14. Kedatangan yang Tak Diinginkan

Kedatangan yang Tak Diinginkan

Pagi itu, suasana di rumah keluarga Lancaster terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari mengintip malu-malu dari balik tirai jendela, menerangi kamar tidur utama tempat Aeliana masigh terlelap di ranjangnya.

Kael sudah terjaga lebih dulu, tidak terburu-buru untuk bangkit. Ia justru menikmati momen langka ini. Melihat istrinya tidur dengan damai si pelukannya. Rambut Aeliana sedikit berantakan. Kael tersenyum kecil tanpa ragu menundukkan kepalanya, mengecup pelipis Aeliana lembut.

Aeliana menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit, lalu mengerjap beberapa kali sebelum menyadari keberadaan Kael yang masih memeluknya erat.

“Hm, sudah bangun?” Gumamnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

Kael mengusap punggungnya pelan. “Sudah lama.”

“Jam berapa ini?”

“Jam 6 pagi.”

Aeliana mengangguk dan menunggu Kael melepaskan dirinya namun pria itu tak kunjung melepaskan.

“Kael lepas dulu, aku mau bangun.”

“Tidak. Aku hanya tidak ingin melepaskanmu.”

Aeliana memutar matanya. “Kael, kita tidak bisa begini terus. Anak-anak bisa masuk kapan saja.”

Seolah menantang kata-kata istrinya, Kael justru semakin mengeratkan pelukannya. “Biar saja, mereka harus terbiasa melihat ayah mereka mencintai ibunya.”

Aeliana mendesah pasrah. “Kau benar-benar berubah akhir-akhir ini…”

Kael mengangkat alisnya. “Berubah lebih baik atau lebih buruk?”

“Lebih menyebalkan.”

Kael tertawa pelan, lalu membalikkan tubuhnya sehingga kini Aeliana berada di bawahnya.

“Menyebalkan, ya?” Bisiknya di dekat telinga istrinya.

Aeliana terpaksa menjilat bibirnya yang kering karena bisiknya begitu menggelitik. Kael menatap wajah istrinya yang merona. Ekspresinya menawan.

Aeliana langsung menekan kedua tangannya ke dada Kael, wajahnya memerah. “Kae! Ini masih pagi hari.”

“Dan aku ingin mencium istriku di pagi hari. Apa itu salah?”

Namun momen intim mereka segera terganggu saat pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras.

“Ayah! Ibu!”

Julian dan Juvel sudah berdiri sementara Aeliana langsung berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Julian dan Juvel sudah berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan mata berbinar.

“Ayah! Ibu! Apa kalian masih tidur? Aku lapar!” Protes Juvel sambil mengusap matanya.

Juvel yang berdiri di sampingnya, menatap orang tuanya penuh rasa ingin tahu. “Kenapa ayah peluk ibu seperti itu?” Tanya polos.

Aeliana hampir tersedak mendengar pertanyaan putrinya. Wajahnya semakin panas sementara KAel pria itu justru terlihat santai. Kael dengan tenang meraih tangan Aeliana dan mengecup punggung tangannya di depan anak-anak mereka.

“Karena ayah sayang.”

Julian mengerutkan kening. “Tapi aku juga sayang ibu. Aku juga mau peluk ibu!”

Kael mendengus lalu langsung menarik Aeliana ke dalam dekapannya sebelum Julian sempat naik ke ranjang.

“Tidak, ibu milik ayah. Kalian boleh peluk ibu nanti.”

“Kael!” Aeliana langsung mencubit pinggang suaminya.

Julian dan Juvel tertawa melihat tingkah orang tua mereka. Kael bukan lagi pria dingin yang menutup diri. Sekarang dia adalah pria yang penuh perhatian, tak segan menunjukkan cintanya bahkan di depan anak-anak.

Setelah sarapan, hal baru yang dilakukan Aeliana adalah mengantar Kael sampai ambang pintu. Kael Lancaster, seorang komandan angkatan laut yang disegani, tampak gagah seperti biasa dalam seragamnya yang rapi. Wajahnya yang tegas menunjukkan keteguhan seorang pria yang bertanggung jawab atas banyak hal termasuk keluarganya.

Aeliana memperhatikannya dengan penuh perasaan. Tidak peduli seberapa sering ia melihat Kael dalam seragamnya, tetap saja ada sesuatu yang membuat hatinya berdebar.

