Seminggu kemudian.
Shaka, Ibu dan Alena sedang makan malam. Semua menu malam ini adalah masakan Alena. Karena itu mau tidak mau Shaka harus memakannya karena biasanya yang memakan masakan Alena adalah ibunya saja. Sedangkan dia memakan masakan dari pelayan. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi karena ucapannya sendiri waktu itu yang mengatakan kalau dia tidak ingin memakan masakan Alena.
Shaka memilih memakan steak yang merupakan makanan kesukaannya. Dulu Nadia sering sekali membawakan makanan itu untuk makan siangnya.
Shaka mencoba satu gigitan. Namun dia merasakan keanehan pada makanan itu. Rasa masakan itu persis seperti buatan Nadia. Ah, lagi-lagi dia teringat dengan Nadia.
Shaka melahapnya sampai habis. Dia juga mencoba menu yang lain, karena dia penasaran dengan rasa menu yang lain. Ternyata semua masakan Alena sangat enak. Shaka tidak menyangka jika Alena sangat pintar memasak.
Setelah makan malam usai, Shaka bergegas keatas sedangkan Alena menemani ibu menonton televisi. Alena terus saja menatap ibu, sebenarnya dia begitu penasaran dengan tanggapan ibu tentang Fredi dan ibunya. Namun dia mengurungkan niatnya karena Shaka datang dan bergabung dengan mereka.
Ibu menonton FTV dengan logo ikan terbang kesukaannya. Kebetulan judulnya adalah "AZAB SUAMI MENZHOLIMI ISTRI, USUS TERBURAI MENJELANG AJAL"
Shaka mengernyitkan dahinya melihat judul itu. "Ibu gantilah chanelnya" ucap Shaka.
"Tidak, ini FTV kesukaan Ibu." ucap ibu sambil mengepit remot di lengannya.
Shaka ingin pergi namun tujuannya ikut bergabung adalah ingin melihat Alena saja, jadi dia terpaksa tetap disitu dan mau tidak mau menyaksikan acara TV sambil sesekali melirik Alena.
Sepanjang acara TV itu, beberapa kali Shaka menonton adegan yang persis dia lakukan pada Alena. Sang suami yang memperlakukan istrinya dengan kasar dan menjadikannya pembantu rumahnya. Shaka sangat tidak nyaman karena diakhir adegan, menunjukkan azab yang menimpa sang suami. Terlihat sangat mengerikan dan hanya maaf dari istri yang bisa membuat acara penguburannya berjalan lancar.
Setelah acara TV selesai, Alena pun pergi ke atas dan hendak masuk ke kamarnya. Namun sebelum dia masuk, Shaka memanggilanya. "Alena."
Alena menoleh. "Ada apa Shaka?" tanya Alena.
"Bisakah kita berteman?" ucap Shaka.
Mata Alena terbelalak mendengar kalimat Shaka. Kata yang sangat mustahil diucapkan Shaka, kini malah keluar begitu saja dari mulutnya. Apakah ini pengaruh FTV yang baru saja dia tonton? Batin Alena
"Kenapa? Apa kau tidak mau berteman denganku?" tanya Shaka.
Apa kau bercanda? Tentu saja aku tidak mau. Tapi karena janjiku pada Fredi, baiklah. Aku akan menjadi temanmu. Batin Alena.
"Iya aku mau, tapi sebagai hadiah pertemanan, maukah kau mengabulkan keinginanku?" ucap Alena.
"Sebutkanlah. Jika itu tentang perceraian maka lupakanlah." Balas Shaka.
"Tidak, bukan itu." Perceraian akan kau dapatkan saat waktunya tiba. Batin Alena.
"Lalu apa?" tanya Shaka lagi.
"Aku ingin kau mengunjungi kakek setiap hari." ucap Alena.
Shaka heran mendengar permintaan Alena. "Kenapa kau meminta itu. Sepertinya kau sangat perhatian pada kakek." ucap Shaka.
"Aku hanya kasihan kepada kakek yang tinggal sendirian. Di usia kakek yang sudah tua, tentu dia ingin selalu ditemani. Jika tidak bisa mengobrol lama setidaknya kau bisa menjumpainya sebentar. Pasti kakek akan senang." ucap Alena dengan serius.
Shaka sangat kagum dengan Alena yang begitu perhatian kepada kakeknya meskipun dia tidak mempunyai hubungan darah. Itu menunjukkan betapa tulusnya hati Alena.
"Baiklah. Tapi aku ingin kau juga menemaniku kesana setiap pulang bekerja. Kau akan aku antar jemput setiap hari, dan katakan kepada para lelaki buaya darat itu bahwa aku suamimu." ucap Shaka.
