Mata Shaka menatap tajam ke arah sungai yang telah merenggut nyawa calon istrinya yang akan dia nikahi beberapa hari lagi. Nadia Wijaya, wanita yang sangat dia cintai sekarang sudah tiada karena hilang di telan arus dan di mangsa predator yang ada di sungai itu.
Tanpa terasa air mata Shaka berlinang. Begitu indah momen yang sudah dia lewati bersama Nadia sang kekasih. Sosok Nadia yang lembut dan penuh kasih sayang membuat dada Shaka terasa sesak.
"Shaka, sabarlah Nak, kuatkan dirimu." tangis seorang wanita disampingnya. Dia adalah Rika, ibu kandung Shaka.
"Aku sangat mencintai Nadia Bu, bagaimana bisa aku kuat menerima kenyataan ini." Shaka memeluk ibunya.
"Ini semua sudah takdir Nak, Nadia bukanlah jodohmu." Rika mengusap punggung Shaka.
Tidak jauh dari sana, terdengar suara jeritan memilukan dari seorang wanita paruh baya. Dia adalah Sarah, ibu kandung Nadia. Dia tengah menangis histeris dan suaminya yaitu Alfian tengah memeluknya.
"Anakkuuuuuu, kembalikan anakku. Nadiaaaa." teriakan yang terdengar begitu pilu.
"Sabarlah Sarah, ini semua sudah takdir." Alfian mencoba menguatkan istrinya.
"Tidak, aku tidak bisa menerima semua ini. Nadia kembali laaaaaaah." tangisan Sarah semakin pecah.
"Bu, kita harus bisa menerima semua ini."
Seorang gadis muda menghampiri Sarah dan membuat Sarah berhenti berteriak. Dia adalah Alena Wijaya. Putri kedua Alfian dan Alm. Istrinya.
"Kau, kau pembunuh. Kau sudah menyebabkan anakku meninggal. Kalau saja kau tidak pergi bersamanya tentu Nadia tidak akan mengalami semua ini. Dasar anak pembawa siaaaaal." Sarah menarik kerah baju Alena dan berusaha memukulnya. Alena hanya menangis. Dia diam saja menerima pukulan demi pukulan dari ibu tirinya.
"Sarah, hentikan. Ini semua bukan salah Alena. Ini sudah menjadi takdir." Alfian berusaha menghentikan tindakan Sarah.
"Kau selalu saja membelanya. Bahkan setelah Nadia meninggal, kau masih membelanya." Sarah berteriak dan memberontak.
"Alena kembalilah ke mobil Nak. Kau masih perlu ditangani," ucap Alfian.
Alena menurutinya dan berjalan kembali menuju ke ambulan. Dia memang masih membutuhkan penanganan medis mengingat bahwa dia sempat beberapa kali tenggelam karena derasnya aliran sungai membuatnya susah berenang ke tepi.
Saat berjalan melewati Shaka, mata Alena menangkap ekspresi tidak biasa dari Shaka. Mata Shaka menatap tajam penuh dendam. Rasanya dia tau penyebabnya. Seperti Sarah, Shaka juga menyalahkan Alena atas kejadian ini. Alena kembali tertunduk dan terus berjalan ke mobil tim medis.
Keluarga Wijaya dan Prasetya juga kembali ke rumah Wijaya dan mengurus acara tahlilan Nadia.
Di rumah keluarga Wijaya semua pelayat berdatangan dan mengucapkan bela sungkawa termasuk teman-teman Nadia. Mereka tampak sangat kehilangan.
"Hiks kasihan ya Nadia harus mengalami nasib setragis ini."
"Padahal Nadia itu baik dan ramah. Kenapa dia pergi secepat ini."
"Aku dengar pada saat kecelakaan itu Adik tirinya yang menyetir."
"Maksudmu Alena? Dia memang anak pembawa sial. Lihat saja bagaimana dulu Ibunya meninggal karena menyelamatkannya. Kalau dia tidak ada didunia ini pasti semua orang akan bahagia dan tentu Nadia pasti masih hidup."
"Dimana Dia? Kenapa tidak kelihatan? Apa dia sudah bunuh diri? Orang sepertinya memang tidak pantas hidup di dunia ini."
"Sudahlah, kita sedang berduka. Simpanlah sumpah serapah kalian untuk nanti saat kita bertemu dengan Alena."
Sementara itu didalam kamar. Alena sedang terisak. Dia tau bahwa semua orang pasti akan menyalahkannya atas insiden ini. Ingin rasanya dia turun dan ikut berdoa bersama yang lainnya, namun ibu tirinya melarangnya. Bahkan sang Ayah tidak bisa membantunya karena secara logika penyebab kecelakaan ini adalah Alena.
Sebelum mobil itu tercebur ke sungai deras, para saksi mata melihat mobil itu ugal-ugalan dijalan. Mobil itu bekendara dengan arah yang tidak beraturan dan hampir bertabrakan dengan pengguna jalan lainnya. Hingga pada akhirnya mobil itu kehilangan kendali dan tercebur kedalam sungai itu.
Alena menghapus air matanya. Dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Setelah selesai sholat, dia berdoa. "Ya Allah ampuni lah dosa Ibu dan kak Nadia semasa hidup. Terimalah semua amal ibadah mereka. Ya Allah sesungguhnya hamba sudah memaafkan sikap kak Nadia selama ini kepada hamba."
Begitulah isi doa Alena. Dan untuk sang kakak yang ternyata selama ini sering berbuat semena-mena kepadanya. Meskipun semasa hidup Nadia selalu kasar terhadapnya dan berpura-pura baik di depan semua orang, Alena tetap mendoakan yang terbaik untuk Nadia. Bahkan kecelakaan itu adalah kesalahan Nadia sendiri namun hanya Alena saja yang tau bagaimana? Apa? Dan kenapa kecelakaan itu terjadi. Yang pasti jika dia bercerita hanya akan membuat orang di sekitarnya tidak percaya dan balik membencinya.
Dia juga sudah berjanji pada Nadia bahwa dia tidak akan menceritakan hal itu kepada siapapun sebelum kecelakaan itu terjadi. Karenanya dia menganggap itu permintaan terakhir Nadia. Dan dia akan menjaga rahasia itu selamanya.
Suara ketukan pintu terdengar. Alena membuka mukenanya dan melipatnya lalu pergi membuka pintu.
"Ayah," ucap Alena.
"Kau sedang apa Alena?" tanya Alfian.
"Aku habis melaksanakan sholat, Yah." jawab Alena.
"Kau pasti mendoakan Ibu dan Kakakmu ya."
Alena mengangguk.
"Terima kasih ya Nak, Kau memang anak Ayah yang baik dan soleha. Ayah tau ini semua bukan keinginanmu, tapi Ibu Sarah belum bisa menerima semua ini. Jadi jika sikapnya kurang baik kepadamu, Ayah mohon maafkanlah Dia. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan." ucap Alfian lirih.
"Iya Ayah, Aku mengerti." ucap Alena sambil tersenyum.
Alfian pergi keluar meninggalkan Alena yang kini tengah menitihkan air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Leew
AKHIRNYA GUA REREAD, MASIH INGET BANGET SAMA CERITANYA TAPI TETEP AJA KANGEN WKWKW LET'S GO
2024-11-23
0
Retno Elisabeth
dibenci tanpa tau kesalahan itu sakit,
2023-05-11
1
entah knp gue rada nggk suka ama yg namanya (Alfian) tuh nama ngingetin gue Ama seseorang
2023-01-04
0