Mertua Egois

Dirinya memang sudah mempersiapkan masa depan sang anak sesuai keinginan mereka karena dia ingin kelak sang anak tak bernasib sama dengannya.

"Tidak usah kalian pikirkan yah, bunda sudah mengatasi semuanya kok". ucapnya menenangkan kedua anaknya yang sejak tadi dilanda emosi.

" Bunda juga sudah siap melawan mereka dengan kemampuan kita nak, jadi jangan terlalu khawatir, bunda hanya menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka jika kita bisa hidup dengan lebih baik bahkan tanpa nama besar Erlangga".

"Iya bunda, sebentar lagi kami lulus dari melanjutkan Spesialis kami dan akan pulang mengelola segala hal yang telah kita rencanakan nantinya".

" Iya nak, tapi jangan sampai apa yang kalian miliki membuat kalian sombong nantinya". Maya memperingati anak-anak nya agar tidak tinggi hati atas apa yang mereka miliki sekarang.

"Iya bunda, kapan kita akan ke sekolah adik bunda, aku sudah lama tidak berkeliling di daerah sini". Sasya dan Rara memang jarang keluar untuk sekedar jalan-jalan itulah sebabnya mereka merindukan hal itu.

" Besok kita antar dan jemput kedua adik kamu yah, sekalian kita pergi jalan-jalan makan atau beli sesuatu".

"Boleh bunda". Ucap kedua nya kompak.

Keesokan harinya seperti yang mereka rencanakan sebelumnya, kini keluarga kecil itu sedang mengantar kedua adik mereka bersekolah. Sekarang mereka berada di sekolah si bungsu.

" Belajar yang rajin yah anak bunda". Maya mengelus kepala sang anak dengan sayang".

"Iya bunda, nanti jemput adek lagi yah".

"Iya sayang".

" Dada kakak, bunda". Salwa berlari kecil meninggalkan pintu gerbang untuk masuk ke kelasnya.

"Maya". Suara bariton menghentikan langka Maya.

Dia sangat mengenal suara itu, suara lelaki yang memberi luka mendalam untuknya dan juga anaknya.

Dia tidak menghiraukannya dan terus berjalan bersama Sasya karena Sasya juga sangat mengenali siapa yang berbicara itu.

"Maya, tunggu". Rasya mencegat Maya dan kedua anak itu.

Tatapan tajam dan ingin membunuh dilayangkan Maya dan Sasya kepada lelaki yang hanya memberi mereka luka selama ini. Lelaki yang tak ingin pernah mereka temui lagi karena rasa sakit hati yang mendalam.

"Maya tunggu, tolong izinkan aku bicara denganmu sebentar". Mohon Rasya dengan memelas menatap nya memohon.

" Maaf saya sibuk, tidak punya waktu bicara dengan anda". Ketusnya

Deg. Mata Rasya seakan berkaca-kaca mendengar ucapan kasar dari Maya perempuan yang dulu dia sia-sia kan.

"Ayo nak, kita pergi tinggalkan manusia bajingan dan sombong itu". Maya melenggang pergi meninggalkan Rasya yang mematung sedangkan Sasya berhenti dan berbalik melihat lelaki yang sangat dia benci itu.

" Bugh". Pukulan keras dilayangkan Sasya kepada lelaki yang harusnya dipanggil ayah itu.

Rasya yang tidak siap jatuh tersungkur karena pukulan keras itu. Tentu saja, Sasya adalah seorang atlet boxing di kampusnya saat ini.

"Jangan pernah ganggu bundaku, dan jangan pernah muncul di hadapan kami. Kami sangat membencimu dasar manusia biadab". Teriak Sasya dengan Murka.

Mata Rasya membola seketika, kini dia menyadari jika gadis cantik dihadapannya ini adalah anak sulungnya.

" Nak". Ucap Rasya terbata-bata melihat tatapan kebencian dan kemurkaan dari anak sulungnya itu.

Dia merasakan sakit di dadanya, begini kah rasanya dibenci anak sendiri bahkan sakitnya melebihi ditikam dengan belati.

"Saya bukan anak anda, karena bagi saya anda sudah mati ketika anda dengan tega mengusir bunda saya seperti binatang". Ucapnya dengan penuh amarah.

Tangan Sasya mengepal erat dan giginya bergemetuk dengan wajah yang sangat merah menandakan dia sangat marah. Dia memandang Rasya seakan ingin memakannya hidup-hidup

Rasya hanya menunduk mendapatkan kemurkaan anaknya itu, benar yang dikatakan anaknya, dia manusia kejam yang tega mengusir anak dan istrinya padahal saat itu hujan deras dan anak mereka yang bungsu baru berusia beberapa bulan.

"Maaf". Ucapnya dengan meneteskan air matanya.