Apa dia sudah gila? Batin Alena.
"Bukankah pernikahan kita dirahasiakan? Bagaimana kalau sampai rekan bisnismu tau?" tanya Alena.
"Aku tidak peduli. Katakan saja begitu, kau mengerti?" ucap Shaka.
"Aku mengerti." jawab Alena.
Shaka berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Alena menghembuskan nafas lega karena Shaka tidak menyinggung soal ranjang. Dia takut Shaka akan menuntut kewajibannya sebagai istri. Jika itu terjadi maka akan semakin sulit untuk lepas dari Shaka.
Alena masuk kedalam kamarnya. Dia melaksanakan sholat lalu merebahkan dirinya. "Kakek, tunggulah. Shaka akan segera mengunjungimu." Alena tersenyum lalu memnutup matanya hingga akhirnya tertidur.
Keesokan harinya...
Shaka dan Alena berangkat dengan satu mobil. Shaka mengantar Alena sampai ke depan pintu butik itu.
Tanpa diduga Sammy datang kesitu sambil membawa seikat bunga. "Selamat pagi Alena." sapa Sammy yang sama sekali tidak memperdulikan Shaka disamping Alena.
"Selamat pagi." Shaka menyambut uluran tangan Sammy yang ditujukan untuk Alena.
Sammy menatapnya lekat. "Anda Shaka Prasetya bukan?" tanya Sammy.
"Ya, Saya adalah suami Alena." ucap Shaka sambil menatap tajam.
Sammy terbelalak mendengar pernyataan Shaka. "Apa? Suami?" tanya Sammy tidak percaya.
"Ya, Su-wa-mi. ES-U-A-EM-I. SUAMI!!" Shaka mengejanya. Alena sampai mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Shaka.
"Maaf kalau begitu saya pergi dulu. Ini untuk anda saja." Sammy menyerahkan bunga itu kepada Shaka lalu pergi.
"Dasar bodoh, sudah tau punya suami masih saja dikejar. Dasar Pebinor." Shaka membuang bunga itu ke tempat sampah.
"Dan kau masuklah, aku akan menjemputmu jam 2." ucap Shaka yang kemudian berlalu pergi dengan mobilnya menuju kantor.
Alena masuk kedalam butik. Semua karyawannya memperhatikan dirinya. Mereka tidak menyangka bahwa Alena adalah istri Shaka Prasetya. Mereka jelas mendengar percakapan Shaka dengan Sammy tadi.
Diperjalanan.
Sammy mengirimi Shaka pesan. Sammy mengira itu masih nomor Alena. Isi pesannya : "Maaf jika selama ini aku selalu mengganggumu. Tapi aku masih berharap padamu. Alena, ku tunggu jandamu."
Shaka meninju bangku supirnya hingga sang supir terkejut. "Berengsek, apa dia mendoakan aku supaya cepat mati?"
Shaka membalas pesan itu. "Bermimpilah berengsek. Sebelum aku mati, kau yang akan mati terlebih dahulu."
Shaka melihat foto profil WhatsApp Sammy sudah berlogo avatar. Itu artinya Sammy sudah memblokir nomornya. Shaka tersenyum puas. Berani sekali kau mengganggu istriku. Tidak ada yang bisa melawan Shaka prasetya. Batin Shaka.
Mobil sudah sampai ke kantor. Shaka masuk ke ruangannya dan mulai bekerja. Sesekali dia melihat jamnya yang terasa melambat. Dia ingin cepat-cepat pulang agar bisa pergi kerumah kakek bersama Alena. Shaka pun memanggil Jesika.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu." ucap Jesika.
"Belikan saya jam yang mempunyai waktu lebih cepat. Yang berdurasi 30 menit perjam." ucap Shaka.
Jesika mengernyitkan dahinya. "Maaf Tuan, tidak ada jam seperti itu didunia ini." ucap Jesika.
"Kalau begitu pergilah. Kau sama sekali tidak bisa diandalkan." ucap Shaka dengan kesal.
Jesika memberi hormat lalu keluar dengan raut wajah penuh keheranan. Jika Shaka memarahinya, itu bukan hal aneh. Namun permintaan Shaka sungguh konyol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
WKWKWKWKWKQKWKWK CHAPTER INI NGAKAK, bukan main bjir ftv effect 🥰🔥🥰🔥
2024-11-23
0
Ve
cari mati bang sammmm 😭🤣
2024-03-27
1
eli ana
wanita cantik di anggurin giliran mau di ambil org bru otak brhln
2024-03-01
1