Shaka baru pulang. Dia membuka pintu dan melangkah memasuki rumahnya. Matanya menyorot sebuah pemandangan yang membuatnya sakit mata. Dia melihat Alena tertidur di sofa ruang tamunya. Shaka melirik arlojinya. Ternyata sudah tengah malam.
"Sepertinya wanita ini menungguku. Cih sangat memuakkan," dengus Shaka. Dia berjalan mendekati tubuh yang sedang tidur itu. Dia menarik paksa tangan Alena hingga Alena jatuh tersungkur ke lantai.
"Aaawww." Alena mengaduh kesakitan saat merasakan tubuhnya membentur lantai. Dia berusaha bangkit.
"Tuan Shaka." Alena terkejut melihat Shaka yang sedang berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Tatapannya sungguh tajam.
"Siapa yang menyuruhmu tidur disini. Apa kau mau mengotori sofaku dengan air liurmu yang menjijikkan itu. Tubuhmu saja sudah cukup menjijikkan."
Shaka memandang tubuh Alena dengan tatapan jijik. "Jangan pernah meniduri sofa ruang tamu ini. Aku tidak mau jika tamuku kabur saat datng kesini."
"Maaf Tuan." Alena menunduk sedih. Dia menghapus sudut matanya yang basah.
"Kau tidurlah di kamar pelayan. Aku tidak sudih jika tubuhmu menyentuh ranjang yang seharusnya aku tiduri bersama Nadia."
Shaka melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Alena melangkah mengikuti Shaka. Dia mengambil kopernya dan pergi ke lantai bawah di salah satu kamar pelayan.
Di kamar pelayan tidak ada AC dan kamar mandi sangat kecil dan sempit. Alena membaringkan tubuhnya di atas kasur yang kecil. Dia mencoba memejamkan matanya namun hawa panas membuatnya tidak bisa tidur. Dia mengganti bajunya dengan yang lebih tipis. Sebuah lingerie berwarna hijau menjadi pilihannya. Namun tetap saja hawa masih panas. Setelah berbaring kesana kemari akhirnya dia tertidur dengan keringat yang masih bercucuran dari wajah dan tubuhnya.
***
Menjelang subuh, Alena terbangun. Dia segera mandi dan melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai, Alena bermaksud memasak. Namun saat dia mencapai dapur, dia melihat beberapa orang memakai seragam yang sama sedang berkutat dengan bahan makanan mentah.
"Kalian siapa?" Alena membuat mereka terkejut.
"Selamat pagi Nona. Kami adalah pelayan Tuan Shaka yang dikirim dari rumah Ny. Airin." ucap salah satu pelayan bernama Via.
"Eh iya selamat pagi. Kapan kalian tiba disini?" tanya Alena.
"Baru satu jam yang lalu Nona." jawab Via.
"Dimana kepala pelayan kalian?" Mata Alena menyapu seluruh ruangan.
"Bu Erika sedang mengurus perlengkapan Tuan, Nona."
"Maksudnya dia sedang berada di kamar Tuan?" tanya Alena ingin memastikan.
"Benar Nona. Dari pakaian hingga berkas yang akan Tuan bawa ke kantor semua disiapkan oleh Bu Erika. Beliau memang selalu melayani kebutuhan Tuan Shaka sejak di rumah Ny. Airin, Nona." Imbuh Via.
"Oh, ya sudah kalian kembalilah. Maaf sudah mengganggu waktu kalian." ucap Alena.
Dia melangkahkan kaki menuju taman belakang rumah itu. Walaupun masih gelap. Tapi itu lebih baik daripada Shaka marah saat melihatnya berada didalam rumah.
Matahari sudah tampak jelas. Menembus jendela kamar Shaka yang tirainya sudah dibuka oleh Erika sejak subuh tadi. Shaka bangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya dan mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Didalam kamar mandi sudah tersedia air hangat didalam bathup yang disediakan Erika. Bahkan dia sudah tau kapan Shaka akan bangun dan suhu air akan pas saat Shaka mandi.
Selesai mandi Shaka pergi ke ruang ganti dan memakai baju kerja yang sebelumnya sudah disiapkan Erika. Wanita muda itu memang sangat cekatan dalam melayani semua kebutuhan Shaka. Selain parasnya yang cantik, sikapnya begitu tegas dan berwibawa.
