Kehidupan Baru

Keesokan Harinya Maya mencoba membuka lapak, dia sudah membuat spanduk dan dipajang didepan rumah mereka. Sebelumnya Maya memang telah meminta izin pemilik rumah untuk berjualan. Rumah ini bukan dikontrakan tapi dibeli dengan cara Maya membesarkan keponakan mereka yang telah yatim piatu. Jadilah Maya membesarkan anak perempuan seusia anak perempuannya yang tertua. Dia juga sudah mendaftar sekolah ditempat Anak Sulungnya Sasya.

"Nah semua kesayangan Bunda, tolong bantuin Bunda angkatin barang-barang nya keluar yah, selagi Bunda merapikan Bangku untuk makan para pembeli nanti !!". Ucap sang Bunda mengelus kepala ketiga anaknya itu.

" Siap Bunda ". Ucap Ketiganya dengan kompak keduanya berlalu dari hadapan bundanya untuk membawa sisa barang yang belum diangkat keluar untuk jualan.

Anak angkat Maya itu anak yang sangat baik dan penurut serta dekat dengan semua anak-anak nya. Maya berjanji akan membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang tanpa membedakan mereka.

" Maaf Bu, apa ini sudah buka?? ". Tanya seorang anak sekolah yang tengah kebingungan melihat-lihat keadaan di warung ini.

" Iya nak, kami sudah buka, mau beli yang mana dan lauknya apa??". Tanya dengan Ramah dan penuh senyuman.

"Aku mau nasi campur tante, kebetulan saya belum sarapan ". Ucap Sang pemuda itu kemudian duduk dengan manis menunggu makanan disajikan setelah mengatakan pesanannya.

" Kamu tunggu sebentar ya nak!! ". Ucap Maya dengan cekatan menyiapkan makanan pesanan sang pemuda kemudian memberikan pesanannya.

Melihat sang anak , maya membantu mengambil barang ditangan sang anak setelah itu dia kembali mengatur apa yang dibawah anak-anak nya tadi.

Semakin lama warung ini semakin ramai, mereka datang secara bergantian untuk sarapan. Ya Maya sangat bersyukur karena rumah ini dekat dengan sekolah SMA dan dekat dengan kantor Kecamatan serta pabrik olahan rumahan sehingga warungnya bisa ramai.

"Ibu seperti nya baru tinggal disini, saya baru melihat ibu??". Tanya ibu-ibu tetangga yang tengah membeli sarapan di warungnya.

" Iya bu, kebetulan saya baru pindah kemaren malam setelah membeli rumah ini ". Ucapnya dengan ramah dan sopan.

" Oh.. jadi ibu yang membeli rumah pak Marwan?? ". Tanya tetangga yang datang membeli makanan.

" Iya ibu, maaf ibu mau beli apa??". Tanyanya lagi dengan ramah.

"Saya mau nasi campur 2 dan nasi kuningnya satu tolong dibungkus ya ". Ucap ibu- ibu bertubuh gempal itu.

" Saya juga ya bu!! ". Seru ibu-ibu lainya begitupun dengan pelanggan lainnya.

"Baik ibu, ditunggu ya, silahkan duduk dulu sambil menunggu makanan yang dipesan!! ". Ucapnya dengan senyuman Ramah.

Maya dengan cekatan menyiapkan makanan pesanan para pembeli yang terus berdatangan. Ketiga anaknya pun dengan sigap membantu. Si kedua sulung membantu bunda mereka mengurus pesanan sedangkan anak tengah sibuk menjaga sang adik agar sang adik tidak rewel.

Maya sangat bersyukur karena semua jualannya habis hanya dalam waktu 2 jam saja. awal yang sangat bagus saat membuka jualan. Dia beruntung halaman rumah ini sangat luas dan sudah terpasang kanopi sehingga pembelinya nyaman dengan konsep outdoor seperti ini.

Dia sengaja menambah beberapa hiasan yang dibuat dengan tangan hasil karya dirinya dan ketiga anaknya untuk mempercantik halaman rumah tempat jualan mereka.

"Alhamdulillah, jualan kita sudah habis nak". Seru Maya dengan gembira.

Maya memeluk anak-anak nya dengan perasaan bahagia karena mendapatkan anak-anak yang baik dan rajin serta sangat pengertian, ditambah lagi jualannya laris hari ini bahkan kini dia menerima pesanan untuk makan siang.

" Ayo sayang sekarang kita rapi kan yuk, lalu kita istirahat didalam ". Ajaknya kepada anak-anak itu.

" Ayo bunda, aku udah tidak sabar untuk main bersama setelah kita berjualan". Seru Rara dengan penuh semangat.

Dia merasa sangat bahagia memiliki keluarga yang baik dan sangat menyayanginya. Dulu semasa kedua orangtuanya, dia hanya tinggal dan diurus oleh pembantu karena kedua orangtuanya sibuk bekerja. Sekarang dia memiliki teman dan ibu yang mengurusnya dengan sempurna bahkan menemaninya bermain, memandikannya, bahkan menyuapi dirinya makanan.

