Alena bergegas ke rumah Ayahnya. Sesampainya disana dia disambut dengan pelukan oleh Ayahnya yang sangat merindukannya. "Ayah sangat merindukanmu Alena." ucapnya.
"Aku juga sangat merindukan Ayah." balas Alena. Ayah menuntunnya masuk kedalam rumah dan duduk disofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, ibu tiri Alena yakni Sarah datang dengan raut wajah tidak suka. Dia hanya duduk dan diam saja mendengarkan percakapan membosankan antara anak dan ayah.
"Ayah, aku sudah mendapatkan uangnya. Tapi aku minta maaf, karena ini uang butik jadi Ayah harus mengembalikannya dengan mencicil. Aku juga akan membantu mencicil dengan gajiku. Aku berjanji." tutur Alena.
Sarah yang mendengar uang itu hanya pinjaman langsung naik pitam. "Apa? Hanya pinjaman? Setega itu kau pada keluargamu sendiri!!" Teriakan Sarah menggema di ruangan itu.
"Sudahlah, semua ini juga awalnya karenamu. Kita harusnya bersyukur Shaka mau meminjami kita uang sebanyak itu." ucap Alfian.
"Tidak, semua ini tetap berawal darinya. Jika saja dia tidak membuat Nadia meninggal pasti Shaka akan memberikan uangnya secara suka rela." Teriak Sarah.
"Diamlah!!! Semua sudah berlalu Nadia sudah meninggal. Kemarahanmu tidak akan membuatnya kembali lagi." ucap Alfian.
"Ayah maafkan aku, sebaiknya aku pergi. Uangnya sudah aku transfer." Alena melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah itu. Rasanya ruma itu seperti neraka sampai sekarang. Tidak ada kedamaian didalamnya.
Alena mengemudikan mobilnya. Saat melewati sebuah danau, dia berhenti sebentar untuk sekadar menyegarkan mata. Alena menduduki sebuah kursi kayu panjang disekitar danau itu. Matanya terus memandangi air danau yang jernih. Tak banyak orang disana karena ini adalah hari kerja.
Tiba-tiba air mata Alena jatuh membasahi pipinya. Dia masih mengingat kata-kata ibu tirinya yang menyebutnya menjadi penyebab kematian Nadia. "Kenapa semua orang harus menyalahkanku. Bahkan mereka tidak bertanya kenapa aku mengendarai mobil dengannya waktu itu." Alena merasakan sesak didadanya kala mengingat apa yang dia dapat hari ini. Mulai dari pemikiran buruk semua orang padanya hingga perlakuan kejam dari Shaka juga kebencian dari ibu tirinya.
Saat sedang menangis, tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan sebuah sapu tangan kepadanya. Alena menoleh ke orang tersebut dan dia terkejut saat mengetahui bahwa orang tersebut adalah Fredi, adik tiri Shaka. "Kau."
"Maaf tadi aku sedang melihat-lihat pemadangan danau ini lalu aku melihatmu menangis. Boleh aku duduk?" tanya Fredi.
Alena mengangguk. Fredi mendudukkan dirinya dan memberikan sapu tangan itu kepada Alena. "Jangan takut, ini masih baru." ucap Fredi. Alena mengambil sapu tangan itu lalu menghapus air matanya.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kau menangis, tapi aku sarankan teruslah menangis sampai rasa sesak yang kau rasa hilang." ucap Fredi.
"Aku hanya merindukan kakakku." ucap Alena.
"Kau merindukannya atau berharap dia masih hidup dan menggantikan posisimu bukan?"
Alena terkejut mendengar penuturan Fredi. Dia seperti bisa membaca pikirannya. Memang benar yang dikatakan Fredi. Alena sangat menginginkan Nadia hidup kembali dan menggantikan posisinya sehingga dia tidak perlu menderita seperti ini.
"Aku tau seperti apa kak Shaka. Dia itu kejam, dingin, arogan dan selalu ingin menang. Saat aku mengetahui bahwa kau menjadi penggantinya, aku ragu dia bisa memperlakukanmu dengan baik, sebaik saat dia bersama Nadia." tutur Fredi.
Alena hanya tersenyum sambil terus memandang danau yang menyegarkan mata itu.
"Jika aku boleh mengatakan, sebenarnya aku dari rumah kakek." ucap Fredi.
"Kakek? Bagaimana kabarnya? Apa...Apa dia baik-baik saja?" Alena tampak begitu khawatir.