Shaka melangkah menuruni anak tangga. Dia menggeser kursi lalu duduk dan menikmati sarapan pagi itu. Dia melihat kesana kemari seperti mencari sesuatu.
"Apakah ada sesuatu yang Tuan perlukan?" tanya Erika yang berdiri tak jauh dari Shaka.
"Apakah semua orang dirumah ini sudah bangun?" tanya Shaka.
"Sudah Tuan. Nona Alena juga sudah bangun sejak subuh. Pelayan yang memberi tahu saya." ucap Erika.
"Panggil dia kemari." perintah Shaka.
"Baik Tuan." Erika melangkah menuju taman belakang. Sesampainya disana, dia melihat Alena sedang menghirup bunga-bunga yang ada di taman itu.
"Permisi Nona. Saya Erika, kepala pelayan di rumah ini. Tuan Shaka memanggil Nona." ucap Erika.
Alena langsung berdiri. Wajahnya tampak tegang. Dia takut jika Shaka memanggilnya karena dia telah melakukan kesalahan. Tapi dia tidak merasa melakukan kesalahan.
"Nona." Erika menyadarkan Alena dari lamunannya.
"Eh iya." Alena cepat-cepat berjalan menuju ruang makan.
"Ada apa Tuan." Alena berdiri disamping Shaka.
Semua pelayan termasuk Erika terkejut mendengar Alena memanggil suaminya dengan sebutan Tuan.
"Mulai hari ini Kau akan menjadi bagian dari mereka." Shaka menunjuk ke arah beberapa pelayan yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
Alena terkejut dengan omongan Shaka. Dia tidak percaya jika Shaka akan menjadikannya pelayan juga. Namun dia tidak berani membantah.
"Tugasmu adalah membantu setiap pekerjaan mereka dan Erika akan mengawasimu." tutur Shaka.
"Dan kalian. Jika aku melihat kalian memperlakukannya sebagai majikan, kalian akan langsung aku pecat. Tak hanya itu, Aku juga akan memastikan bahwa kalian tidak akan mendapatkan pekerjaan dimana pun. Apa kalian mengerti?" Shaka memperkuat volume suaranya.
"Baik Tuan." jawab mereka serempak.
Shaka tersenyum. Dia tidak akan membiarkan Alena hidup enak disini. Dia akan terus membuat Alena tersiksa sebagai pembalasan dendam dari Nadia karena Alena lah yang menyebabkan kematian Nadia. Bahkan sekarang Shaka lebih menganggapnya seperti pembunuh.
"Sekarang pergi dan lakukan tugasmu di rumah ini. Erika jangan biarkan dia masuk ke kamarku. Keberadaannya bisa membuatku sial." ucap Shaka sambil menatap sinis ke arah Alena. Alena hanya diam dan menunduk.
"Baik Tuan." sahut Erika.
Selesai dengan sarapannya, Shaka segera berangkat menuju kantor. Jabatannya yang seorang CEO membuatnya harus datang tepat waktu. Dia ingin terlihat perfeksionis dihadapan bawahan dan rekan bisnisnya.
Alena membantu memunguti semua lauk pauk dan meletakkannya di lemari makan. Dia dan pelayan lainnya sarapan di dapur. Tidak di meja makan Shaka. Namun di meja makan khusus pelayan di ruangan lain. Alena merasa sedih. Saat dirumahnya dan disini sama saja. Dulu setiap Papanya pergi bekerja atau sedang ada perjalanan bisnis, Alena dijadikan pelayan. Disuruh ini itu dan tak jarang Nadia menggunakan kekerasan saat apa yang dikerjakan Alena tak sesuai keinginannya. Dia manampar, memukul dan mendorong tubuh Alena dengan kasar. Bisa di bilang dia seperti cinderella dalam cerita dongeng.
Setelah semua pekerjaan selesai, Alena beristirahat di kamarnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat-lihat sosial media. Melihat teman-temannya memposting berbagai foto. Ada yang sedang berlibur bersama keluarga. Ada yang berfoto mesra dengan suami. Ada juga yang sekedar mengshare tautan atau postingan positif. Dan Alena adalah salah satunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
baca ulang aknegn sma karya mu othor
2025-02-15
0
Borahe 🍉🧡
entar bucin bru tau Rasa lu Shaka
2024-03-20
0
zahraky
kayak mau nangis baca penderitaan Alena 🤧
2024-03-17
0