Dadanya terasa terhimpit batu besar bahkan dia tidak bisa bernafas. Hilang sudah semua kesombongan yang dulu dia banggakan dihadapan istri dan juga anaknya.

" Jangan pernah memunculkan wajah biadab mu itu dihadapan kami, karena kami sangat membencimu dan sudah menganggap mu mati". Sasya mendorong Rasya dengan kakinya saat melewatinya dengan sengaja.

Maya memandang Shock anak sulungnya itu, bagaimana bisa anak sulung berperilaku bar-bar seperti itu kepada orangtua. Apalagi kepada sang ayah.

"Tidak usah bertanya macam-macam bunda, aku tidak mau manusia biadab itu hadir di hadapan kita, apalagi membuat masalah didalam kehidupan kita yang sudah damai". Sasya meninggalkan sang bunda yang menatapnya sendu.

Dia tidak menyangka luka itu sangat membekas dihati sang anak, sampai dia keras dan kurang ajar seperti itu kepada ayahnya.

"Ayo kita pergi bunda, jangan diambil hati sikap Sasya tadi, mungkin dia sangat emosi karena melihat orang yang paling dia benci didunia ada di hadapannya".

Maya menghela nafas berat membenarkan apa yang dikatakan anak angkatnya itu.

" Ya sudah kita ke salon aja yuk, menenangkan pikiran nanti. Jadi kalau sudah selesai kita bisa jemput adik-adik kamu untuk makan siang bersama barulah kita pergi belanja bersama".

Rara menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan sang bunda.

Rasya hanya menatap mereka dengan nanar karena bahkan untuk menengok keadaannya pun tidak, apalagi melihatnya.

"Jangan pernah muncul di hadapan kami lagi, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, jangan buat anak-anak semakin membencimu". Maya meninggalkan Rasya yang terpaku dengan linangan air mata penyesalan.

Perasaan cinta yang dulu kini sudah berganti dengan rasa benci kepadanya, sejak hari dimana dia terusir dari rumah itu oleh suaminya, baginya dia sudah mati dan bukan apa-apa lagi.

"Maya, kumohon maafkan aku". Teriaknya begitu melihat Maya masuk kedalam Mobil meninggalkannya sendiri menatap mobil itu dengan perasaan hancur dan remuk.

Penyesalannya kini sudah tidak berguna karena Maya bahkan anaknya sudah sangat membencinya, jangankan mau berbicara dengannya hanya pukulan keras dengan kekuatan penuh yang diberikan kepadanya.

"Aku harus memperbaiki hubunganku dengan anak-anak ku yang sekarang, aku tidak mau mereka sangat membenciku seperti kakaknya yang lain". Monolog Rasya.

" Tapi apa yang dilakukan oleh Maya disini, apakah anak bungsu ku sekolah di sekolah ini??, aku harus cari tahu itu ".

Rasya kembali ke kantor untuk bekerja dan dia juga akan menjemput anak-anak nya untuk makan siang bersama agar hubungan mereka membaik.

Sesampainya di kantor Rasya dihadapkan oleh celotehan dan amarah sang ibu karena menantunya memblokir kartunya serta mengatai dirinya.

"Sudahlah bu, yang dikatakan Marsya itu benar, bukankah ibu sangat membencinya, kenapa ibu mau menggunakan fasilitasnya sedangkan aku juga memberi ibu". Rasya merasa pusing dengan celotehan ibunya yang tiada henti itu.

" Apa maksudmu nak??, dia kan menantu keluarga, wajar dong jika ingin memakainya, apa gunanya coba dia selain fasilitas mewah serta harta yang melimpah. Dia hanya bisa melahirkan anak perempuan saja".

"Sudahlah bu, aku akan ada meeting penting, lebih baik ibu pulang saja". Usirnya secara halus

" Sudahlah bu, ibu sendiri yang bertingkah jadi tidak udah salahkan Marsya karena ibu salah sendiri"

Terpopuler

Comments

Salsa Billa

Salsa Billa

sebenci apapun kepada orangtua , jgn diajarkan bertindak diluar lanar, apabedanya klau begitu , oengtua harus menanamkan etika adap sopn santun kepada semua anaknya , walaupun bnyak keluarga nya membenci sianak

2025-01-28

1

Siti Mutrikah

Siti Mutrikah

saya setuju pendapat kak salsa karene walàu bagaimanapun kalau tidak ada ayah kita tidak akan pernah hadir didunia ini

