Seminggu kemudian, Alena sudah sembuh dengan luka di wajah dan tubuhnya. Erika memberikan obat penghilang bekas luka yang dia pesan dari dokter terbaik agar warna kulit wajah dan leher Alena tetap seperti dulu. Dan itu berarti Alena harus kembali menjadi pelayan rumah itu.
Siang itu, di sebuah restoran. Shaka sedang meeting bersama Sean Armadja yang juga merupakan temannya sejak mereka bekerja sama.
"Bagaimana kabar Sevina dan Reyza? Aku hanya melihatnya di televisi." tanya Shaka setelah pembicaraan tentang pekerjaan telah usai.
"Baik, Viana menjaga mereka dengan baik." jawab Sean.
"Kau beruntung." Shaka menyunggihkan senyumannya.
"Semua tidak mudah, bahkan awalnya aku sangat membencinya. Tapi lama-kelamaan kami saling mencintai." tutur Sean yang sesekali tersenyum. Sepertinya dia mengingat saat-saat bersama dengan istrinya.
"Kenapa kau bisa mencintainya?" tanya Shaka.
"Dia sangat baik, Bahkan aku pernah berhutang nyawa padanya." jawab Sean.
"Sekarang sangat sulit menemukan wanita seperti itu." Shaka tersenyum getir kala mengingat Nadia yang kini tak bersamanya lagi.
"Kau benar. Aku dan Papaku sangat beruntung memiliki istri yang mempunyai hati mulia."
Shaka terdiam. Dia kembali mengingat kenyataan bahwa keberuntungannya sudah hilang karena Nadia sudah pergi selamanya.
"Aku turut berduka atas kepergian Alm Nadia." Sean menatap serius.
"Sudah lah, apa aku tampak menyedihkan?" Shaka tertawa.
"Aku bisa melihat bahwa kau sangat merindukannya." balas Sean.
"Jika kau sulit jatuh cinta maka kau juga akan sulit untuk melupakan." ucap Shaka.
"Kau benar. Tapi kau harus bangkit. Sekeras apapun kau berusaha, dia tidak akan kembali lagi." Sean berusaha menghibur Shaka meskipun dia tidak tau bahwa Shaka telah menikah dengan adik tiri Nadia.
Shaka hanya tersenyum. Mungkin dia bisa perlahan melupakan kesedihannya, namun kehadiran Alena dirumahnya membuatnya tidak bisa melupakan hari buruk itu. Setiap dia melihat Alena ada rasa sesak didadanya. Rasa sakit hati yang mendalam. Bahkan dia berpikir kenapa tidak Alena saja yang ditelan buaya. Kenapa harus Nadia.
"Sudahlah. Lewatkan momen menyedihkan ini." Shaka bangkit dari duduknya dan membenarkan jasnya.
Sean juga berdiri dan mengambil berkas-berkasnya. "Lain waktu datanglah makan malam ke rumah kami." tawar Sean.
"Tentu saja." Shaka menjabat tangan Sean.
"Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu." ucap Sean yang di balas dengan anggukan dan senyuman Shaka.
"Ayo Jesika." ajak Shaka kepada Jesika yang sejak tadi menunggu didalam mobil saat Shaka mengobrol bersama Sean.
"Baik Tuan." jawab Jesika.
Supir pun melajukan mobil itu.
Diperjalanan.
Shaka dan Jesika melihat-lihat berkas hasil meeting tadi.
Sebuah dering hp membuyarkan konsentrasi Shaka. Dia berdecak kesal. Dia mengambil Hp yang disimpan di saku jasnya. Ternyata itu panggilan dari kakeknya. Shaka langsung mengangkatnya.
"Halo Kek." jawab Shaka.
"Dimana kau sekarang?"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju lokasi meeting kek. Ada apa?" tanya Shaka.
"Siapkan makan malam untuk menyambutku."
"Oh. Tunggu! Apa?" Shaka terkejut dengan pernyataan Kakeknya yang ingin makan malam di rumahnya.
"Aku akan sampai jam 7 malam."
Telepon mati. Wajah Shaka berubah pias. Dia menjadi panik. Bisa gawat kalau kakeknya tau bahwa dia menjadikan Alena sebagai pelayan. Pasti dia akan mengambil kembali aset yang sudah dia berikan karena di semua asetnya masih tertera nama sang kakek. Semua akan menjadi miliknya seutuhnya ketika kakeknya telah tiada.
Jesika heran melihat perubahan wajah Shaka setelah menerima panggilan dari kakeknya.
"Ada apa Tuan?" tanya Jesika.
"Batalkan meeting selanjutnya. Aku harus pulang." jawab Shaka.
"Baik Tuan." Jesika langsung menelpon sang client untuk pembatalan meeting hari ini. Sang client tidak mempermasalahkannya karena sama saja masuk ke jurang jika mencari masalah dengan Shaka yang mempunyai perusahaan besar dengan berbagai cabang di dalam dan luar Negeri.
