Alena melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah mengantar kepulangan ibu sampai depan pintu. Kepalanya terasa berat karena obrolan tadi. Dia melaksanakan Sholat Isya lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
"Kak Nadia kenapa kau harus pergi hari itu."
*Flashback On*
Pagi hari sebelum kecelakaan terjadi.
Keadaan rumah sedang sepi. Hanya ada Nadia dan Alena karena kedua orang tua mereka sedang pergi keluar. Alena sedang menyapu rumah. Namun matanya menangkap gelagat aneh pada Nadia. Nadia terlihat gelisah dan mondar mandir didepan kamarnya.
Tak lama kemudian Nadia masuk ke kamarnya dan membawa tas ransel dipunggungnya.
"Kak, mau kemana?" tanya Alena.
"Bukan urusanmu." jawab Nadia ketus. Dia melanjutkan langkahnya dan menyetop taxi di depan rumahnya. Alena semakin curiga. Dia mengambil mobil dan mengikuti taxi itu.
Taxi berhenti disebuah bandara. Saat Nadia hendak melangkah pergi, sebuah tangan menahan tanganya. Nadia berbalik. "Alena!!!!" Nadia terkejut melihat keberadaan Alena disana.
"Nadia ayo sayang." Seorang laki-laki yang dikenal Alena datang menghampiri mereka.
"Leon!!" Alena menatap tajam ke arah Leon yang merupakan mantan kekasih Nadia. Mereka putus karena Nadia dijodohkan dengan Shaka.
"Nadia ayo pergi. Kita akan memulai hidup baru di Amerika. Jangan hiraukan Alena." ucap Leon berusaha mempertahankan Nadia.
"Kak, kau tidak bisa melakukan ini. Shaka sangat mencintaimu dan kalian akan menikah beberapa hari lagi." Alena masih memegangi tangan Nadia.
Nadia terlihat bingung memilih antara Alena atau Leon. Alena sudah tau semuanya. Pasti dia akan memberi tahu keluarganya tentang ini dan membuat Alena dan Leon seperti buronan.
"Leon, lepaskan. Jika kau tetap membawanya pergi maka aku akan menelpon Shaka dan membuatmu dipenjara karena berusaha membawa lari anak perempuan orang." ancam Alena. Matanya terus menatap tajam pada Leon.
"Shitttt!!!!" Leon pergi meninggalkan Nadia dan Alena.
"Leon!!!" Panggil Nadia. Namun Leon sudah pergi.
"Kak, ayo pulang." Alena menarik paksa Nadia kedalam mobil.
"Alena, berjanjilah padaku. Jangan ceritakan ini pada siapapun apalagi pada Shaka." ucap Nadia dengan tatapan serius.
Alena menatap lekat wajah kakak tirinya itu. "Baiklah aku berjanji." jawab Alena.
Nadia pun masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Nadia hanya diam saja sambil terus memaikan ponselnya. Namun saat mereka melewati jembatan, Nadia membanting stir kemudi yang sedang dikemudikan Alena. Alhasil mobil berseok kekanan dan kekiri bahkan hampir menabrak kendaraan yang melintas.
"Kak, apa yang kakak lakukan." Teriak Alena.
"Daripada aku menikah dengannya lebih baik aku mati saja." Nadia terus mendorong stir kemudi itu. Alena mencoba menyeimbangkan stir kemudinya namun Nadia terus mendorongnya hingga dia kehilangan keseimbangan dan mobil meluncur ke sungai.
Nadia berhasil keluar dari mobil itu sedangkan Alena masih terjebak oleh sabuk pengaman yang macet. Dengan sekuat tenaga akhirnya dia berhasil lolos. Alena mencari keberadaan Nadia. Arus sungai yang deras membuatnya kesusahan mencari Nadia. Dia mencoba berenang ke tepi. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menolong Alena dari pinggir sungai. Mereka juga memanggil tim medis dan juga tim sar.
"Kak Nadiaaaaaa." Alena berteriak memanggil Nadia sambil menangis.
"Sudah mbak yang sabar ya." ucap seorang wanita yang berada didekatnya.
"Mbak seharusnya mengemudi jangan dalam keadaan mabuk." balas seseorang dibelakangnya.
"Kasian kakaknya yang jadi korban. Harusnya pelan-pelan aja kalau berkendara."
Alena menghentikan tangisannya. Dia menyadari semua orang tengah menyalahkannya atas insiden yang bahkan bukan salahnya. Tapi mau dikata apalagi? Hanya dia yang tau kejadian sebenarnya.
Tak lama kemudian tim medis dan tim sar datang. Sedangkan keluarganya masih dijalan karena tadi sudah dikabari oleh orang lain dari nomor yang diberikan Alena. Alena tidak berani memberi kabar buruk itu kepada keluarganya.
Alena dibawa ke ambulan untuk mendapat perawatan karena wajahnya terlihat pucat karena tenggelam berkali-kali dan juga syok akibat kejadian itu.
Tak lama kemudian, keluarga Prasetya dan Wijaya pun datang. Bu Sarah yang merupakan ibu kandung Nadia menangis histeris. Sedangkan Shaka terus memukul-mukul pintu mobilnya. Dia tampak begitu kehilangan.
Alena yang berada di mobil ambulan pun hanya bisa melihat dengan raut wajah sedih. Dia berusaha membawa pulang Nadia tapi malah jadi begini.
2 jam kemudian Tim sar pun datang dan membawa potongan baju dan celana Nadia. Bu Sarah dan Shaka terlihat syok dan menangis. Apalagi bu Sarah. Dia kembali menangis histeris sambil memeluk potongan baju dan celana Nadia. Yang Alena dengar, Nadia diduga terbawa arus dan dimangsa oleh buaya. Terlihat dari potongan pakaiannya yang berbentuk seperti bekas gigitan taring yang besar dan tajam.
Alena kembali menangis mendapati fakta bahwa Nadia telah meninggal dunia dan sekarang semua orang akan menyalahkannya atas insiden mengerikan itu.
*Flashback Off*
Alena kembali menitihkan air matanya. "Kenapa aku yang harus menanggung semua ini. Aku hanya ingin membawanya pulang dan menyelamatkan dua keluarga dari rasa malu. Tapi apa yang aku dapat? Aku malah menjadi sasaran kemarahan Shaka dan Ibu Sarah."
"Sekarang aku harus terjebak selamanya dengan Shaka." Alena menyeka air matanya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Melupakan sejenak masalah hari ini. Karena tidur adalah meditasi terbaik saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
tuh om, liat aja pas dia tau kenyataannya ntar, reaksi jujur gua MAMPUS 😁🔥
2024-11-23
0
Ve
nadia pasti masih hidup deh..
2024-03-26
1
gue yakin tuh Nadia msih bernafas kagak mungkin di modar
2023-01-04
0