"Tentu sayangnya bunda, sekarang bantu bunda yuk!!, lalu kita main bersama-sama ". Ucap sang bunda mengelus kepala sang anak dengan sayang.

Sedangan dirumah mewah keluarga besar Sang suami, Rasya Putra Erlangga tengah diadakan jamuan makan siang untuk mempertemukan dua keluarga besar untuk membahas perjodohan anak mereka.

"Selamat datang dirumah kami Tuan Aditama, kami sangat berterima kasih karena telah memenuhi undangan kami". Ucap Ibu Rana dengan menyambut calon besannya itu.

"Terima kasih telah mengundang kami bu Rana, kami sangat senang akhirnya bisa berkunjung kerumah keluarga Erlangga". Ucap Aditama dengan senyum mengambang.

"Tidak apa Pak Aditama, Bu Riska, kami sangat senang menyambut kedatangan anda sekeluarga". Ramahnya lagi.

"Bagaimana kabarmu nak Rasya??". Tanya pak Aditama menjabat tangan sang pewaris Erlangga itu dengan senyuman manis.

"Baik Pak, bagaimana dengan anda, sepertinya anda semakin keren dan bugar saja diusia anda ini??". Ucap Rasya memuji calon mertuanya itu.

"Kamu bisa saja nak, kamu juga kelihatan makin tampan saja". Balasnya dengan tak kalah memuji.

"Mari silahkan duduk!!". Ucap sang tuan rumah dengan sangat ramah.

Sangat berbeda saat mereka memperlakukan sang besan sebelumnya yang notabennya hanya orang biasa. Hanya sang kepala keluarga saja yang menganggap mereka, kini sang kepala keluarga sedang terbaring dirumah sakit, maka dari itu mereka berani melakukan hal yang tidak baik kepada sang menantu.

"Ini anak kami yang akan kami kenalkan kepada nak Rasya, bagaimana cantik bukan??". Sombong pak Aditama memperkenalkan anak bungsu dari keluarganya.

"Sangat cantik pak, memang beda jika bibit yang berkelas". Puji sang Tuan Rumah dengn wajah yang penuh senyuman.

Sedangkan Rasya hanya tersenyum paksa karena dia tak mau membuat sang ibu murka kepadanya karena berlaku tidak baik, jadi sejak tadi dia menjaga sikapnya agar terlihat baik dan ramah kepada mereka.

"Tentu, kami tidak mungkin melahirkan bibit yang tidak unggul karena kami dari keluarga unggul". Ucap Bu Rana dengan wajah angkuh dan sombong.

Ucapan itu disambut malas oleh kedua Putri keluarga Erlangga itu. Mereka bahkan lebih menyukai sang kakak ipar dibandingkan dengan perempuan yang ada dihadapan mereka itu.

Mereka berdua sebenarnya sangat malas untuk ikut, jika bukan karena ancaman ibunya, mereka tidak akan ada disini, membahas tentang hal yang tak penting menurut mereka.

"Bagaimana keadaan pak Erlangga??, kami dengar beliau masuk rumah sakit ya??". Tanya Pak Aditama ber basa-basi untuk mencari tahu keadaan besannya itu.

"Ya seperti itulah pak, kami masih menunggu kesembuhan beliau". Ucap Rasya dengn sendu.

Dia sangat menyayangi sang ayah, bahkan dia menikahi sang istri karena permintaan sang ayah, bukan karena menyayangi istrinya itu, tetapi dia juga merasa kehilangan ketika wanita itu pergi. Tapi dia menepisnya dengan memperlakukannya dengan buruk.

Sedangkan sang ibu mendelik kan matanya mendengar ucapan sang anak, bisa gawat jika suaminya itu bangun dan menggagalkan rencana besarnya.

"Ya kami berharap beliau cepat sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasanya". Ucap Bu Rana mendoakan.

Sedangkan sang Putri keluarga Aditama itu, sejak tadi melirik sang pujaan hati, dia hanya diam karena malu dan tak tahu harus berkata apa, padahal dalam hatinya sangat kegirangan karena akan bersanding dengannya. Dia harus menjaga image nya sebaik mungkin agar lelaki pujaan hatinya itu mau menerima perjodohan itu.

"Kalian pergilah berbincang-bincang di taman sana untuk saling mengenal". ucap Bu Rana kepada anak lelaki dan anak perempuan Aditama itu.

Rasya bergerak mengajak Marsha untuk ikut dengannya ketaman seperti perintah sang ibu. lelaki ini seper manusia yang tak memiliki pendirian karena selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh sang ibu. seperti sapi yang dicucuk hidungnya.