2025-03-03

0

lihat semua
Episodes
1 Ter Usir Dari Rumah
2 Adopsi
3 Kehidupan Baru
4 Jangan Mengaturku
5 Keluarga Yang Tersakiti
6 Keluarga Yang Tersakiti 2
7 Membalas Perlakuan Keluarga Suami
8 Rancangan Masa Depan Sasya dan Rara
9 Mertua Egois
10 Amarah Rasya
11 Tidak Mudah Memaafkan
12 Ipar dan mertua Jahat
13 Kesadaran Rasya 1
14 Kesadaran Rasya 2
15 Kebencian Anak Terbuang
16 Anak Perempuan Juga Bisa
17 Kemarahan Rasya dan Marsya
18 Amarah Rasya
19 Kemarahan anak terbuang 1
20 Kemarahan anak terbuang 2
21 Semua untuk Salwa
22 Pertengkaran keluarga
23 Kebingungan Keluarga Rasya
24 Rasya dan Salwa Sadar
25 Rencana Rania dan Ibunya
26 Berpura-pura baik
27 Nasib Keluarga Erlangga
28 Rasya Putra Erlangga
29 Pertemuan Maya dan Mahesa
30 Perbincangan saudara
31 Kembali Keluar Negeri
32 Setelah 3 Tahun Berlalu
33 Mengambil Ibu
34 Si Usil Hendra
35 Keadaan Rasya
36 Bertemu Salwa
37 Ibu Rena meninggal
38 Berkunjung kampung halaman Ibu
39 Pengangkatan Keempat anak Maya
40 Rara Jatuh cinta
41 Teman Lama Sasya
42 Hana Kembali Kerumah Orangtuanya
43 Cinta Pertama Sasya
44 Amarah Orangtua Hana
45 Bertemu kembali
46 Kami Tidak Butuh
47 Perjodohan Rara dan Reza
48 Luka Sasya
49 Memaafkan
50 Kaku dalam Interaksi
51 Pertengkaran Saudara
52 Keributan Dirumah sakit
53 Konflik Keluarga
54 Beratnya Jadi Ibu
55 Cara Menyelesaikan Masalah
56 Mencari jalan Keluar 1
57 Bertemu Ayah Rossa
58 Mencari Jalan Keluar 2
59 Perceraian Orang Tua Rossa
60 Roland menyerang Keluarga Maya
61 Perpisahan Sonya dan Rossa
62 Pembalasan Maya
63 Tuan Roland mati Kutu
64 Pembalasan Maya 2
65 Terancam Bangkrut
66 Penculikan Salwa
67 Terungkapnya Misteri kematian Adik Roland
68 Kematian Rossa
69 Luka Terdalam Sonya
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Ter Usir Dari Rumah
2
Adopsi
3
Kehidupan Baru
4
Jangan Mengaturku
5
Keluarga Yang Tersakiti
6
Keluarga Yang Tersakiti 2
7
Membalas Perlakuan Keluarga Suami
8
Rancangan Masa Depan Sasya dan Rara
9
Mertua Egois
10
Amarah Rasya
11
Tidak Mudah Memaafkan
12
Ipar dan mertua Jahat
13
Kesadaran Rasya 1
14
Kesadaran Rasya 2
15
Kebencian Anak Terbuang
16
Anak Perempuan Juga Bisa
17
Kemarahan Rasya dan Marsya
18
Amarah Rasya
19
Kemarahan anak terbuang 1
20
Kemarahan anak terbuang 2
21
Semua untuk Salwa
22
Pertengkaran keluarga
23
Kebingungan Keluarga Rasya
24
Rasya dan Salwa Sadar
25
Rencana Rania dan Ibunya
26
Berpura-pura baik
27
Nasib Keluarga Erlangga
28
Rasya Putra Erlangga
29
Pertemuan Maya dan Mahesa
30
Perbincangan saudara
31
Kembali Keluar Negeri
32
Setelah 3 Tahun Berlalu
33
Mengambil Ibu
34
Si Usil Hendra
35
Keadaan Rasya
36
Bertemu Salwa
37
Ibu Rena meninggal
38
Berkunjung kampung halaman Ibu
39
Pengangkatan Keempat anak Maya
40
Rara Jatuh cinta
41
Teman Lama Sasya
42
Hana Kembali Kerumah Orangtuanya
43
Cinta Pertama Sasya
44
Amarah Orangtua Hana
45
Bertemu kembali
46
Kami Tidak Butuh
47
Perjodohan Rara dan Reza
48
Luka Sasya
49
Memaafkan
50
Kaku dalam Interaksi
51
Pertengkaran Saudara
52
Keributan Dirumah sakit
53
Konflik Keluarga
54
Beratnya Jadi Ibu
55
Cara Menyelesaikan Masalah
56
Mencari jalan Keluar 1
57
Bertemu Ayah Rossa
58
Mencari Jalan Keluar 2
59
Perceraian Orang Tua Rossa
60
Roland menyerang Keluarga Maya
61
Perpisahan Sonya dan Rossa
62
Pembalasan Maya
63
Tuan Roland mati Kutu
64
Pembalasan Maya 2
65
Terancam Bangkrut
66
Penculikan Salwa
67
Terungkapnya Misteri kematian Adik Roland
68
Kematian Rossa
69
Luka Terdalam Sonya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!