Pada malam harinya Shaka makan malam dengan Alena. Dia terpaksa melakukannya karena kakek. Yang terdengar hanya suara garpu dan sendok yang saling beradu. Shaka hendak beranjak dari kursinya setelah menghabiskan makan malamnya begitu juga dengan Alena. Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki datang mendekat.
Shaka menoleh dan terkejut dengan kedatangan seseorang yaitu ibunya. "Ibu!" Shaka berdiri dari kursinya begitu juga dengan Alena. Dia tampak tegang dengan kedatangan ibu.
Ibu langsung duduk disalah satu kursi yang ada di meja makan itu. Matanya menatap serius kearah Shaka dan Alena yang kembali duduk. "Kenapa kau melupakan Ibumu setelah menikah Shaka?" Berbicara penuh penekanan.
"Aku tidak melupakan Ibu. Alena selalu menolak saat aku mengajaknya ke rumah ibu." ucap Shaka seenaknya.
Alena menatap Shaka dengan tatapan tidak percaya. Ternyata tidak cukup baginya untuk menyiksa Alena. Sekarang dia memfitnahnya.
Dia tidak hanya kejam, dia juga jahat. Gumam Alena.
Tatapan Ibu beralih ke Alena. Matanya menyipit menyorot Alena yang langsung menunduk. "Jangan bohong Shaka. Ibu bisa melihat ketakutan diwajahnya. Lagi pula mana mungkin dia menentangmu." Kini tatapan ibu kembali ke Shaka yang menghembuskan nafas panjang.
"Aku sibuk Bu." jawab Shaka jujur.
Sibuk apa? Kau hanya sibuk menyiksaku Tuan Muda. Batin Alena.
"Kini kau baru jujur. Apa begini caramu berbohong? Kau menyudutkan istrimu sendiri." Ibu menyilangkah tangannya didada dan bersandar di kursi makan itu.
"Aku sudah bilang dari awal Bu kalau aku mencintai Nadia bukan dia. Dia ini pembunuh Nadia." Shaka menunjuk-nunjuk Alena sambil menatap dengan tatapan penuh kebencian.
"Cukup Shaka, semua sudah takdir. Nadia meninggal karena kecelakaan, bukan karena Alena. Dia adalah istrimu. Kau harus menerima dia."
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kesalahannya. Bagiku dia adalah pembawa sial!!!" Shaka beranjak dari kursinya dan melangkah menuju kamarnya.
Alena hanya menunduk dan menangis. Ibu mendekatinya dan mengusap punggungnya. "Sabarlah Alena, jangan pernah menyerah. Suatu saat Shaka akan berubah." ucap Ibu.
Alena mendongak dan menatap mata Ibu yang teduh. Dia mengangguk dan menghapus air matanya. Ibu tersenyum lembut. Sepertinya dalam keluarga Shaka, hanya Ibunya yang bersikap lembut. Itu artinya Ayahnya mempunyai sikap keras seperti dirinya.
Ibu mengajak Alena menuju ruang keluarga.
"Alena, taukah kau bagaimana pernikahan Ibu dengan Alm Ayah mertuamu?" Mata Ibu terlihat begitu sedih. Rasanya sakit yang diberikan Alm Ayah Shaka sangatlah membekas.
Alena memegang tangan Ibu berusaha menguatkannya.
Ibu melanjutkan. "Dahulu pernikahan kami sangatlah bahgia. Apalagi Shaka lahir 2 tahun setelah pernikahan kami. Keluarga kami terasa semakin lengkap. Namun......." Ibu menghapus air mata disudut matanya.
"Namun di tahun kelima pernikahan kami, Ayah Shaka ketahuan selingkuh dengan seorang wanita yang merupakah rekan bisnisnya. Bahkan mereka sudah mempunyai anak laki-laki yang usianya hanya berbeda 3 tahun dari Shaka." Ibu kembali menyeka sudut matanya.
"Saat itu Ibu merasa bahwa hidup ini tidak adil. Ditahun berikutnya, Ayah Shaka menceraikan Ibu dan menikah dengan wanita itu. Tapi mereka hanya menikah secara agama, tidak sah dimata hukum. Kakek Shaka melarang mereka menikah secara agama atau semua harta Ayah Shaka akan ditarik olehnya. Mereka menjalani pernikahan dengan bahagia dan Ayahnya tidak pernah sekalipun memperdulikan Shaka dan Ibu.