"Ternyata kau sepemikiran denganku." ucap Fredi.
"Sejak pengumuman kakek pada malam itu, aku merasa ada yang janggal. Penyatuan dua keluarga yang saling membenci dengan pancingan harta warisan." ucal Alena.
"Aku tau sebenarnya ada yang kakek sembunyikan, karenanya aku akan terus menemaninya kapanpun dia ingin. Aku berharap kak Shaka juga begitu, tapi...." Fredi menggatung kalimatnya lalu menatap langit-langit.
"Dia hanya memikirkan pekerjaannya saja, lupakanlah." Sambung Alena.
"Apa kau bisa berbicara dengannya dan membujuknya supaya mau menemani kakek tanpa diminta?" Fredi menatap Alena penuh harap.
Alena bingung. Jika dia mengutarakan pikiran buruknya tentang kakek, itu sama saja membangunkan singa tidur. Shaka akan mengamuk dan mengira dirinya mendoakan kakek agar cepat pergi dari dunia.
"Alena aku mohon." Fredi semakin memelas.
"Ba..baiklah aku akan mencobanya." ucap Alena. Dan aku yakin ini akan sulit. Tapi aku akan berusaha demi kakek. Batin Alena.
"Terima kasih, aku tau kau sangat baik." ucap Fredi dengan senyuman ramahnya.
Setelahnya mereka mengobrol bersama mengenai kehidupan mereka masing-masing. Dari hobi, kesukaan, dan karir masing-masing.
Tak terasa waktu berlalu. Hari semakin sore. Alena dan Fredi segera pergi ke tempat tujuan masing-masing. Alena pulang ke rumahnya sedangkan Fredi pergi ke kampus untuk kuliah sore. Dia sedang mengambil pendidikan S2.
Sepanjang jalan, Alena terus tersenyum karena Fredi sangatlah baik. Berbeda dari yang ibu mertuanya bilang. Bahkan Alena ragu kalau ibu mertuanya berkata jujur. Dia juga semakin ragu untuk terus disamping Shaka.
Mobil telah sampai di pekarangan rumah Shaka. Alena turun dari mobil dan melangkah masuk. Namun tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Shaka. Shaka menarikanya menuju kamar. Alena terkejut dan berusaha melepaskan tangannya namun tenaga Shaka cukup kuat.
Brukkk. Shaka melempar tubuh Alena keatas tempat tidur. Sorot matanya begitu tajam dan penuh kekesalan. "Berani sekali kau bertemu dengannya dibelakangku."
"Shaka, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Kami hanya membicarakan hal yang ringan saja, tidak lebih dari itu." Ucap Alena.
Shaka menindih tubuh Alena dan mencengkram kedua tangannya hingga dia tidak bisa bergerak. "Dengar, aku memberi kebebasan padamu untuk berbisnis, bukan untuk bersenda gurau dengan orang lain terlebih lagi dia Fredi."
Alena memicingkan matanya. Air matanya menetes karena takut dan sakit yang dirasakannya. "Aku...Aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Alena dengan suara parau.
Shaka melihat leher jenjang yang benar-benar menggodanya. Terlebih lagi dada padat dan kencang yang sedikit terlihat karena kancing kemejanya terbuka akibat hempasan tadi. Shaka mencoba mendekati leher jenjang Alena namun teriakan Alena mengagetkannya. "Jangaaaaan." Teriak Alena.
Shaka langsung berdiri dan menarik Alena lalu mendorongnya keluar kamar. "Pergi dan jangan menggodaku lagi dasar wanita murahan" usir Shaka.
Alena langsung bergegas ke kamar. Dia mengunci kamarnya. Jantungnya serasa mau copot karena dia sangat takut jika Shaka melakukan hal itu padanya. Dia belum siap kehilangan kesuciannya. Dia juga tidak sudih memberikan kesuciannya pada Shaka yang sangat dibencinya. Alena pergi kekamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu dia melaksanakan sholat dan berdoa untuk Ibu, Nadia dan kakek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
nanti ditinggal mbak Ale minggat nangis tuh🗿
2024-11-23
0
Sumini Harrni
kapan Shaka akan berlutut Thor..tidak adil alea yg menderita dan dihina..
2022-06-17
0
Bunga Angkasa 🪐🪐🪐🪐
dasar lho.... cowok songong
2022-06-06
0