Fredi sudah sampai di rumah kakek. Dia disambut hangat oleh kakek.
"Fredi, apa kau tidak sibuk hari ini?" tanya kakek.
"Tidak kek. Aku tadi sudah menyelesaikan pekerjaanku." jawab Fredi.
"Kau memang anak baik. Tidak mau merepotkan bawahanmu." Puji kakek.
"Terima kasih kek, oh ya kakek ingin lakukan apa hari ini? Bagaimana kalau kita melukis?" ujar Fredi.
"Kau selalu tau apa yang kakekmu ingin. Ayo."
Kakek dan Fredi pergi ke taman belakang dan mulai melukis. Kakek melukis pemandangan sekitar sedangkan Fredi melukis kolam air pancur. Mereka terlihat serius dengan kegiatan mereka saat ini. Sesekali kakek dan Fredi melempar tawa saat melihat lukisan masing-masing yang jauh dari kata bagus. Namun memang inilah yang kakek inginkan.
***
Alena sedang bekerja. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata itu panggilan dari ayahnya. Alena segera mengangkatnya. "Halo Ayah." jawab Alena.
"Kau sedang apa Nak?" tanya Ayah.
"Sedang bekerja Yah. Apakah ada yang bisa aku bantu Yah?" tanya Alena.
"Tidak Nak, Ayah hanya rindu mendengar suaramu." ucap Ayah.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Alena.
"Tidak ada Nak." jawab Ayah. Namun Alena mendengar suara ribut Ayahnya dengan ibu tirinya.
"Halo Alena. Perusahaan Ayah sedang anjlok. Kau bantulah kami. Apa kau ingin melihat orang tuamu jatuh miskin?" ucap bu Sarah.
"Apa? Anjlok? Bagaimana bisa Bu?" tanya Alena.
"Ya karena hutanglah. Cepat bantu Ayahmu membangkitkan perusahaannya lagi. Kau kan sudah berpenghasilan. Harusnya kau membantu kami tanpa diminta." ucap bu Sarah.
Alena terkejut mendengar kabar buruk dari perusahaan ayahnya. Namun dia masih bingung. "Maaf Bu, aku ingin membantu tapi aku harus meminta persetujuan suamiku dulu karena usaha ini dimodali olehnya."
"Apa? Dasar anak tidak berbakti. Teganya kau berkata seperti itu." Samar-samar terdengar suara ribut antara Ayah dan Ibu tiri Alena. "Kenapa kau memarahi Alena, semua ini karena kau. Jika saja kau tidak menggunakan uang perusahaan untuk berfoya-foya dan membeli berlian palsu itu, pasti semua tidak akan jadi begini."
Alena menutup mulutnya. Lagi-lagi ibu tirinya menggunakan uang perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Sekarang Alena harus mencari cara agar Shaka mau membantu perusahaan ayahnya.
"Alena sudah dulu ya, jangan pikirkan kata-kata Ibu." Panggilan pun mati. Alena merasa cemas. Padahal ayahnya sudah menukar kerjasama dengan perjodohan agar bisa bekerja sama dengan perusahaan Shaka namun hasilnya malah begini. Perusahaan Ayahnya diambang kehancuran karena ulah ibu tirinya. Alena juga sebenarnya tidak sudih meminta izin kepada Shaka. Namun modal usahanya adalah uang Shaka. Bagaimana pun juga Shaka punya hak dalam bisnisnya.
Tidak, aku tidak boleh egois. Biarlah Shaka yang menang kali ini karena aku membutuhkan bantuannya. Batin Alena.
Alena mengambil ponselnya dan memberanikan diri menelpon Shaka. Terdengar nada yang berarti telepon telah tersambung. Tak lama berselang terdengar suara berat dan datar dari Shaka. "Ada apa?"
"Shaka bolehkah aku bertemu denganmu?" Alena mencoba berbicara selembut mungkin karena kini dia membutuhkan Shaka.
"Wah, ternyata desainer terkenal dan ternama juga membutuhkanku juga ya." sindir Shaka.
Sabar Alena sabar. Ini demi Ayah.
"Shaka aku ingin membicarakan hal yang penting." ucap Alena.
"Memohonlah dengan baik."
"Shaka aku mohon, aku ingin bertemu denganmu. Aku sangat membutuhkan bantuanmu." Alena terpaksa mengalah.
"Datanglah ke kantorku." Shaka menutup teleponnya. Kini senyumnya mengembang. Dia berpesan pada Jesika untuk memundurkan jadwal meeting dan jika ada tamu bernama Alena langsung disuruh masuk.
Alena mengemudikan mobilnya menuju kantor Shaka. Sesampainya disana, semua karyawan terkejut dengan kehadiran Alena. Tak biasanya seorang designer datang ke kantor sebesar itu. Para karyawan saling berbisik.