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

Gak banget dehhh laki yg gak bisa memilah yg baik dan buruk 🤨

2025-01-30

0

Siti Mutrikah

Siti Mutrikah

aku kurang respeck deh sama si rasya

2025-03-03

0

lihat semua
Episodes
1 Ter Usir Dari Rumah
2 Adopsi
3 Kehidupan Baru
4 Jangan Mengaturku
5 Keluarga Yang Tersakiti
6 Keluarga Yang Tersakiti 2
7 Membalas Perlakuan Keluarga Suami
8 Rancangan Masa Depan Sasya dan Rara
9 Mertua Egois
10 Amarah Rasya
11 Tidak Mudah Memaafkan
12 Ipar dan mertua Jahat
13 Kesadaran Rasya 1
14 Kesadaran Rasya 2
15 Kebencian Anak Terbuang
16 Anak Perempuan Juga Bisa
17 Kemarahan Rasya dan Marsya
18 Amarah Rasya
19 Kemarahan anak terbuang 1
20 Kemarahan anak terbuang 2
21 Semua untuk Salwa
22 Pertengkaran keluarga
23 Kebingungan Keluarga Rasya
24 Rasya dan Salwa Sadar
25 Rencana Rania dan Ibunya
26 Berpura-pura baik
27 Nasib Keluarga Erlangga
28 Rasya Putra Erlangga
29 Pertemuan Maya dan Mahesa
30 Perbincangan saudara
31 Kembali Keluar Negeri
32 Setelah 3 Tahun Berlalu
33 Mengambil Ibu
34 Si Usil Hendra
35 Keadaan Rasya
36 Bertemu Salwa
37 Ibu Rena meninggal
38 Berkunjung kampung halaman Ibu
39 Pengangkatan Keempat anak Maya
40 Rara Jatuh cinta
41 Teman Lama Sasya
42 Hana Kembali Kerumah Orangtuanya
43 Cinta Pertama Sasya
44 Amarah Orangtua Hana
45 Bertemu kembali
46 Kami Tidak Butuh
47 Perjodohan Rara dan Reza
48 Luka Sasya
49 Memaafkan
50 Kaku dalam Interaksi
51 Pertengkaran Saudara
52 Keributan Dirumah sakit
53 Konflik Keluarga
54 Beratnya Jadi Ibu
55 Cara Menyelesaikan Masalah
56 Mencari jalan Keluar 1
57 Bertemu Ayah Rossa
58 Mencari Jalan Keluar 2
59 Perceraian Orang Tua Rossa
60 Roland menyerang Keluarga Maya
61 Perpisahan Sonya dan Rossa
62 Pembalasan Maya
63 Tuan Roland mati Kutu
64 Pembalasan Maya 2
65 Terancam Bangkrut
66 Penculikan Salwa
67 Terungkapnya Misteri kematian Adik Roland
68 Kematian Rossa
69 Luka Terdalam Sonya
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Ter Usir Dari Rumah
2
Adopsi
3
Kehidupan Baru
4
Jangan Mengaturku
5
Keluarga Yang Tersakiti
6
Keluarga Yang Tersakiti 2
7
Membalas Perlakuan Keluarga Suami
8
Rancangan Masa Depan Sasya dan Rara
9
Mertua Egois
10
Amarah Rasya
11
Tidak Mudah Memaafkan
12
Ipar dan mertua Jahat
13
Kesadaran Rasya 1
14
Kesadaran Rasya 2
15
Kebencian Anak Terbuang
16
Anak Perempuan Juga Bisa
17
Kemarahan Rasya dan Marsya
18
Amarah Rasya
19
Kemarahan anak terbuang 1
20
Kemarahan anak terbuang 2
21
Semua untuk Salwa
22
Pertengkaran keluarga
23
Kebingungan Keluarga Rasya
24
Rasya dan Salwa Sadar
25
Rencana Rania dan Ibunya
26
Berpura-pura baik
27
Nasib Keluarga Erlangga
28
Rasya Putra Erlangga
29
Pertemuan Maya dan Mahesa
30
Perbincangan saudara
31
Kembali Keluar Negeri
32
Setelah 3 Tahun Berlalu
33
Mengambil Ibu
34
Si Usil Hendra
35
Keadaan Rasya
36
Bertemu Salwa
37
Ibu Rena meninggal
38
Berkunjung kampung halaman Ibu
39
Pengangkatan Keempat anak Maya
40
Rara Jatuh cinta
41
Teman Lama Sasya
42
Hana Kembali Kerumah Orangtuanya
43
Cinta Pertama Sasya
44
Amarah Orangtua Hana
45
Bertemu kembali
46
Kami Tidak Butuh
47
Perjodohan Rara dan Reza
48
Luka Sasya
49
Memaafkan
50
Kaku dalam Interaksi
51
Pertengkaran Saudara
52
Keributan Dirumah sakit
53
Konflik Keluarga
54
Beratnya Jadi Ibu
55
Cara Menyelesaikan Masalah
56
Mencari jalan Keluar 1
57
Bertemu Ayah Rossa
58
Mencari Jalan Keluar 2
59
Perceraian Orang Tua Rossa
60
Roland menyerang Keluarga Maya
61
Perpisahan Sonya dan Rossa
62
Pembalasan Maya
63
Tuan Roland mati Kutu
64
Pembalasan Maya 2
65
Terancam Bangkrut
66
Penculikan Salwa
67
Terungkapnya Misteri kematian Adik Roland
68
Kematian Rossa
69
Luka Terdalam Sonya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!