat mencintai Nadia sehingga dulu dia berubah menjadi orang yang hangat dan lembut.
"Maafkan aku Tuan." ucap Alena dengan suara pelan.
"Minggir, aku tidak sudih memakan masakanmu." Shaka pergi keluar rumahnya. Dia mencari restoran untuk makan malam.
Alena terisak mendapat perlakuan seperti itu dari Shaka. Dia pergi ke ruang makan dan memakan makanannya. Setelah itu dia menunggu Shaka pulang. Dia duduk di ruang tamu. Karena lelah dan terlalu lama menunggu, akhirnya dia tertidur di sofa ruang tamu itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
aduhai geramnya ini om Shaka lagi buta butanya emang nyebelin banget bjir🗿
2024-11-23
0
Mariana Frutty
✅✔️
2023-01-29
0
Putri Sera
alah nanti pas Alena pergi dia nyariin sampai rela melakukan apa pun yg di perintah Alena asal Alena mau kembali sama dia
2022-11-13
0