"Bukankah dia desainer yang terkenal itu."
"Iya untuk apa dia kemari."
"Jawabannya hanya 2. Jika tidak untuk pekerjaan, tentu dia pacar Tuan Shaka."
Alena sudah sampai didepan ruangan Shaka. Seorang wanita cantik menghampirinya. Maaf Nona ada yang bisa saya bantu." sapa Jesika.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Shaka. Saya Alena." ucap Alena.
"Oh, iya Nona. Tuan sudah menunggu. Silakan masuk." Jesika membukakan pintu ruangan Shaka.
Alena pun masuk. Dia melihat Shaka sedang sibuk dengan laptopnya. Alena melangkahkan kakinya dan menghampiri Shaka. "Shaka." ucap Alena saat sudah berdiri didepan meja kerja Shaka.
"Hmm." Shaka masih terus fokus pada laptopnya.
Bukankah tadi sekretarisnya bilang bahwa dia menungguku? Lalu kenapa dia malah sibuk sendiri? Batin Alena.
Alena masih bediri dan terus saja menunggu Shaka selesai dengan latopnya. Shaka merasa risih. Dia merasa seperti diawasi. Shaka mengangkat wajahnya dan melihat Alena masih berdiri.
"Duduklah." ujar Shaka.
Alena langsung duduk di kursi tepat dihadapan Shaka.
"Katakan apa keinginanmu." Shaka menatapnya tajam. Lagi-lagi Alena merasa takut dengan tatapan itu.
"Perusahaan Ayah sedang terlilit hutang yang cukup besar. Bolehkah aku membantunya dengan uang hasil dari butik?"
Shaka langsung melotot mendengar kalimat Alena. "Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau sekarang semakin berani ya. Kau sudah lupa siapa dirimu." Shaka semakin menajamkan tatapannya.
"Aku mohon. Aku sangat membutuhkannya." Alena menatap dengan raut wajah memelas.
"Berlutulah." ucap Shaka.
Alena terkejut dengan ucapan Shaka. Sepertinya sekarang Shaka sedang memanfaatkan keadaan. Karena tidak mudah membuat Alena berlutut seperti dulu. Mengingat sekarang Alena mendapat dukungan dari kakeknya.
"Berlututlah. Waktuku tidak banyak." ucap Shaka lagi.
Alena mengepal tangannya erat. Dia tidak percaya Shaka ingin mempermalukannya lagi.
"Lima, empat, tiga, dua....."
Alena beranjak dan berlutut dikaki Shaka. "Aku mohon bantulah Ayahku." ucap Alena sambil menunduk. Dia menyembunyikan raut wajahnya yang penuh kebencian.
Shaka tersenyum melihat Alena berlutut dan mempermalukan dirinya seperti itu. Hatinya merasa puas karena kali ini dia yang menang.
"Baiklah, gunakan uang itu untuk membantu Ayahmu. Tapi ingat, uang itu tidak gratis. Ayahmu harus mengembalikannya." ucap Shaka.
Alena berdiri. Dia menatap Shaka dengan ekspresi tidak percaya. Dia sudah berlutut tapi uang itu hanya pinjaman saja.
"Kenapa? Kau tidak suka? Jika kau tidak mau pergilah. Kau berikan saja dari hasil gajimu." ucap Shaka.
Alena menggigit bibir bawahnya. Rasanya dia ingin sekali memaki Shaka yang tidak berhati. "Baiklah. Terima kasih." Alena hendak melangkah namun kata-kata Shaka berhasil menghentikan langkahnya.
"Seandainya kau bisa menjadi istri yang baik. Tentu aku akan memberikannya tanpa kau minta."
Alena menoleh. "Bukankah aku pembawa sial. Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik karena aku pembawa sial." Alena melangkah keluar meninggalkan Shaka yang telihat sangat geram dengan kalimatnya tadi.
"Berani sekali kau berkata seperti itu. Lihat saja kau pasti akan aku taklukkan." Shaka tersenyum menyeringai membayangkan saat dia berhasil menaklukkan Alena. Karena sesungguhnya dia mulai tertarik dengan Alena tapi tidak mau mengakuinya. Dia ingin Alena yang menyatakan cinta kepadanya. Karena Shaka tetaplah Shaka yang sombong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
dasar om Shaka, gengsinya ngalahin gedung pencakar langit jir🗿
2024-11-23
0
Nana Nurdiana
Alena buat jadian SM Ferdi ajh Thor,gk rela aku klu SM Shaka yg jahat itu
2022-08-27
0
Vivia
jdiii pengggeeeeeennn nabooooooook jugagk....😠😠reseeeek jdiii suamiiii. padahal ia butuh , munafiiiiikuuuuun.
2022-05-23
0