Hingga saat usianya menginjak 40 tahun, dia menderita sakit jantung karena pola makan yang salah. Dan dia meninggal di usia 42 tahun. Ini merupakan pukulan terberat untuk Kakek Shaka. Yang dia sesalkan, jika Ayah Shaka tetap bersama Ibu mungkin dia masih hidup karena ibu bisa menjaga pola makan Ayah Shaka mengingat istri keduanya jarang memasak dan membuat Ayah Shaka telat makan dan sering makan junk food." Ibu berhenti sejenak. Dia mengambil tisu dan menghapus air mata yang kini telah membasahi pipinya.
"Ibu tenanglah." Alena menggenggam erat tangan ibu.
"Alena, Ibu mohon berjanjilah untuk tetap disamping Shaka. Jika kau dan Shaka berpisah, maka kakek Shaka akan memberikan harta kepada adik tirinya yang bernama Fredi. Karena selama ini Fredi bersikap baik dan tidak se-arogan Shaka. Bagaimana pun juga Fredi adalah darah Prasetya. Dia juga cucu Arjuna Prasetya.
Ibu memegang pipi Alena dan membelai rambut panjangnya. Alena tampak berurai air mata. Bagaimana bisa dia menolak permintaan sang mertua yang kini sedang menangis dan memohon kepadanya? Sedangkan dia sangatlah takut dan sebenarnya kini dia sudah membenci Shaka. Apalagi Shaka baru saja memfitnahnya. Tampak sangat jelas bahwa Shaka hanya menganggapnya sebagai sampah yang tidak berharga.
"Alena, berjanjilah." Ibu membuyarkan lamunan Alena. Alena bingung harus berkata apa.
"Bu, apa Ibu tau kalau Shaka....."
"Ya, Ibu tau Shaka memperlakukanmu dengan kasar. Erika sering mengadukan hal itu pada Ibu. Tapi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa Alena. Hanya Kakek Shaka yang bisa membungkamnya. Jika Ibu mengadukan hal ini kepada kakek Shaka maka semua harta kami akan diberikan pada adik tiri Shaka. Apa kamu tega melihat Ibu menderita seumur hidup Alena? Apa kamu tega." Ibu kembali menangis.
Kini Ibu malah bersimpuh dikaki Alena. Alena terkejut dengan tindakan Ibu mertuanya. "Bu, hentikan. Jangan lakukan ini. Bangkitlah Bu. Jangan sampai Shaka melihat ini." Alena menuntun tubuh Ibunya kembali duduk ke sofa. Jantung Alena serasa mau copot karena tindakan Ibu. Jika Shaka melihatnya maka dia akan murka dan bisa saja membunuhnya saat itu juga.
Ibu masih terisak. Dia masih mengharapkan Alena mengabulkan keinginannya. Alena sangat sedih melihat Ibu mertuanya seperti ini. Alena menyesali apa yang terjadi pada Nadia.
Kak Nadia. Kalau saja kau tidak kabur hari itu, aku tidak akan menjemput paksa dirimu dan kecelakaan itu tidak akan terjadi. Pasti kau masih hidup sampai sekarang dan Shaka tidak akan menyiksaku seperti ini. Batin Alena.
"Baiklah Bu, aku akan tetap berada disamping Shaka." ucap Alena sambil tersenyum getir. Permintaan ibu sangat berat. Jika ibu memintanya untuk terus bersama Shaka, maka itu artinya Alena harus merasakan penderitaan seumur hidup. Entah sampai kapan Shaka terus membencinya. Mungkin sampai dia sudah tidak bernyawa lagi barulah Shaka puas. Karena Alena tau betul kalau keinginan Shaka adalah melihat dia menderita sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Air mata Alena adalah kebahagiaan Shaka.
Memang cinta sudah membuat Shaka buta. Bahkan dia tidak bisa melihat kebohongan dimata Nadia. Yang dia tau dia sangat mencintai Nadia namun dia tidak bisa melihat bahwa selama ini Nadia hanya berpura-pura mencintainya demi bu Sarah. Namun saat mendekati hari pernikahannya, Nadia mencoba kabur dan Alena menjemput paksa Nadia dan berakhir disungai karena Nadia memberontak saat Alena hendak membawanya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
shaka aja yg bodoh dan alena jadi korban keegoisan mereka demi warissan
2024-11-22
0
Vivia
lanjuuut thor
2022-05-23
0
Vivia
💪💪semangaaat alenaaa...
2022-05-23
0