Shaka menyuruh Jesika kembali ke kantor dengan mobil taxi karena dia sangat terburu-buru untuk mempersiapkan segalanya terlebih lagi Alena.
Sesampainya dirumah, dia langsung memasuki rumahnya dan memanggil semua pelayannya.
Semua pelayan berbaris dan mendengarkan pengumuman penting dari Shaka.
"Malam ini Kakekku akan datang. Persiapkan makan malam sebaik mungkin."
"Baik Tuan." Mereka menjawab dengan serempak lalu membubarkan diri.
"Erika, panggil wanita itu." Perintah Shaka. Dia mendudukkan dirinya ke sofa ruang tamu itu.
Tak lama kemudian, Erika kembali bersama Alena. Alena tampak ketakutan. Dia berpikir kalau dia dipanggil, berarti ada masalah.
"Dengar, malam ini kakekku akan datang. Jadi aku mau kau bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa disini. Jawab hanya ketika kau ditanya dan jangan katakan tentang perlakuanku selama ini." tutur Shaka. "Erika, dandani dia malam ini." perintah Shaka.
"Bolehkan Nona Alena melakukan perawatan terlebih dahulu Tuan?" tanya Jesika.
"Terserah yang penting jangan sampai membuat Kakek curiga." ucap Shaka yang berlalu pergi.
Erika menyuruh 2 orang pelayan untuk melayani Alena melakukan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki mengingat selama ini Alena bekerja dan tidak merawat tubuhnya dengan rutin. Perawatannya sangat lama hingga memakan waktu sampai sore.
Setelah perawatan selesai, Erika memilihkan gaun untuk Alena pakai nanti malam. Sebelumnya dia sudah memesan beberapa gaun dari butik terkenal. Pilihan jatuh pada gaun warna merah yang juga merupakan warna kesukaan Shaka. Erika sengaja memilihkan warna itu agar Shaka tertarik pada Alena dan kekejaman yang dilihatnya selama ini lenyap dan berubah jadi cinta.
Selesai dengan gaun, Alena pun didandani. Alena yang tak pernah berdandan sejak dulu pun merasa risih dengan polesan-polesan diwajahnya.
"Erika, jangan tebal-tebal ya. Aku tidak mau seperti memakai topeng." ucap Alena.
"Iya Nona, kita akan membuatnya tampak senatural dan secantik mungkin." jawab Erika yang sejak tadi memandori dua pelayan yang sedang mendandani Alena.
Setelah selesai dengan riasan wajah, Erika memilihkan high heels untuk Alena namun yang tidak terlalu tinggi karen Alena takut jatuh.
Selesai dengan semuanya Erika pun menuntun Alena turun dengan tangga.
"Erika kenapa kita tidak gunakan lift saja? Kalau terpeleset dan jatuh kebawah bagaimana?" Alena tampak cemas.
"Nona, berhentilah berpikiran buruk agar hal itu tidak terjadi. Nona akan terlihat lebih anggun dan mempesona jika muncul dari atas sini." Erika menuntun Alena meneruskan langkahnya.
Shaka sedang menunggu dibawah. Sesekali dia melihat arlojinya yang hampir menunjukkan pukul tujuh dan Alena belum turun juga. Namun tak lama kemudian dia mendengar derap langkah high heels menuruni anak tangga.
Shaka berbalik dan melihat ke arah atas tangga untuk memarahi Alena yang lama. Namun seketika rasa kesalnya berubah menjadi takjub kala melihat Alena yang begitu cantik dan anggun dengan gaun merah yang merupakan warna kesukaannya. Riasan wajahnya yang terlihat begitu natural memamerkan bibirnya yang merah merekah, hidung mancung dan mata yang indah.
"Tuan." ucap Alena.
"Tidak, selama ada kakek, kau harus memanggilku 'Suamiku'." tutur Shaka.
"Baik Tuan, eh Suamiku." jawab Alena.
"Bagus, sekarang berdiri disampingku karena kakek akan segera datang."
Alena langsung berdiri disamping Shaka untuk menyambut sang kakek. Tak lama kemudian pintu utama dibuka oleh pengawal dan terlihatlah seorang pria tua yang berperawakan tinggi dan tampak berwibawah dengan setelan jas hitam pekat. Dia adalah Arjuna Prasetya, kakek Shaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Yasni Nellu
sepertinya shaka mulai tertarik sama alena...walau sedikit.
2022-07-04
0
Lisa Sasmiati
Erika sangat baik sama Alena 😮😍 Shaka munafik 😠🤨
2022-04-25
0
Neli Astini
kurang gereget kejamnya. Cuba seperti penjara cinta sang mafia
2022-02-28
0