“Kau yakin tidak lupa apa pun?” Tanya Aeliana.

“Tidak. Aku sudah mengecek semuanya.”

“Baiklah hati-hati di jalan.”

Kael menatapnya sebentar, lalu mendekat dan meraih pinggang Aeliana, menariknya ke dalam pelukan singkat. Sebelum mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

Aeliana tersentak kecil tapi ia tidak menolak. Dulu, Kael bukan tipe pria yang sering menunjukkan kasih sayangnya secara langsung. Tapi setelah berbagai kesalahpahaman mereka luruskan, pria itu menjadi. Lebih terbuka.

Kael melepaskan pelukannya perlahan.

“Aku hampir lupa. Akan ada pameran buku di pusat kota minggu depan.”

Mata Aeliana langsung berbinar. “Benarkah?”

Kael mengangguk. “Ya, aku ingin mengajakmu ke sana.”

Aelianja terdiam sesaat, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Kau ingin mengajakku ke pameran buku?”

Sebuah senyum samar terukir di wajah Kael.

“Tentu saja, aku tahu kau menyukai buku terutama novel.”

Aeliana menatapnya lekat lalu tersenyum lebar. “Aku senang sekali, Kael.”

Kael mengangkat sebelah aslisnya, senang melihat reaksi istrinya.

“Aku akan meluangkan waktu jadi siapkan daftar buku yang ingin kau cari.”

Aeliana hampir tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyentuh lengan Kael dengan lembut. “Terima kasih. Kau tahu, aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengajakku ke tempat seperti itu.”

“Aku hanya ingin melihatmu bahagia.”

Aeliana tersentuh mendengar kata-katanya. Pria ini meskipun terkadang sulit ditebak dan masih memiliki sisi dinginnya selalu berusaha memahami dirinya.

Kael melirik jam tangannya. “Aku harus pergi sekarang. Jika tidak, aku akan terlambat.”

Aeliana mengangguk cepat. “Baiklah, hati-hati di jalan.”

Namun saat Kael berbalik dan akan menuju mobilnya, sebuah mobil baru saja memasuki pekarangannya. Kael sudah tahu persis siapa yang berada di dalam mobil tersebut. Eleanor Lancaster berdiri di sana, mengenakan gaun biru tua yang mencerminkan keanggunan meskipun beliau sudah tua.

Aeliana langsung menyambutnya meskipun sedikit terkejut dengan kunjungan ibu mertuanya. “Ibu, selamat datang.”

“Aeliana.”

Kael berdiri di sana, tubuhnya tegap, ekspresinya tak menunjukkan kebahagiaan sedikit pun. Rahangnya mengeras, tatapannya dingin menatap ibunya.

“Mengapa datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu?”

Pertanyaan itu seketika membuat suasana hening.

“Apa aku tidak boleh datang menemui keluargaku? Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Julian dan Juvel.”

“Sudah berapa kali kukatakan untuk memberitahuku terlebih dulu. Kau datang ke sini tanpa mengatakan apa pun.”

Kael memperlakukan ibunya seperti tamu tak diudang. Ekspresi Eleanor menjadi dingin melihat sikap putranya. Aeliana langsung melangkah diantara mereka ketika suasana dingin meningkat.

“Nenek!” Julian memanggil lebih dulu, diikui Juvel yang langsung meraih tangannya.

“Eleanor tersenyum tipis sebelum membungkuk sedikit dan membelai kepala mereka dengan penuh kasih sayang.

“Kalian sudah semakin besar.”

“Kael, kau harus pergi sekarang. Kau akan terlambat nanti.”

Untuk beberapa detik Kael tidak beranjak dari tempatnya. Kael dengan berat hati melangkah meninggalkan mereka. Selama perjalanan, Kael merasa hatinya resah karena kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Ia ingin waktu berjalan dengan cepat agar ia bisa kembali pulang dengan segera.

Terpopuler

Comments

Lee

Lee

masih penasran siapa yg mau mbnuh Aeliana ya..

2025-03-12

0

Han Sung hwa

Han Sung hwa

julian nggak mau kalah sama ayahnya

2025-02-22

0

Quenby Unna

Quenby Unna

kael kenapa kamu marah?

2025-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!